Wallpaper

PENGALIHAN ISU DIBALIK PENANGKAPAN TERORIS

Pengalihan Isu Era Bom Bali I

 

Ditangkapnya kami sebagai pelaku Bom Bali banyak memunculkan hal-hal baru diantaranya adalah pengalihan isu yang dilakukan oleh kawan-kawan kami yang terlibat Bom Bali tentang penyebab kami ditangkap. Pengalihan isu itu diantaranya adalah:

–         Penangkapan kami karena berhubungan dengan penangkapan kawan-kawan kami anggota Jama’ah Islamiyah ( JI ) di Malaysia dan Singapura.

–          Penangkapan kami sudah direncanakan oleh Pemerintah Indonesia karena kami dianggap ekstrimis yang mau mendirikan Negara Islam.

–          Penangkapan kami adalah makar Amerika dan sekutunya untuk menghabisi para militan dan aktifis Islam atas dalih perang terhadap teroris.

–          Penangkapan kami adalah makar dari orang-orang Kristen.

 

Tujuan Pengalihan Isu

  1. Dengan mengalihkan isu bahwa penangkapan kami disebabkan karna berhubungan dengan penangkapan anggota JI di Malaysia dan Singapura maka bisa menutupi kesalahan kami sebab melakukan pengeboman yang sejak lama hampir semua anggota  JI menentangnya.
  2.  Dengan mengalihkan isyu bahwa penangkapan kami disebabkan karena makarnya Amerika dan sekutunya maka harapannya bisa mempengaruhi kaum muslimin yang lain agar menjadikan Amerika dan sekutunya sebagai musuh bersama.
  3. Dengan mengalihkan isu bahwa penangkapan kami disebabkan karna makarnya orang-orang Kristen maka harapannya bisa mempengaruhi kaum muslimin yang lain agar menjadikan orang Kristen sebagai musuh bersama.
  4. Mayoritas kaum muslimin menentang perjuangan dengan jalan kekerasan, jika terus terang mengatakan kami terlibat dengan aksi pengeboman dan aksi kekerasan yang lainnya maka mayoritas kaum muslimin akan menolak dan membenci kami.
  5. Sebagai alat untuk mencari dukungan dari kaum muslimin dalam usaha mendirikan negara yang berdasarkan syareat Islam, jika tidak mengalihkan isu dan berterus terang mengatakan keterlibatankami dalam aksi kekerasan maka mayoritas kaum muslimin tidak akan mau mendukung.
  6.  Untuk menutupi kesalahan secara teknis pengeboman yang kami lakukan di Bali yang menyebabkan kami ditangkap.
  7. Psywar terhadap pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh.

 

 

Menjawab Pengalihan Isu

Ketika kami menjalani proses penyidikan di Mapolda Bali dalam kasus Bom Bali I pengalihan isu inisudah sampaidiluar hingga sampai di keluarga kami. Pada saat saya mendengar pengalihan isu tersebut dan ditanya kebenarannya tentang penangkapan kami maka saya jawab sebagai berikut:

  •  Jika penangkapan yang dilakukan oleh Polisi terhadap kami ini ada hunbungannya dengan penangkapan kawan-kawan kami di Malaysia dan Singapura maka mestinya bukan Amrozi dulu yang ditangkap tetapi Mukhlas karena dia sudah masuk dalam daftar pencarian orang ( DPO ) di kedua negara tersebut.
  •  Jika penangkapan yang dilakukan oleh Polisi terhadap kami karena kami ekstrimis mau mendirikan Negara Islam, maka mestinya bukan Amrozi dulu yang ditangkap tetapi Mukhlas karena sejak zaman Orde Baru dia sudah dikenal oleh aparat pemerintah dan aparat keamanan khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timursebagai ekstrimis anti Pancasila. Atau saya dulu yang ditangkap, karenahampir semua isi ceramah saya di setiap kesempatan adalah menerangkan kewajiban jihad, kewajiban mendirikan kekuasaan yang berdasar syareat Islam dan mengoreksi kejelekan NKRI yang tidak memberlakukan syareat Islam secara menyeluruh.
  •  Perang terhadap teroris yang dikampanyakan oleh Amerika sudah berjalan lebih dari setahun. Jadi, jika penangkapan yang dilakukan oleh Polisi karena Amerika dan sekutunya tentunya kami sudah ditangkap sebelum kami melakukan pengeboman di Bali atau setidaknya bersamaan dengan penangkapan kawan-kawan kami di Malaysia dan Singapura. Atau saya dulu yang ditangkap sebelum melakukan pengeboman di Bali, karena ketika Fathur Rahman Al-Ghozi ditangkap di Philipina dan dipenjara disana dia sempat berpesan ke saya melalui keluarganya yang membesuknya supaya saya berhati-hati karena nama saya sudah disebut disana.
  •  Jika penangkapan kami karena makar orang-orang Kristen maka mestinya saya dan kawan-kawan sudah ditangkap tahun 1999 ketika kami membantu jihad di Ambon, mengirim sukarelawan, mengirim bahan bom, dan mengirim senjata api beserta amunisinya kesana.
  •  Jadi penyebab kami ditangkap oleh Polisi adalah karena kami melakukan pengeboman diBali dan berhasil diidentifikasi Polisi. Dimulai dari ditangkapnya Amrozi karena dia sebagai pemilik terakhir mobil Mitsubitsi L-300 yang kami ledakkan. Pemilik sebelumnya yang namanya terteradi BPKB mobil L-300 tersebut sudah lebih dulu ditangkap, namun karena tidak terlibat pengeboman maka dilepaskan lagi. Ini membuktikan bahwa penangkapan Amrozi adalah dari mobil Mitsubitsi L-300 yang kami ledakkan di depan Sari Club di Jalan Legian Kuta-Bali. Dengan demikian jelaslah bahwa ditangkapnya kami adalah disebabkan karena kami melakukan pengeboman di Bali bukan karena sebab lain yang dituduhkan dan diisyukan diatas.

 

Pengalihan IsuBerkelanjutan Sampai Sekarang

Ketika saya baru ditangkap dan menjalani proses penyidikan di Mapolda Bali saat itu  Amrozi mebisiki saya yang intinya bahwa penangkapan kami semuanya dipimpin oleh Gories Mere yang beragama Kristen, jadi penangkapan-penangkapan ini ada makar dari orang-orang Kristen.

Ketika saya berada di Lembaga Pemasyarakatan Kerobokan Denpasar bersama Mukhlas, Amrozi dan Imam Samudra, mereka bertiga sering membicarakan seputar penangkapan-penangkapan.Diantara pembicaraannya adalah bahwa yang menangkap dan mengintrogasi kita mayoritas Polisi Kristen, berarti ada makar dari orang Kristen dibalik penangkapan kita.Ini disebarkan dan disampaikan kepada siapa saja yang bisa dijangkau oleh mereka, jadi wajar jika isu ini cepat menyebar.

Pada saat kami menjalani proses persidangan di Bali bom meledak lagi di Hotel JW Marriot Jakarta. Dengan Bom Marriot bertambahlah DPO yang akan ditangkap, sementara pengejaran terhadap tersangka pelaku Bom Bali I masih berlangsung. Disini lainpengalihan isuyang dilakukan oleh kawan-kawan kami tentang sebab penangkapan-penangkapan yang dilakukan oleh Polisiterus berlanjut.

Pengalihan isu tentang penangkapan kami masih terus dilakukan oleh kawan-kawan. Ketikadibubarkannya Team Investigasi Bom Bali dengan berakhirnya masa jabatan Made Mangku Pastika dan digantikan Gories Mere menjadi ketua Satgas Bom Mabes Polri. Dengan diangkatnya Gories Mere maka pengalihkan isu dan tuduhanyang dilakukan oleh kawan-kawan bahwa ada makar orang Kristen dibalik penangkapan kami semakin kuat. Oleh karena maka setiap ada penangkapan terhadap tersangka kasus teroris mesti dikaitkan dengan Polisi Kristen terutama Gories Mere.

Selanjutnya Gories Mere digantikan oleh Surya Dharma Salim yang beragama Islam.  Ketika Satgas Bom dikepalai oleh Surya Dharma Salim, penangkapan-penangkapan semakin banyak karena selain sisa-sisa daftar pencarian orang (DPO) yang terlibat Bom Bali I juga DPO Bom Marriot kemudian DPO Bom Kuningan dan Bom Bali II.

Ketika Satgas Bom dikepalai oleh Surya Dharma Salim, saat itu Mabes Polri juga membentuk Detasemen Khusus 88 Anti Teror ( densus 88 )yang dikepalai oleh Bekto Supraptosalah satu dari Team Investigasi Bom Bali.

Pada zaman Satgas Bom dikepalai oleh Surya Dharma Salim dan Densus 88 dikepalai oleh Bekto terjadi penangkapan-penangkapan terhadap yang terlibat terorisme di Poso termasuk ditangkapnya 17 orang Kristen Kampung Taripah yang terlibat pembunuhanterhadap penjual ikan.

Detasemen Khusus 88 Anti Teror dikepalai oleh Bekto Suprapto yang beragama Kristen, membuat kawan-kawan dapatkan tambahan dasar tentang adanya makar dari orang-orang Kristen dalam penangkapan kami. Sebab itulah mereka lebih bersemangat lagi untuk terus mengalihkan isuagar semakin banyak orang yang mempercayainya sehingga masyarakat khususnya ummat Islam ikut menempatkan pihak Kristen khususnya Polisi Kristen yang ikut menangkap kami menjadi musuh bersama kaum muslimin.

Selanjutnya Detasemen Khusus 88 Anti Teror dikepalai oleh Surya Dharma Salim menggantikan Bekto Suprapto. Karena Kepala Densus 88 beragama Islam maka yang dituduhkan dan diisukantentang Kepala Densus 88 tidak lagi masalah agamatetapi bahwa Densus 88 adalah antek Amerika yang akan menghabisi militan dan aktifis Islam. Adapun tentang Kristen masih tetap disebut-sebut karena Gories Mere masih ada hubungannya dengan Densus 88 dan dianggap yang mengendalikannya.

Surya Dharma Salim tidak banyak dibicarakan dan diisukan. Hal ini mungkin karena Surya Dharma Salim tidak pernah muncul di media massa sehingga tidak begitu dikenal oleh kawan-kawan yang kebiasaannya mengalihkan isu. Dan mungkindisebabkan karena kedekatan Surya Dharma Salim denganteroris yang sudah ditangkap yang mau didekati dan perhatiannya terhadap mereka bahkan terhadap keluarga mereka.Meskipun dekat dan perhatian terhadap yang terlibat teroris namun Surya Dharma Salim tetap tegas menegakkan hukum sesuai dengan tugasnya, bahkan pernah menawari teroris yang masih buron diajak perang terbuka dengan teamnya daripada melakukan pengeboman dan pembunuhan terhadap masyarakat umum.

Setelah Surya Dharma Salim pensiun dari Polisi, Kepala Densus 88 dijabat oleh Saut Usman Nasution yang sebelumnya sebagai wakil Surya Dharma Salim.  Zaman Saut Usman Nasution tuduhan dan pengalihan isu terhadap Kepala Densus 88 sama dengan zaman Surya Dharma Salim yaitu sebagai antek Amerika bukan mengarah ke Kristen karena keduanya sama-sama Muslim. Hanya saja zaman Saut Usman Nasution dapat hujatan dan cemoohan disebabkan karena penanganan kasus Bom Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton karena menggunakan cara yang berlebihan dalam menangkap Nordin M.Top di Temanggung dan ternyata salah.

Zaman Saut Usman Nasution, setelah Bom Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, sering muncul Petrus Golose di televisi menerangkan seputar teroris.Petrus Golose adalah perwira polisi di Densus 88 yang diantara tugasnya menerangkan seputar masalah terorisme. Namun karena agamanya Kristen maka bertambah santer tuduhan dan pengalihan isu adanya makar orang Kristen dibalik penangkapan-penangkapan tersangka teroris yang hal ini diterima oleh sebagian Ummat Islam yang tidak mengetahui fakta teroris yang sebenarnya.

Selanjutnya Saut Usman Nasution digantikan oleh wakilnya yaitu Tito Karnavian. Karena Tito Karnavian agamanya Islam maka tuduhan dan isunya masih sama dengan Kepala Densus 88 sebelumnya yaitu sebagai antek Amerika yang akan menghabisi para aktifis Islam. Jadi yang masih dijadikan tuduhan dan pengalihan isu adalah masih seputar makar orang-orang Kristen. Tuduhan dan pengalihan isu lebih santer lagi ketikaterjadipenangkapan-penangkapanterhadap yang terlibat latihan militer di Aceh,penembakan terhadap Abdul Matin dan kawan-kawannya, penangkapan terhadap yang terlibat perampokan di Medan dan penangkapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, apalagi saat itu yang sering memberikan keterangan di media massa adalah Petrus Golose maka pengalihan isu adanya makar dari orang-orang Kristen semakin digalakkan.

Tuduhan dan pengalihan isu yang lainnya adalah bahwa anggota Polri yang di Densus 88 adalah mayoritas Kristen.

Tuduhan dan pengalihan isu seperti yang saya sebutkan diatas terus disebarkan ketika Kepala Densus 88 dijabat oleh Mohammad Syafei danhingga sekarang pengalihan isu dan tuduhan-tuduhan yang seperti itu masih berlanjut.

Pengalihan isu yang dilakukan sekarang ini adalah mengadopsi dan menggunakan dasar sekaligus meneruskan pengalihan isu yang dilakukan oleh Mukhlas, Amrozi dan Imam Samudra.

 

 

Pengalihan Isu Yang Tidak Berguna

Pengalihan isyu yang dilakukan oleh kawan-kawan inidimulai sejak kami ditangkap hingga sekarang ini. Dan disetiap ada aksi teror yang menyebabkanadanya penangkapan-penangkapan mesti ada pengalihan isyu yang seolah-olah benar.Hal ini menyebabkan ada darikaum musliminyang termakan dan terpengaruh oleh pengalihan isyu tersebut sehingga mereka ikut-ikutan tidak percaya bahwa kami dan kawan-kawan yang ditangkap memang pelaku teror yang sebenarnya, bahkan dari mereka ada yangikut-ikutan menyebarkanisyu bahwa penangkapan kami memang benar makar dari orang Kristen dan Amerika yang tidak suka Islam.

Saya tidak setuju dengan pengalihan isyu yang semacam itu dan tidak mau ikut-ikutan menyebarkannya dengan alasan-alasan sebagai berikut:

Kami sudah ditangkap dan sudah memberikan keterangan di kepolisian bahwa memang benar kami sebagai pelaku Bom Bali, mengapa harus mengalihkan isyu, sehingga seolah-olah kami belum siap dengan semua resiko.

Kami melakukan pengeboman bukan untuk main-main atau coba-coba atau semisalnyaakan tetapi atas dasar melaksanakan salah satu Syareat Islam yaitu Jihad di jalan Allah. Maka tidak pantas jika setelahnya kami mengalihkan isu karena tujuan tertentu yang belum tentu memberi kebaikan. Justru dengan kami mengalihkan isu menyebabkanvisi dan misi kami melakukan pengeboman tidak sampai kepada ummat,membuat orang menuduh kami dengan tuduhan yang tidak benar,  membuat orang lain jadi bingung, membuat orang lain tertipu, dan lain-lain.

Kami melakukan pengeboman yang menyebabkan kami disebut dengan sebutan teroris ini bukan main-main, banyak pengorbanan yang sudah kami lakukan, berkorban pikiran, tenaga, waktu bahkan melayangnya dua nyawa yang melakukan bom bunuh diri, maka tidak pantas jika setelahnya kami mengalihkan isu dari yang sebenarnya.

Dengan mengalihkan isu-isu seperti itu berartimelakukan penipuan. Contoh: Jelas-jelas kami terlibat pengeboman di Bali yang menyebabkan kami ditangkap dan sudah kami sampaikan dalam berita acara pemeriksaan (BAP), tiba-tiba kami tidak mengakuinya dan mengalihkan isu bahwa penangkapan kami bukan karena Bom Bali, sementara ada dari kaum muslimin yang percaya isu tersebut lalu mereka membela kami.Inilah yang saya sebut dengan penipuan.

Kasihan kaum muslimin yang tertipu, mereka tidak tahu fakta yang sebenarnya bahwa kami memang terlibat terorisme, mereka tahunya dari isu yang disebarkan bahwa kami ini korban makar pihak yang tidak suka Islam. Oleh karena itu kaum muslimin harus membela dengan cara mengeluarkan pernyataan yang menentang penangkapan-penangkapan, protes kepada pemerintah dan menceritakan kepada kaum muslimin yang lainnya. Lebih kasihan lagi karena yang termakan oleh isu ini adalah tokoh masyarakat, ustadz dan kiyai,kemudian mereka memahamkan kepada masyarakatnya sesuai dengan pemahaman mereka. Dan hal ini ternyata terjadi hingga sekarang.

Ketika sudah bertekad bulat melakukan pengeboman, melakukan kegiatan kemiliteran, menyimpan senjata api, menyimpan amunisi, menyimpan bahan bom dan lain-lain atas dasar jihad, seharusnya diakui saja karena kegiatan-kegiatan ini dalam rangka menjalankan syareat Allah. Jika  setelah mengakui yang sebenarnya menyebabkan ada orang yang pro dan kontra maka hal itu tidak jadi masalah karena perbuatan-perbuatandalam rangka melaksanakan syareat Allah bukan demi manusia.

Ketika sudah bertekad bulat menjadi oposisi di negara ini dengan tujuan mau mengganti hukum buatan manusia dengan hukum Allah, seharusnya mengatakan yang sebenarnya. Jika  setelah mengatakan yang sebenarnya menyebabkan ada orang yang pro dan kontra maka hal itu tidak jadi masalah karena perbuatan yang didasarkan melaksanakan syareat Allah itu bukan untuk manusia.

Ketika sudah berani melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia ini seharusnya sudah siap mempertanggung jawabkan segala sesuatunya dan siap segala resikonya termasuk siap ditangkap.

Gories Mere, Bekto Suprapto, Surya Dharma Salim, Saut Usman Nasution, Tito Karnavian, Mohammad Syafei, Petrus Golose dan semua anggotanya, jika mereka ini  melakukan penangkapan terhadap teroris maka sudah semestinya sebab mereka ini Polisi yang diantara tugasnya adalah untuk menangkap orang-orang yang terlibat terorisme. Kalau mau menyalahkan maka yang harus disalahkan adalah yang menugaskan mereka yaitu Kapolri atau menyalahkan yang membuat Undang-Undang Anti Teroris, ataumenyalahkan semua orang yang duduk di Pemerintahan Indonesia.

Di negara dan di tempat manapun kalau disitu ada hukum yang diberlakukan meskipun hukum adat atau semisalnya, jika disitu ada yang melanggar hukum maka yang melanggar hukum itu pasti akan dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku disitu.

Ketika sudah memiliki keyakinan bahwa Indonesia ini negara kafir,yang menjadi aparatur negara yang beragama Islam statusnya sebagai thaghut dan yang Non Islam statusnya kafir, lalu melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum yang berlaku, maka seharusnya sudah siap ditangkap dantidak usah mempermasalahkanapakah Polisi yang menangkap beragama Islam atau tidak.

Ketika sudah menghukumi negara Indonesia adalah negara thagut seharusnya sudah tidak memperhitungkan apakah Kepala Detasemen Khusus 88 Anti Teror orang Islam atau Non Islam.

Jika ingin mengajak orang lain untuk memusuhi orang Kristen seharusnya disampaikan terus terang kepada Ummat Islam dantidak usah dengan cara mengalihkan isu bahwa penangkapan-penangkapan terhadap tersangka teroris adalah makar orang Kristen.

Jika ingin mengajak orang lain untuk memusuhi dan melawan Densus 88 seharusnya disampaikan terus terang kepada masyarakat tidak usah mengalihkan isu bahwa Densus 88 adalah antek Amerika untuk menghabisi aktifis Islam atau dikendalikan oleh orang Kristen atau semisalnya.

Jika ingin mengajak orang lain untuk memusuhi dan melawan Densus 88 seharusnya disampaikan dan dida’wahkan terus terang tidak usah mengalihkan isu tentang Kepala Densus 88dari orang Islam atau Non Islam.

Kalau sudah yakin bahwa Densus 88 adalah bikinan dan antek Amerika, tetapi kenapa melakukan protesketika Densus 88 dikepalai oleh orang Kristen.

Kalau sudah berani mengatakan bahwa NKRI ini negara kafir atau thagut, seharusnya tidak usah memperdulikan apakah polisi yang di Densus 88 Muslim atau Non Muslim, dan apakah polisi yang di Densus 88 mayoritasnya Muslim atau Non Muslim.

Sejak saya masih buron saya tidak pernah memperhitungkan para polisi yang menangkap dan memburu kami dari segi agamanya. Yang sudah pasti mereka adalah Polisi Republik Indonesia yang sedang memburu dan menangkap kami sesuai tugasnya. Oleh karena itu ketika saya bersikap baik dengan salah satu polisi maka semuanya juga saya baiki tidak memandang agamanya apa. Sikap ini saya lakukan sebagai salah satu cara untuk menunjukkan bahwa Islam adalah untuk memperbaiki bukan merusak dan menjadi rahmat bagi semesta alam bukan menjadi bencana. Siapa tahu dengan cara seperti ini saya bisa menjadi perantara bagi orang lain untuk mendapatkan hidayah. Karena cara kekerasan dengan pengeboman sudah kami lakukan namun hasilnya lebih banyak mudharatnya buat Islam dan kaum muslimin sedangkan da’wah dan perjuangan harus terus maka saya harus bisa menggunakan kesempatan.

Adapun bagi kawan-kawan kami yang sengaja mengalihkan isyu, Islam dan Non Islamnya Polisi dijadikan alasan untuk membenci Polisi dan juga dijadikan alasan untuk menuduh Polisi dan mengalihkan isu dari fakta yang sebenarnya.

Sebenarnya, justru dengan kami berterus terang mengatakan bahwa penangkapan kami disebabkan oleh pengeboman yang kami lakukan di Bali pada 12 Oktober 2002, ini akan bermanfaat buat kawan-kawan kamiyang lain supaya merekamengetahui kesalahan-kesalahan yang sudah kami perbuat sehingga tidak akan melakukan kesalahan yang sama.

Jika sebab penangkapan kami dialihkan ke hal-hal yang tidak sesuai dengan fakta maka kawan-kawan yang lain tidak akan pernah mengetahui kesalahan yang telah kami perbuat dan tidak akan belajar darinya sehingga akan melakukan kesalahan yang sama.

Penyebab kami ditangkap adalah karena kami melakukan pengeboman yang bertentangan dengan hukum yang berlaku maka harus kami akuiapa adanya meskipun kami tidak setuju dengan dasar hukum yang diberlakukan di Indonesia.

Penyebab kami ditangkap adalah karena kami melakukan pengeboman, maka hal ini harus diakui tidak usah mengalihkan fakta dengan menuduh pihak lain dan tidak usah mengalihkan isu ke sesuatu yang lain, sebab suksesnya perjuangan tidak akan bisa didapatkan dengan cara-cara seperti ini.

Ada yang beralasan bahwa pengalihan isu-isu tersebut adalah bagian dari psywar membuat opini supaya masyarakat mendukung kami dan ikut memusuhi pihak yang kami anggap sebagai musuh, jadi boleh dan sah-sah saja. Menurut saya, psywar yang semacam ini tidak ada dalam ajaran Islam dan Islam tidak akan dibuat jaya oleh pengalihan isu yang semacam ini. Apalagi jika dilihat dari keseluruhan masyarakat Indonesia, mereka memang mayoritas Islam tetapi mereka belum kenal kami dan belum tahu detail perjuangan kami, bagaimana hanya dengan pengalihan isu yang semacam ini bisa berhasil mendapatkan dukungan mereka.

Islam diturunkan untuk menegakkan keadilan, kami melakukan pengeboman juga dalam rangka jihad untuk menegakkan keadilan, namun kenapa setelah melakukan jihad lalu melakukan ketidakadilan dengan menyebarkan isu-isu yang tidak benar.

Islam diturunkan adalah untuk menegakkan keadilan, karena itulah setiap Muslim harus berbuat adil dalam segala hal. Jadi, sebagai Muslim harus adil mengakui bahwa adanya penangkapan-penangkapan yang dilakukan oleh Polisi adalah disebabkan karena melanggar hukum yang berlaku di negara ini, bukan dialihkan karena makar orang Kristen, karena Gories Mere, karena Petrus Golose, karena Densus 88 antek Amerika dan karena lain-lain yang keluar dari fakta yang sebenarnya. Di Indonesia ini, jangankan pelanggaran yang bisa menyebabkan hilangnya nyawa seseorang seperti pengeboman atau semisalnya, mencuri sandal saja harus ditangkap dan diproses hukum menurut hukum yang berlaku.

Sebagai orang Islam apalagi mengaku sebagai mujahid seharusnya memiliki sifat jujur karena benar. Kalau berani melakukan kegiatan yang masuk katagori terorisme maka harus berani dipanggil, dicap dan dihukumi sebagai teroris. Jangan sampai sudah melakukan kegiatan yang masuk kategori terorisme tetapi tidak mau mempertanggung jawabkannya karena takut resiko, tidak siap dipanggil teroris karena mayoritas masyarakat tidak suka teroris, tidak mau dicap sebagai teroris karena menjaga repotasinya dan tidak mau dihukumi sebagai teroris karena masih mengharapkan dukungan dari masyarakat. Kalau jadi teroris yang semacam ini maka pasti ujung-ujungnya melakukan pengalihan isyu supaya bebas dari tuduhan sebagai teroris dan tetap bisa melakukan kegiatannya. Dengan demikian dia di komunitasnya tetap sebagai militan yang pro dengan teroris sementara di masyarakat umum dia bebas dari unsur teroris yang tetap disukai mereka.

Mengalihkan isu seperti yang saya sebutkan diatas adalah tidak baik karena berarti menunjukkanbahwa pelakutakut resiko, tidak mau mengakui kesalahan, pengecut, menyebarkan fitnah, takut disalahkan oleh orang lain, takut tidak didukung oleh orang lain, tidak yakin terhadap kebenaran perjuangan yang ditempuh dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

 

 

Kesimpulannya…

Jika tidak mau ditangkap dan dipenjara maka tidak usah berjihad dengan melakukan pengeboman, tidak usah memiliki dan menyimpan senjata api,tidak usah memiliki dan menyimpan amunisi, tidak usah memiliki dan menyimpan bahan peledak, tidak usah latihan militer, tidak usah melakukan pembunuhan, tidak usah melakukan perampokan,tidak usah membantu orang yang masuk DPO, tidak usah menggerakkan orang lain untuk melakukan hal-hal diatas, dan tidak usah melanggar hukum yang berlaku di negara ini.

Jika tetap melakukan jihad dengan cara melakukan hal-hal tersebut diatas lalu terbongkar kemudian ditangkap oleh polisi maka harus jujur mengakui kekalahan, jangan mengalihkan isu yang bisa menyebabkan Ummat Islam yang lain tertipu dan bisa menyebabkan pihak lain terfitnah.

Bagi para aktifis Islam.. Jika tidak tahu fakta yang sebenarnya tentang terorisme maka harus hati-hati karena ada pengalihan isu yang dilakukan oleh teroris. Jangantermakan dan terpengaruh oleh pengalihan isu yang dilakukan oleh teroris yang menyebabkan melakukan hal-hal yang menguntungkan teroris dan merugikan pihak lain. Adapun jika ada yang sepakat dengan cara perjuangan yang ditempuh oleh teroris dan ingin bergabung dengan mereka maka bergabunglah yang penting tidak tertipu.

Bagi selain teroris dan yang tidak setuju dengan teroris dan yang tidak mendukung teroris..Jangan sampai tertipu karena ada pengalihan isu yang dilakukan oleh teroris. Dari orang-orang yang terlibat terorisme ada yang bangga sebagai teroris, bangga dipanggil sebagai teroris dan siap dengan segala resikonya sebagai teroris. Ada yang bangga sebagai teroris, bangga dipanggil teroris, tetapi tidak siap dengan segala resikonya sebagai teroris. Ada yang bangga sebagai teroris, tetapi tidak mau dipanggilsebagai teroris dan tidak siap dengan segala resikonya sebagai teroris. Ada yang bangga sebagai teroris, bangga dipanggil teroris dan siap dengan segala resikonya sebagai teroris tetapi hal ini hanya di komunitasnya saja harus disembunyikan dari masyarakat umum. Karena klasifikasi orang yang terlibat teroris inilah maka menyebabkan terjadinya pengalihan isu yang dilakukan oleh teroris dan dilakukan oleh pihak yang setuju dengan teroris.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *