Wallpaper

YANG MAMPU KITA LAKUKAN DI INDONESIA SAAT INI DAN SOLUSI MELAKSANAKAN I’DAD DAN JIHAD

Demi melaksanakan kewajiban jihad di jalan Allah, usaha agar terbentuk front jihad di Indonesia, karena menginginkan tegaknya syareat Allah di Indonesia, dalam rangka memusuhi kekafiran dan untuk menunjukkan sikap tidak setuju terhadap pemerintahan Indonesia yang tidak berdasar syareat Islam adalah menjadi peyebab diadakannya aksi jihad dalam bentuk pengeboman, pembunuhan, penembakan, latihan militer dan hingga perampokan di Indonesia.

 

Dilihat dari niat dan tujuannya memang baik dan benar. Jihad di jalan Allah sampai hari kiamat adalah wajib dan jika dilaksanakan akan menghasilkan keutamaan-keutamaan yang banyak. Syareat Islam yang diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah SAW adalah syareat terakhir yang wajib diberlakukan di mana-mana. Kekafiran harus dimusuhi karena musuh Allah. Dan harus tidak setuju terhadap pemerintahan yang tidak memberlakukan syareat Allah.

 

Akan tetapi dalam menjalankan niat dan tujuan itu harus benar prosedurnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Tuntunan tentang jihad, tuntunan dalam menegakkan syareat Allah, tuntunan tentang memusuhi kekafiran dan tuntunan bersikap terhadap pemerintahan yang tidak memberlakukan syareat Allah adalah sudah lengkap, meskipun tuntunan itu mungkin akan berubah dan bertambah karena perobahan jaman yang akan diijtihadkan oleh Para Ulama di jaman tersebut.

 

Alhasil bahwa apa yang kita lakukan yang kemudian diberi label oleh dunia sebagai teroris adalah disebabkan karena dalam menjalankan jihad kita keluar dari tuntunan Rasulullah sebagai suri tauladan yang wajib kita ikuti. Itu semua penyebabnya adalah karena kita mengikuti hawa nafsu sehingga mengenyampingkan Sunnah Rasulullah dan berpikir keluar dari akal sehat.

 

Seharusnya kita sadar bahwa keberadaan kita di Indonesia yang bukan Negara Islam sekarang ini adalah sama dengan keberadaan Rasulullah ketika masih di Makkah. Rasulullah berda’wah secara sembunyi-sembunyi, sangat mengharapkan agar orang-orang mendapatkan petunjuk dan menjadi pengikutnya, mempratekkan akhlaq yang mulia di segala segi dan mempraktekkan syareat Islam yang mampu dipraktekkan. Karena sulitnya perjuangan saat itu hingga sebagian Sahabat Beliau pernah melaksanakan shalat di lembah-lembah supaya tidak diketahui oleh orang-orang kafir sebagai penguasa Makkah.

 

Keberadaan kita di Indonesia sekarang ini tidak bisa disamakan dengan di Makkah jaman Rasulullah karena di Indonesia saat ini masih terlalu enak dan leluasa dalam memperjuangkan Islam.

 

Kalau Rasulullah di Makkah sasaran da’wahnya kepada orang-orang kafir supaya mereka mengerti Islam lalu masuk Islam, kita di Indonesia sekarang ini juga harus mendakwahi orang kafir supaya mengerti tentang Islam lalu mau masuk Islam dan menda’wahi sesama muslim agar mereka mengerti tentang kewajiban melaksanakan syareat Allah hingga di tingkat pemerintahan yang saat ini berdasarkan Pancasila dan UUD 45.

 

Rasulullah pernah bertemu dengan tokoh-tokoh kafir Quraisy buat menda’wahi mereka agar mereka mau menerima da’wah Beliau, di tengah-tengah pertemuan tersebut datanglah Abdullah bin Umi Maktum yang buta untuk belajar tentang Islam, namun Beliau tidak menghiraukannya, lalu Beliau ditegur oleh Allah dengan menurunkan Surat ‘Abasa. Dengan kisah ini kita bisa ambil sedikit pelajaran bahwa sebagai seorang Rasul Beliau masih memiliki keinginan emosional lebih memprioritaskan tokoh-tokoh agar menjadi pengikut Beliau yang mungkin kelak akan lebih bisa menguatkan perjuangan daripada rakyat biasa. Sementara kita, terhadap orang-orang Islam yang duduk di pemerintahan Indonesia dari Kepala RT hingga Presiden kita tidak mau mendekati dan menda’wahi mereka bahkan mengecap mereka sebagai thaghut bahkan kafir.

 

Yang mencolok lagi perbedaan kita dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah bahwa Beliau benar-benar berharap agar yang dida’wahi itu mendapat petunjuk sehingga Beliau menggunakan berbagai macam cara dan ekstra sabar dalam menghadapi mereka. Sementara kita baru melihat orang yang tidak sepemikiran dengan kita saja sudah emosional dan kebencian yang kita dahulukan, apalagi kalau melihat orang kafir.

Kita di Indonesia ini masih banyak amal shalih dan perjuangan yang bisa kita lakukan tetapi belum kita lakukan, atau sudah kita lakukan tetapi belum maksimal, namun kita memilih melakukan suatu amal jihad yang mayoritas Umat Islam sendiri menentangnya dan dari banyak segi sebenarnya kita belum mampu melakukannya.

 

Ketika kita melihat atau mengetahui ada i’dad dan jihad di Afghanistan, Checna, Iraq, Somalia dan Yaman kita ingin mempraktikkan di Indonesia, sedangkan di tempat-tempat yang sudah ada front jihadnya tersebut situasi dan kondisinya berbeda dengan di Indonesia. Misalnya di Yaman, Yaman adalah Negara yang di dalamnya ada qabilah-qabilah yang memiliki kekuatan dan kekuasaan, sehingga ketika suatu qabilah ingin melancarkan jihad terhadap Negara maka seluruh rakyatnya mendukung maka terbentuklah front jihad.

 

Sementara kita di Indonesia, jangankan kekuasaan, bentuk jama’ah yang pengikutnya mencapai jumlah ribuan saja belum punya tetapi mau memulai jihad melawan NKRI yang kekuatannya dari POLRI saja sudah sekitar 300.000 personil.

 

Jika kita berani memposisikan diri kita seperti Rasulullah dan pasukannya dalam perang Badr yaitu 1 banding 3 maka dalam menghadapi 300.000 personil POLRI jumlah kita harus 100.000 mujahid. Ini baru kekuatan POLRI, belum ABRI yang menjadi kekuatan inti NKRI.

 

Fakta inilah yang harus kita sadari supaya kita tahu diri bahwa dilihat dari segi manapun kita belum mampu memulai jihad di Indonesia. Adapun jika suatu saat Umat Islam diserang oleh musuh maka saat itulah kita mempertahankan diri berjihad melawan musuh seperti yang sudah pernah terjadi di Ambon dan Poso.

 

Kita jangan sampai hanya berdasar karena sudah adanya front jihad diluar negeri lantas ikut-ikutan melakukan aksi jihad di Indonesia supaya di Indonesia juga terbentuk front jihad seperti yang ada di luar negeri.

 

Kita di Indonesia ini harus menggunakan cara lain dalam memperjuangkan Islam, berbeda tidak apa-apa yang penting tujuan sama dan tidak keluar dari koridor Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Dan bisa jadi dengan cara ini bisa menjadi sebab, sebagai sarana dan bagian dari tahapan akan dibukanya front jihad di Indonesia atau terbentuknya kekuasaan yang diberlakukan Syareat Islam secara menyeluruh.

 

Contoh dari cara yang saya maksud adalah melakukan amal shalih dan perjuangan seperti dibawah ini. Saya mengajak menggunakan cara ini adalah karena kita sudah pernah menggunakan cara kekerasan dengan pengeboman dan lain-lain namun gagal dan merugikan perjuangan itu sendiri. Cara-cara yang saya maksud diantaranya adalah:

 – Memaksimalkan Da’wah Islam dimana-mana khususnya menda’wahkan bagian dari Syareat Islam yang banyak dilupakan oleh Umat Islam yaitu kewajiban berjihad dalam arti perang dan kewajiban mendirikan kekuasaan yang berdasarkan Islam.

– Mendirikan organisasi kemasyarakatan baik legal atau illegal yang diatur se-Islamis mungkin, tujuannya adalah untuk membentuk kekuasaan Islam kecil-kecilan yang mampu menaungi anggotanya sebagaiman negara mampu menaungi rakyatnya.

– Mendirikan sekolah dan Pondok Pesantren yang diatur se-Islamis mungkin yang tujuannya untuk mendidik generasi yang Islamis dan mampu berperan di dunia dalam rangka menyebarkan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.

– Menjadi guru di tingkat yang paling rendah hingga di Perguruan Tinggi supaya bisa menularkan ilmu kepada para pelajar sehingga kelak mereka bisa diharapkan untuk ikut memperjuangkan Islam bersama kita.

– Mengadakan majlis-majlis ta’lim agar ilmu-ilmu tentang Islam menyebar di kalangan Umat Islam dan pemikiran kita juga bisa menyebar di kalangan umat Islam.

– Membentuk perkumpulan para juru da’wah agar banyak da’i yang mengajarkan kebaikan dan mengajarkan pemahaman kita sehingga masyarakat mengerti dan memahami tujuan kita.

– Mendirikan Rumah Sakit yang diatur se-Islamis mungkin. Ini bertujuan untuk melayani Umat Islam dalam mengatasi problem kesehatan yang sering membuat Umat Islam kesulitan.

– Mendirikan pabrik-pabrik dan tempat-tempat usaha yang diatur se-Islamis mungkin. Ini bertujuan untuk melayani Umat Islam dalam mengatasi problem ekonomi yang sering membuat Umat Islam kesulitan bahkan ada yang murtad disebabkan karena kemiskinan dan kefakiran.

Semua amal shalih dan perjuangan diatas untuk kepentingan Islam, kepentingan Umat Islam dan kepentingan umum.

 

Jika solusi yang saya ajukan diatas tidak bisa diterima atau bisa diterima tetapi kurang dan masih memerlukan amal yang ada hubungannya dengan i’dad dan jihad maka alternatifnya sebagai berikut:

 

A.   ALTERNATIF UNTUK MELAKUKAN I’DAD

Bagi Umat Islam yang mengerti tentang diwajibkannya i’dad, tujuannya, keutamaannya dan pentingnya pasti mereka menginginkan dan selalu berusaha agar bisa melaksanakannya.

 

Tetapi yang perlu diperhatikan adalah bahwa setelah runtuhnya Khilafah Islamiyah di Turki pada tahun 1924 i’dad tidak lagi bisa dilaksanakan  sesuai dengan tuntutan Al-Quran dan As-Sunnah karena Umat Islam tidak lagi memiliki kekuasaan.

 

Apalagi akhir-akhir ini ketika hampir semua negara telah dikuasai oleh hukum kafir dan sekuler maka siapa saja dari Umat Islam yang melaksanakan kewajiban i’dad sesuai dengan tuntutan Al-Quran dan As-Sunnah akan terkena sangsi hukum yang berlaku.

Sebagai umat Islam kita wajib melaksanakan i’dad namun di sisi lain jika melaksanakannya akan terkena sangsi hukum yang berlaku di negara dimana kita berada. Jika kita melaksanakan i’dad maka kita telah melaksanakan perintah Allah namun kita melanggar hukum yang berlaku di negara ini yang kemungkinannya kita dipenjara dan menghambat perjuangan. Jika kita tidak melaksanakan i’dad maka kita bermaksiat kepada Allah dan tidak melanggar hukum yang berlaku di negara ini sehingga terhindar dari dipenjara dan perjuangan lancar.

 

Dari dua pilihan tersebut saya akan memberikan solusi semoga bisa menjawab kedua-duanya yaitu tetap bisa melaksanakan perintah Allah dan terhindar dari sangsi hukum yang berlaku di negara ini demi kelangsungan perjuangan.

 

Solusinya sebagai berikut:

1. Perintah i’dad tetap dilaksanakan dengan memilih melakukan aktifitas yang tidak melanggar hukum yang berlaku di negara ini.

Masih banyak syariat Islam yang bisa dilakukan dan bisa didakwahkan tanpa harus melanggar hukum yang berlaku di Negara Indonesia ini dan terkena sangsinya.

 

Jika dilihat dari sisi tidak adanya kekuasaan maka saat ini perjuangan kita sebagai Umat Islam di Indonesia ini sama dengan masa Rasulullah SAW pada periode Makkah.

 

Hanya saja situasi dan kondisi perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat pada periode Makkah itu jauh lebih berat jadi tidak bisa dibandingkan dengan kita di Indonesia sekarang ini.

 

Saat itu Rasulullah SAW berdakwah harus sembunyi-sembunyi, orang yang masuk Islam harus diam-diam dan menyembunyikan keislamannya, melaksanakan shalat harus sembunyi-sembunyi bahkan ada yang harus menyingkir ke lembah-lembah supaya tidak diketahui oleh orang-orang kafir dan kesulitan-kesulitan yang lainnya.

 

Sementara kita di Indonesia masih leluasa berdakwah dan beribadah maka situasi dan kondisi ini harus juga kita syukuri meskipun belum bisa terlaksana secara seratus persen sesuai dengan tuntutan Al-Quran dan As-Sunnah seperti pada masa Rasulullah SAW dan sahabat.

Diantara syariat Islam yang belum bisa dilaksanakan di Indonesia ini adalah syariat i’dad yang sesuai dengan tuntutan Al-Quran dan As-Sunnah seperti ketika Islam masih mempunyai kekuasaan dalam bentuk negara atau khilafah. Oleh karena itu, jika kita ingin tetap melaksanakan kewajiban i’dad di Indonesia maka kita harus memilih cara i’dad yang tidak melanggar hukum dan tidak terkena sangsi hukum yang berlaku di negara ini.

 

I’dad yang dituntut dalam Islam adalah memanah, menombak, memainkan pedang, menunggang kuda, berenang, berjalan, berlari, taktik perang, strategi perang dan menguatkan badan. Jika kita tambahkan yang diperlukan dalam peperangan jaman modern ini maka kita harus belajar menembak dan menggunakan segala macam senjata, membuat dan menggunakan segala macam bom, mengendarai dan menggunakan tank, mengendarai dan menggunakan segala macam kendaraan perang, mengendarai dan menggunakan pesawat tempur, membaca peta dan menggunakan peralatan-peralatan yang berhubungan dengan peta.

Melakukan i’dad dalam bentuk menguatkan badan, berjalan, berlari, berenang dan bela diri dimanapun kita bisa melakukannya karena banyak orang umum yang juga melakukannya. Menunggang kuda, kita bisa melakukannya di tempat-tempat yang biasa orang-orang umum menunggang kuda, atau masuk secara resmi ke olah raga berkuda yang diadakan oleh swasta atau negara.

 

Memanah, kita bisa datang ke daerah-daerah atau tempat-tempat yang orang umum masih menggunakan panah untuk berburu, atau masuk secara resmi ke olah raga memanah yang diadakan oleh swasta atau negara.

 

Menombak, kita bisa datang ke daerah-daerah atau tempat-tempat yang orang umum masih menggunakan senjata tombak untuk berburu atau masuk secara resmi ke olah raga lempar lembing yang diadakan oleh swasta atau negara.

 

Memainkan pedang, kita bisa masuk secara resmi ke olah raga bela diri yang biasa menggunakan pedang seperti wushu dan lain-lain, atau masuk secara resmi ke olah raga anggar yang diadakan oleh swasta atau negara.

 

Taktik dan strategi perang, kita bisa membaca sejarah peperangan yang dilakukan oleh para sahabat dan para pahlawan perang umat Islam sepanjang jaman, membaca sejarah perang orang-orang non Islam, membaca cerita-cerita perang meskipun fiktif, menonton film-film perang meskipun fiktif dan lain-lain yang orang umumpun melakukannya.

Adapun belajar menembak dan menggunakan segala macam senjata, membuat dan menggunakan segala macam bom, mengendarai dan menggunakan tank, mengendarai dan menggunakan segala macam kendaraan perang, dan mengendarai dan menggunakan pesawat tempur, i’dad yang semacam ini tidak bisa dilakukan karena pelajaran-pelajaran ini hanya khusus buat militer dan yang semisalnya, jika orang sipil mempelajarinya maka akan melanggar hukum yang berlaku di Indonesia dan terkena sangsinya.

 

Kecuali belajar membaca peta dan menggunakan peralatan-peralatan yang berhubungan dengannya, belajar materi tersebut bisa dilakukan karena pelajaran ini juga dipelajari oleh orang-orang umum.

 

 

2. Perintah i’dad tetap dilaksanakan, meskipun melakukan aktifitas yang melanggar hukum yang berlaku di negara ini, namun harus dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi dan konsekuensi dengan resikonya.

 

Belajar menembak dan menggunakan segala macam senjata, membuat dan menggunakan segala macam bom, bahkan mengumpulkan peralatan dan perlengkapan perang tetap bisa dilakukan, akan tetapi harus dengan cara diam-diam dan sembunyi-sembunyi di tempat-tempat yang khusus dan tertutup.

 

Belajar teori tentang senjata, tentang menggunakan senjata, tentang menembak, tentang amunisi, dan tentang bom harus dilakukan secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi. Jika memungkinkan maka cara belajarnya lebih baik sendiri-sendiri. Jika tidak memungkinkan dan memerlukan guru maka lebih baik satu guru dengan satu murid.

 

Jika satu guru dengan satu murid tidak memungkinkan maka satu guru dengan beberapa muridpun bisa. Hanya saja semakin banyak orang yang tahu maka semakin tidak baik pula keamanannya.

Adapun untuk mempraktikkan teori-teori yang didapatkan dari belajar tersebut, ada teori yang bisa dipraktikkan di tempat belajar dan ada pula yang tidak bisa dipraktikkan. Yang bisa dipraktikkan di tempat belajar adalah bungkar pasang senjata, cara membawa senjata, posisi menembak, cara membidik, cara menembak dengan menarik pelatuk tanpa peluru, cara membuat dan merangkai bom dengan menggunakan bahan peledak yang tidak sungguhan.

 

Dan yang tidak bisa dipraktikkan di tempat belajar adalah segala aktifitas yang bisa membuat orang lain tahu sehingga program i’dad secara sembunyi-sembunyi ini terbongkar, seperti jika menembak betulan maka suaranya akan didengar oleh orang lain, dan jika menggunakan bahan peledak betulan maka dikhawatirkan akan meledak sungguhan yang akan membahayakan diri sendiri dan membuat orang lain tahu ledakan itu.

Selain belajar tentang ilmu-ilmu di atas, yang penting lagi adalah pengadaan peralatan dan perlengkapan yang diperlukan dalam i’dad tersebut yaitu senjata api, amunisi, bahan peledak, detonator dan peralatan-peralatan lainnya. Senjata api, amunisi, bahan peledak, dan detonator adalah barang-barang yang tidak dijual bebas dan tidak bebas memiliki dan menggunakannya kecuali militer, polisi dan pihak-pihak yang memiliki izin khusus.

 

Oleh sebab itu cara mengadakannya juga harus lewat cara yang tidak resmi, seperti memperoleh dari para pejuang yang memiliki tujuan yang sama, membeli dari perorangan, dan membeli dari pihak-pihak yang biasa menjual barang-barang tersebut secara ilegal baik di dalam negeri atau di luar negeri. Dan jika membeli barang-barang tersebut maka harus dirahasiakan tujuan pembeliannya supaya pihak penjual dan pihak manapun tidak mengetahui bahwa pembelian barang-barang ini dalam rangka i’dad dan jihad.

Setelah memiliki senjata api, amunisi, bahan peledak, detonator, dan peralatan-peralatan perang lainnya maka program i’dad bisa dikatakan cukup sempurna karena sudah ada peralatan dan perlengkapannya sehingga bisa mempraktikkan sesudah mempelajari teorinya meskipun tidak bisa mempraktikkan secara maksimal. Dan selain digunakan buat belajar, barang-barang tersebut juga buat disimpan untuk digunakan manakala suatu saat Allah membuka front jihad di suatu tempat dan barang-barang ini memungkinkan dibawa dan digunakan kesana.

Cara i’dad yang seperti ini sudah saya lakukan sejak tahun 1996. Saya memulainya dengan mencari bahan-bahan kimia di toko-toko kimia yang bisa saya jadikan berbagai macam bahan peledak. Selain bahan-bahan mentah untuk membuat bahan peledak saya juga mencari detonator dan bahan peledak standar buatan pabrik.

 

Pada tahun 1998 saya ajak Amrozi untuk bersama-sama melanjutkan aktifitas i’dad ini dengan memulai mencari senjata api, amunisi, pedang-pedang dan apa saja yang kami anggap berguna untuk i’dad.

 

Kami berhasil mendapatkan dan mengumpulkan senjata api, amunisi, bahan peledak, detonator dan pedang-pedang. Dengan demikian berarti kami berhasil melaksanakan i’dad dengan cara seperti ini.

 

Saya juga bisa mengulang lagi pelajaran senjata dan bom yang dulu saya dapatkan di Afghanistan, bahkan bisa mempraktikkan pembuatan bahan peledak dan bom racun yang dulu belum sempat saya praktikkan. Saya juga bisa selalu membawa senjata pistol layaknya polisi dan tentara. Dan saya juga bisa mengajari orang lain menggunakan senjata dan membuat bom dalam rangka persiapan jihad meskipunbelajar dan pelajarannya sangat terbatas.

 

I’dad dengan cara yang seperti ini kami lakukan berjalan lancar, aman, tidak pernah dicurigai dan berurusan dengan aparat yang berwenang di negara ini meskipun senjata api, amunisi, bahan-bahan bom kami simpan di sekitar tempat tinggal kami dan meskipun akhirnya kami juga terlibat jihad di Ambon dan Poso. Jika akhirnya kami ditangkap dan dipenjara, ini bukan disebabkan karena kami melakukan i’dad akan tetapi karena kami melakukan beberapa aksi pengeboman dan erbongkar di Bom Bali.

 

3. Perintah i’dad tetap dilaksanakan dengan menggunakan dan memanfaatkan camuflage (penyamaran).

I’dad belajar menunggang kuda, memanah, menembak, memainkan pedang tetap dilaksanakan dengan cara seolah tidak dalam rangka i’dad akan tetapi melakukan aktifitas-aktifitas tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang umum.

 

Menunggang kuda, bisa dilakukan dengan cara masuk ke klub hobi berkuda, masuk ke sekolah olah raga berkuda, masuk menjadi atlit berkuda dan lain-lain. Menembak, bisa dilakukan dengan cara masuk menjadi anggota PERBAKIN, masuk menjadi atlit menembak, sehari-hari menggunakan senjata angin yang biasa untuk menembak burung dan lain-lain.

 

Memanah, bisa dilakukan dengan cara masuk ke klub hobi memanah, masuk menjadi atlit panahan, merantau ke daerah-daerah yang masih lazim menggunakan alat panah untuk berburu dan lain-lain.

 

Memainkan pedang, bisa dilakukan dengan cara masuk secara resmi ke klub bela diri yang menggunakan dan mengajarkan pedang, menjadi atlit bela diri yang menggunakan pedang, menjadi atlit wushu, menjadi atlit anggar dan lain-lain.

Kegiatan-kegiatan ini diniatkan untuk i’dad tetapi disamarkan seolah-olah karena hobi, kesenangan, olah raga, cari populer, cari uang, membela negara dan lain-lain. Dengan demikian akan tertutupilah tujuan yang sebenarnya dan yang tampak hanyalah aktifitas-aktifitas sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang umum.

 

4. Perintah i’dad dilaksanakan di tempat-tempat yang memiliki front jihad atau di negara-negara yang mau menfasilitasi program i’dad

 

I’dad bisa dilakukan di negara-negara atau di tempat-tempat yang ada front jihad. I’dad juga bisa dilakukan di negara-negara atau di suku-suku yang memiliki kekuasaan yang mau menerima dan menfasilitasi program i’dad.

I’dad ini dilakukan dengan cara mendatangi tempat-tempat yang ada front jihad. Front jihad yang saya maksud adalah terjadi perang langsung antara mujahidin dengan orang kafir, atau ada daerah yang dikuasai oleh mujahidin, atau terjadi perang gerilya yang dilakukan oleh mujahidin.

 

Contoh front jihad adalah di Filipina, Kashmir, Afghanistan, Irak, dan Chechnya.

 

Caranya yaitu datang ke tempat-tempat tersebut, lalu bergabung dengan mujahidin setempat, kemudian mengikuti program i’dad yang dilakukan oleh mujahidin setempat, atau memohon kepada mereka supaya bisa memprogramkan dan melakukan i’dad sendiri di tempat mereka.

Jika ada maka i’dad ini juga bisa dilakukan dengan cara mendatangi negara-negara atau suku-suku yang memiliki kekuasaan yang mau menerima dan menfasilitasi program i’dad. Bisa dengan cara diikutkan program ketentaraan di negara atau suku tersebut, atau dilatih oleh orang-orang yang ditunjuk oleh negara atau suku tersebut, atau diberi tempat dan fasilitas di negara atau di wilayah suku tersebut namun ditangani sendiri oleh yang berkepentingan memprogramkan i’dad.

 

 

5. Meskipun pernah i’dad jangan lantas memaksakan diri untuk melakukan aksi jihad

 

Ada pemikiran  dan perasaan yang tidak benar yang ada pada diri sebagian kawan-kawan yang sudah pernah terjun di medan perang secara langsung atau yang pernah melakukan latihan militer dalam rangka i’dad, diantaranya adalah:

 

–         Pengalaman, pengetahuan, penguasaan dan kemampuan militer yang telah dimiliki harus direalisasikan dengan melakukan aksi jihad dengan cara apapun, dalam kondisi apapun dan di tempat manapun.

–         Kuatir bermaksiyat kepada Allah dan Rasul-Nya jika pengalaman, pengetahuan, pengusaan dan kemampuan militer yang telah dimiliki tidak segera digunakan untuk melakukan aksi jihad.

–         Pengalaman, pengetahuan, penguasaan dan kemampuan militer yang telah dimiliki tidak aka nada gunanya manakala tidak secepatnya direalisasikan untuk melakukan aksi jihad.

–         Merasa malu dan tidak enak dengan sesama mujahid yang lainnya manakala pengalaman, pengetahuan, penguasaan dan kemampuan militer yang telah dimiliki tidak secepatnya direalisasikan untuk melakukan aksi jihad.

 

Hal ini menimpa sebagian kawan yang pernah ikut berjihad dan i’dad di Afghanistan, di Philipina, di Ambon, di Poso dan di tempattempat lain.

 

Inilah diantara sebab yang melatarbelakangi dilakukannya pengeboman dan aksi kekerasaan lainnya yang terjadi di Indonesia.

 

Agar kita tidak memiliki pemikiran seperti diatas dan tidak melakukan aksi jihad yang justru akan merugikan perjuangan itu sendiri maka harus diperhatikan dua hal berikut ini:

 

1)    Harus Mengetahui Manfaat dan Fungsi I’dad

 

Diantara manfaat dan fungsi i’dad adalah:

 a.     Menjalankan perintah Allah

 

I’dad adalah perintah Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu maka siapa dari Umat Islam yang melaksanakan i’dad berarti telah melaksanakan perintah Allah, dan yang tidak melaksanakannya berarti tidak melaksanakan perintah Allah.

 

b.    Menghidupkan sunnah Rasulullah dalam urusan i’dad yang akan terus diikuti oleh generasi Islam berikutnya

 

I’dad adalah perintah Allah yang dilaksanakan oleh Rasulullah kemudian Beliau juga memerintahkan kepada umatnya, maka siapa dari Umat Islam yang melaksanakannya berarti telah menghidupkan Sunnah Rasulullah.

 

Meskipun seluruh sunnah Rasulullah tentang i’dad sudah dibukukan oleh para Ulama’ namun dalam setiap generasi harus ada yang melaksanakan dan mengajarkannya secara langsung kepada generasi berikutnya. Pengajaran yang dilakukan oleh gererasi sebelumnya kepada generasi sesudahnya itu berfungsi sebagai contoh bagaimana cara melaksanakan syariat i’dad.

 

c.      Memberi ketakutan kepada para musuh Allah

 

I’dad adalah perintah Allah yang salah satu tujuannya adalah untuk menakut-nakuti musuh Allah dan musuh Umat Islam. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, jika Dia menyampaikan bahwa i’dad itu untuk menakut-nakuti musuh-Nya maka pasti benar adanya bahwa musuh-musuh-Nya akan takut jika Umat Islam melakukan i’dad sehingga mereka tidak akan berani macam-macam terhadap Islam dan Umat Islam.

 

Jika Umat Islam sudah melaksanakan i’dad namun tidak bisa memberikan ketakutan kepada para musuh Allah dan musuh Umat Islam berarti pelaksanaan i’dad tersebut belum sesuai dengan perintah Allah dan belum mengikuti Sunnah Rasulullah.

 

d.    Sebagai persiapan jika sewaktu-waktu musuh menyerang

 

Sejak diutusnya para Nabi dan Rasul yang membawa kebenaran maka sejak itu pula ada penentangnya yaitu dari golongan orang-orang kafir.  Begitu juga ketika Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir yang membawa agama Islam maka orang-orang kafir pun selalu memusuhi, mendengki, tidak meridhai, memerangi dan selalu berusaha mengeluarkan umat Islam dari agamanya.

 

Sikap orang-orang kafir yang seperti ini tidak akan berhenti hingga berakhirnya dunia ini dengan datangnya hari kiamat.

 

Dengan melaksanakan i’dad maka umat Islam telah melakukan usaha persiapan perang untuk mengantisipasi kapanpun orang-orang kafir melakukan penyerangan.

 

e.      Sebagai persiapan menjadi tentara Imam Mahdi

 

Mengimani akan munculnya Imam Mahdi sebagai pemimpin umat Islam yang akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kedzaliman adalah termasuk Akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Dalam memperjuangkan Islam Imam Mahdi memiliki pasukan yang diantara cirinya adalah membawa bendera hitam.

 

Rasulullah memerintahkan kepada umatnya, bagi siapa yang mengetahuinya hendaknya berusaha bergabung dengan pasukan tersebut meskipun harus merayap di atas salju karena disitu ada Imam Mahdi.

 

Maka diantara manfaat dan fungsi melakukan i’dad di sepanjang masa adalah persiapan untuk menjadi pengikut dan tentara Imam Mahdi. Jika generasi saat ini belum mendapatkan Imam Mahdi maka i’dad harus tetap dilaksanakan oleh generasi berikutnya sehingga pada setiap generasi mereka senantiasa siap menjadi tentara Imam Mahdi.

 

 

2)    Harus Yakin Bahwa I’dad Yang Pernah Dilakukan Tidak Sia-Sia

 

I’dad adalah perintah Allah dan Rasul-Nya, maka bagi Umat Islam yang melaksanakannya tidak akan merugi dan tidak akan sia-sia. Karena Allah tidak akan memerintahkan sesuatu yang menyebabkan kerugian dan kesia-siaan. Kalau i’dad yang sudah dilakukan belum bisa memberikan manfaat apa-apa buat kepentingan Islam, tidak berarti i’dad tersebut sia-sia. Karena dengan melaksanakan i’dad berarti telah melaksanakan perintah Allah yang akan membuat Allah ridha terhadap pelakunya dan membalasnya dengan pahala.

Saya pernah tidak sabar ketika kembali dari Afghanistan, karena setelah pulang dari melakukan i’dad ternyata belum bisa merealisasikan tujuan dari i’dad itu sendiri. Dan hal ini juga dirasakan oleh kawan-kawan kami sesama alumni Afghanistan. Kami selalu mengajak kawan-kawan dan mendesak senior kami agar segera memulai melakukan jihad buat merealisasikan hasil i’dad yang telah kami lakukan.

 

Kami merasa bahwa i’dad yang telah kami lakukan tidak ada gunanya, rugi dan sia-sia jika tidak segera direalisasikan dengan melakukan jihad. Bahkan ada yang berpikiran, jika tidak segera merealisasikan dengan melakukan jihad berarti pengkhianatan terhadap amanat i’dad yang sudah menghabiskan dana umat untuk kepentingan jihad. Pemikiran dan perasaan seperti inilah yang melatarbelakangi kami harus segera memulai jihad dengan melakukan aksi pengeboman.

Apa yang pernah kami alami ini harus dijadikan sebagai pelajaran, bahwa jangan sampai terburu-buru melakukan jihad hanya berdasar karena sudah pernah melakukan i’dad. Atau merasa yakin dan bersandar bahwa Allah akan membuka jihad lantaran i’dad yang telah kita lakukan. Atau merasa yakin bahwa Allah membuka jihad itu lantaran karena kita sudah bisa menggunakan senjata api, bisa membuat bom dan sudah menguasai ilmu militer lainnya.

 

Atau merasa bangga karena mampu melakukan i’dad yang berarti mampu juga melakukan jihad. Atau menganggap i’dad itu sia-sia jika tidak segera dipraktikkan untuk jihad. Atau merasa rugi karena sudah melakukan i’dad namun belum bisa mempraktikkannya untuk jihad.

Ketahuilah bahwa i’dad adalah bagian dari jihad, maka ketika  melakukan i’dad berarti sudah melakukan amalan jihad dan mendapatkan  pahala jihad. Memang benar bahwa i’dad adalah amalan yang dilakukan sebelum melakukan jihad, namun tidak ada perintah dari Allah atau Rasul-Nya yang membatasi waktu antara i’dad dan jihad.

 

Pada ayat 60 Surat Al-Anfal Allah tidak memerintahkan I’dad lalu berjihad, namun menerangkan tujuan diperintahkannya i’dad yaitu untuk menakut-nakuti musuh Allah dan musuh Umat Islam. Jadi, setelah melakukan i’dad, tidak mesti harus segera melakukan jihad, apalagi pada situasi dan kondisi ketika belum memiliki front jihad seperti di Indonesia saat ini.

Kita tidak berdosa manakala pernah melakukan i’dad namun belum pernah melakukan jihad, atau sudah pernah ikut berjihad di medan perang secara langsung namun sekarang ini tidak lagi. Yang berdosa adalah manakala kita sudah pernah melakukan i’dad namun melupakan ilmu yang pernah kita dapatkan sebagaimana sabda Rasulullah:

مَنْ عَلِمَ الرَّمْيَ ثُمَّ تَرَكَهُ فَلَيْسَ مِنَّا أَوْ قَدْ عَصَى

“Barang siapa mengetahui memanah kemudian melupakannya maka tidak termasuk golongan kami atau bermaksiyat.” (HR.Muslim dan Baihaqi)

 

 

B.   ALTERNATIF UNTUK MELAKUKAN JIHAD

 

Setelah runtuhnya Khilafah Islamiyah tahun 1924 M di Turki maka kewajiban jihad di jalan Allah tidak lagi bisa dilaksanakan sesuai dengan tuntutan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Umat Islam tidak lagi bisa melaksanakan fardhu kifayah jihad minimal sekali dalam setahun untuk ekspansi ke negara lain. Bahkan melakukan jihad untuk mempertahankan diripun hampir tidak bisa sehingga membuat Umat Islam semakin dikuasai orang-orang kafir dan sekuler.

 

Dalam kondisi yang seperti ini Umat Islam mengalami dua kerugian.  Pertama; mereka tidak bisa melaksanakan perintah jihad, kedua; mereka akan dihinakan oleh umat yang lain. Oleh karena itu wajar jika di Negara mana saja ada sekelompok dari Umat Islam yang selalu berusaha untuk menciptakan medan jihad supaya bisa melaksanakan kewajiban jihad dan akan menjadi umat yang berajaya sebagaimana ketika masih ada Khilafah Islamiyah.

 

Karena dituntut oleh perintah Allah dan keinginan untuk menjayakan Islam dan Umat Islam, maka di beberapa negara ada sekelompok dari Umat Islam yang memulai melakukan aksi jihad, diantaranya adalah yang ada di Indonesia dan saya termasuk di dalamnya.

 

Sebagaimana yang saya rasakan dan alami, bahwa yang mendorong kami memulai melakukan aksi pengeboman adalah semangat kami untuk secepatnya memulai melakukan aksi jihad dan keyakinan kami bahwa kami berada di jalan yang benar. Kami tidak mempertimbangkan apakah kami mampu melakukan jihad dan apakah jihad yang akan kami lakukan mengikuti Sunnah Rasulullah. Jadi, dalam melakukan jihad kami lebih didorong oleh semangat dan keyakinan tersebut diatas daripada melihat kemampuan dan mengikuti Sunnah Rasulullah.

 

Diantara contoh kami didorong oleh semangat adalah jika bukan kami yang memulai membuka jihad maka siapa lagi yang bisa diharapkan untuk memulainya.  Dan contoh kami didorong oleh keyakinan berada di jalan yang benar adalah bahwa ketika kami berada di jalan yang benar maka Allah pasti menolong kami.

 

Padahal,seandainya kami melihat dan instrospeksi terhadap kemampuan kami maka pasti kami tidak akan terburu-buru memulai jihad dengan pengeboman. Apalagi jika kami benar-benar mengikuti Sunnah Rasulullah maka kami tidak akan memulai jihad sebelum terpenuhilah anasir-anasir yang pernah membawa keberhasilan Rasulullah dalam membuka jihad diantaranya adalah karena Beliau sudah memiliki daerah kekuasaan.

Ketika kami tidak instrospeksi diri dan tetap memulai jihad maka sangat mudah bagi polisi untuk menangkap dan menghentikan aksi jihad kami.

 

Setelah kami melakukan aksi jihad dan berhasil dibongkar oleh polisi lalu serentetan aksi jihad diteruskan lagi oleh kawan-kawan yang lain polisi juga berhasil mengungkapnya dan hampir semua yang terlibat juga sudah ditangkap dan masuk penjara. Situasi dan kondisi yang seperti ini berarti kami gagal membentuk front jihad.

 

Kejadian ini harus dijadikan sebagai pelajaran bagi generasi selanjutnya supaya mereka tidak melakukan kesalahan-kesalahan sehingga mereka tidak gagal seperti kami dalam  melakukan jihad dan tidak menyusul kami masuk penjara karena kesalahan yang sama.

 

Oleh karena itu maka saya akan mengetengahkan solusi agar dalam meniti di jalan jihad ini kita tetap mengikuti sunnah Rasulullah, tidak melanggar adab-adab jihad, bisa tetap melaksanakan kewajiban jihad, bisa terhindar dari dosa meninggalkan jihad dan pada suatu saat bisa menjadi salah satu yang dipilih oleh Allah untuk membentuk front jihad.

 

Ada beberapa solusi sebagai berikut:

 1.     Berjihad ke tempat-tempat yang ada perang

 

Untuk menyalurkan keinginan agar bisa melaksanakan kewajiban jihad caranya adalah datang ke tempat-tempat yang memiliki front jihad yaitu adanya peperangan antara mujahidin dan orang-orang kafir, atau setidaknya ke tempat yang para mujahidin sedang melancarkan perang gerilya terhadap orang-orang kafir. Saat ini front jihad yang saya maksud setidaknya ada di beberapa tempat seperti di Palestina, di Iraq, di Afghanistan, di Kashmir, di Chechnya dan di Philipina. Caranya adalah datang ke negara-negara tersebut lalu bergabung dengan para mujahidin kemudian berperang bersama-sama mereka.

Karena cara berjihad ini dilakukan di luar negeri maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan demi suksesnya program jihad tersebut:

 

a.     Mengetahui dan mampu menempuh perjalanan

 

Ketika memutuskan mau berjihad ke medan jihad yang dituju maka sebelumnya harus mengetahui caranya bisa sampai di tempat tersebut dan bagaimana caranya bisa bergabung dengan mujahidin setempat. Karena perjalanan ini dalam rangka jihad maka kerahasiaan dan keamanan harus dijaga karena pasti ada pihak-pihak yang akan menghalangi dari jalan jihad. Dan yang penting juga adalah harus memiliki kemampuan untuk melakukan perjalanan, seperti kesehatan, keberanian dan dana buat biaya perjalanan dari tempat tinggal hingga sampai di medan jihad.

 

b.    Memberi manfaat buat jihad dan mujahidin setempat

 

Bergabung dengan para mujahidin setempat berarti menjadi sukarelawan jihad di medan jihad orang lain. Oleh karena itu, bagi yang memutuskan untuk berjihad ke negara orang lain maka dia harus memiliki pengetahuan tentang perang, mampu dan bisa berperang. Jika ada maka harus juga menyediakan dana buat kepentingan jihad di medan jihad tersebut atau setidaknya buat biaya diri sendiri selama berjihad. Hal ini untuk menjaga, jangan sampai datang ke tempat jihad tersebut dengan tujuan menjadi sukarelawan jihad namun justru merepotkan mujahidin setempat.

 

c.      Mengikuti aturan yang berlaku di tempat tersebut

 

Ketika sudah bergabung bersama mujahidin setempat maka harus taat mengikuti aturan yang berlaku di medan jihad tersebut. Hal ini disebabkan karena yang paling mengetahui situasi dan kondisi di medan jihad tersebut adalah mujahidin setempat. Jadi, jangan sampai melanggar aturan yang ada sebab melanggar aturan yang ada berarti melanggar adab jihad. Dan jika melanggar aturan yang ada maka akan memberikan bahaya kepada jihad dan para mujahidin yang lainnya.

 

d.    Tetap bertanggung jawab terhadap keluarga yang ditinggalkan

 

Ketika memutuskan untuk berjihad di luar negeri maka urusan dan tanggung jawabnya harus diselesaikan terlebih dahulu. Jadi, jangan sampai pergi berjihad namun orang tua tidak ada yang mengurus. Jangan sampai pergi berjihad namun istri, anak dan keluarganya terbengkalai. Jangan sampai pergi berjihad namun anak dan istrinya bekerja sendiri buat memenuhi keperluannya. Jangan sampai pergi berjihad namun keluarganya ditelantarkan dan sengsara. Dan jangan sampai pergi berjihad namun keluarganya menjadi tanggungan dan merepotkan orang lain.

 

e.      Menimbang positif dan negatifnya

 

Maksud menimbang disini adalah memikirkan tentang apa sisi positifnya dan negatifnya jika berangkat berjihad ke luar negeri. Memikirkan untung dan ruginya buat kepentingan dunia akhirat. Memikirkan, apa dengan berangkat berjihad ke luar negeri itu perjuangannya lebih baik daripada tinggal dinegaranya sendiri. Memikirkan, apa mujahidin setempat memerlukan bantuannya. Memikirkan, apa jika tidak datang ke medan jihad tersebut lantas jihad di sana tidak bisa dilanjutkan.

 

Memikirkan, apa sudah tidak bisa lagi memperjuangkan Islam di negaranya sendiri. Memikirkan, apa di negaranya sudah tidak bisa lagi mengatakan kebenaran di depan penguasa padahal hal itu termasuk jihad yang paling besar. Memikirkan, apa sudah tidak bisa lagi memperjuangkan Islam di negaranya sendiri. Memikirkan, apa di negaranya sudah tidak bisa lagi melakukan i’dad (mempersiapkan kekuatan perang) yang termasuk tahapan menuju jihad.

 

Memikirkan, apa di negaranya sudah tidak bisa lagi berdakwah mengajarkan Islam. Memikirkan, apa di negaranya sudah tidak ada lagi yang berhak mendapatkan pelajaran tentang Islam. Memikirkan, apa di negaranya sudah tidak ada lagi yang berhak mendapatkan pelajaran tentang jihad. Memikirkan, jika berangkat ke medan jihad yang ada di tempat tersebut apa bisa memberikan manfaat buat berlangsungnya jihad disana. Memikirkan, jika berangkat ke medan jihad yang ada di tempat tersebut apa bisa membantu mujahidin setempat atau justru merepotkan mereka.

 

2.     Menanti penyerangan yang dilakukan oleh musuh

 

Allah menciptakan manusia ada yang beriman dan ada yang kafir. Yang beriman adalah yang mengikuti ajaran Nabi yang diutus oleh Allah pada masanya dan yang kafir adalah yang tidak mau mengikutinya. Allah juga menakdirkan bahwa orang-orang kafir tidak akan pernah ridha terhadap orang Islam yang hal itu disebutkan dalam Al-Quran.

 

Mereka akan selalu berusaha dengan cara apapun agar orang-orang Islam murtad keluar dari agamanya. Bahkan disebabkan oleh kebencian dan kedengkian mereka terhadap Islam mereka akan membunuh dan memerangi Umat Islam. Hal ini sudah terbukti dari pertama kali Islam diturunkan hingga sekarang ini. Situasi dan kondisi seperti ini akan terus terjadi hingga datangnya hari kiamat.

 

Maka bagi yang memiliki pemikiran tentang jihad dalam arti perang dan bagi yang sudah pernah melakukan i’dad dan yang sudah menguasai pengetahuan berperang, mereka tidak usah memaksakan diri untuk menciptakan medan perang karena orang kafirlah yang akan memulai memerangi Islam. Ketika orang-orang kafir sudah mulai memerangi Islam dan Umat Islam maka disitulah jihad sudah dibuka.

 

Dibukanya jihad dengan cara seperti ini sudah terbukti dari pertama disyariatkannya jihad pada masa Rasulullah hingga sekarang ini. Dalam situasi dan kondisi seperti ini maka Umat Islam yang sudah memiliki pengetahuan berperang harus mengerahkan segala kemampuannya untuk memerangi musuh yang menyerang, dan Umat Islam yang belum memiliki pengetahuan berperang terlebih dahulu harus melakukan i’dad.

 

 

3.     Melakukan i’dad

 

 

I’dad adalah kewajiban yang dilakukan sebelum jihad dan tahapan menuju jihad. Meskipun demikian namun i’dad juga bisa berfungsi sendiri yaitu untuk menakut-nakuti musuh Allah dan musuh Umat Islam. Oleh karena itu maka ketika umat Islam melaksanakan i’dad berarti mereka sudah melakukan salah satu tahapan dari jihad berarti juga sedang melaksanakan kewajiban jihad.

 

Maka bagi umat Islam yang sudah pernah melakukan i’dad tidak boleh melupakan ilmunya dan jika mungkin harus diajarkan kepada umat Islam yang lain. Dan bagi Umat Islam yang belum pernah melakukan i’dad maka wajib melaksanakannya. I’dad inilah bentuk jihad yang bisa dilakukan ketika belum adanya front jihad.

 

 4.     Mencari tempat yang memungkinkan bisa dijadikan sebagai basis

 

Jika dilihat dari sisi belum adanya kekuasaan maka perjuangan Islam saat ini bisa dikatakan sama dengan periode Makkah. Oleh karena itu, bagi Umat Islam yang ingin dikaruniai medan jihad oleh Allah saat ini maka mereka harus mengikuti sunnah Rasulullah ketika pada periode Makkah.

 

Memang benar bahwa ketika masih di Makkah Rasulullah tidak melaksanakan jihad sebabnya adalah karena belum turun perintah jihad. Namun setidaknya harus diambil sebagai pelajaran bagaimana cara Rasulullah memperjuangkan Islam ketika itu dan bagaimana situasi dan kondisinya hingga Allah menurunkan perintah jihad. Dengan demikianumat Islam bisa mencontoh apa saja yang dilakukan oleh Rasulullah saat itu hingga turunnya perintah jihad.

 

Pada periode Makkah, Rasulullah pernah mengutus beberapa sahabat untuk berhijrah ke Habasah, bahkan Beliau sendiri beberapa kali mencari tempat untuk hijrah.

 

Akhirnya Rasulullah mendapatkan Madinah sebagai tempat hijrah lalu para sahabat berhijrah ke sana kemudian Beliau juga menyusul, saat itulah Allah menurunkan ayat tentang ijin berperang.

 

Setelah Allah mengijinkan berperang lalu Allah menurunkan ayat tentang perintah berperang yaitu pada saat Rasulullah dan umat Islam sudah memiliki kekuasaan di Madinah.Maka sejak saat itulah Rasulullah mulai melancarkan jihad terhadap orang-orang kafir Makkah.

 

Dari perjalanan Rasulullah ini bisa disimpulkan, bahwa Beliau memulai melakukan jihad terhadap orang-orang kafir adalah ketika sudah memiliki kekuasaan di Madinah yang berfungsi sebagai basis untuk memulai perjuangan bersenjata.

 

Oleh karena itu, sebagai umat yang wajib mengikuti sunnah Rasulullah kita harus mengikuti langka Beliau sebelum melancarkan jihad yaitu harus memiliki daerah kekuasaan sebagai basis untuk melakukan perjuangan bersenjata. Memang benar, bahwa saat ini tidak akan ada daerah seperti Madinah yang penduduknya merelakan Beliau dan umat Islam berhijrah ke sana, namun setidaknya ada daerah yang mendekati seperti Madinah yaitu penduduk yang mayoritas muslim yang masih peduli dengan kewajiban melaksanakan syariat Islam secara menyeluruh.

 

Dari daerah yang penduduknya seperti inilah yang memungkinkan bisa dijadikan sebagai tahapan untuk mendapatkan daerah basis yang fungsinya seperti Madinah kala itu. Jika tidak ditemukan yang seperti itu maka bisa juga dimulai dari awal dengan mencari tempat-tempat yang masih kosong seperti di hutan dan lain-lain, lalu memulai merintis tempat tinggal disitu.

 

5.     Membentuk kekuatan dengan membina umat

 

Keberhasilan perjuangan Islam yang diawali oleh Rasulullah adalah disebabkan oleh kualitas Beliau dalam membina umat. Maka dalam tempo sekitar 13 tahun di Makkah, Beliau berhasil mengislamkan beberapa tokoh dan membina mereka sehingga mereka menjadi kekuatan inti untuk mendawahkan Islam.

 

Bahkan Beliau berhasil membuat orang-orang dari Madinah masuk Islam dan membina mereka yang kelak akan menjadi kaum Anshar yang memberikan tempat hijrah bagi Rasulullah dan umat Islam. Jadi, jika umat Islam yang sekarang ini ingin sukses dalam membentuk kekuatan maka harus mengikuti cara pembinaan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

 

Karena kita sekarang ini berada di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam maka fokus pembinaannya juga harus kepada Umat Islam. Hal ini disebabkan karena banyaknya jumlah tidak bisa menjamin terbentuknya kekuatan, bahkan banyaknya jumlah Umat Islam sekarang ini bisa jadi seperti yang disabdakan oleh Rasulullah yaitu hanya bagaikan buih di lautan.

 

Oleh karena itu maka pembinaan harus dipusatkan kepada Umat Islam itu sendiri supaya aqidah mereka shahih, ibadah mereka benar dan akhlak mereka mulia. Jika pembinaan yang seperti ini bisa dilakukan di setiap masjid, mushalla, madrasah dan majlis-majlis ta’lim di seluruh Indonesia maka tidak menutup kemungkinan akan terbentuk kekuatan yang bisa mengantarkan berdirinya kekuasaan Islam atau terbentuknya front jihad.

 

 

 C.   AMALAN PENTING SELAIN I’DAD DAN JIHAD

 

Siapapun yang mengerti tentang jihad, keutamaan dan fungsinya pasti menginginkan bisa terus menerus berada di medan jihad. Namun perlu disadari bahwa faktanya sekarang ini kita berada di negara Indonesia yang belum memiliki medan jihad. Memang benar bahwa kerusuhan Ambon dan Poso adalah front jihad meskipun belum 100 persen karena masih ada penengahnya yaitu pemerintah NKRI, akan tetapi sekarang ini sudah tidak ada lagi.

 

Oleh karena itu, jika ingin terjun langsung ke medan jihad maka hendaknya kita berangkat ke Palestina atau Irak atau Afghanistan atau Kashmir atau Chechnya atau Filipina atau kemanapun yang di sana ada peperangan antara mujahidin dengan orang-orang kafir dan sekutunya.

Jika tidak bisa berangkat ke tempat-tempat yang memiliki front jihad maka hendaknya kita sadari bahwa itu adalah kekurangan dan kelemahan kita. Dan jangan lantas memaksakan diri untuk membuka jihad dengan cara melakukan pengeboman dan semisalnya karena membuka jihad itu tidak cukup hanya dengan melakukan pengeboman atau semisalnya.

 

Dan jika di Indonesia ini belum ada front jihad maka hendaknya kita sadari juga bahwa kita belum pantas diamanati oleh Allah untuk membuka jihad dan memiliki front jihad. Tujuan dari kesadaran tersebut adalah supaya kita instrospeksi, membenahi diri, kembali kepada sunnah, mengetahui fakta, mengakui kekurangan, mengakui kelemahan dan bukan malah memaksakan diri untuk melakukan jihad dengan cara pengeboman dan semisalnya.

Karena faktanya kita belum bisa membuka jihad dan belum memiliki front jihad maka kita harus melakukan sesuatu yang hal tersebut juga termasuk rangkaian Perjuangan Islam dan mampu kita lakukan.

 

Hal-hal tersebut antara lain:

 

1.     Berdakwah dan Membina umat

 

Berdakwah yang saya maksud adalah menyampaikan ajaran Islam yang ada dalam Al-Quran dan Hadits Rasulullah kepada siapa saja yang mampu dijangkau. Dan membina umat adalah usaha untuk memasukkan ajaran Islam tersebut kepada yang telah menerima dakwah agar diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Dakwah kepada orang-orang non Islam yaitu menyeru mereka supaya masuk Islam dan melaksanakan syariat Islam. Dan dakwah kepada orang-orang Islam yaitu mengajarkan ilmu tentang Islam yang belum diketahui dan menyeru supaya melaksanakan ajaran Islam yang sudah diketahui.

Supaya dakwah dan pembinaan terhadap umat ini membuahkan hasil yang maksimal sesuai dengan tuntutan Al-Quran dan Sunnah maka setidaknya dipusatkan kepada materi sebagai berikut:

 

a.     Aqidah

 

Yang terpenting dari materi aqidah yang harus ditanamkan kepada umat adalah meyakinkan mereka bahwa setelah datangnya Nabi Muhammad maka agama yang diterima dan diridhai oleh Allah hanyalah agama Islam. Hal ini saya maksudkan karena masih banyak orang Islam sendiri yang masih percaya dan meyakini bahwa saat ini ada agama lain yang juga benar selain Islam.

 

Jika ada orang Islam masih memiliki keyakinan seperti ini maka kepada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah pun mereka tidak akan mempercayainya dan tidak pula membenarkannya secara keseluruhan. Dan jika tidak mempercayai dan membenarkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah secara keseluruhan maka rusaklah aqidahnya dan menjadi orang sesat bahkan murtad keluar dari Islam.

Mendakwahkan dan menanamkan keyakinan kepada umat, bahwa hanya Islamlah agama yang diterima dan diridhai oleh Allah adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap muslim yang ingin memperjuangkan Islam. Karena ketika orang sudah memiliki keyakinan seperti ini maka yang sudah beragama Islam akan semakin kuat keyakinannya terhadap Islam dan yang belum masuk Islam akan masuk Islam.

Lain halnya jika ada orang yang belum memiliki keyakinan seperti ini, maka dia tidak akan mau masuk Islam, karena menjalankan perintah dan larangan dalam Islam itu berat, sementara ada agama yang sama benarnya dengan Islam namun tidakberat dalam menjalankan ajarannya. Bahkan bagi orang yang sudah beragama Islam pun jika belum memiliki keyakinan seperti ini maka bisa terpengaruh oleh ajaran-ajaran non Islam sehingga ragu terhadap Islam.

Jika orang Islam sudah memiliki keyakinan bahwa hanya Islam agama yang diterima dan diridhai oleh Allah maka pasti akan percaya dan membenarkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah karena keduanya adalah sumber agama Islam. Atau sebaliknya, jika orang Islam sudah percaya dan membenarkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah maka dia pasti memiliki keyakinan bahwa hanya Islam agama yang diterima dan diridhai oleh Allah.

Oleh karena itu, orang Islam yang memiliki keyakinan seperti ini maka aqidahnya pasti shahih dan yang tidak memiliki keyakinan seperti ini aqidahnya pasti rusak bahkan bisa menjadi kafir. Aqidah seperti inilah yang harus selalu diajarkan kepada umat Islam dan ditanamkan di hati mereka.

Selain diajarkan dan ditanamkan dengan teori, aqidah tersebut harus juga diajarkan dan ditanamkan kepada mereka dengan mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari untuk memberi contoh kepada mereka tentang beraqidah yang lurus.

 b.    Ibadah

Yang harus didakwahkan dan ditanamkan kepada umat dalam masalah ibadah ini adalah, bahwa setelah diutusnya Nabi Muhammad maka Allah hanya akan menerima amalnya orang yang beragama Islam. Meskipun demikian Allah tidak akan menerima amal orang yang beragama Islam kecuali amalnya tersebut didasari ikhlas karena Allah semata dan benar menurut tuntunan Rasulullah.

Jadi, Allah akan menerima amal kebaikan yang dilakukan oleh orang Islam manakala amal tersebut diniatkan ikhlas karena Allah semata dan cara mengamalkannya sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah.

Tuntunan ibadah yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah sudah lengkap. Kelengkapan tuntunan ibadah tersebut melalui proses yaitu Beliau mengajarkan kepada para sahabat, kemudian para sahabat mengajarkannya kepada para tabi’in, lalu para tabi’in mengajarkannya kepada para tabi’it tabi’in, dan begitu seterusnya hingga seluruh Sunnah Rasulullah sampai kepada kita sekarang ini lewat kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama dari masa ke masa.

Sunnah inilah yang wajib dilakukan oleh umat Islam dalam menjalankan ibadah yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Jika umat Islam dalam menjalankan ibadah tersebut keluar dari sunnah ini berarti mereka melakukan bid’ah atau melakukan ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat.

Umat Islam harus selalu dibimbing supaya dalam menjalankan ibadah mereka senantiasa ikhlas karena Allah dan tidak jatuh ke dalam bid’ah. Karena jika dalam menjalankan ibadah itu tidak ikhlas karena Allah semata berarti juga karena selain Allah maka pelakunya bisa menjadi musyrik atau setidaknya melakukan syirik kecil yaitu riya’.

Dan jika dalam menjalankan ibadah itu jatuh kedalam bid’ah berarti pelakunya telah melakukan sejelek-jelek perkara dan ibadahnya ditolak oleh Allah. Karena amal ibadah yang dilakukan itu jatuh kedalam kemusyrikan atau jatuh kedalam bid’ah maka amalan yang telah dilakukan tidak akan bisa memberi manfaat buat pelakunya di dunia dan akhirat. Di dunia amal ibadah tersebut tidak akan memberi kebaikan dan di akhirat tidak akan mendapat pahala.

Jika umat Islam sudah melaksanakan semua amal ibadah yang diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya secara ikhlas karena Allah semata dan benar menurut tuntunan Rasulullah maka akan terbentuk masyarakat yang beriman dan bertakwa. Ketika masyarakat sudah beriman dan bertakwa maka Allah pasti menurunkan berkah dari langit dan bumi sehingga tidak akan terjadi krisis multidemensial seperti yang terjadi di Indonesia sekarang ini.

Materi ibadah yang seperti inilah yang harus didakwahkan dan ditanamkan kepada umat, khususnya di Indonesia yang mayoritas beragama Islam, supaya mereka mengetahui dan memahami bahwa benarnya pelaksanaan ibadah itu sangat menentukan kemakmuran dan keamanan dalam masyarakat.

Jika ada yang berdasar, bahwa di negara non muslim yang tidak menjalankan ibadah yang ada dalam Islam pun bisa makmur dan aman, maka ketahuilah bahwa kemakmuran dan keamanan yang ada di negara-negara seperti itu adalah kemakmuran dan keamanan yang semu.

 

c.      Akhlak

 

Akhlak adalah etika gerak-gerik manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Di dalam agama Islam gerak-gerik manusia selama dua puluh empat jam sudah diatur oleh Allah dalam Al-Quran dan sudah dicontohkan oleh Rasulullah dalam Al-Hadits. Rasulullah adalah suri tauladan yang terbaik sebagai pemimpin, komandan perang, juru da’wah, guru, orang tua, ayah, kakek, suami, keluarga, kawan dan tetangga.

Dengan demikian berarti Beliau adalah suri tauladan yang sempurna dalam menerapkan seluruh akhlak yang mulia. Hal ini sesuai dengan sabda Beliau, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Oleh karena itu, maka barang siapa yang mencontoh Rasulullah berarti berakhlak mulia dan barang siapa yang menyelisihinya berarti berakhlak tercela.

Akhlak Rasulullah inilah yang harus didakwahkan, diajarkan dan ditanamkan kepada umat. Sebagai orang Islam yang ingin memperjuangkan Islam maka harus mengajarkan akhlak Rasulullah kepada umat. Umat harus diajari dan diberi contoh dalam menerapkan akhlak Rasulullah.

Bagaimana akhlak Beliau ketika menjadi pemimpin. Bagaimana akhlak Beliau ketika menjadi komandan perang. Bagaimana akhlak beliau ketika berjihad. Bagaimana akhlak Beliau ketika menjadi juru dakwah. Bagaimana akhlak Beliau ketika menjadi guru. Bagaimana akhlak Beliau ketika menjadi orang tua. Bagaimana akhlak Beliau ketika menjadi ayah. Bagaimana akhlak Beliau ketika menjadi kakek. Bagaimana akhlak Beliau ketika menjadi suami. Bagaimana akhlak Beliau ketika menjadi bagian dari keluarga. Bagaimana akhlak Beliau ketika menjadi kawan. Bagaimana akhlak Beliau ketika menjadi tetangga dan lain-lain.

Jika pada diri setiap orang Islam sudah tertanam akhlak Rasulullah maka yang ada adalah masyarakat Islam yang menerapkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari sehingga terbentuk masyarakat yang beriman dan bertakwa. Jika masyarakat sudah beriman dan bertakwa maka Allah akan membukakan buat mereka berkah dari langit dan bumi. Jika masyarakat sudah diberi berkah semacam ini maka Allah juga pasti memberikan kemudahan buat mereka dalam melaksanakan semua syariat Islam termasuk syariat jihad yang paling sulit dilaksanakan.

 

 

2.     Menanggulangi Pemurtadan

 

Allah menciptakan manusia dari keturunan Nabi Adam a.s ada yang beriman dan ada pula yang kafir. Ada yang beriman setelah kafir dan ada pula yang kafir setelah beriman. Setelah Nabi Muhammad diutus sebagai penutup para Nabi dan Rasul maka ada orang yang asalnya kafir lalu masuk Islam.Ada orang yang asalnya beragama Nasrani (yaitu agama yang diridhai oleh Allah sebelum datangnya Islam), lalu masuk Islam.Dan ada pula orang yang sudah masuk Islam lalu murtad keluar dari Islam.

 

Jadi, adanya orang yang murtad adalah termasuk takdir Allah yang mesti ada meskipun Allah tidak meridhainya. Oleh karena itulah maka Allah dan Rasulullah melarang orang Islam untuk murtad keluar dari agama Islam dan menetapkan hukuman bagi yang melakukannya.

Adanya orang Islam yang murtad keluar dari Islam sebenarnya tidakmemberikan dampak negatif kepada agama Islam namun justru memberikan dampak yang positif. Hal ini disebabkan karena Allah sudah menjamin akan mengganti dengan umat yang lebih baik jika ada umat Islam yang murtad keluar dari Islam. Akan tetapi saya memandang penting untuk menanggulangi masalah pemurtadan tersebut karena beberapa tujuan sebagai berikut:

 

–         Untuk melaksanakan kewajiban amar ma’ruf dan nahi mungkar.

–         Peduli kepada sesama muslim untuk tidak tersesat setelah mendapat petunjuk.

–         Peduli kepada sesama muslim untuk tidak menjadi kafir setelah Islam.

–         Peduli kepada sesama muslim agar tidak mati dalam keadaan kafir yang akan kekal di neraka.

–         Peduli kepada sesama muslim agar tetap di dalam agama Islam supaya bahagia dunia dan akhirat.

–         Untuk mengantisipasi supaya tidak ada orang Islam yang mempermainkan agama.

–         Untuk mengantisipasi supaya tidak ada orang Islam yang murtad kemudian menjelek-jelekkan Islam tanpa dasar yang benar yang akhirnya menimbulkan fitnah di masyarakat.

 

Memurtadkan umat Islam dari agamanya adalah misi dan visi syetan supaya manusia tidak memeluk agama yang diridhai oleh Allah sehingga bisa bersama mereka di neraka.

 

Syetan dari golongan jin menggoda Umat Islam dengan cara membisikkan ke dada mereka yang menyebabkan mereka ragu terhadap kebenaran Islam. Syetan dari golongan manusia menggoda umat Islam dengan cara mengajarkan ajaran-ajaran dan teori-teori produk manusia yang bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Selain itu syetan dari golongan manusia juga menggoda umat Islam dengan cara menjanjikan sesuatu yang bersifat materi.

 

Koalisi dari syetan golongan jin dan golongan manusia inilah yang membuat tipu daya mereka menjadi kuat sehingga ada sebagian umat Islam yang terjerat mengikuti kemauan mereka untuk meninggalkan agama Islam.

 

Biasanya syetan menjalankan visi dan misinya untuk mempengaruhi Umat Islam supaya ragu terhadap Islam dengan mengajarkan beberapa pemikiran sebagai berikut:

 

–         Semua agama sama.

–         Semua agama mengajarkan kebaikan berarti semua agama adalah benar.

–         Adanya beberapa agama dan kepercayaan adalah atas ijin Allah berarti Allah menerima dan meridhai semuanya.

–         Jika Islam adalah agama yang benar, kenapa ada syariat perang, ada hukum rajam, ada hukum potong tangan dan lain-lain.

–         Jika Islam adalah agama yang benar, kenapa berpecah menjadi banyak bahkan antar kelompok bisa bermusuhan.

–         Isi Al-Quran dan As-Sunnah diselewengkan seolah keduanya membenarkan agama dan kepercayaan selain Islam.

 

Inilah diantara pemikiran-pemikiran hasil koalisi syetan dari golongan jin dan syetan dari golongan manusia. Dan yang lebih jelek lagi adalah bahwa ada dari Umat Islam yang memiliki dan mengajarkan pemikiran-pemikiran tersebut.

 

Umat Islamyang mengajarkan pemikiran-pemikiran tersebut berarti Umat Islam yang bodoh atau sesat atau munafik atau pura-pura demi kepentingan duniawi atau orang kafir yang pura-puara menjadi orang Islam.

 

Dengan cara seperti inilah syetan memperdaya Umat Islam supaya keluar dari agama Islam. Maka yang terkena tipu daya mereka adalah Umat Islam yang imannya lemah dan pengetahuannya tentang Islam tidak menyeluruh. Selain itu yang akan tepedaya oleh mereka adalah Umat Islam yang iman dan ekonominya lemah.

 

Jika orang Islam imannya lemah maka akan mudah terpengaruh oleh teori dan ajaran seperti diatas sehingga akan mudah ragu terhadap Islam lalu murtad. Yang lebih parah lagi adalah orang Islam yang imannya lemah dan ekonominya juga lemah, orang seperti ini jika ada agama atau kepercayaan yang menjanjikan bisa memperkuat ekonominya maka dia akan mudah ragu terhadap Islam lalu murtad. Dan pemurtadan yang terjadi di Indonesia ini kebanyakan adalah disebabkan oleh lemahnya iman dan lemahnya ekonomi Umat Islam.

Oleh karena itu, untuk menanggulangi supaya umat Islam tidak murtad maka setidaknya ada dua hal yang harus diatasi yaitu memperkuat iman dan memperkuat ekonomi Umat Islam.

 a.     Memperkuat Iman Umat Islam

Untuk memperkuat iman umat Islam supaya mereka tetap memeluk agama Islam, tidak ragu kepada kebenaran Islam dan tidak murtad adalah dengan cara mendidik dan menanamkan keyakinan ke dada mereka dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:

– Setelah datangnya Nabi Muhammad maka agama yang diterima oleh Allah hanyalah agama Islam.

– Apa saja yang ada dalam Al-Quran dan As-Sunnah adalah benar.

– Apa saja dan siapa saja yang bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah adalah salah.

– Penafsiran terhadap Al-Quran yang bertentangan dengan penafsiran Rasulullah dan para sahabat adalah salah.

Mendidik dan menanamkan keyakinan tentang prinsip-prinsip tersebut harus dilakukan di lembaga pendidikan-lembaga pendidikan, di majelis ta’lim-majelis ta’lim, di khutbah jumat-khutbah jumat, di ceramah-ceramah, di medan dakwah apa saja dan dimana saja yang memungkinkan untuk nasihat-menasihati.

 

Mendidik dan menanamkan keyakinan kepada Umat Islam yang imannya masih lemah tentang prinsip-prinsip di atas adalah tidak cukup hanya dengan teori dan ucapan saja namun harus juga dengan praktik yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

 

b.    Memperkuat Ekonomi Umat Islam

Kemiskinan adalah salah satu sebab orang Islam keluar dari agamanya. Logikanya begini, ketika ada orang Islam yang miskin yang tidak bisa memenuhi keperluannya sehari-hari sementara dia meyakini bahwa semua agama itu sama, lalu ada agama lain yang menjanjikan bisa memenuhi segala keperluannya maka kemungkinan besar orang Islam yang seperti ini akan pindah agama.

 

Alasannya, karena ketika memeluk agama Islam keadaannya miskin sementara kalau mau pindah ke agama yang lain akan menjadi kaya maka lebih baik pindah agama, toh semua agama adalah sama.

Untuk menanggulangi pemurtadan yang disebabkan oleh kemiskinan ini maka iman dan ekonomi umat Islam harus ditingkatkan.

 

Meningkatkan iman umat Islam dalam masalah kemiskinan ini adalah dengan cara memahamkan kepada mereka bahwa rejeki setiap manusia sudah ditetapkan oleh Allah.Oleh karena itu harus ridha jika ditakdirkan miskin dan tetap di dalam agama Islam sambil terus mencari karunia Allah. Dan juga harus memberikan semangat kepadanya bahwa menurut hadits shahih penghuni surga yang terbanyak adalah orang-orang miskin.

 

Selain meningkatkan iman umat Islam dengan memahamkannya tentang hal-hal di atas, juga harus meningkatkan ekonominya. Meningkatkan ekonominya bisa dengan cara mengajaknya untuk kerja sama dalam suatu usaha, memberinya pekerjaan, memberikan haknya dari zakat, memberikan sedekah kepadanya dan membantunya dalam hal apa saja.

Sebagai gambaran untuk menjaga Umat Islam yang ekonomi dan imannya lemah agariman mereka bertambah dan menjadi kuat maka mereka harus mengikuti majelis-majelis taklim. Supaya mereka tetap bisa mengikuti majlis-majlis taklim maka harus diberikan santunan berupa uang saku atau sembako sebagai ganti waktu mereka yang tersita untuk taklim. Hal ini dimaksudkan untuk menarik mereka agar bersemangat mengikuti taklim, dan juga kepedulian antar sesama muslim untuk menjaga persaudaraan.

 

Memang benar bahwa dalam beribadah niatnya harus ikhlas karena Allah tidak karena yang lain-lain, begitu juga dalam mengikuti majelis taklim. Namun juga tidak salah jika untuk mengambil hati umat Islam supaya serius mengikuti taklim dengan memberikan santunan berupa materi kepada mereka.

Keadaan umat Islam yang imannya sudah kuat dengan yang belum adalah beda. Jika imannya sudah kuat maka diuji dengan kemiskinan dan digoda dengan apapun mereka tidak akan terpengaruh dan tidak akan murtad. Akan tetapi, jika imannya belum kuat lalu diuji dengan kemiskinan dan digoda oleh materi maka kemungkinan besar mereka akan mudah terpengaruh dan bisa murtad.

 

Oleh karena itu mereka harus diambil hatinya dan dijaga supaya senang memeluk agama Islam dan tidak murtad. Memperhatikan dengan cara memberikan sesuatu dalam bentuk materi kepada kaum muslimin yang imannya masih lemah ini saya mengambil dasar dari karena Allah menetapkan orang yang baru masuk Islam (muallaf) berhak menerima zakat.

 

Begitu juga Rasulullah memberikan jatah yang lebih buat mereka dari harta rampasan perang. Semua itu bertujuan untuk menjaga hati mereka supaya mereka merasa senang memeluk agama Islam dan tidak kembali menjadi kafir.

 

 

3.     Menanggulangi Penyimpangan Akidah

 

Rasulullah sudah memberitahukan bahwa umat Beliau akan pecah menjadi 73 golongan, 72 golongan akan masuk neraka dan hanya satu golongan yang masuk surga yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Bisa disimpulkan bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah Umat Islam yang mengikuti dan melaksanakan ajaran Rasulullah dan ajaran para sahabat dalam aqidah, ibadah dan akhlak.

Dengan kata lain bahwa satu golongan yang masuk surga itulah golongan yang benar yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan 72 golongan yang masuk neraka itulah golongan yang sesat yaitu semua golongan yang menyimpang dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

 

Oleh karena itulah maka Umat Islam harus tahu bahwa tidak semua orang atau golongan yang mengaku Islam adalah benar dan tidak semua orang atau golongan yang mengaku Islam masuk surga. Hal ini berdasarkan bahwa 72 golongan yang sesat yang akan masuk neraka itu adalah umat Rasulullah berarti Umat Islam.

Dakwah tentang hal ini penting disampaikan agar Umat Isalm selalu berusaha mengikuti Sunnah Rasulullah supaya termasuk satu golongan yang benar dan tidak jatuh menjadi 72 golongan yang sesat.

Untuk mengetahui apakah golongan itu benar atau sesat adalah mudah karena sekarang ini sudah banyak buku yang ditulis oleh para ulama yang berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah yang menerangkan tentang hal itu. Mereka telah mengategorikan mana ajaran-ajaran yang termasuk akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan mana ajaran-ajaran yang diluar akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Jadi, untuk menentukan apakah seseorang atau suatu kelompok itu benar atau sesat adalah bisa dilihat dari paham akidahnya. Jika paham akidahnya sama dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah maka orang atau kelompok tersebut adalah benar dan termasuk satu golongan yang selamat. Dan jika paham akidahnya bertentangan dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah maka orang atau kelompok tersebut adalah sesat dan termasuk 72 golongan yang masuk neraka.

 

Begitu juga kesesatan yang dilakukan oleh perorangan dari Umat Islam seperti merasa menyatu dengan Allah, perdukunan, mengkeramatkan kuburan, memberikan sesaji ke benda-benda atau tempat-tempat dan berpuasa yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah. Ini disebabkan karena amalan-amalan tersebut bertentangan dengan aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah inilah yang wajib didakwahkan dan diajarkan kepada Umat Islam  dan ditanamkan di dada mereka agar pemikiran mereka benar sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Karena jika pemikiran Umat Islam sudah sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah maka pemikiran mereka tidak akan bisa dimasuki oleh ajaran yang sesat dan tidak akan mengikuti kelompok-kelompok sesat.

 

 

4.     Meningkatkan Ilmu

 

Urusan agama yang bersifat tauqifiyah (sesuatu yang sudah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya) dan urusan dunia yang bisa berubah sesuai dengan perkembangan jaman untuk melaksanakannya, kedua-duanya memerlukan ilmu. Ilmu tidak akan pernah habis. Ilmu yang ada dalam Al-Quran tidak akan pernah habis dan senantiasa sesuai dengan perkembangan jaman.

Begitu juga dalam hadits Rasulullah, ilmu yang disampaikan oleh Beliau dalam kumpulan hadits shahih juga tidak akan pernah habis dan juga selalu sesuai dengan perkembangan jaman. Tidak ada orang yang kepenuhan ilmu dan siapapun akan tetap memerlukan ilmu hingga akhir hayatnya, karena kehidupan orang yang normal tidak akan bernilai kecuali berdasarkan ilmu.

Jika ilmu agama seseorang meningkat maka meningkat pula nilai amal ibadahnya. Begitu juga, jika ilmu dunia atau pengetahuan umum seseorang meningkat maka meningkat pula nilai aktifitas keduniaannya. Oleh karena itu, supaya nilai amal ibadah dan nilai aktifitas keduniaan kita sebagai Umat Islam meningkat maka ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum kita harus juga ditingkatkan.

 

a.     Ilmu Agama

 

Yang harus ditingkatkan oleh kita sebagai Umat Islam yang menjunjung tinggi syariat jihad adalah ilmu tentang Agama Islam. Ilmu di dalam agama Islam yang bersumber dari Al-Quran dan As-Sunnah tidak akan pernah habis untuk dipelajari. Hal ini disebabkan karena ilmu dari Al-Quran dan As-Sunnah selalu sesuai dengan perkembangan jaman, oleh sebab itu setiap saat harus dipelajari.

Selain itu, ilmu dalam Islam kegunaannya adalah supaya cara beribadah kita kepada Allah Islam benar menurut ketentuan Allah dan Rasul-Nya, oleh sebab itu setiap saat kita harus mempelajari ilmu dan meningkatkannya agar nilai ibadah kita semakin baik. Ilmu-ilmu dalam Islam yang saya maksud diantaranya sebagai berikut:

 

– Al-Quran.

– Tafsir Al-Quran.

– Al-Hadits.

– Perjalanan Rasulullah.

– Ilmu Aqidah.

– Ilmu Tauhid.

– Ilmu Fiqh.

– Adab-adab.

– Fiqh Da’wah.

– Fiqh Jihad.

 

Selain ilmu-ilmu yang menerangkan seputar syariat Allah dan cara menjalankannya seperti tersebut diatas, ada juga ilmu tentang kisah-kisah dan penciptaan Allah diantaranya adalah:

– Ilmu kisah para Nabi dan Rasul.

– Kisah-kisah umat terdahulu.

– Kisah umat para Nabi dan Rasul yang taat kepada Allah dan akibat kesudahan mereka.

– Kisah para Nabi dan Rasul yang ingkar kepada Allah dan akibat kesudahan mereka.

– Kisah-kisah umat terdahulu yang dibinasakan oleh Allah.

– Allah menciptakan langit dan bumi.

– Allah menciptakan Malaikat.

– Allah menciptakan Jin.

– Iblis dan keturunannya.

– Allah menciptakan manusia.

– Allah menciptakan binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda yang lain.

– Allah menciptakan sesuatu ada yang tidak bisa dilihat (gaib) dan ada juga yang bisa dilihat.

Yang tidak kalah pentingnya juga adalah ilmu tentang sesuatu atau kejadian yang belum terjadi namun sudah ditunjukkan oleh Rasulullah yang ilmu tersebut bisa membuat iman, taqwa dan amal shalih Umat Islam meningkat dan juga sebagai petunjuk supaya mereka berusaha menghindari hal-hal yang negatif dan mendapatkan hal-hal yang positif. Ilmu-ilmu ini diantaranya sebagai berikut:

– Tanda-tanda kiamat.

– Keadaan jaman.

– Munculnya Imam Mahdi.

– Datangnya Dajjal.

– Turunnya Nabi Isa a.s.

– Adanya orang yang mengaku Nabi.

– Pecahnya Umat Yahudi menjadi 71 golongan.

– Pecahnya Umat Nasrani menjadi 72 golongan.

– Pecahnya Umat Islam menjadi 73 golongan.

– Banyaknya pembunuhan.

– Orang yang jujur tidak dipercaya.

– Pendusta dipercaya.

– Orang bodoh mengurusi urusan umat.

– Islam akan kembali asing sebagaimana datangnya.

– Islam akan kembali berkuasa.

– Dan lain-lain kabar Rasulullah yang sekarang belum terjadi.

Ilmu-ilmu dalam Islam yang sebagian saya sebutkan di atas semuanya sudah disampaikan dan dicontohkan oleh Rasulullah lalu diikuti oleh para Sahabat kemudian diikuti oleh para Tabi’in selanjutnya dikuti oleh para Ulama dan Umat Islam.

 

Dan ilmu-ilmu Islam tersebut semuanya sudah dibukukan oleh para Ulama dari Umat Islam yang tidak terhitung jumlahnya. Dalam buku-buku ini selain berisi tentang ilmu-ilmu yang saya sebutkan diatas juga berisi biografi dan perjalanan para sahabat, para tabi’in dan para Ulama Umat Islam, yang perjalanan mereka itu juga suatu ilmu yang harus juga dijadikan contoh oleh Umat Islam setelahnya supaya bisa melaksanakan syariat Islam seperti mereka.

Ilmu-ilmu ini yang harus kita pelajari sebagai Umat Islam yang menjunjung tinggi syariat jihad sehingga pengetahuan kita tentang ilmu Agama Islam  meningkat. Dengan semakin meningkatnya ilmu agama kita maka semakin benar pula amal ibadah yang kita laksanakan. Dan semakin meningkatnya ilmu agama kita maka semakin terhindar pula kita dari melakukan kesalahan.

Jika sudah demikian maka aqidah kita pasti lurus, cara kita melaksanakan ibadah pasti benar, akhlak kita terpuji, cara kita mendakwahkan Islam pasti benar, cara kita memperjuangkan Islam juga benar, cara kita berdakwah kepada orang kafir pun benar, cara kita berdakwah kepada orang munafik juga benar, cara kita berdakwah kepada sesama muslim pasti benar, cara kita berjihad juga benar, cara kita bermuamalah pun benar dan kita juga selalu benar dalam menjalankan semua syariat Islam.

 

Jika kita tidak mau meningkatkan ilmu agama Islam maka iman, taqwa dan amal shalih kita tidak akan meningkat, bahkan kita akan melakukan kesalahan-kesalahan dalam menjalankan syariat Islam.

 

 b.    Ilmu Pengetahuan Umum

 

 

Selain ilmu agama, yang harus kita tingkatkan sebagai Umat Islam yang menjunjung tinggi syariat jihad adalah ilmu pengetahuan umum. Hal ini disebabkan karena kita sebagai Umat Islam juga berada di jaman yang mengharuskan kita memiliki pengetahuan umum seperti kaum-kaum yang lain.

 

Hal ini juga sudah dicontohkan oleh Rasulullah diantaranya adalah ketika Beliau menyuruh sebagian sahabat untuk mempelajari bahasa asing, mengijinkan digunakannya ilmu dan alat perang dari bangsa asing dalam berjihad, dan juga perhatian Beliau terhadap urusan-urusan dunia yang diperlukan pada masa itu.

Begitu juga jawaban Rasulullah terhadap seseorang yang menanyakan tentang cara mengawinkan kurma supaya bisa berbuah, Beliau menjawab, “Kalian yang lebih mengetahui urusan dunia kalian”.

 

Ini menunjukkan bahwa melakukan dan meningkatkan pengetahuan tentang urusan dunia bukan suatu hal yang dilarang dalam Islam.

Seiring dengan perkembangan jaman maka berkembang pula ilmu pengetahuan dan Ilmuwan Umat Islam pun ikut menciptakan teori-teori pengetahuan umum yang sebelumnya tidak ada seperti ilmu kedokteran, ilmu ekonomi, ilmu militer, ilmu matematika, ilmu falak (astronomi), ilmu kimia dan lain-lain.

 

Penguasaan terhadap ilmu pengetahuan-ilmu pengetahuan inilah di antara faktor yang menyebabkan Umat Islam memiliki kekuasaan selama sekitar 13 abad meskipun faktor utamanya adalah karena Ilmu Agama Islam dan moral yang mereka miliki. Dengan memiliki dan menguasai berbagai ilmu pengetahuan pada masanya maka Umat Islam tidak tergantung kepada umat manapun, inilah yang membuat mereka berjaya selama berabad-abad.

Sebagai Umat Islam yang mengaku mujahid yang ingin sukses dalam memperjuangkan Islam maka kita harus mencontoh apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita yang shalih yang pernah sukses memperjuangkan Islam sehingga syariat Allah tegak di muka bumi selama berabad-abad.

 

Jika mereka memandang penting urusan pemerintahan, ekonomi, militer, kedokteran, manajemen dan ilmu pengetahuan umum lainnya maka kita harus meniru mereka, apalagi saat ini fakta menunjukkan bahwa kita memerlukan pengetahuan-pengetahuan tersebut.

Bagaimana kita bisa memusatkan perhatian kepada perjuangan sedangkan tingkat ekonomi kita rendah sehingga setiap hari harus disibukkan untuk memikirkan dan mencari nafkah saja. Bagaimana kita bisa mengatur negara sedangkan mengatur komunitas kecil seperti jama’ah, organisasi, pondok pesantren dan majlis ta’lim saja kita belum mampu.

Sebagai contoh yang nyata bahwasanya kita memerlukan ilmu pengetahuan umum misalnya dalam ilmu kedokteran, kita sekeluarga hampir setiap saat memerlukan dokter tetapi kita tidak mampu menjadi dokter dan tidak mampu menjadikan keluarga kita sebagai dokter, atau kita tidak mau menjadi dokter dan tidak mau menjadikan keluarga kita sebagai dokter.

 

Kita tidak membolehkan dokter non muslim menangani pasien muslim tetapi kita tidak mampu menjadi dokter dan tidak mampu menjadikan Umat Islam sebagai dokter. Atau kita tidak mau menjadi dokter dan tidak mau menjadikan Umat Islam sebagai dokter.

 

Kita tidak membolehkan kaum wanita muslimah ditangani oleh dokter laki-laki tetapi kita tidak mampu atau tidak mau menjadikan wanita muslimah kita sebagai dokter.

 

Kita tidak membolehkan Umat Islam berobat ke rumah sakit non Islam tetapi kita tidak mampu mendirikan rumah sakit sendiri.

 

Kita tidak membolehkan Umat Islam berobat ke rumah sakit non Islam padahal kita tidak memiliki rumah sakit sendiri. Kalaupun ada Rumah Sakit Islam namun tarifnya tidak bisa dijangkau oleh Umat Islam sehingga mereka memilih ke rumah sakit non Islam yang tarifnya bisa dijangkau oleh mereka.

Dalam masalah jihad, bagaimana kita bisa berjihad melawan pihak-pihak yang menguasai dunia saat ini jika kita tidak mengetahui ilmu pengetahuan yang dimiliki dan digunakan oleh mereka saat ini seperti ilmu teknologi,  militer, persenjataan, taktic, strategi, intelejen dan ilmu-ilmu militer lainnya.

Bagaimana kita bisa berjihad melawan mereka jika tingkat ekonomi kita rendah bahkan ekonomi kita masih tergantung kepada mereka. Bagaimana kita bisa berjihad melawan mereka jika dakwah kita kalah dengan dakwah mereka dalam mempengaruhi Umat Islam.

 

Bagaimana kita bisa berjihad melawan mereka jika pengaruh kita di hadapan Umat Islam kalah dengan pengaruh mereka. Dan bagaimana kita bisa berjihad melawan mereka jika kesungguhan, keseriusan dan ketertiban kita dalam segala hal kalah dengan mereka.

Dari uraian dan contoh fakta di atas maka kita harus introspeksi diri supaya tahu kekurangan kita kemudian berusaha menutup kekurangan tersebut. Jika saat ini ilmu pengetahuan umum yang kita miliki jauh dibawah pihak-pihak yang menguasai dunia saat ini maka kita harus meningkatkan ilmu pengetahuan umum. Tidak ada persyaratan bahwa ilmu pengetahuan umum yang kita miliki harus sama dengan mereka, namun setidaknya kita tidak meninggalkan sunatullah dan harus melihat fakta jika kita ingin melawan mereka.

 

Yang saya maksud dengan sunatullah contohnya adalah jika mereka memiliki senjata api maka kita juga harus memiliki senjata api. Karena tidak sesuai dengan sunatullah manakala mereka sudah menggunakan senjata api yang canggih tetapi kita lawan dengan menggunakan keris atau semisalnya.

 

Dan yang saya maksud dengan harus melihat fakta adalah kita harus sadar diri bahwa kenyataannya saat ini kita kalah dengan mereka dalam urusan ilmu pengetahuan umum yang meliputi penguasaan dunia, ekonomi, kedokteran, militer, teknologi dan lain-lain.

 

 c.      Memperkuat Ekonomi

 

Harta adalah sangat penting dalam kehidupan manusia baik untuk kepentingan ibadah kepada Allah atau untuk kepentingan tubuh dan aktivitas-aktivitas keduniaan. Apalagi pada jaman sekarang ini apapun memerlukan biaya hingga buang air kecil dan bertanya pun memerlukan biaya. Begitu juga dalam jihad harta adalah sangat penting demi kelangsungannya.

 

Hal ini dibuktikan bahwa di dalam Al-Quran ketika Allah menyebutkan sarana jihad maka hartalah yang disebutkan lebih dahulu daripada jiwa. Dan sabda Rasulullah, “Barang siapa yang menyiapkan perbekalan buat orang yang berperang maka sama dengan ikut berjihad di jalan Allah”. Ini menunjukkan betapa pentingnya harta bagi terlaksananya syariat jihad di jalan Allah.

 

Sebagai ilustrasi supaya kita serius dalam urusan ekonomi adalah bahwa jaman sekarang ini berbeda dengan jaman dulu. jaman dulu orang menuntut ilmu cukup mendatangi para ulama, jadi biayanya cuma biaya perjalanan sehingga orang tua tidak begitu terbebani oleh kewajiban menyekolahkan anaknya.

 

Adapun sekarang ini, baik yang swasta atau negeri, baik yang pesantren atau non pesantren, semuanya mematokkan biaya yang relatif tinggi yang tidak semua masyarakat bisa menjangkaunya. Apalagi kalau membicarakan tentang jihad maka akan lebih memerlukan biaya yang lebih besar daripada menyekolahkan anak.

 

Sebagai contoh, ketika saya mengurusi pengiriman kawan-kawan yang berjihad ke Ambon tahun 1999-2000, untuk mencari dana buat beli tiket kapal laut buat satu orang saja kesulitan. Belum lagi mahalnya harga senjata, amunisi, bahan-bahan bom dan perlengkapan perang lainnya.

Ilustrasi beserta contoh di atas hendaknya bisa menjadi pendorong supaya kita memandang penting urusan ekonomi sehingga kita selalu berusaha untuk meningkatkannya. Kita menggebu-nggebu ingin berjihad tetapi tingkat ekonomi kita rendah sebab itu waktu kita habis buat cari nafkah dan pikiran kita habis buat memikirkan biaya hidup sehari-hari, biaya sekolah anak-anak, biaya listrik, biaya telpon dan lain-lain.

 

Kita menggebu-nggebu ingin berjihad tetapi tingkat ekonomi kita rendah, sedang jihad perlu biaya banyak, akhirnya kita memaksakan diri untuk merampok buat biaya jihad. Oleh karena itu maka diantara yang penting buat kita sekarang ini adalah kita harus berusaha meningkatkan ekonomi sebelum terjun ke medan jihad sehingga jika suatu saat Allah membuka jihad maka dari segi ekonomi kita sudah mampu.

Secara pribadi kita harus selalu berusaha untuk meningkatkan ekonomi, dengan demikian akan terbentuk komunitas umat Islam yang memiliki pemikiran jihad yang mau mengobarkannya yang ekonominya sudah mapan. Jika sudah demikian maka kita bisa membantu orang miskin bahkan bisa meningkatkan ekonomi mereka sehingga kapanpun mereka diperlukan untuk bersama-sama ikut dalam jihad mereka sudah siap.

 

Karena sangat memprihatinkan jika tingkat ekonominya rendah lalu diajak kegiatan jihad sedang tidak ada harta yang bisa ditinggalkan buat keluarganya selama ditinggal akhirnya istri dan anaknya harus bekerja sendiri dan dapat bantuan dari orang lain. Jika demikian berarti kita telah mendzalimi keluarga kita maka kita tidak akan mendapatkan rahmat dari Allah meskipun kita sudah berada di medan jihad apalagi jika baru berusaha untuk memulai jihad.

One Response to YANG MAMPU KITA LAKUKAN DI INDONESIA SAAT INI DAN SOLUSI MELAKSANAKAN I’DAD DAN JIHAD

  1. Artikel yg bermanfaat. Terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *