Wallpaper

PRO DAN KONTRA ADANYA TERORIS DI INDONESIA

Dibawah ini saya akan menceritakan tentang fakta kami sebagai teroris yang terlibat melakukan aksi-aksi teror, dengan tujuan:

  • Jika semua pihak sudah mengetahui fakta yang sebenarnya tentang teror dan teroris maka harapan saya semua pihak sama-sama berusaha untuk mencegah dan menanggulangi terror dan teroris demi kepentingan bersama.
  • Saya selalu berusaha mencegah agar aksi-aksi teror tidak terulang lagi maka saya harus menceritakan tentang teroris yang sebenarnya.
  • Supaya kami tidak dituduh dengan tuduhan yang tidak sesuai dengan tujuan kami yang sebenarnya yaitu untuk jihad.
  • Karena ada yang menuduh kami adalah pihak yang disusupkan untuk menghancurkan Islam atau menjelekkan citra Islam.
  • Karena ada yang menuduh kami kerjasama dengan agen CIA atau agen yang lain.
  • Karena ada sangkaan bahwa pelaku pengeboman adalah orang-orang yang dibikin oleh intelejen dalam negeri untuk kepentingan politik.

 

Berkaitan dengan masalah ini akan saya akan ketengahkan dua pembahasan yaitu analisa yang tergesa-gesa dan klasifikasi orang yang tidak percaya kami sebagai pelaku pengeboman.

  1. A.    nalisa yang tergesa-gesa

Siang hari, 14 Oktober 2002, saya dan Idris tiba di rumah kontrakan kakak saya, Ali Ghufron, di pinggiran Kota Gresik. Saat bertemu, Ali Ghufron langsung memeluk kami berdua sambil mengucapkan pujian kepada Allah karena kami selamat tidak terkena apapun dan bisa keluar dari Bali tanpa ada gangguan apa-apa.

Selain itu, dia juga mengucapkan selamat karena kami sukses melaksanakan tugas dan bom berhasil diledakkan sesuai dengan rencana. Sambil melihat gambar di koran yang memuat akibat yang ditimbulkan dari pengeboman yang kami lakukan dia berkata, “Ternyata dahsyat dan parah benar akibatnya”.

Saat itu saya jawab, “Ya wajar, karena bom yang kita buat begitu besar, kami berdua yang sudah menjauh sekitar 12 Km dari Jalan Legian saja masih mendengar kerasnya suara ledakannya kok”.

Jika pengeboman di Bali begitu dahsyat maka sudah sesuai dengan berat bom yang kami ledakkan, yaitu 1 ton. Berat bom tersebut sudah ditentukan sejak awal perencanaan sehingga bagi kami yang membuat bom dan pelakunya tidak heran akan dampaknya karena sudah sesuai dengan rencana dan harapan.

Adapun bagi orang lain, maka dahsyatnya pengeboman tersebut adalah sesuatu yang mengherankan dan memunculkan analisa-analisa yang berbeda tentang siapa pelaku dan apa bahan peledaknya.

Sampai-sampai TNI membuat eksperimen meledakkan bahan peledak TNT dikelilingi oleh botol-botol yang berisi bensin, ternyata bensinnya tidak ikut meledak. Eksperimen TNI tersebut untuk menepis tuduhan bahwa Bom Bali adalah operasi TNI untuk tujuan-tujuan tertentu. Dan kemungkinan TNI juga ingin menunjukkan bahwa bom tersebut bukan hanya menggunakan bahan peledak TNT yang biasa dimiliki dan digunakan oleh TNI.

Paska pengeboman di Bali juga muncul analisa-analisa, diantaranya, yaitu bahwa pengeboman tersebut menggunakan bahan peledak Alumunium Nitrat, ada juga yang menganalisa dari bahan peledak RDX, ada juga yang berpendapat dari bahan peledak C-4, ada juga sangkaan yang nyleneh yaitu dari karbit (Carbide). Bahkan ada yang mengatakan Bom Bali adalah Mikronuklir Non Convensional.

Ketika saya mendengar analisa-analisa tersebut, saat itu saya merasa senang, karena analisa-analisa itu belum ada yang cocok dengan bahan-bahan peledak yang kami gunakan sehingga akan menyulitkan penyelidikan yang dilakukan oleh aparat yang berwenang.

Hanya saja, dari analisa-analisa yang muncul saat itu, ada satu analisa yang mendekati kebenaran. Yakni analisa yang menyatakan bom dari bahan peledak RDX. Analisa ini berdasarkan temuan di tempat kejadian perkara dimana di sana ditemukan residu RDX.

Setelah Amrozi ditangkap  polisi dan mengakui bahwa pengeboman di Bali memang dia lakukan  bersama kawan-kawannya, saat itu muncul lagi analisa-analisa dan pendapat-pendapat yang baru. Bernada sangsi.  Diantaranya adalah tidak mungkin anak desa seperti Amrozi mampu membuat bom yang begitu dahsyatnya.

Adanya pendapat-pendapat dan analisa-analisa setelah Amrozi ditangkap tidak lagi membuat saya senang. karena dengan adanya pendapat-pendapat dan analisa-analisa itu tidak akan bisa membebaskan Amrozi dan tidak akan bisa menghentikan penyelidikan yang dilakukan oleh polisi.

Keterusterangan Amrozi, yang mengaku bahwa kami sebagai pelakunya, menyampaikan tujuannya, menunjukkan apa saja bahan peledaknya, bagi saya, itu adalah lebih baik supaya semuanya mengetahui tentang tujuan peledakkan bom di Bali.

Tapi apa di kata. Bahkan setelah mayoritas pelaku Bom Bali sudah ditangkap, termasuk saya, dan saya sudah melakukan rekontruksi tentang pembuatan bom secara detail dan gamblang, tapi ternyata masih muncul  kesangsian baru. Ada yang mengatakan bahwa Amrozi dan kawan-kawan memang membuat dan meledakkan bom tetapi hanya bom kecil, adapun yang besar itu adalah bom yang dibuat oleh pihak lain untuk menumpangi bom kecil yang dibuat oleh Amrozi dan kawan-kawan.

Selain itu ada juga yang berpendapat bahwa bom yang meluluhlantakkan Jalan Legian Kuta-Bali itu adalah bom yang ditembakkan dari kapal perang Amerika yang saat itu berlabuh di Pelabuhan Benoa.

Menganalisa sesuatu itu harus berdasar ilmu dan pengalaman tentang sesuatu yang hendak dianalisa. Begitu juga dalam menganalisa bom. Menganalisa pengeboman harus berdasar ilmu dan pengalaman tentang pengeboman dan harus juga dengan perlengkapan yang diperlukan dalam proses analisa terhadap bom.

Menganalisa suatu ledakan atau pengeboman itu tidak cukup hanya dengan melihat bekas ledakan dan akibat yang ditimbulkannya saja.  Akan tetapi yang paling menentukan adalah sisa residu di tempat ledakan tersebut. Oleh karena itu saya akan memaparkan dan mengoreksi beberapa kekeliruan analisa seputar pengeboman di Jalan Legian Kuta-Bali 12 Oktober 2002 sebagai berikut:

  • Bom yang meledak adalah Amunium Nitrat.

Analisa yang mengatakan bahwa bom yang meledak di Jalan Legian Kuta Bali 12 Oktober 2002 itu berbahan  Amunium Nitrat berdasar adanya lubang yang dalam di pusat ledakan.  Sebagaimana tipikal Alumunium Nitrat. Jika analisa tersebut hanya berdasar akibat ledakan dan spesifikasi ahan peledaknya, tanpa ada residu, maka analisa yang seperti ini belum lengkap dan tidak benar.

  •  Bom yang meledak adalah bahan peledak RDX.

Analisa yang mengatakan bahwa bom yang meledak di Jalan Legian Kuta Bali 12 Oktober 2002 itu adalah dari RDX karena di tempat kejadian perkara ditemukan residu RDX maka analisa yang seperti ini adalah benar meskipun  jumlah bahan peledak RDX yang digunakan dalam pengeboman tersebut belum bisa diketahui.

  •  Bom yang meledak adalah bahan peledak C-4.

Analisa yang mengatakan bahwa bom yang meledak di Jalan Legian Kuta Bali 12 Oktober 2002 itu adalah C-4 karena di tempat kejadian perkara ditemukan residu bahan peledak RDX maka analisa yang seperti ini ada benarnya sebab bahan peledak C-4 berbahan dasar RDX meskipun kadar bahan peledak RDX yang digunakan dalam pengeboman tersebut belum bisa diketahui.

  •  Bom yang meledak adalah Karbit.

Analisa yang mengatakan bahwa bom yang meledak di Jalan Legian Kuta Bali 12 Oktober 2002 itu adalah dari karbit. Analisa tersebut mungkin didasarkan karena di tempat kejadian perkara dan sekitarnya ada bau karbid jadi analisa ini tidak bisa diterima karena tidak ilmiah.

  •  Bom yang meledak adalah Mikro nuklir Non Convensional.

Pada waktu saya di tahanan Provost Mapolda Bali, ada seorang polisi yang menunjukkan buku karangan Z.A Maulani yang diantaranya berisi analisa tentang Bom Bali, saat itu saya sempat membacanya. Menurut Maulani, Bom Bali adalah Mikronuklir Nonconvensional yang disebut dengan SADM. Bahan utamanya adalah Uranium dan Plutonium yang daya ledaknya sebanding dengan 10 ton bahan peledak TNT.

Saat itu saya mengatakan bahwa analisa tersebut tidak benar dan berlebihan. Sebagai pelakunya maka saya mengetahui bahan bom sejak meracik  hingga bom meledak. Di tempat kejadian perkara pun tidak ditemukan residu Uranium dan Plutonium. Analisa ini berlebihan karena jika Bom Bali adalah mikronuklir maka seluruh Pulau Bali akan hancur atau setidaknya akan terkena radiasinya.

Analisa Maulani yang dibukukan itu saya anggap analisa yang tergesa-gesa karena saat itu penyelidikan di lapangan belum tuntas dan penyidikan terhadap tersangka pelaku Bom Bali pun belum selesai.

Saya sebagai pelaku Bom Bali yang mengetahui secara detail bahan-bahan bom yang kami buat–dan residunya yang ditemukan di tempat kejadian perkara pun sudah cocok– maka saya harus meluruskan analisa-analisa yang tidak benar supaya jelas bahwa pengeboman tersebut benar-benar kami yang melakukan dalam rangka jihad di jalan Allah.

Oleh karena itu, ketika saya sudah dibawa ke Jakarta ditempatkan di Rumah Tahanan Narkoba Polda Metro Jaya,  saya berpesan kepada kawan yang kenal dengan Maulani, supaya datang kemari dan akan saya terangkan tentang Bom Bali. Namun keinginan saya tersebut belum kesampaian karena  Maulani sudah dipanggil oleh Allah.

  • Tidak mungkin Amrozi bisa membuat bom seperti itu.

Analisa yang mengatakan bahwa tidak mungkin Amrozi, anak kampung mampu membuat bom sedahsyat itu, adalah benar. Amrozi tidak bisa membuat bom sedahsyat itu karena dia memang belum pernah belajar tentang pengeboman secara detil. Namun Ali Ghufron kakaknya, saya adiknya, Imam Samudra, Abdul Matin, Abdul Ghoni, Sawad, dan Umar Patek adalah alumni Akademi Militer Mujahidin Afghanistan yang sudah pasti menguasai ilmu pengeboman. Dan DR. Azhari sendiri alumni Camp Militer di Kandahar ketika Thaliban berkuasa di Afghanistan.

  •  Amrozi dan kawan-kawan membuat bom kecil.

Amrozi dan kawan-kawan memang membuat dan meledakkan bom tetapi hanya bom kecil, adapun yang besar itu adalah bom yang dibuat oleh pihak lain untuk menumpangi bom kecil yang dibuat oleh Amrozi dan kawan-kawan.

 

Ketika saya di Mapolda Bali ada beberapa orang yang datang menemui saya termasuk intelejen dari luar negeri yang mengatakan bahwa kalian membuat dan meledakkan bom kecil lalu ditumpangi pihak lain dengan bom yang besar.

 

Lalu saya tanya atas dasar apa. Kemudian dijawab karena bom yang meledak di Jalan Legian adalah dua kali. Lalu saya katakan bahwa hal itu sesuai dengan rencana kami dan saya yang mengatur sekenarionya, bom rompi yang di Paddy’s Pub diledakkan dulu untuk memancing orang-orang yang di dalam Sari Club keluar, beberapa saat setelah bom rompi meledak baru bom mobil yang di depan Sari Club diledakkan.

 

Jadi benar bahwa bom yang meledak pertama adalah lebih kecil karena hanya berisi bahan peledak TNT seberat 6 kg, sedang bom yang meledak kedua adalah bom mobil yang berisi bahan peledak seberat 1 ton lebih dan TNT sekitar 25 kg. Mendengar uraian saya seperti itu maka orang-orang yang menganalisa diam tidak komentar lagi.

  •  Dilakukan oleh Amerika.

Ada yang menganalisa dan berpendapat bahwa bom yang meluluhlantakkan Jalan Legian Kuta-Bali itu adalah bom yang ditembakkan dari kapal perang Amerika yang saat itu berlabuh di Pelabuhan Benoa.

 

Yang menganalisa dan berpendapat seperti ini kemungkinan besar adalah pihak-pihak yang tidak suka dengan Amerika dan karena benar-benar tidak tahu sehingga mereka benar-benar meyakini yang melakukan adalah Amerika.

 

Atau pihak yang tidak suka dengan Amerika dan karena ada tujuan tertentu mereka sengaja menuduh Amerika padahal mereka tidak yakin Amerika yang melakukan. Apapun alasannya maka analisa dan pendapat seperti itu tidak bisa dipertanggungjawabkan baik teori ataupun fakta karena dasar yang paling kuat analisa dan pendapat itu adalah karena kapal perang Amerika sedang berlabuh di pelabuhan Benoa dan saat terjadi pengeboman malam itu ada kilat cahaya  dari atas.

 

  • Pelakunya adalah TNI.

Orang yang menganalisa bahwa pengeboman di Jalan Legian Kuta-Bali 12 Oktober 2002 adalah operasi yang dilakukan oleh TNI dengan tujuan-tujuan tertentu. Saya tahu bahwa analisa seperti ini hanya berdasar dugaan dan mereka-reka. Mungkin yang menganalisa berdasar kepada kebiasaan yang terjadi di NKRI  bahwa setiap kejadian yang sifatnya kekerasan itu adalah ada keterlibatan pihak TNI.

 

Seandainya yang menganalisa itu mengetahui ilmu menganalisa dan mempunyai pengalaman menganalisa tentunya tidak akan mengeluarkan analisa yang seperti itu karena sedikitpun tidak ada bukti yang mengarah ke TNI baik secara teori ataupun fakta.

 

  • Analisa dan tuduhan bahwa kami disusupkan.

Setelah kami sebagai pelaku Bom Bali pada 12 Oktober 2002 tertangkap, ada analisa yang mengarah ke tuduhan bahwa kami adalah orang-orang yang disusupkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menghancurkan Islam.

 

Bagi kami sebagai pelaku dan yang mengetahui faktanya maka analisa dan tuduhan tersebut adalah lucu dan agak menyakitkan. Namun bagi yang tidak mengetahui faktanya, maka wajar menganalisa dan menuduh seperti itu, karena mungkin menurut mereka tidak ada memperjuangkan Islam dengan cara brutal semacam itu.

 

  • Analisa dan tuduhan bahwa kami agen CIA atau yang lain.

Analisa bahwa bom yang meledak di Jalan Legian Kuta-Bali pada 12 Oktober 2002 kemungkinan dilakukan oleh agen asing sudah muncul sejak awal bom meledak. Analisa seperti itu pun tetap ada setelah Amrozi dan kami sebagai pelaku utama Bom Bali tertangkap dan terus terang mengaku sebagai pelakunya.

 

Setelah menyusul Bom Marriot I, Bom Kedubes Australia, Bom Bali II, Bom Marriot II dan Ritz Carlton, Latihan Para Militer di Aceh, Perampokan Bank di Medan, Bom Buku, dan Bom Masjid di Cirebon dan semuanya berhasil dibongkar  polisi pun masih ada yang menganalisa seperti itu.

 

Bahkan ada elite politik yang mengatakan bahwa Mukhlas, Amrozi, Imam Samudra dan saya agen CIA.Mungkin yang menganalisa ini berdasar fakta karena kami memiliki hubungan dengan Osama bin Laden sedang menurut berita yang beredar bahwa Osama bin Laden pernah memiliki hubungan dengan CIA.

 

Analisa dan tuduhan itu bisa dilakukan oleh siapapun, apalagi kalau analisa dan tuduhan itu ditujukan kepada pihak yang melakukan pelanggaran hukum. Akan tetapi ketika analisa dan tuduhan itu tidak berdasarkan pedoman yang benar maka akan terlihat bodoh, membingungkan umat, dan menyebarkan fitnah.

 

Hingga sekarang tidak ada yang membuktikan secara ilmiah bahwa Osama bin Laden memiliki hubungan dengan CIA, dan menurut kami yang mengetahui faktanya, hal itu adalah omong kosong. Dan tentang kami, latar belakang kami,  tujuan kami sudah kami sampaikan dengan jelas pula, dan detil kami melakukan pengeboman juga sudah kami terangkan dengan gamblang secara terus terang.

 

  1. B.     Klasifikasi Orang Yang Tidak Percaya Kami Sebagai Pelaku Pengeboman

Kedahsyatan Bom Bali memunculkan banyak analisa dan asumsi tentang siapa pelakunya dan apa bahan bom yang digunakannya. Ditangkapnya kami dan pengakuan kami sebagai pelakunya belum bisa meruntuhkan  analisa dan asumsi yang ada bahkan dijadikan dasar untuk menguatkan analisa dan asumsi mereka.

 

Analisa-analisa dan asumsi-asumsi itu diantaranya adalah, tidak mungkin Amrozi dan kawan-kawan mampu membuat bom sedahsyat itu, Amrozi dan kawan-kawan memang benar membuat bom tetapi hanya bom kecil dan yang besar itu ditumpangi oleh CIA atau Mossad atau yang lain, yang melakukan ada hubungannya dengan Amerika karena sebelumnya Amerika sudah memperingatkan tentang hal itu, bom yang digunakan adalah mikronuklir non convensional, dan lain-lain.

Adanya analisa-analisa dan asumsi-asumsi seperti ini setidaknya  ada dua sebab, yaitu; tidak ada pengetahuan dan pura-pura tidak percaya karena ada tujuan tertentu.

 

1.Tidak ada pengetahuan.

Yang menganalisa dan yang berasumsi seperti itu karena mereka tidak mengetahui siapa Amrozi yang sebenarnya. Mereka hanya mengetahui bahwa Amrozi adalah anak desa yang ahli mengendarai sepeda motor dan bengkel sepeda motor. Mereka belum mengetahui bahwa Amrozi sudah berhasil mengumpulkan puluhan senjata api, ribuan amunisi, dan berton-ton potasium klorat dalam rangka i’dad (mempersiapkan kekuatan) untuk jihad di jalan Allah.

 

Mereka juga belum mengetahui bahwa Amrozi sudah berhasil mengirim beberapa pucuk senjata api, ribuan amunisi,  dan ratusan kilogram potasium klorat ke Ambon dan Poso. Dan mereka juga belum mengetahui bahwa hampir seluruh pikiran Amrozi untuk i’dad (mempersiapkan kekuatan perang) demi tegaknya kekuasaan Islam.

 

Yang menganalisa dan yang berasumsi seperti itu karena mereka tidak mengetahui bagaimana pemikiran Amrozi dan kawan-kawan, apa tujuan mereka, apa saja  pengetahuan, dan kemampuan yang dimiliki mereka, dari mana mereka belajar bom, apa aktifitas mereka selama ini, dan bagaimana detik-detik mereka mempersiapkan pengeboman di Bali hingga meledaknya.

 

Dan yang menganalisa dan yang berasumsi seperti itu mungkin hanya mengetahui tentang Amrozi saja, mereka tidak mengetahui bahwa di belakang Amrozi ada Ali Ghufron kakaknya dan ada saya, adiknya, serta kawan-kawannya yang bertahun-tahun di Afghanistan untuk belajar bom dan ilmu-ilmu militer yang lainnya.

 

Yang menganalisa dan yang berasumsi seperti itu karena mereka tidak mengetahui secara detail dan menyeluruh tentang bahan peledak dan bom. Yang menganalisa dan yang berasumsi seperti itu mungkin bukan ahli bom, kalaupun ahli tetapi keahliannya baru sebatas punya teori dan belum pernah praktik, kalaupun sudah pernah praktik mungkin yang dipraktikkan baru bom standar buatan pabrik, itupun mungkin dalam skala kecil.

 

Dan yang menganalisa dan yang berasumsi seperti itu mungkin tidak mengetahui secara detil tentang macam-macam bom, mereka hanya mengetahui bom standar buatan pabrik, mereka belum mengetahui tentang bom improvisasi, cara pembuatannya, dan juga kekuatannya.

 

Yang menganalisa dan yang berasumsi seperti itu mungkin belum mengetahui bahwa sejak kembali dari Afghanistan saya sudah mengumpulkan bahan-bahan yang bisa saya jadikan sebagai bom dan saya juga sudah mempraktikkan pembuatan bom-bom buatan.

 

Yang menganalisa dan yang berasumsi seperti itu mungkin mereka belum mengetahui bahwa sebelum melakukan pengeboman-pengeboman tersebut kami sudah terlibat dalam jihad Ambon. Dan yang menganalisa dan yang berasumsi seperti itu mungkin mereka belum mengetahui bahwa sebelum pengeboman di Bali kami sudah melakukan pengeboman terhadap Duta Besar Filipina di Jakarta tahun 2000 dan pengeboman di Gereja-Gereja di beberapa kota pada Malam Natal tahun 2000.

Yang menganalisa dan yang berasumsi seperti itu mungkin karena mereka belum mengetahui bahwa Pemerintah Singapura dan Kerajaan Malaysia sudah menangkap beberapa orang yang terkait dengan jaringan teroris dan menjadi anggota Jamaah Islamiyah.

 

Yang menganalisa dan yang berasumsi seperti itu karena belum mengetahui bahwa beberapa orang yang ditangkap di Singapura dan Malaysia itu adalah kawan-kawan kami. Sementara Amerika sudah mengetahui hal itu karena pasti mengikuti perkembangan penyidikan yang dilakukan oleh Pemerintah Singapura dan Kerajaan Malaysia terhadap kawan-kawan kami. Dari sinilah Amerika dan sekutunya sebelum terjadinya Bom Bali bisa memberikan peringatan kemungkinan akan adanya serangan dari teroris.

 

Karena tidak adanya pengetahuan tentang hal-hal di atas inilah maka mereka mengeluarkan analisa dan asumsi yang tidak benar. Namun bagi masyarakat umum, analisa-analisa dan asumsi-asumsi tersebut dianggap benar karena berasal dari orang yang terkenal serta dibalut dengan teori dan fakta yang terlihat meyakinkan.

 

2.Pura-pura tidak percaya karena ada tujuan tertentu.

Selain pihak-pihak yang tidak percaya karena ketidaktahuan mereka, ada juga pihak-pihak yang tidak percaya kami sebagai pelaku Bom Bali dan tidak percaya kami mampu membuat bom sedahsyat itu karena pura-pura sebab ada tujuan tertentu. Tujuan tertentu itu mungkin karena untuk membela dan membantu kami supaya hukuman kami ringan, sebagai upaya untuk melindungi kawan-kawan kami, dan orang-orang yang sepemikiran dengan kami agar bebas melakukan dakwah, dan untuk melancarkan perang urat syaraf kepada Amerika dan sekutunya.

Saya pernah mengatakan kepada pengacara saya, kepada keluarga saya, kepada kawan saya, dan kapada beberapa tokoh, “Silahkan membantu untuk meringankan hukuman kami, tetapi jangan sampai keluar dari fakta”. Artinya, silahkan berusaha untuk meringankan hukuman kami tetapi jangan sampai menggunakan cara dengan mengatakan bahwa kami bukan pelaku pengeboman di Bali.

Saya mengatakan seperti itu karena kami semua sudah mengakui bahwa pengeboman yang kami lakukan di Bali adalah dalam rangka jihad di jalan Allah. Maka pengakuan tersebut sudah final supaya orang-orang mengetahui bahwa tujuan kami melakukan pengeboman itu adalah untuk melaksanakan kewajiban jihad di jalan Allah sehingga kami tidak dituduh dengan tuduhan yang keluar dari tujuan itu.

Orang percaya atau tidak percaya bahwa di Indonesia ada teroris, hal itu tidak penting, karena kenyataannya memang ada dan sudah ada datanya di pemerintah. Orang percaya atau tidak percaya bahwa kami yang melakukan pengeboman di Bali, hal itu juga tidak penting, karena kenyataannya kami sudah ditangkap dan sudah mengakuinya sehingga siapapun tidak akan bisa membebaskan kami dengan cara-cara yang seperti itu.

Dan ketidakpercayaan pihak manapun bahwa kami sebagai pelaku Bom Bali adalah tidak bisa mengurangi keseriusan pemerintah Indonesia untuk mengawasi dan mengantisipasi kegiatan-kegiatan yang dimungkinkan akan mengarah kepada aksi kekerasan dan aksi melawan NKRI.

Amerika dan sekutunya tidak akan takut apalagi kalah hanya dengan melakukan perang urat syaraf murahan seperti itu. Justru mereka bangga ketika ada analisa bahwa Amrozi dan kawan-kawan merencanakan pengeboman di Bali tetapi diketahui oleh mereka lalu mereka memasang bom dan ikut meledak ketika bom Amrozi diledakkan. Atau mungkin Amerika dan sekutunya justru tertawa ketika mendengar ada analisa bahwa mereka yang melakukan pengeboman di Bali, karena analisa yang seperti itu hanya berdasar kepada sangkaan bukan berdasar teori dan fakta sehingga terlihat bodoh.

Jadi pura-pura tidak percaya kami mampu membuat bom di Bali sedahsyat itu lalu menuduh Amerika dan sekutunya yang mengebom dengan tujuan perang urat syaraf, itu tidak akan bisa memberikan rasa takut kepada mereka. Yang bisa memberikan ketakutan kepada mereka adalah jika ada lagi yang membuat bom sebesar Bom Bali atau lebih besar dari Bom Bali untuk menyerang mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *