Wallpaper

PROGRAM DERADIKALISASI

Akhir-akhir ini setelah maraknya aksi terorisme di Indonesia muncul istilah deradikalisasi. Program ini diawali oleh team polisi yang menangani kasus teroris yang mulanya bernama Team Investigasi Bom Bali lalu Satgas Bom kemudian Densus 88. Program ini bertujuan agar yang pernah terlibat dengan kasus teroris tidak lagi mengulanginya dan yang belum pernah terlibat tidak melakukannya.

Kami yang terlibat pengeboman diajak dialog oleh mereka tentang dampak negatif aksi kekerasan yang telah kami lakukan. Kami disuruh berpikir sendiri, apakah aksi kekerasan berupa pengeboman seperti di Bali itu cara memperjuangkan Islam yang benar. Mereka menghormati kami, mereka mempersilahkan kami untuk shalat, mereka memberi kami pakaian buat shalat dan memberi kami mushaf Al-Quran.

Kerugian materi yang terjadi pada waktu penangkapan diganti oleh mereka jika mereka mengetahui, bahkan ada kawan yang minta uangnya diganti karena dulunya dipakai untuk membeli senjata, lalu disita saat penangkapan. Bagi yang mau dibantu dalam bentuk materi akan dibantu sesuai dengan keperluannya seperti uang transportasi buat keluarganya untuk membesuk ke penjara, biaya sekolah anaknya, bahkan ada yang dibantu untuk melunasi hutangnya masa lalu.

Kami ditempatkan di sel yang baik, diberi kelonggaran, bahkan ada yang diantarkan pulang ke rumahnya untuk menghadiri proses pemakaman anggota keluarganya. Dan sampai mereka tidak menangkap beberapa orang yang terlibat terorisme karena dianggap sudah berhenti dan menyadari kesalahannya.

Hal-hal diatas hanya sebagian contoh yang dilakukan oleh kepolisian terhadap kami yang terlibat terorisme. Mereka tidak mengusik ideologi kami tentang jihad dan Negara Islam, karena mereka mengetahui bahwa ideologi-ideologi tersebut tidak akan berubah hingga kami mati. Mereka hanya menyuruh kami berpikir rasional sesuai dengan fakta bahwa kami belum memiliki kemampuan untuk melakukan jihad dalam bentuk konfrontasi melawan Negara Indonesia.

Mereka menyuruh kami untuk memperhatikan keadaan Ummat Islam yaitu keadaan ekonomi mereka, mereka perlu makan, mereka perlu tempat tinggal, anak-anak mereka perlu sekolah dan lain-lain, sementara apakah dengan melakukan pengeboman keperluan-keperluan tersebut bisa teratasi. Mereka jugamenyuruh kami untuk introspeksi terhadap diri kami sendiri yang keadaan ekonomi kami pas-pasan, kami perlu makan, kami perlu tempat tinggal, anak-anak kami perlu sekolah dan lain-lain, apakah dengan melakukan pengeboman lantas keperluan-keperluan tersebut bisa teratasi.

Apapun niat dan tujuan kepolisian dalam menyadarkan kami sebagai teroris bukan urusan kami, namun apa yang dikatakan dan dilakukan oleh mereka adalah masuk akal dan sesuai realita. Salah satu contoh adalah bagaimana Ummat Islam bisa diajak bersama-sama untuk berjihad demi tegaknya kekuasaan Islam sementara mereka kelaparan, semua aktivitasnya hanya untuk bekerja demi menghidupi diri sendiri dan keluarganya.

Begitu juga dengan kami, bagaimana kami bisa menyusun kekuatan dan membentuk front untuk melawan NKRI sedangkan untuk mengatur yang terlibat Bom Bali saja kami tidak mampu. Dan lain-lain pelajaran yang diberikan oleh Polisi kepada kami yang membuat saya semakin introspeksi diri dan berpikir demi kepentingan ummat khususnya Ummat Islam. Oleh karena itu saya mendukung program deradikalisasi tersebut, karena menurut saya dengan deradikalisasi seperti ini bisa memberikan nilai yang positif terhadap perjalanan perjuangan kami.

Akhir-akhir ini banyak pihak yang membicarakan bahkan memprogramkan deradikalisasi bagi yang sudah terlibat terorisme dan yang memiliki pemikiran seperti teroris. Program deradikalisasi yang diawali oleh kepolisian ini dianggap oleh mayoritas kawan-kawan kami dan orang-orang yang sefaham dengan mereka sebagai program dejihadisasi.

Dejihadisasi artinya program anti jihad. Dejihadisasi berarti memadamkan dan menghentikan jihad. Dejihadisasi berarti memusuhi dan memerangi mujahidin. Anggapan ini mungkin benar, karena sebagai aparat pemerintahan mereka tidak akan setuju dengan syariat jihad dalam arti perang apalagi sampai ada tujuan untuk melawan NKRI dan menggantinya dengan Negara Islam.

Jika program deradikalisasi bertujuan untuk memadamkan dan menghentikan jihad, anti jihad, memusuhi dan memerangi mujahidin maka saya berlepas diri dari tujuan tersebut. Akan tetapi saya tetap mendukung program deradikalisasi karena ada niat dan tujuan tersendiri yang saya anggap bermanfaat dan tidak bertentangan dengan Syariat Islam.

Adapun niat dan tujuan saya mendukung dan ikut melakukan program deradikalisasi adalah sebagai berikut:

  •  Agar kawan-kawan dalam berjihad dan memperjuangkan Islam selalu mengikuti sunnah, menggunakan strategi perjuangan yang benar, dan mempertimbangkan manfaat dan mudaratnya.
  • Agar kawan-kawan dalam berjihad dan dalam memperjuangkan Islam tidak lagi melakukan kesalahan yang sama yang menyebabkan mereka harus diburu, ditangkap dan dipenjara oleh aparat yang berwenangsehingga perjuangan Islam terhambat.
  • Agar tidak menimbulkan fitnah diantara kawan-kawan yang meniti di jalan jihad. Karena jika melakukan aksi kekerasan lalu ditangkap oleh aparat yang berwenang, biasanya mereka lantas saling menyalahkan, saling tuduh menuduh, ada yang menuduh yang lain berkhianat, ada yang dituduh pengkhianat, pemimpin mengorbankan anak buah, pemimpin tidak mau bertanggung jawab, dan fitnah-fitnah yang lain.
  • Agar kawan-kawan tidak melakukan jihad dalam bentuk aksi kekerasan yang mayoritas Ummat Islam sendiri tidak setuju dan tidak bisa menerimanya.
  •  Agar kawan-kawan tidak melakukan jihad dalam bentuk aksi kekerasan yang dampak negatifnya dirasakan oleh Ummat Islam yang lain bahkan keluarga pelaku pun ikut merasakannya.
  •  Agar kawan-kawan tidak melakukan jihad dalam bentuk aksi kekerasan yang bersifat teror kepada semua orang bahkan keluarga pelaku sendiri pun ikut terteror karena adanya pengeboman dan aksi kekerasan lainnya.
  •  Agar semua pihak berpikir dan mengambil pelajaran mengapa saya ikut melakukan program deradikalisasi, selanjutnya yang pernah melakukan aksi kekerasandan yang masih mau melakukan aksi kekerasan introspeksi terhadap aksi-aksi kekerasan yang sudah terjadi, lalu meningkatkan dan memperdalam ilmu tentang sunnah Rasulullah kemudian memperjuangkan Islam sesuai dengan sunnah itu.

Inilah niat dan tujuan saya sampai saya memberanikan diri dan mau mengambil resiko untuk ikut melakukan program deradikalisasi yang dimotori oleh Polisi. Karena amat sangatnya keinginan saya supaya tidak ada lagi aksi kekerasan seperti Bom Bali atau semisalnyayang memberikan dampak negatif bagi semua pihak, hingga saya memperingatkan murid dan kawan saya bahwa jika kalian ikut terlibat melakukan aksi kekerasan maka jangan salahkan saya jika saya bersamaPolisi untuk menangkap kalian.

Karena sudah merasakan dan melihat dampak negatif yang ditimbulkan oleh adanya aksi pengeboman dan yang semisalnya maka saya bersedia memberikan masukankepada Polisisupaya aksi-aksi seperti itu tidak terulang lagi. Saya lakukan hal ini dengan beberapa dasar dan pertimbangan sebagai berikut:

–          Bahwa kami ditangkap bukan karena urusan aqidah antara Islam dengan kafir namun karena melakukan pengeboman yang mayoritas Ummat Islam sendiri juga tidak setuju dan membenarkan aksi kekerasan seperti itu.

–          Antara kami dengan NKRI belum ada front jihad yang mewajibkan kami harus berlepas diri secara total dari NKRI.

–          Meskipun NKRI bukan Negara Islam namun mayoritas yang duduk di Pemerintahan Indonesia termasuk polisinya adalah Ummat Islam maka tidak masalah jika saya kerjasama dengan mereka demi kepentingan bersama.

–          Ketika menangkap dan memenjarakan kami mereka tidak menempatkan kami sebagai tawanan perang.

–          Ketika menangkap dan memenjarakan kami mereka tidak melarang kami untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban sebagai orang Islam.

–          Yang menangkap, yang memenjarakan dan yang menjaga kami mayoritas muslim yang juga melaksanakan kewajiban sebagai orang Islam seperti kami maka tidak apa-apa kerjasama dengan mereka.

 

Saya tidak mau mencampuri dan memperdulikan apa niat dan tujuan kepolisian atau instansi pemerintah yang lainnya membuat program deradikalisasi. Saya juga tidak memperdulikan dan tidak memandang penting jika ada perbedaan niat dan tujuan saya dengan Pemerintah Indonesia dalam menjalankan program deradikalisasi. Yang terpenting buat saya bahwa program deradikalisasi yang saya lakukan bisa bermanfaat buat semua pihak.

Saya juga tidak memperdulikan dan tidak memandang penting adanya perbedaan bahwa mereka bekerja untuk NKRI yang berdasar Pancasila sedangkan saya berjuang demi tegaknya suatu negara yang berdasarkan syariat Islam secara menyeluruh. Yang saya perdulikan adalah nilai positif dari adanya program deradikalisasi ini yaitu kawan-kawan tidak lagi melakukan aksi kekerasan sehingga mereka tidak diburu oleh pihak yang berwenang, tidak ditangkap, tidak dipenjara, dan mereka tetap bisa leluasa melaksanakan kewajiban sebagai orang Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *