Wallpaper

PANDUAN MENENTUKAN AWAL RAMADHAN 1433 H

Ada dua pendapat dalam menentukan awal bulan di tahun Hijriah yaitu dengan hisab dan ru’yah.

Hisab adalah menentukan awal bulan dengan metode perhitungan astronomi yaitu perhitungan peredaran matahari, bumi dan bulan.

Ru’yah adalah melihat langsung hilal di ufuk barat ketika matahari terbenam.

Hisab dan ru’yah dua-duanya sama-sama berpedoman dengan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits Nabi dibawah ini:

Firman Allah:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; ( Al-Baqara:189 )

 

Firman Allah:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. (Al-Baqara:185)

 

Firman Allah:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Yunus:5)

Firman Allah:

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آَيَتَيْنِ فَمَحَوْنَا آَيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آَيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا

Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas. (Al-Isra’:12)

 

Hadits Nabi:

Dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar R.A ia berkata, Rasulullah bersabda:

 الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ فَإِذَا رَأَيْتُمْ الْهِلَالَ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ

“Satu bulan ada dua puluh sembilan hari, bila kalian melihat hilal maka berpuasalah dan bila melihat hilal maka berhari raya idul fitri lah, bila hilal tertutup mendung maka perkirakanlah.”  (Bukhari Muslim)

 

 

Hadits Nabi:

 

Dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar R.A ia berkata, bahwasanya Rasulullah menyebutkan Ramadhan seraya bersabda:

 

الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا ثُمَّ عَقَدَ إِبْهَامَهُ فِي الثَّالِثَةِ فَصُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ ثَلَاثِينَ

“Satu bulan itu jumlahnya begini (membentangkan sepuluh jarinya), begini (membentangkan sepuluh jarinya) dan begini dengan menekuk ibu jarinya begini yang ketiga (membentangkan sembilan jarinya). Berpuasalah ketika melihat hilal dan berhari raya idul fitri lah ketika melihat hilal. Dan jika hilal tertutup mendung maka cukupkanlah bulan itu menjadi tiga puluh hari.” (Bukhari Muslim)

 

Di Indonesia ini yang menjadi perbedaan antara aliran hisab dengan aliran ru’yah dalam menentukan hari awal bulan Ramadhan adalah:

1. Aliran Hisab menggunakan dasar Wujudul Hilal.

Maksudnya, jika pada tanggal 29 Sya’ban menurut perhitungan astronomi terjadi hal-hal seperti dibawah ini maka malam itu sudah masuk tanggal 1 Ramadhan:

– Ijtima’ (posisi matahari dan bulan satu garis dilihat dari bumi yang menandakan pergantian bulan) terjadi sebelum tenggelamnya matahari.

-Hilal tenggelam setelah tenggelamnya matahari.

– Setelah tenggelamnya matahari posisi hilal masih diatas ufuk berapapun tingginya.

 

2. Aliran Ru’yah menggunakan dasar Ru’yatul Hilal, maksudnya:

– Melihat hilal secara langsung di ufuk barat ketika matahari tenggelam pada tanggal 29 Sya’ban dengan mata telanjang atau alat bantu.

– Jika hilal bisa dilihat maka malam itu sudah masuk tanggal 1 Ramadhan, jika hilal tidak bisa dilihat maka bulan Sya’ban dipenuhkan menjadi 30 hari berarti malam itu belum tanggal 1 Ramadhan.

– Ketiga dasar yang digunakan oleh aliran hisab itu juga dipakai oleh Aliran Ru’yah namun hanya untuk mendukung pelaksanaan ru’yah bukan untuk menentukan hari awal bulan.

Adanya perbedaan tersebut maka untuk menyambut bulan Ramadhan tahun 1433 H ini saya akan mengetengahkan pendapat dalam menentukan hari awal bulan Ramadhan, semoga bisa menjadi pengetahuan bagi yang belum tahu dan bisa memantabkan bagi yang kebingungan, lebih-lebih lagi bisa membuat kita bisa beramal sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah.

MENGHISAB TANGGAL 1 RAMADHAN 1433 H

 

1.      BERDASAR HISAB ASTRONOMI

         A.    HISAB HAKIKI SISTIM EPHEMERIS

 

–                      Hisab                                 : Awal Ramadhan 1433 H

–                      Lokasi                                : Tugu Monas Jakarta

–                      Lintang (φ)                        : -6º 10’ LS

–                      Bujur (λ2)                          : 106º 49’ BT

–                      Bujur (λ1) Standard WIB  : 105º BT

–                      Ketinggian                         : 150 m

 

       1. Menghisab terjadinya ijtima’ 29 Sya’ban 1433 H

Menghisab terjadinya ijtima’ 29 Sya’ban 1433 H dengan hisab ‘urfi atau perbandingan tarikh atau konversi tanggal, yaitu mencari tanggal, bulan dan tahun Masehi yang bertepatan dengan 29 Sya’ban 1433 H. Caranya sebagai berikut:

 

1433 – 1 = 1432

1432 : 30 = 47 daur, sisa 22 tahun

= (47 x 10631) + (22 x 354) + 8 + 207 + 29

= (499657) + (7788) + 8 + 207 + 29

= 507689

507689 + 227016 + 13 = 734718

734718 : 1461              = 502 daur, sisa 1296 hari

502 x 4      = 2008

1296 : 365 = 3 tahun, sisa 201 hari

201 : 30     = 6 bulan (182 hari) sisa 19 hari

= 2008  tahun + 3 tahun + 6 bulan + 19 hari

= 2011 tahun + 6 bulan + 19  hari

Untuk mengetahui harinya 507689 : 7 = 72526 sisa 7 = hari Kamis.

Dari hasil perhitungan tersebut, maka tanggal 29 Sya’ban 1433 H bertepatan dengan hari Kamis tanggal 19 Juli 2012.

 

          2. Menghisab saat terjadinya ijtima’ tanggal 29 Sya’ban 1433 H yang bertepatan dengan tanggal 19 Juli 2012 M

                Menghisab saat terjadinya ijtima’ 29 Sya’ban 1433 H yang bertepatan dengan tanggal 19 Juli 2012 M dari data ephemeris 2012 dapat dikerjakan dengan langka sebagai berikut:

 

FIB terkecil pada 19 Juli 2012 adalah 0,00127 pada jam 04.00 GMT

 

ELM pada jam 04.00 GMT                                                       = 116º 53’ 46”

ALB pada jam 04.00 GMT                                                       = 116º 41’ 19”

 

Sabaq matahari per jam:

ELM pada jam 04.00 GMT                                                       = 116º 53’ 46”

ELM pada jam 05.00 GMT                                                       = 116º 56’ 09”(-)

Sabak matahari ( SM )                                                               =     – 0º 2’ 23”

 

Sabaq bulan per jam:

ALB pada jam 04.00 GMT                                                        = 116º 41’ 19”

ALB pada jam 05.00 GMT                                                        = 117º 13’ 06”(-)

Sabaq bulan ( SB )                                                                     =  – 0º 31’ 47”

 

Saat ijtima’ dapat dicari dengan cara:

 

Rumus:

JAM FIB (GMT) + ( ELM – ALB ) : ( SB – SM ) + 07  WIB

 

04 + (116º 53’ 46”) – (116º 41’ 19”) : (-0º 31’ 47”) – (-0º 2’ 23”) + 07

 

04 + 0º 12’ 27” : 0º 29’ 24” + 07

04 + 0º 25’ 24.49” + 07

= 11j 25 m 24.49 d

Dengan demikian, ijtima’ akhir Sya’ban 1433 H yang bertepatan dengan tanggal 19 Juli 2012 M terjadi pada pukul 11j 25m 24.49 d WIB.

 

          3. Terbenamnya matahari

Dari jadwal waktu Magrib pada 19 Juli 2012 M untuk Jakarta adalah pukul 17j 54m 00d WIB. Pukul 17j 54m 00d dijadikan ke waktu GMT dikurangi 7j = 10j 54m 00d GMT

       

       4. Menghisab saat matahari terbenam

Menghisab saat matahari terbenam tanggal 29 Sya’ban 1433 H bertepatan dengan 19 Juli 2012 M pukul 10j 54m 00d GMT

a)      Mencari tinggi matahari (hm) dengan data sebagai berikut.

1)   D’ (Dip) = 1.76 √150 meter = 0º 21’ 33”

2)   SDm pukul 10.00 GMT = 00º 15’ 44.31”

SDm pukul 11.00 GMT = 00º 15’ 44.31”

Maka SDm pukul 10j 54m 00d GMT juga = 00º 15’ 44.31”

3)   Refraksi   = 0º 34’ 30”

4)   Rumus hm

Hm  = ( 0º – SD – Ref – Dip )

= 0º – 00º 15’ 44.31” – 0º 34’ 30” – 0º 21’ 33”

 = – 1º 1147.31

 

b)      Mencari deklanasi mataharim) pukul 10j 54m 00d GMT

Karena dalam jadwal ephemeris yang tersedia hanya jam-jam bulat maka untuk mendapatkan jam pecahan caranya sebagai berikut:

δm pukul 10.00 GMT = 20º 43’ 46”

δm pukul 11.00 GMT = 20º 43’ 18”

Pukul 10j 54m 00d    δ = 20º 43’ 46” – (20º 43’ 46” – 20º 43’ 18” ) x 0j 54m 00d :1 = 20º 43’ 20.8”

Maka δm pukul 10j 54m 00d adalah 20º 43’ 20.8

 

c)      Equation of Time (e) pukul 10j 54m 00d GMT

Dalam jadwal ephemeris tertulis:

E pukul 10.00 GMT = -6m 20d

E pukul 11.00 GMT = -6m 20d

Maka e pukul 10j 54m 00d juga = -0j 3m 60d – ((-0j 3m 60d) – (-0j 3m 59d)) x 0j 54m 00d : 1 = -0j 6m 20d

Maka e pukul 10j 54m 00d adalah -0j 6m 20d

 

d)     Selanjutnya data yang tersedia:

Lintang (φ)                        = -6º 10’ LS

Bujur (λ2) tempat              = 106º 49’ BT

Bujur (λ1) Standard WIB  = 105º BT

Deklinasi matahari ( δm )  = 20º 43’ 20.8”

Equation of Time (e)         = – 0j 6m 20d

Tinggi matahari (hm)         = – 1º 11’ 47.31”

Kwd (selisih bujur)            = (106º 49’ – 105º) : 15 = 0j 7m 16d

 

e)      Mencari sudut waktu matahari ( tm )

Rumus tm:   Cos tm = -tan φ tan δ + sin h : cos φ : cos δ

Cos tm = -tan -6º 10’ tan 20º 43’ 20.8” + sin – 1º 11’ 47.31” : cos -6º 10’ : cos 20º 43’ 20.8”

-tan -6º 10’              = 0.1080(x)

tan 20º 43’ 20.8”     = 0.3783(=)

0.0408(+)

sin – 1º 11’ 47.31”   = -0.0208(:)

cos -6º 10’               =  0.9942(:)

cos 20º 43’ 20.8”     = 0.9353(=)

-0.0223(=)

Cos tm    =                                                       0.0185

tm   88º 5623.88” : 15 = 5j 55m 45.59d

 

f)       Mencari Meredian Pas ( MP )

Rumus MP  =   12 – e

= 12j 00m 00dt -(- 0j 6m 20d)

MP  = 12j 6m 20d

 

g)      Rumus terbenam

1)   Wo   = MP + t – kwd

MP  = 12j 6m 20d      (+)

Tm  = 5j 55m 45.59d (-)

kwd = 0j 7m 16d

17j 54m 49.59d WIB (sebenarnya)

2)   Wo   = tm – λ2 + λ1 : 15 + MP

= (88º 5623.88– 106º 49’ + 105º : 15 + MP

= 87º 7’ 23.88” : 15 + MP

= 5j 48m 29.59d + 12j 6m 20d

= 17j 54m 49.59d WIB (sebenarnya)

 

Dengan demikian, matahari terbenam di Tugu Monas Jakarta pada tanggal 29 Sya’ban 1433 H bertepatan tanggal 19 Juli 2012 M adalah pukul 17j 54m 49.59d WIB bertepatan dengan pukul 10j 54m 49.59d GMT

 

       5. Mencari Tinggi Hilal

 

a)      Rumus: sin h = sin φ sin δb + cos φ cos δb cos tb

Diketahui:

φ   = Lintang tempat

δb = Deklinasi bulan

tb  = Sudut waktu bulan

 

b)      Data yang diperlukan:

1)      Lintang tempat (φ)     = -6º 10’ LS

 

2)      Deklinasi bulan ( δb )

Cara mencari deklinasi bulan:

Deklinasi bulan ( δb ) yang dicari pukul 10j 54m 49.59”d, sedang yang tersedia di jadwalnya hanya jam-jam bulat maka caranya:

δb pukul 10 GMT = 16º 02’ 05”

δb pukul 11 GMT = 15º 53’ 56”

Pukul 10j 54m 49.59d    δ = 16º 02’ 05” – (16º 02’ 05”- 15º 53’ 56”) x 0j 54m 49.59dt :1 = 15º 54’ 45.47”

δb pukul 10j 54m 49.59d adalah 15º 54’ 38.16

 

3)      Sudut waktu bulan ( tb) =

Cara mencari sudut waktu bulan:

Rumus:  tb = ARm – ARb + tm

Diketahui:

tb       = Sudut waktu bulan

ARm  = Asensiorekta matahari

ARb   = Asensiorekta bulan

tm      = Sudut waktu matahari

4)      Cari asensiorekta ( AR ) matahari

ARm pukul 10.00 GMT = 119º 11’ 07”

ARm pukul 11.00 GMT = 119º 13’ 37”

Pukul 10j 54m 49.59d = 119º 11’ 07” – (119º 11’ 07” – 119º 13’ 37”) x 0j  54m 49.59d  : 1 = 119º 13’ 24”

ARm pukul 10j 54m 49.59d  adalah 119º 13’ 24

 

5)   Cari asensorekta ( AR ) bulan

ARb pukul 10.00 GMT  = 121º 07’ 11”

ARb pukul 11.00 GMT  = 121º 39’ 15”

Pukul 10j 54m 49.59d  = 121º 07’ 11” – (121º 07’ 11” – 121º 39’ 15”) x 0j  54m 49.59d  : 1 = 121º 36’ 1.47”

ARb pukul 10j 54m 49.59d  adalah 121º 36’ 29.1

 

6)      Sudut waktu matahari ( tm ) sudah diterangkan di nomer 4e.

 

c)      Mencari sudut waktu bulan.

1)      Rumus: tb= ARm – ARb + tm

2)      Data:

ARm = 119º 13’ 24”

ARb  = 121º 36’ 29.1”

Tm    = 88º 56’ 23.88”

Tb = 119º 13’ 24” – 121º 36’ 29.1” + 88º 56’ 23.88”

     = 86º 3318.78

 

       6. Mencari tinggi hilal pada saat matahari terbenam pukul 10j 54m 49.59d GMT

 

a)   Data yang diperlukan:

φ    = -6º 10’

δb   = 15º 54’ 38.16”

tb    = 86º 33’ 18.78”

 

b)   Rumus tinggi hilal ( hb ):

sin hb  = sin φ sin δ + cos φ cos δ cos t

=  sin -6º 10’                = -0.1074(x)

sin 15º 54’ 38.16”    =  0.2741

sin φ sin δ                =                          -0.0294(+)

cos -6º 10’               = 0.9942(x)

cos 15º 54’ 38.16”   = 0.9616(x)

cos 86º 33’ 18.78”   = 0.0600

cos φ cos δ cos t      =                            0.0573

sin hb                                      =                            0.0279

hb                                           = 1º 35’ 55.53”

Dengan demikian, tinggi hilal saat matahari terbenam di Tugu Monas Jakarta pada tanggal 19 Juli 2012 M pukul 17j 54m 49.59d WIB bertepatan dengan pukul 10j 54m 49.59d GMT adalah 1º 3555.53

 

       7. Mencari Tinggi Hilal Hakiki (hbh)

Data yang diperlukan:

a)      Mencari Horizontal Parallax bulan (HPb)

Cara mencari HPb pada pukul 10j 54m 49.59d:

HP pukul 10.00 GMT      = 0º 56’ 01”

HP pukul 11.00 GMT      = 0º 56’ 02”

Pukul 10j 54m 49.59d = 0º 56’ 01” – (0º 56’ 01” – 0º 56’ 02”) x 0j 54m 49.59d: 1 =  0º 56’ 1.91”

Jadi HP 10j 54m 49.59d adalah 0º 56’ 1.91

 

b)      Semi diameter bulan (SDb)

Cara mencari SDb pada pukul 10j 54m 49.59d

SDb pukul 10.00 GMT   = 0º 15’ 15.75”

SDb pukul 11.00 GMT   = 0º 15’ 16.09”

Pukul 10j 54m 49.59d =  0º 15’ 15.75” – (0º 15’ 15.75” – 0º 15’ 16.09”) x 0j 54m 49.59d: 1 = 0º 15’ 16.06”

Jadi SDb pukul 10j 54m 49.59d adalah 0º 15’ 16.06

 

c)      Mencari Parallax bulan (Pb)

Rumus parallax bulan (Pb) = cos hb x HPb

= cos 1º 35’ 55.53” x 0º 56’ 1.91”

=  0º 59’ 58.6 x 0º 56’ 1.91”

= 0º 56’ 0.6

d)     Rumus Tinggi Bulan Hakiki (hbh)

Hbh    =  hb– Pb + SDb

= 1º 35’ 55.53”- 0º 56’ 0.6” +  0º 15’ 16.06”

= 0º 55’ 10.99”

Dengan demikian, tinggi hilal hakiki tanggal 19 Juli 2012 M adalah  0º 5510.99

 

      8. Mencari Tinggi Mar’i Bulan (hbm)

 

a) Data:

Hbh     = 0º 55’ 10.99”

Dip      = 0º 21’ 33”

Ref      = 0º 34’ 30”

e)   Rumus yang digunakan

Hbm   = hbh + ref + dip

= 0º 55’ 10.99” + 0º 34’ 30” + 0º 21’ 33”

= 1º 51’ 13.99”

Dengan demikian, tinggi hilal mar’i tanggal 19 Juli 2012 M adalah 1º 5113.99

 

       9. Mencari lama hilal di atas ufuk (LHU)

 

Rumus: LHU = hbm x 0º 4’

= 1º 51’ 13.99” x 0º 4’

= 0j 7m 24.93d

Dengan demikian, lama hilal di atas ufuk pada tanggal 19 Juli 2012 M adalah 0j 7m 24.93d

 

       10.   Mencari saat hilal terbenam / ghurub (HG)

Rumus:    HG = Wo + LHU

= 17j 54m 49.59d + 0j 7m 24.93d

= 18j 2m 14.52d

Dengan demikian, hilal terbenam pada tanggal 19 Juli 2012 M adalah pukul 18j 2m 14.52d

 

       11.  Mencari arah dan azimut bulan

 

a)      Data:

Lintang Jakarta              ( φ )   = -6º 10’ LS

Deklinasi bulan              ( δb )   = 15º 54’ 38.16”

Sudut waktu bulan          ( tb )   = 86º 33’ 18.78”

b)      Rumus:

Cotan Ab = (-sin φ cotan tb) + ( cos φ tan δb : sin tb )

= -sin -6º 10’                 = 0.1074(x)

= cotan 86º 33’ 18.78” = 0.0601

=                      0.0064 (+)

= cos -6º 10’                 = 0.9942 (x)

= tan  15º 54’ 38.16”    = 0.2850(:)

= sin  86º 33’ 18.78”     = 0.9981(=)

=                       0.2838

=                       0.2902

Ab  = 73º 492.18

 

Arah azimut bulan 73º 49’ 2.18” U – B (diukur dari utara ke barat), dengan demikian azimut bulan adalah 286º 10’ 57.8”

 

       12.  Mencari arah dan azimut matahari

a)      Data:

Lintang Jakarta ( φ )                 = -6º 10’ LS

Deklinasi matahari        ( δm )  = 20º 43’ 20.8”

Sudut waktu matahari ( tm )     = 88º 56’ 23.88”

b)      Rumus:

Cotan Am = (-sin φ cotan tm) + (cos φ tan δm : sin tm)

Cotan Am = (-sin -6º 10’ x cotan 88º 56’ 23.88”) + (cos -6º 10’ x tan 20º 43’ 20.8”: sin 88º 56’ 23.88”)

-sin -6º 10’                   = 0.1074  (x)

cotan 88º 56’ 23.88”   = 0.0185

=                                 0.0019(+)

cos -6º 10’                   = 0.9942 (x)

tan 20º 43’ 20.8”         = 0.3783 (:)

sin 88º 56’ 23.88”       = 0.9998

=                                  0.3761

=                                  0.378

Am       = 69º 17’ 36.27

Arah azimut matahari 69º 17’ 36.27”   U – B (diukur dari utara ke barat),

dengan demikian azimut matahari adalah 290º 42’ 23.7”

 

       13.  Mencari posisi hilal

Rumus:

Pb   = Ab – Am

= 73º 49’ 2.18”- 69º 17’ 36.27”

= 4º 31’ 25.91”

Dengan demikian, hilal berada di selatan matahari dengan jarak 4º 31’ 25.91

 

       14.  Mencari luas cahaya hilal

               Mencari FIB (fraction illumination) pada saat matahari terbenam pukul 10j 54m 49.59d GMT.

FIB pukul 10j 00m 00d          = 0.00194

FIB pukul 11j 00m 00d          = 0.00218

FIB pukul 10j 54m 49.59d = 0.00194 – (0.00194 – 0.00218) x 0j 54m 49.59d : 1 =

FIB pukul 10j 54m 49.59d = 0.00215

 

Jadi luas cahaya hilal adalah 0.00215 bagian dari 1 = 0.00215 {11d74ad53c9a935ead1da7726371c6a8acbd9c62e3df20d04df37ab89c34e6dd}

 

       15.  Mecari lebar nurul hilal ( NH )

                Lebar nurul hilal ( NH ) adalah harga mutlak dari satuan ukur jari ( usbu’ )

a)      Rumus:

NH = √( pb² + hbm² ) / 15

b)      Data:

NH   = Nurul hilal

Pb     = Posisi bulan / hilal

           Hbm  = Tinggi Mar’i bulan / hilal

NH   =    ?

Pb    =  4º 31’ 25.91”

           Hbm =  1º 51’ 13.99”

 

NH = √( 4º 31’ 25.91” ² + 1º 51’ 13.99” ² ) / 15

= √(20º 27’ 55.24”) + (3º 26’ 12.82”) / 15

= √(23º 54’ 8.06”) / 15

= 4º 53’ 20.37” : 15

= 0.3259

Dengan demikian lebar nurul hilal adalah 0.3259 jari.

 

       16.  Mencari posisi kemiringan hilal

a)      Data:

KH   = Kemiringan hilal

Pb     = Posisi bulan / hilal

            Hbm  = Tinggi Mar’i bulan / hilal

KH   =    ?

Pb     = 4º 31’ 25.91”

             Hbm = 1º 51’ 13.99”

b)      Rumus:

KH = tan KH = Pb : hbm

 

KH = tan KH = 4º 31’ 25.91” : 1º 51’ 13.99”

KH = 2º 26’ 24.74”

tan KH 2º 26’ 24.74”

= 0º 2’ 33.42

Dengan demikian posisi hilal terlentang karena nilai KH lebih kecil dari 15º

 

       17.  Kesimpulan

Berdasarkan hasil hisab sebagaimana yang diuraikan diatas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Ijtima’ akhir Sya’ban 1433 H ( 29 Sya’ban 1433 H ) terjadi pada hari Kamis tanggal 19 Juli 2012 M pukul  11j 25m 24.49d WIB
  2. Matahari terbenam pukul  17j 54m 49.59d WIB
  3. Hilal terbenam pukul 18j 2m 14.52d WIB
  4. Tinggi hilal hakiki = 0º 5510.99
  5. 5.      Tinggi hilal mar’i  = 1º 5113.99
  6. Lama hilal diatas ufuk = 0j 7m 24.93d
  7. Arah (azimut) matahari = 69º 17’ 36.27  U – B (diukur dari utara ke barat)
  8. Azimut matahari = 290º 42’ 23.7
  9. Arah (azimut) bulan = 73º 492.18 U – B (diukur dari utara ke barat).
  10. Azimut bulan = 286º 1057.8
  11. Posisi hilal = Berada di selatan matahari dengan jarak 4º 31’ 25.91 dalam posisi terlentang.
  12. Luas cahaya hilal = 0.00215 bagian.
  13. Nurul hilal = 0.3259 jari.

 

B. STELLARIUM 0.11.2

1.Gambar 1

Keterangan gambar 1:

–          Langit, permukaan bumi dan bumi diwakili oleh garis grid seolah tembus pandang.

–          Garis horisontal nol derajat yang ada huruf B adalah Ufuk Barat.

–          Tinggi hilal/bulan diatas ufuk  0º 50’ 23”

–          Azimut bulan 286º 12’ 86”

 

2.Gambar 2

Keterangan gambar 2:

–          Langit, permukaan bumi dan bumi kelihatan seperti aslinya.

–          Garis horisontal nol derajat tidak kelihatan karena terhalang oleh sesuatu di permukaan bumi.

–          Gambar matahari dan bulan tidak kelihatan karena matahari sudah tenggelam dan bulan lebih rendah dari halangan yang ada di permukaan bumi.

 

 

2.      BERDASAR RU’YAH

 

Tanggal 29 Sya’ban 1433 H bertepatan dengan tanggal 19 Juli 2012 M jatuh pada hari Kamis. Untuk mengetahui awal bulan Ramadhan maka pada hari Kamis tanggal 19 Juli tersebut harus diadakan ru’yah yaitu melihat hilal di ufuk barat ketika matahari tenggelam. Jika hilal bisa dilihat maka malam itu sudah masuk 1 Ramadhan dan besuk siangnya mulai puasa. Jika hilal tidak bisa dilihat maka bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari artinya malam itu dan besuk siangnya masih tanggal 30 Sya’ban jadi belum dimulai puasa.

 

KESIMPULAN:

  1. Dari hisab astronomi baik hisab hakiki sistim ephemeris atau stellarium menunjukkan bahwa pada tanggal 19 Juli 2012 M pada saat matahari tenggelam atau ketika masuk waktu Magrib hilal sudah diatas ufuk. Menurut hisab hakiki sistim ephemeris tinggi hilal hakiki 0º 55’ 10.99” dan tinggi hilal mar’i 1º 51’ 13.99”, dan menurut stellarium tinggi hilal 0º 50’ 23“. Dengan demikian maka malam itu khususnya di Jakarta dan umumnya di seluruh Indonesia sudah masuk tanggal 1 Ramadhan 1433 H.
  2. Karena dalam menentukan hari awal bulan Ramadhan tidak cukup dengan hisab tetapi harus dengan ru’yah (melihat langsung hilal) sebagaimana perintah Rasulullah SAW maka pada tanggal 29 Juli 2012 M harus dilaksanakan ru’yah di tempat-tempat yang biasa digunakan untuk ru’yah.
  3. Jika di Indonesia pada hari Kamis tanggal 19 Juli 2012 M hilal tidak bisa dilihat (diru’yah) maka kita menunggu dan mengikuti hasil ru’yah yang diadakan di Makkah dan Madinah atau di daerah-daerah Islam lainnya. Hal ini karena pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
  • Indonesia berada di iklim tropis, yang menurut perhitungan tahun musim pada bulan Oktober hingga April terjadi musim hujan, sehingga kemungkinannya sepanjang bulan-bulan tersebut bahkan mungkin sepanjang tahunnya ufuk barat sering tertutupi mendung jadi hilal tidak bisa dilihat baik oleh mata telanjang ataupun alat bantu, berbeda dengan Makkah dan Madinah yang menjadi tempat Rasulullah SAW mensyareatkan Ru’yah Hilal.
  • Jika menurut perhitungan astronomi di Indonesia pada tanggal 19 Juli itu hilal sudah diatas ufuk namun hanya karena tidak bisa diru’yah sebab terhalang oleh sesuatu sehingga malam itu tidak dihitung tanggal 1 Ramadhan maka dikuatirkan malam berikutnya hilal sudah tinggi dan sudah masuk tanggal 2 Ramadhan karena tiap hari beda tinggi hilal sekitar 11º
  • Jika hanya berdasarkan Ru’yatul Hilal yang dilaksanakan di Indonesia maka besar kemungkinannya pada tiap bulan Sya’ban akan selalu berjumlah 30 hari.
  • Makkah dan Madinah adalah tempat dilaksanakan Syareat Ru’yah oleh Rasulullah yang kondisi iklim dan tempat yang digunakan untuk melaksanakan ru’yah pada saat itu tidak berbeda jauh dengan sekarang.
  • Dibolehkannya menentukan hari awal bulan mengikuti daerah lain meskipun berbeda mathla’nya / berbeda garis lintang dan bujurnya, diantaranya dari Ibnu al-Qasim dari Imam Malik, begitu juga menurut Imam Syafi’i dan Imam Ahmad. Oleh karena itu maka sah-sah saja jika hilal tidak bisa diru’yah di Indonesia lalu mengikuti Makkah dan Madinah atau daerah-daerah Islam lainnya.
  • Dibolehkannya menentukan hari awal bulan dengan cara hisab astronomi, diantaranya oleh Mutharrif bin Syakhir seorang Tabi’in dan Imam Syafi’i dari Ibnu Suraij. Oleh karena itu maka sah-sah saja jika hilal tidak bisa diru’yah lalu menentukan hari awal bulan dengan hisab astronomi.
  • Fakta membuktikan tentang akuratnya hisab astronomi seperti dalam perhitungan penentuan waktu terjadinya gerhana matahari dan bulan. Jadi tidak meragukan lagi jika menurut hisab astronomi pada tanggal 19 Juli 2012 M hilal sudah diatas ufuk.

4. Jika ru’yah di Makkah dan Madinah atau daerah-daerah Islam lainnya pada hari Kamis tanggal 19 Juli 2012 M berhasil mendapatkan hilal maka malam itu dan besuk siangnya (hari Jum’at) sudah masuk tanggal 1 Ramadhan 14433 H dan kita mengikutinya. Dan jika di Makkah dan Madinah atau daerah-Islam lainnya juga tidak berhasil mendapatkan hilal maka kita cukupkan bulan Sya’ban 1433 H menjadi 30 hari, artinya malam itu dan besuk siangnya (hari Jum’at) masih tanggal 30 Sya’ban 1433 H dan tanggal 1 Ramadhan 1433 H jatuh pada hari Sabtu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *