Wallpaper

TERBONGKARNYA KAMI SEBAGAI PELAKU BOM BALI

Sejak punya ide melakukan pengeboman di Bali, kawan-kawan sudah menentukan akan menggunakan bom mobil. Maka pada waktu membicarakan tentang pembagian tugas pengeboman di Bali, kami sudah sepakat bahwa nomor rangka dan mesin pada mobil yang akan digunakan harus dihilangkan.

Selain itu, tempat membeli mobil harus jauh dari Solo dan Lamongan, di orang yang tidak mengenal kami dan kami tidak mengenal mereka, dan membelinya harus memakai identitas palsu. Ini semua  bertujuan, jika setelah pengeboman nanti identitas mobil bisa ditemukan dan diketahui oleh aparat yang berwenang maka penyelidikannya akan putus di identitas palsu itu saja–tidak sampai ke Amrozi yang mendapat tugas membeli mobil.

Namun karena diburu oleh waktu maka kesepakatan dalam perencanaan itu kami tinggalkan dan yang penting segera dapat mobil yang mampu membawa beban seberat 1 ton. Akhirnya saya dan Amrozi membeli mobil Mitsubitsi L-300 jenis Star Wagon warna putih bernomor polisi Bali di Desa Brondong, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan yang tidak jauh dari tempat tinggal kami.

Meskipun pemiliknya tidak mengenal kami secara langsung namun perantaranya adalah kawan kami. Setelah mobil kami beli, saat itu sudah ada kekuatiran dalam pikiran saya karena pembelian mobil itu keluar dari perencanaan dan tidak sesuai dengan disiplin ilmunya. Akan tetapi kekhawatiran itu saya abaikan karena tugas saya hanya membantu Amrozi sementara Amrozi dituntut untuk segera mendapatkan mobil.

Setelah dibawa pulang ke rumahnya, Amrozi langsung menghilangkan cat strip warna hijau yang ada di body mobil tersebut dengan cara di cat putih sebagai usaha menghilangkan ciri aslinya. Pada tanggal 5 Oktober 2002 mobil ini kami bawa ke Bali dan langsung saya masukkan ke garasi rumah kontrakan tempat kami merakit bom dan tidak pernah kami keluarkan lagi.

Sebelum bom dinaikkan ke atasnya, terlebih dahulu Amrozi menghilangkan nomor rangka dan mesin dengan cara di gerinda. Mendekati hari diledakkannya saya pun sudah menyiapkan plat nomor palsu dan saya sudah memasangnya sore hari sebelum saya bawa keluar menuju Jalan Legian Kuta. Akhirnya pada tanggal 12 Oktober 2002 sekitar pukul 23.15 WITA bom mobil yang kami buat telah meledak dan saya yakin mobil tersebut telah hancur.

Setelah kami berhasil meledakkan bom di Bali, kami kembali ke tempat masing-masing beraktifitas seperti biasanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan merasa aman sambil terus mengikuti perkembangan pasca pengeboman lewat media masa. Pada saat seperti itu saya dikagetkan oleh keluarnya tiga seketsa pelaku Bom Bali yang ciri-cirinya mirip Amrozi, saya dan Idris.

Saat itu saya berpikir, jika sketsa itu diambil dari saksi yang berada di Bali setelah pengeboman, kenapa dengan Amrozi bukan dengan Imam Samudra. Dan jika sketsa itu diambil saat saya dijemput oleh Idris setelah memberikan mobil ke Jimmy di Jalan Legian, kenapa bertiga dengan Amrozi bukan saya dan Idris saja.

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu masih ada dalam pikiran saya hingga Imam Samudra memberitahu saya bahwa motor yang kami pakai pada malam pengeboman itu telah ditemukan polisi, informasi inipun disampaikan setelah Amrozi ditangkap.

Setelah saya tahu bahwa motor yang kami pakai pada malam pengeboman itu sudah berada di tangan polisi.  Maka saya menduga bahwa tiga sketsa pelaku Bom Bali yang sudah dikeluarkan di media masa itu adalah dari pembelian motor tersebut. Ternyata dugaan saya benar, setelah saya ditangkap saya mendengar dari polisi, bahwa sketsa kami bertiga itu didapatkan dari keterangan penjual motor di show room di Jalan Gatot Subroto, Denpasar.

Penjual motor tersebut memberikan keterangan tentang ciri-ciri kami bertiga lalu digambar oleh para ahli gambar maka jadilah sketsa kami bertiga. Memang benar, bahwa dua hari sebelum pengeboman kami bertiga membeli motor Yamaha FIZR di show room tersebut yang saat itu dijaga tiga orang, seorang ibu ( sepertinya pemilik show room), seorang karyawati, dan seorang karyawan.

Kami bertiga berada di show room ini agak lama, memilih-milih motor sambil bercanda dengan pejual, sehingga wajar jika mereka masih ingat bahkan hafal dengan wajah kami bertiga. Begitulah asal mulanya pembuatan tiga sketsa pelaku Bom Bali yang mirip dengan kami bertiga.

Ketika Amrozi ditangkap saya sudah menduga ada hubungannya dengan kepemilikan mobil Mitsubitsi L-300 yang diledakkan. Namun saat itu saya belum tahu dari mana terbongkarnya identitas mobil tersebut sehingga Amrozi dijadikan sebagai tersangka dan ditangkap. Hanya saja dalam media masa sering diberitakan, bahwa nomor pada rangka dan mesin yang sudah dihapus tersebut bisa dimunculkan kembali meskipun cuma sebentar.

Meskipun saya tidak percaya cara seperti itu namun menurut saya bahwa ditangkapnya Amrozi kemungkinan besar didapatkan dari puing-puing mobil yang berhasil dikumpulkan dan diidentifikasi oleh aparat yang berwenang. Ternyata perkiraan saya benar, setelah saya ditangkap, tanpa sengaja saya mendengarkan percakapan beberapa polisi, bahwa diketahuinya identitas mobil tersebut adalah dari nomor kir yang ada di sisa sasis mobil yang ditemukan di tempat kejadian perkara.  Setelah dicek di DLLJR (Derektorat Lalu Lintas Jalan Raya) ketemulah identitas mobil yang sebenarnya. Dan sisa sasis itu sempat diperlihatkan kepada saya ketika proses penyidikan dan di persidangan.

Ketika saya dan Amrozi mencari dan memeriksa nomor-nomor atau identitas-identitas yang ada di mobil Mitsubitsi L-300 sebelum kami bawa ke Bali, kami berdua tidak tahu kalau mobil tersebut pernah dipakai buat angkutan umum sehingga kami tidak mencari di bagian-bagian yang biasa terdapat identitas bagi mobil yang berpelat kuning. Hal ini disebabkan karena pemilik mobil tempat kami membeli tidak menyampaikan bahwa mobil tersebut pernah dipakai untuk angkutan umum dan kami juga tidak memeriksa di BPKB nya. Oleh karena itu identitas nomor kir yang ada di rangka mobil tersebut tidak terjamah oleh kami, tidak kami hapus dan tetap utuh.

Jadi, ditangkapnya Amrozi dan terbongkarnya kami sebagai pelaku Bom Bali adalah karena mobil Mitsubitsi L-300 yang kami ledakkan berhasil diidentifikasi oleh aparat yang berwenang lewat nomor rangka kir tersebut. Adapun sketsa kami bertiga dan penemuan-penemuan lainnya, itu hanya sebagai permulaan dan penguat yang dimiliki oleh aparat yang berwenang dalam melakukan penyelidikan terhadap Bom Bali.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *