Wallpaper

BUKUKU “ALI IMRON SANG PENGEBOM”

 

Setelah buku saya, “ALI IMRON SANG PENGEBOM” terbit dan beredar, ternyata ada yang protes, ada yang kontra dan ada yang tidak suka. Yang protes, yang kontra dan yang tidak suka masing-masing karena alasan sebagai berikut:

– Mengapa saya membuka rahasia keberangkatan ke Pakistan dan Afghanistan dan menyebutkan nama-nama instruktur dan kawankawan yang pernah i’dad dan jihad disana.

– Mengapa saya membuka rahasia tentang Jama’ah Islamiyah.

– Mengapa saya membuka rahasia tentang Ambon.

– Mengapa saya membuka rahasia tentang i’dad dan jihad.

– Menulis buku yang seperti ini berarti ada unsur pengkhianatan.

– Isinya buku saya ada campur tangan JIL (Jaringan Islam Liberal)

– Isinya buku saya ada campur tangan Polisi.

Terhadap hal-hal diatas saya jawab sebagai berikut:

 

–         Mengapa Aku Menulis Buku

Ada dua tujuan penting saya menulis buku, “ALI IMRON SANG PENGEBOM”. Pertama adalah untuk menyerukan kepada kawan-kawan  agar  tidak lagi melakukan suatu aksi seperti pengeboman di Bali dan semisalnya. Kedua adalah untuk menda’wahkan jalan perjuangan kami terutama dalam urusan i’dad dan jihad agar diikuti oleh Umat Islam dan ditakuti oleh musuh-musuh Islam.

Setelah kami berhasil meledakkan bom di Bali, saya masih bersepekulasi tentang dampak yang akan timbul, apakah berdampak positif pada perjalanan perjuangan kami atau malah sebaliknya. Namun setelah Amrozi tertangkap, harapan adanya dampak positif tersebut seolah sudah tidak ada lagi karena dengan ditangkapnya salah satu dari kami berarti aksi kami terbongkar dan pasti akan berdampak negatif pada kami.

Tidak adanya harapan itu dikuatkan lagi oleh keputusan Mukhlas dan Imam Samudra paska Amrozi ditangkap bahwa kita akan melarikan diri sendiri-sendiri untuk menghindari kejaran Polisi. Padahal saat itu saya masih berharap mereka punya program lanjutan dan sudah ada rencana yang matang jika menghadapi situasi seperti ini.

Akhirnya saya juga tertangkap, maka harapan untuk mendapatkan dampak positif dari melakukan pengeboman di Bali semakin sedikit. Begitu juga harapan adanya nilai positif dari pelarian saya pun sudah tidak ada lagi justru menyebabkan kawan-kawan yang tidak bersalah ikut tertangkap karena membantu dan menyembunyikan informasi tentang pelarian saya.

Pada awal-awal tertangkap saya belum punya rencana apa-apa kecuali akan mengikuti proses hukum yang berlaku dan akan mempertanggung jawabkan keterlibatan saya dalam pengeboman di Bali sesuai dengan keterangan yang disampaikan oleh kawan-kawan yang telah ditangkap sebelum saya. Selain itu saya juga akan menyampaikan rasa bersalah dan penyesalan saya karena terlibat pengeboman di Bali hasil dari mengkaji ulang terhadap aksi jihad kami selama dalam pelarian.

Saya sudah di dalam penjara, maka untuk melakukan kegiatan yang saya yakini bagian dari jihad dalam arti perang sudah tidak mungkin. Saya tidak mungkin bisa mencari senjata, amunisi, bahan-bahan bom dan peralatan perang lainnya apalagi untuk menggunakannya. Dan saya juga tidak lagi bisa mengajarkan ilmu-ilmu perang kepada orang lain, bahkan untuk mengajarkan ilmu jihad dalam arti luas kepada murid-murid dan binaan saya pun sudah tidak bisa. Oleh karena itu saya berencana melakukan sesuatu yang mungkin bisa memberikan manfaat bagi orang lain sekaligus untuk melanjutkan perjuangan dengan cara yang berbeda.

Penjara adalah salah satu resiko dari jalan perjuangan yang saya ikuti dan pengeboman di Bali menjadi inti penyebabnya. Oleh karena itu saya harus menulis buku untuk menerangkan kesalahan-kesalahan pada pengeboman di Bali supaya hal itu tidak dilakukan lagi oleh kawan-kawan kami. Selain itu, lewat buku saya juga bisa mendakwahkan pemikiran dan jalan perjuangan kami terutama urusan i’dad dan jihad yang banyak dilupakan Umat Islam.

  Continue reading

YANG MAMPU KITA LAKUKAN DI INDONESIA SAAT INI DAN SOLUSI MELAKSANAKAN I’DAD DAN JIHAD

Demi melaksanakan kewajiban jihad di jalan Allah, usaha agar terbentuk front jihad di Indonesia, karena menginginkan tegaknya syareat Allah di Indonesia, dalam rangka memusuhi kekafiran dan untuk menunjukkan sikap tidak setuju terhadap pemerintahan Indonesia yang tidak berdasar syareat Islam adalah menjadi peyebab diadakannya aksi jihad dalam bentuk pengeboman, pembunuhan, penembakan, latihan militer dan hingga perampokan di Indonesia.

 

Dilihat dari niat dan tujuannya memang baik dan benar. Jihad di jalan Allah sampai hari kiamat adalah wajib dan jika dilaksanakan akan menghasilkan keutamaan-keutamaan yang banyak. Syareat Islam yang diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah SAW adalah syareat terakhir yang wajib diberlakukan di mana-mana. Kekafiran harus dimusuhi karena musuh Allah. Dan harus tidak setuju terhadap pemerintahan yang tidak memberlakukan syareat Allah.

 

Akan tetapi dalam menjalankan niat dan tujuan itu harus benar prosedurnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Tuntunan tentang jihad, tuntunan dalam menegakkan syareat Allah, tuntunan tentang memusuhi kekafiran dan tuntunan bersikap terhadap pemerintahan yang tidak memberlakukan syareat Allah adalah sudah lengkap, meskipun tuntunan itu mungkin akan berubah dan bertambah karena perobahan jaman yang akan diijtihadkan oleh Para Ulama di jaman tersebut.

 

Alhasil bahwa apa yang kita lakukan yang kemudian diberi label oleh dunia sebagai teroris adalah disebabkan karena dalam menjalankan jihad kita keluar dari tuntunan Rasulullah sebagai suri tauladan yang wajib kita ikuti. Itu semua penyebabnya adalah karena kita mengikuti hawa nafsu sehingga mengenyampingkan Sunnah Rasulullah dan berpikir keluar dari akal sehat.

 

Seharusnya kita sadar bahwa keberadaan kita di Indonesia yang bukan Negara Islam sekarang ini adalah sama dengan keberadaan Rasulullah ketika masih di Makkah. Rasulullah berda’wah secara sembunyi-sembunyi, sangat mengharapkan agar orang-orang mendapatkan petunjuk dan menjadi pengikutnya, mempratekkan akhlaq yang mulia di segala segi dan mempraktekkan syareat Islam yang mampu dipraktekkan. Karena sulitnya perjuangan saat itu hingga sebagian Sahabat Beliau pernah melaksanakan shalat di lembah-lembah supaya tidak diketahui oleh orang-orang kafir sebagai penguasa Makkah.

 

Keberadaan kita di Indonesia sekarang ini tidak bisa disamakan dengan di Makkah jaman Rasulullah karena di Indonesia saat ini masih terlalu enak dan leluasa dalam memperjuangkan Islam.

 

Kalau Rasulullah di Makkah sasaran da’wahnya kepada orang-orang kafir supaya mereka mengerti Islam lalu masuk Islam, kita di Indonesia sekarang ini juga harus mendakwahi orang kafir supaya mengerti tentang Islam lalu mau masuk Islam dan menda’wahi sesama muslim agar mereka mengerti tentang kewajiban melaksanakan syareat Allah hingga di tingkat pemerintahan yang saat ini berdasarkan Pancasila dan UUD 45.

 

Rasulullah pernah bertemu dengan tokoh-tokoh kafir Quraisy buat menda’wahi mereka agar mereka mau menerima da’wah Beliau, di tengah-tengah pertemuan tersebut datanglah Abdullah bin Umi Maktum yang buta untuk belajar tentang Islam, namun Beliau tidak menghiraukannya, lalu Beliau ditegur oleh Allah dengan menurunkan Surat ‘Abasa. Dengan kisah ini kita bisa ambil sedikit pelajaran bahwa sebagai seorang Rasul Beliau masih memiliki keinginan emosional lebih memprioritaskan tokoh-tokoh agar menjadi pengikut Beliau yang mungkin kelak akan lebih bisa menguatkan perjuangan daripada rakyat biasa. Sementara kita, terhadap orang-orang Islam yang duduk di pemerintahan Indonesia dari Kepala RT hingga Presiden kita tidak mau mendekati dan menda’wahi mereka bahkan mengecap mereka sebagai thaghut bahkan kafir.

 

Yang mencolok lagi perbedaan kita dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah bahwa Beliau benar-benar berharap agar yang dida’wahi itu mendapat petunjuk sehingga Beliau menggunakan berbagai macam cara dan ekstra sabar dalam menghadapi mereka. Sementara kita baru melihat orang yang tidak sepemikiran dengan kita saja sudah emosional dan kebencian yang kita dahulukan, apalagi kalau melihat orang kafir.

Continue reading

KEJADIAN DAN PERTANYAAN YANG SAYA ALAMI SEJAK TERBONGKARNYA KAMI SEBAGAI PELAKU BOM BALI

  • Bulan Ramadhan 1422 H bertepatan dengan bulan November 2002 M Amrozi ditangkap karena disangka sebagai pelaku pengeboman di Bali pada 12 Oktober 2012 M, dan sekitar tiga jam kemudian saya juga dijadikan tersangka dan diburu oleh Polisi.

 

  • Hari itu, dari Amrozi ditangkap hingga saya bertemu dengan Muklas dan Imam Samudra di gresik, saat itu saya masih berharap akan ada lanjutan program jihad setelah Bom Bali. Namun harapan itu musnah setelah saya ketemu dengan Muklas dan Imam Samudra sebagai pihak yang memprogramkan pengeboman di Bali memutuskan bahwa kita akan lari sendiri-sendiri untuk menghindar dari tangkapan Polisi.

 

  • Belum lama saya dipindahkan dari Mapolda Bali ke Lapas Kerobokan Denpasar saat itu ada kawan yang yang bertanya setengah protes kepada saya dengan mengatakan, “Kenapa sampean membongkar semuanya tentang Bom Bali”

Saat itu saya jawab:

Bagaimana saya yang membongkar semuanya, sedangkan saya adalah pelaku Bom Bali urutan yang keempat yang ditangkap”

Continue reading

HISAB 1 SYAWAL 1433 H BAGI YANG MULAI BERPUASA HARI SABTU 21 JULI 2012 M

 A.    HISAB HAKIKI SISTIM EPHEMERIS

 

Data:

–                      Hisab                                    = Awal Syawal 1433 H

–                      Lokasi                                  = Tugu Monas Jakarta

–                      Lintang (φ)                          = -6º 10’ LS

–                      Bujur (λ2)                            = 106º 49’ BT

–                      Bujur (λ1) Standard WIB  = 105º BT

–                      Ketinggian                           = 150 m

 

        1.      Menghisab Terjadinya Ijtima’ 29 Ramadhan 1433 H

 

Menghisab terjadinya ijtima’ tanggal 29 Ramadhan 1433 H dengan hisab ‘urfi atau perbandingan tarikh atau konversi tanggal yaitu mencari tanggal, bulan dan tahun Masehi yang bertepatan dengan tanggal 29 Ramadhan 1433 H. Caranya sebagai berikut:

 

1433 – 1  = 1432

1432 : 30 = 47 daur, sisa 22 tahun

= (47 x 10631) + (22 x 354) + 8 + 236 + 29

= (499657) + (7788) + 8 + 236 + 29

= 507718

507718 + 227016 + 13 = 734747

734747 : 1461              = 502 daur, sisa 1325 hari

502 x 4      = 2008

1325 : 365 = 3 tahun, sisa 230 hari

230 : 30     = 7 bulan (213 hari) sisa 17 hari

= 2008  tahun + 3 tahun + 7 bulan + 17 hari

= 2011 tahun + 7 bulan + 17 hari

 

Untuk mengetahui harinya 507718 : 7 = 72531 sisa 1 = hari Jum’at.

Dari hasil perhitungan tersebut, maka tanggal 29 Ramadhan 1433 H bertepatan dengan hari Jum’at tanggal 17 Agustus 2012.

 

Catatan:

Dalam hisab urfi sudah ditetapkan bahwa jumlah hari di bulan Sya’ban adalah 29 hari, sedangkan Umat Islam yang mulai berpuasa pada hari Sabtu tanggal 21 Juli 2012 M menetapkan jumlah hari di bulan Sya’ban 1433 H adalah 30 hari, sebab itulah maka tanggal 29 Ramadhan jatuh pada hari Sabtu tanggal 18 Agustus 2012 M.

 

        2.      Menghisab Saat Terjadinya Ijtima’

 

Menghisab saat terjadinya ijtima’ tanggal 29 Ramadhan 1433 H yang bertepatan dengan tanggal 18 Agustus 2012 M dari data ephemeris 2012 dapat dikerjakan dengan langkah sebagai berikut:

 

FIb (fraction illumination bulan) terkecil pada 18 Agustus 2012 adalah 0,00327 pada pukul 00.00 GMT

 

ELm (ecliptic longitude matahari) pada jam 00.00 GMT                                      = 145º 27’ 40”

ALb (apparent longitude bulan) pada jam 00.00 GMT                                       = 149º 40’ 35”

 

Sabaq matahari per jam:

ELm pada jam 00.00 GMT                                      = 145º 27’ 40”(-)

ELm pada jam 01.00 GMT                                      = 145º 30’ 05”(=)

Sabaq matahari (Sm)                                                =   – 0º 2’ 25”

 

Sabaq bulan per jam:

ALb pada jam 00.00 GMT                                       = 149º 40’ 35”(-)

ALb pada jam 01.00 GMT                                       = 150º 14’ 27”(=)

Sabaq bulan (Sb)                                                      =   – 0º 33’ 52”

 

Saat ijtima’ dapat dicari dengan cara:

Rumus:

JAM FIB (GMT) + (Elm – ALb) : (Sb – Sm) + 07  WIB

 

00.00 + (145º 27’ 40”–149º 40’ 35”) : (- 0º 33’ 52”) – (- 0º 2’ 25”) + 07

00.00 + – 4º 12’ 55”  :  – 0º 31’ 27” + 07

00.00 + 8º 2’ 30.72” + 07

= 15j 2m 30.72d

Dengan demikian, ijtima’ tanggal 29 Ramadhan 1433 H bertepatan dengan tanggal 18 Agustus 2012 M jatuh pada pukul 15j 2m 30.72d WIB

Continue reading

HISAB 1 SYAWAL 1433 H BAGI YANG MULAI BERPUASA HARI JUM’AT 20 JULI 2012 M

HISAB 1 SYAWAL 1433 H BAGI YANG MULAI

BERPUASA HARI JUM’AT 20 JULI 2012 M

 A.    HISAB HAKIKI SISTIM EPHEMERIS

Data:

–                      Hisab                                    : Awal Syawal 1433 H

–                      Lokasi                                   : Tugu Monas Jakarta

–                      Lintang (φ)                           : -6º 10’ LS

–                      Bujur (λ2)                            : 106º 49’ BT

–                      Bujur (λ1) Standard WIB  : 105º BT

–                      Ketinggian                           : 150 m

 

1.      Menghisab terjadinya ijtima’ 29 Ramadhan 1433 H

Menghisab terjadinya ijtima’ 29 Ramadhan 1433 H dengan hisab ‘urfi atau perbandingan tarikh atau konversi tanggal, yaitu mencari tanggal, bulan dan tahun Masehi yang bertepatan dengan 29 Ramadhan 1433 H. Caranya sebagai berikut:

1433 – 1 = 1432

1432 : 30 = 47 daur, sisa 22 tahun

= (47 x 10631) + (22 x 354) + 8 + 236 + 29

= (499657) + (7788) + 8 + 236 + 29

= 507718

507718 + 227016 + 13 = 734747

734747 : 1461              = 502 daur, sisa 1325 hari

502 x 4      = 2008

1325 : 365 = 3 tahun, sisa 230 hari

230 : 30     = 7 bulan (213 hari) sisa 17 hari

= 2008  tahun + 3 tahun + 7 bulan + 17 hari

= 2011 tahun + 7 bulan + 17 hari

 

Untuk mengetahui harinya 507718 : 7 = 72531 sisa 1 = hari Jum’at.

Dari hasil perhitungan tersebut, maka tanggal 29 Ramadhan 1433 H bertepatan dengan hari Jum’at tanggal 17 Agustus 2012.

Continue reading

PANDUAN MENENTUKAN AWAL RAMADHAN 1433 H

Ada dua pendapat dalam menentukan awal bulan di tahun Hijriah yaitu dengan hisab dan ru’yah.

Hisab adalah menentukan awal bulan dengan metode perhitungan astronomi yaitu perhitungan peredaran matahari, bumi dan bulan.

Ru’yah adalah melihat langsung hilal di ufuk barat ketika matahari terbenam.

Hisab dan ru’yah dua-duanya sama-sama berpedoman dengan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits Nabi dibawah ini:

Firman Allah:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; ( Al-Baqara:189 )

 

Firman Allah:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. (Al-Baqara:185)

 

Firman Allah:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Yunus:5)

Firman Allah:

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آَيَتَيْنِ فَمَحَوْنَا آَيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آَيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا

Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas. (Al-Isra’:12)

 

Hadits Nabi:

Dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar R.A ia berkata, Rasulullah bersabda:

 الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُونَ فَإِذَا رَأَيْتُمْ الْهِلَالَ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ

“Satu bulan ada dua puluh sembilan hari, bila kalian melihat hilal maka berpuasalah dan bila melihat hilal maka berhari raya idul fitri lah, bila hilal tertutup mendung maka perkirakanlah.”  (Bukhari Muslim)

 

 

Hadits Nabi:

 

Dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar R.A ia berkata, bahwasanya Rasulullah menyebutkan Ramadhan seraya bersabda:

 

الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا ثُمَّ عَقَدَ إِبْهَامَهُ فِي الثَّالِثَةِ فَصُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ ثَلَاثِينَ

“Satu bulan itu jumlahnya begini (membentangkan sepuluh jarinya), begini (membentangkan sepuluh jarinya) dan begini dengan menekuk ibu jarinya begini yang ketiga (membentangkan sembilan jarinya). Berpuasalah ketika melihat hilal dan berhari raya idul fitri lah ketika melihat hilal. Dan jika hilal tertutup mendung maka cukupkanlah bulan itu menjadi tiga puluh hari.” (Bukhari Muslim)

 

Di Indonesia ini yang menjadi perbedaan antara aliran hisab dengan aliran ru’yah dalam menentukan hari awal bulan Ramadhan adalah:

1. Aliran Hisab menggunakan dasar Wujudul Hilal.

Maksudnya, jika pada tanggal 29 Sya’ban menurut perhitungan astronomi terjadi hal-hal seperti dibawah ini maka malam itu sudah masuk tanggal 1 Ramadhan:

– Ijtima’ (posisi matahari dan bulan satu garis dilihat dari bumi yang menandakan pergantian bulan) terjadi sebelum tenggelamnya matahari.

-Hilal tenggelam setelah tenggelamnya matahari.

– Setelah tenggelamnya matahari posisi hilal masih diatas ufuk berapapun tingginya.

 

2. Aliran Ru’yah menggunakan dasar Ru’yatul Hilal, maksudnya:

– Melihat hilal secara langsung di ufuk barat ketika matahari tenggelam pada tanggal 29 Sya’ban dengan mata telanjang atau alat bantu.

– Jika hilal bisa dilihat maka malam itu sudah masuk tanggal 1 Ramadhan, jika hilal tidak bisa dilihat maka bulan Sya’ban dipenuhkan menjadi 30 hari berarti malam itu belum tanggal 1 Ramadhan.

– Ketiga dasar yang digunakan oleh aliran hisab itu juga dipakai oleh Aliran Ru’yah namun hanya untuk mendukung pelaksanaan ru’yah bukan untuk menentukan hari awal bulan.

Adanya perbedaan tersebut maka untuk menyambut bulan Ramadhan tahun 1433 H ini saya akan mengetengahkan pendapat dalam menentukan hari awal bulan Ramadhan, semoga bisa menjadi pengetahuan bagi yang belum tahu dan bisa memantabkan bagi yang kebingungan, lebih-lebih lagi bisa membuat kita bisa beramal sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah.

Continue reading

KOREKSI TERHADAP PEMIKIRAN JIHAD DAN APLIKASINYA

Memaksakan Diri Untuk Membuka Medan Jihad

Setiap orang Islam yang mengerti tentang keutamaan dan manfaat jihad pasti menginginkan bisa melaksanakannya dan berada di medan jihad. Selain karena keutamaan dan manfaat jihad, orang Islam ingin bisa melaksanakannya juga disebabkan karena jihad memang perintah Allah dan Rasul-Nya.

Yang membuat orang Islam semangat melaksanakan jihad adalah karena Allah memang memerintahkan kepada nabi-Nya untuk mengobarkan semangat jihad kepada kaum muslimin lewat firman-Nya, “Wahai Nabi (Muhammad)! Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang…” (Q.S Al-Anfal : 65).

Oleh karena itu maka sejak pertama kali jihad disyariatkan, umat Islam selalu berlomba-lomba agar bisa turut serta berjihad di medan perang, hingga ketika kekuasaan Islam sudah membentang luas di bawah Khilafah Islamiyah dan hukum jihad menjadi fardhu kifayah pun umat Islam  tetap antusias seperti itu.

Ketika Khilafah Islamiyah sudah runtuh maka banyak Syariat Islam yang tidak bisa dilaksanakan oleh umat Islam termasuk jihad dalam arti perang.

Jika ketika masih ada Khilafah Islamiyah umat Islam wajib melaksanakan jihad setidaknya sekali dalam waktu setahun untuk ekspansi ke negara kafir, maka ketika Khilafah Islamiyah sudah runtuh umat Islam  tidak lagi bisa melakukan jihad walau hanya untuk mengembalikan sejengkal wilayah yang telah terampas atau sedang terjajah .

Keadaan inilah yang membuat sebagian umat Islam di berbagai tempat membikin gerakan dalam rangka usaha agar Khilafah Islamiyah itu kembali lagi, bahkan ada yang menggunakan jihad sebagai jalan perjuangan untuk merebut kembali khilafah itu.

Mereka ini juga selalu berharap agar Allah membuka medan jihad di suatu tempat dan mereka ikut berjihad di sana. Bahkan gerakan ini selalu berupaya untuk menciptakan medan jihad dengan melakukan aksi penyerangan berupa pengeboman dan pembunuhan terhadap orang-orang kafir dan pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh Islam.

Di Indonesia, gerakan ini selain didasari oleh kewajiban melaksanakan jihad dan mengembalikan Khilafah Islamiyah juga didasari oleh kewajiban untuk mengembalikan lagi kekuasaan Islam yang dulu pernah ada yaitu Negara Islam Indonesia (NII). Kami adalah bagian dari gerakan ini. Oleh karena itu setelah kami merasa memiliki kekuatan kami juga merasa berkewajiban menggunakan kekuatan tersebut dalam rangka melaksanakan tujuan-tujuan diatas.

Maka terjadilah pengeboman terhadap Duta Besar Filipina di Jakarta, Bom Gereja Malam Natal di beberapa kota, dan Bom Bali I. Pengeboman-pengeboman yang kami lakukan ini tidak keluar dari tujuan utama kami yaitu  untuk melaksanakan kewajiban jihad dan untuk memulai jihad dengan harapan Allah segera membuka front jihad antara mujahidin dengan pihak kafir dan sekutunya.

Setelah kami pelaku Bom Bali I ditangkap ternyata aksi jihad tetap belanjut, maka terjadilah Bom Marriot I, Bom kedubes Australia, Bom Bali II, Bom Ritz Carlton dan Marriot II, latihan militer (i’dad) di Aceh, perampokan bank di Medan dan lain-lain. Kesemuanya aksi tersebut dilakukan dengan tujuan untuk melaksanakan kewajiban jihad, jihad tidak boleh berhenti, dan karena keyakinan bahwa jika tidak ada yang memulai melakukan jihad maka kapan jihad akan dibuka dan kapan front jihad akan terbentuk.

Semua aksi-aksi dalam rangka jihad tersebut berhasil dibongkar oleh aparat yang berwenang dan mayoritas pelakunya sudah masuk penjara termasuk saya. Jika jujur maka hal ini harus diakui sebagai kegagalan dalam memperjuangkan Islam terutama gagal untuk membuka jihad dan membentuk front jihad.

Dengan kegagalan ini maka untuk bergerak selanjutnya umat Islam yang ingin memperjuangkan Islam harus kembali mengikuti sunnah yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah ketika Beliau dan umat Islam berhasil membentuk front jihad untuk pertama kalinya.

Atau setidaknya mereka harus belajar dari sebab-sebab dibukanya jihad di Afghanistan, di Kasmir, di Filipina, di Bosnia, di Chechnya, di Irak, dan di Ambon atau Poso. Dan mereka juga harus mengkaji dan menganalisa kabar nubuwah Rasulullah tentang akan kembalinya lagi kekuasaan Islam mendekati akhir jaman dibawah kepemimpinan Imam Mahdi dan Nabi Isa a.s.

Jika kembali kepada perjuangan Rasulullah yang membawa terbentuknya front jihad antara Islam dan kafir saat itu, maka bisa disimpulkan bahwa terbukanya front jihad bukan sesuatu yang dipaksakan namun melalui beberapa tahapan perjuangan.

Beberapa tahapan perjuangan itu dimulai dari umat Islam melaksanakan syariat Islam secara sembunyi-sembunyi, dakwah secara sembunyi-sembunyi, sabar dari gangguan orang-orang kafir, mencari tempat hijrah, hingga akhirnya mendapatkan tempat hijrah di Madinah yang menjadi daerah basis yang melatarbelakangi dimulainya perjuangan bersenjata.

Terbukanya front jihad saat itu juga bukan sesuatu yang sudah direncanakan oleh Rasulullah namun melalui beberapa sebab. Diantara sebab itu adalah terusirnya Rasulullah beserta umat Islam dari Makkah dan tetapnya  permusuhan yang dilakukan orang kafir Makkah terhadap umat Islam meskipun mereka sudah pindah ke Madinah.

Sebab inilah yang membuat Rasulullah harus mulai mengangkat senjata dengan mengirimkan pasukan-pasukan untuk menyerang orang-orang kafir Makkah khususnya kafilah dagang mereka agar mereka tidak semakin semena-mena memusuhi umat Islam.

Terjadinya Perang Badr yaitu perang pertama dalam Islam juga awalnya direncanakan oleh Rasulullah untuk mencegat kafilah dagang kafir Makkah yang kembali dari Syam, namun Allah menakdirkan terjadi peperangan besar yang kelak sangat menentukan kelangsungan perjuangan Islam.

Begitu juga jika kembali mengingat terjadinya jihad di Ambon dan Poso, tidak ada dari kalangan umat Islam yang pernah merencanakan dan mempersiapkan  jihad di dua tempat ini. Jihad di dua tempat ini juga bukan dari kalangan mujahidin yang memulai melakukan aksi, mendahului melakukan penyerangan, dan merencanakan membuka jihad di tempat ini.

Saya sempat kaget ketika di Ambon dan di Poso telah dibuka jihad, karena belum pernah ada gambaran sebelumnya kalau di dua tempat tersebut akan dibuka jihad. Dengan demikian bisa diketahui bahwa Allah lah yang membuka jihad di Ambon dan Poso meskipun lewat perantara keganasan orang-orang kafir terhadap umat Islam.

Keganasan yang dilakukan oleh orang-orang kafir itu akhirnya menyebabkan terbentuknya front jihad di Ambon dan Poso, seruan jihad menggema, semangat jihad berkobar, dan menjadikan sebagian umat Islam dari berbagai tempat berlomba-lomba untuk berjihad disana.

Begitu juga jika kita membaca kabar nubuwah dari Rasulullah tentang akan datangnya Imam Mahdi yang menjadi pemimpin umat Islam  dan diantara tugasnya adalah untuk melaksanakan kewajiban jihad. Kabar nubuwah tersebut tidak menerangkan bahwa sebelum diangkat sebagai pemimpin umat Islam  Imam Mahdi sudah melakukan aksi-aksi jihad.

Imam Mahdi memulai melaksanakan kewajiban jihad adalah ketika sudah diangkat sebagai pemimpin umat Islam  dan memiliki kekuasaan. Jihad Beliau pertama adalah untuk membebaskan Jazirah Arab dan menguasainya, selanjutnya melakukan pembebasan ke wilayah-wilayah yang lainnya. Dan wilayah-wilayah yang telah dikuasainya merasakan keadilan sebagaimana sebelumnya merasakan kedzaliman.

Dari contoh dan gambaran dibukanya front jihad pada masa Rasulullah, di Ambon dan Poso yang sudah terjadi, dan masa Imam Mahdi mendekati akhir jaman nanti maka kita bisa menyimpulkan bahwa dibukanya jihad di suatu tempat tidak tergantung pada perencanaan dan tidak bisa dipaksakan. Allah lah yang membuka jihad, Dia yang memilih siapa dari hamba-Nya yang pantas memegang amanat untuk membuka jihad, dan hanya Dia yang mengetahui sebab-sebab dan perantara dibukanya jihad.

Umat Islam yang memahami tentang pentingnya jihad pasti mendambakan kapan jihad akan dibuka, sebab itulah ada dari mereka yang melakukan aksi-aksi dengan harapan Allah membuka front jihad.

Di Indonesia, setelah runtuhnya NII Kartosuwiryo, pada masa Orde Baru ada usaha untuk membuka jihad yang dikenal dengan Komando Jihad, kasus Talang Sari Lampung, kasus Tanjung Priok, dan Bom Borobudur. Kemudian setelah rezim Orde Baru lengser, ada Bom Kedubes Filipina, Bom Gereja, Bom Atrium Senen, Bom Bali I, Bom Marriot I, Bom Kedubes Australia, Bom Bali II, Bom Ritz Carlton  dan Marriot II, latihan di Aceh, perampokan bank di Medan dan aksi-aksi yang lainnya.

Semua usaha ini gagal dan merugikan umat Islam. Saya katakan gagal adalah saya lihat dari sisi kelanjutan perjuangan Islam dan dari sisi tidak berhasil membuka front jihad di Indonesia. Adapun nilai amalnya, Insyaallah ada nilainya di hadapan Allah.

Dari kegagalan-kegagalan tersebut bisa disimpulkan bahwa dibukanya front jihad di suatu tempat bukan semata-mata hanya karena perjuangan umat Islam disitu adalah di jalan yang benar, yang dihadapi adalah orang kafir dan thoghut, niatnya ikhlas karena Allah, untuk melaksanakan syariat Allah, dan mampu melakukan aksi-aksi. Akan tetapi, dibukanya jihad di suatu tempat adalah karena izin dan ridha Allah.

Oleh karena itu jika kita berharap agar Allah membuka jihad di mana kita berada dengan cara melakukan usaha maka kita harus kembali mengikuti usaha yang pernah dilakukan oleh Rasulullah dalam memperjuangkan Islam hingga kala itu Allah membuka front jihad. Mari kita jauhi cara berjuang yang tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah, jauhi melakukan jihad namun yang mendominasi niat kita adalah hawa nafsu, jauhi memaksakan diri untuk membuka jihad hanya dengan cara melakukan aksi kekerasan, mari kita sadari bahwa karena kelemahan dan kekurangan kita maka kita belum mampu membuka front jihad, dan mari kita sadari bahwa kegagalan-kegagalan itu adalah dari kesalahan kita.

 

–  Memaksakan Diri Untuk Melakukan Aksi Jihad

Setelah kami ditangkap saat itu saya punya pendapat dan pendapat tersebut juga saya sampaikan kepada kawan-kawan yang lain agar jangan lagi melakukan pengeboman seperti Bom Bali. Hal ini saya sampaikan, karena jika pengeboman dilakukan lagi maka jaringan kami akan semakin terbongkar dan akan semakin memberi mudhorot kepada perjuangan Islam itu sendiri.

Cukuplah Bom Bali sebagai pengumuman bahwa kami sebagai pejuang Islam mampu melakukan aksi seperti itu. Bom Bali sebagai peringatan dan teror terhadap musuh Islam bahwa kami bisa melawan mereka. Bom Bali sebagai pemberitahuan dan penyemangat buat umat Islam bahwa mempersiapkan kekuatan perang adalah suatu yang disyariatkan dalam Islam dan apa yang kami lakukan di Bali adalah salah satu contoh kekuatan perang yang sudah kami persiapkan.

Continue reading

PROGRAM DERADIKALISASI

Akhir-akhir ini setelah maraknya aksi terorisme di Indonesia muncul istilah deradikalisasi. Program ini diawali oleh team polisi yang menangani kasus teroris yang mulanya bernama Team Investigasi Bom Bali lalu Satgas Bom kemudian Densus 88. Program ini bertujuan agar yang pernah terlibat dengan kasus teroris tidak lagi mengulanginya dan yang belum pernah terlibat tidak melakukannya.

Kami yang terlibat pengeboman diajak dialog oleh mereka tentang dampak negatif aksi kekerasan yang telah kami lakukan. Kami disuruh berpikir sendiri, apakah aksi kekerasan berupa pengeboman seperti di Bali itu cara memperjuangkan Islam yang benar. Mereka menghormati kami, mereka mempersilahkan kami untuk shalat, mereka memberi kami pakaian buat shalat dan memberi kami mushaf Al-Quran.

Kerugian materi yang terjadi pada waktu penangkapan diganti oleh mereka jika mereka mengetahui, bahkan ada kawan yang minta uangnya diganti karena dulunya dipakai untuk membeli senjata, lalu disita saat penangkapan. Bagi yang mau dibantu dalam bentuk materi akan dibantu sesuai dengan keperluannya seperti uang transportasi buat keluarganya untuk membesuk ke penjara, biaya sekolah anaknya, bahkan ada yang dibantu untuk melunasi hutangnya masa lalu.

Kami ditempatkan di sel yang baik, diberi kelonggaran, bahkan ada yang diantarkan pulang ke rumahnya untuk menghadiri proses pemakaman anggota keluarganya. Dan sampai mereka tidak menangkap beberapa orang yang terlibat terorisme karena dianggap sudah berhenti dan menyadari kesalahannya.

Hal-hal diatas hanya sebagian contoh yang dilakukan oleh kepolisian terhadap kami yang terlibat terorisme. Mereka tidak mengusik ideologi kami tentang jihad dan Negara Islam, karena mereka mengetahui bahwa ideologi-ideologi tersebut tidak akan berubah hingga kami mati. Mereka hanya menyuruh kami berpikir rasional sesuai dengan fakta bahwa kami belum memiliki kemampuan untuk melakukan jihad dalam bentuk konfrontasi melawan Negara Indonesia.

Mereka menyuruh kami untuk memperhatikan keadaan Ummat Islam yaitu keadaan ekonomi mereka, mereka perlu makan, mereka perlu tempat tinggal, anak-anak mereka perlu sekolah dan lain-lain, sementara apakah dengan melakukan pengeboman keperluan-keperluan tersebut bisa teratasi. Mereka jugamenyuruh kami untuk introspeksi terhadap diri kami sendiri yang keadaan ekonomi kami pas-pasan, kami perlu makan, kami perlu tempat tinggal, anak-anak kami perlu sekolah dan lain-lain, apakah dengan melakukan pengeboman lantas keperluan-keperluan tersebut bisa teratasi.

Apapun niat dan tujuan kepolisian dalam menyadarkan kami sebagai teroris bukan urusan kami, namun apa yang dikatakan dan dilakukan oleh mereka adalah masuk akal dan sesuai realita. Salah satu contoh adalah bagaimana Ummat Islam bisa diajak bersama-sama untuk berjihad demi tegaknya kekuasaan Islam sementara mereka kelaparan, semua aktivitasnya hanya untuk bekerja demi menghidupi diri sendiri dan keluarganya.

Begitu juga dengan kami, bagaimana kami bisa menyusun kekuatan dan membentuk front untuk melawan NKRI sedangkan untuk mengatur yang terlibat Bom Bali saja kami tidak mampu. Dan lain-lain pelajaran yang diberikan oleh Polisi kepada kami yang membuat saya semakin introspeksi diri dan berpikir demi kepentingan ummat khususnya Ummat Islam. Oleh karena itu saya mendukung program deradikalisasi tersebut, karena menurut saya dengan deradikalisasi seperti ini bisa memberikan nilai yang positif terhadap perjalanan perjuangan kami.

Akhir-akhir ini banyak pihak yang membicarakan bahkan memprogramkan deradikalisasi bagi yang sudah terlibat terorisme dan yang memiliki pemikiran seperti teroris. Program deradikalisasi yang diawali oleh kepolisian ini dianggap oleh mayoritas kawan-kawan kami dan orang-orang yang sefaham dengan mereka sebagai program dejihadisasi.

Dejihadisasi artinya program anti jihad. Dejihadisasi berarti memadamkan dan menghentikan jihad. Dejihadisasi berarti memusuhi dan memerangi mujahidin. Anggapan ini mungkin benar, karena sebagai aparat pemerintahan mereka tidak akan setuju dengan syariat jihad dalam arti perang apalagi sampai ada tujuan untuk melawan NKRI dan menggantinya dengan Negara Islam.

Jika program deradikalisasi bertujuan untuk memadamkan dan menghentikan jihad, anti jihad, memusuhi dan memerangi mujahidin maka saya berlepas diri dari tujuan tersebut. Akan tetapi saya tetap mendukung program deradikalisasi karena ada niat dan tujuan tersendiri yang saya anggap bermanfaat dan tidak bertentangan dengan Syariat Islam.

Adapun niat dan tujuan saya mendukung dan ikut melakukan program deradikalisasi adalah sebagai berikut:

  •  Agar kawan-kawan dalam berjihad dan memperjuangkan Islam selalu mengikuti sunnah, menggunakan strategi perjuangan yang benar, dan mempertimbangkan manfaat dan mudaratnya.
  • Agar kawan-kawan dalam berjihad dan dalam memperjuangkan Islam tidak lagi melakukan kesalahan yang sama yang menyebabkan mereka harus diburu, ditangkap dan dipenjara oleh aparat yang berwenangsehingga perjuangan Islam terhambat.
  • Agar tidak menimbulkan fitnah diantara kawan-kawan yang meniti di jalan jihad. Karena jika melakukan aksi kekerasan lalu ditangkap oleh aparat yang berwenang, biasanya mereka lantas saling menyalahkan, saling tuduh menuduh, ada yang menuduh yang lain berkhianat, ada yang dituduh pengkhianat, pemimpin mengorbankan anak buah, pemimpin tidak mau bertanggung jawab, dan fitnah-fitnah yang lain.
  • Agar kawan-kawan tidak melakukan jihad dalam bentuk aksi kekerasan yang mayoritas Ummat Islam sendiri tidak setuju dan tidak bisa menerimanya.
  •  Agar kawan-kawan tidak melakukan jihad dalam bentuk aksi kekerasan yang dampak negatifnya dirasakan oleh Ummat Islam yang lain bahkan keluarga pelaku pun ikut merasakannya.
  •  Agar kawan-kawan tidak melakukan jihad dalam bentuk aksi kekerasan yang bersifat teror kepada semua orang bahkan keluarga pelaku sendiri pun ikut terteror karena adanya pengeboman dan aksi kekerasan lainnya.
  •  Agar semua pihak berpikir dan mengambil pelajaran mengapa saya ikut melakukan program deradikalisasi, selanjutnya yang pernah melakukan aksi kekerasandan yang masih mau melakukan aksi kekerasan introspeksi terhadap aksi-aksi kekerasan yang sudah terjadi, lalu meningkatkan dan memperdalam ilmu tentang sunnah Rasulullah kemudian memperjuangkan Islam sesuai dengan sunnah itu.

Continue reading

PENGALIHAN ISU DIBALIK PENANGKAPAN TERORIS

Pengalihan Isu Era Bom Bali I

 

Ditangkapnya kami sebagai pelaku Bom Bali banyak memunculkan hal-hal baru diantaranya adalah pengalihan isu yang dilakukan oleh kawan-kawan kami yang terlibat Bom Bali tentang penyebab kami ditangkap. Pengalihan isu itu diantaranya adalah:

–         Penangkapan kami karena berhubungan dengan penangkapan kawan-kawan kami anggota Jama’ah Islamiyah ( JI ) di Malaysia dan Singapura.

–          Penangkapan kami sudah direncanakan oleh Pemerintah Indonesia karena kami dianggap ekstrimis yang mau mendirikan Negara Islam.

–          Penangkapan kami adalah makar Amerika dan sekutunya untuk menghabisi para militan dan aktifis Islam atas dalih perang terhadap teroris.

–          Penangkapan kami adalah makar dari orang-orang Kristen.

 

Tujuan Pengalihan Isu

  1. Dengan mengalihkan isu bahwa penangkapan kami disebabkan karna berhubungan dengan penangkapan anggota JI di Malaysia dan Singapura maka bisa menutupi kesalahan kami sebab melakukan pengeboman yang sejak lama hampir semua anggota  JI menentangnya.
  2.  Dengan mengalihkan isyu bahwa penangkapan kami disebabkan karena makarnya Amerika dan sekutunya maka harapannya bisa mempengaruhi kaum muslimin yang lain agar menjadikan Amerika dan sekutunya sebagai musuh bersama.
  3. Dengan mengalihkan isu bahwa penangkapan kami disebabkan karna makarnya orang-orang Kristen maka harapannya bisa mempengaruhi kaum muslimin yang lain agar menjadikan orang Kristen sebagai musuh bersama.
  4. Mayoritas kaum muslimin menentang perjuangan dengan jalan kekerasan, jika terus terang mengatakan kami terlibat dengan aksi pengeboman dan aksi kekerasan yang lainnya maka mayoritas kaum muslimin akan menolak dan membenci kami.
  5. Sebagai alat untuk mencari dukungan dari kaum muslimin dalam usaha mendirikan negara yang berdasarkan syareat Islam, jika tidak mengalihkan isu dan berterus terang mengatakan keterlibatankami dalam aksi kekerasan maka mayoritas kaum muslimin tidak akan mau mendukung.
  6.  Untuk menutupi kesalahan secara teknis pengeboman yang kami lakukan di Bali yang menyebabkan kami ditangkap.
  7. Psywar terhadap pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh.

 

 

Menjawab Pengalihan Isu

Ketika kami menjalani proses penyidikan di Mapolda Bali dalam kasus Bom Bali I pengalihan isu inisudah sampaidiluar hingga sampai di keluarga kami. Pada saat saya mendengar pengalihan isu tersebut dan ditanya kebenarannya tentang penangkapan kami maka saya jawab sebagai berikut:

  •  Jika penangkapan yang dilakukan oleh Polisi terhadap kami ini ada hunbungannya dengan penangkapan kawan-kawan kami di Malaysia dan Singapura maka mestinya bukan Amrozi dulu yang ditangkap tetapi Mukhlas karena dia sudah masuk dalam daftar pencarian orang ( DPO ) di kedua negara tersebut.
  •  Jika penangkapan yang dilakukan oleh Polisi terhadap kami karena kami ekstrimis mau mendirikan Negara Islam, maka mestinya bukan Amrozi dulu yang ditangkap tetapi Mukhlas karena sejak zaman Orde Baru dia sudah dikenal oleh aparat pemerintah dan aparat keamanan khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timursebagai ekstrimis anti Pancasila. Atau saya dulu yang ditangkap, karenahampir semua isi ceramah saya di setiap kesempatan adalah menerangkan kewajiban jihad, kewajiban mendirikan kekuasaan yang berdasar syareat Islam dan mengoreksi kejelekan NKRI yang tidak memberlakukan syareat Islam secara menyeluruh.
  •  Perang terhadap teroris yang dikampanyakan oleh Amerika sudah berjalan lebih dari setahun. Jadi, jika penangkapan yang dilakukan oleh Polisi karena Amerika dan sekutunya tentunya kami sudah ditangkap sebelum kami melakukan pengeboman di Bali atau setidaknya bersamaan dengan penangkapan kawan-kawan kami di Malaysia dan Singapura. Atau saya dulu yang ditangkap sebelum melakukan pengeboman di Bali, karena ketika Fathur Rahman Al-Ghozi ditangkap di Philipina dan dipenjara disana dia sempat berpesan ke saya melalui keluarganya yang membesuknya supaya saya berhati-hati karena nama saya sudah disebut disana.
  •  Jika penangkapan kami karena makar orang-orang Kristen maka mestinya saya dan kawan-kawan sudah ditangkap tahun 1999 ketika kami membantu jihad di Ambon, mengirim sukarelawan, mengirim bahan bom, dan mengirim senjata api beserta amunisinya kesana.
  •  Jadi penyebab kami ditangkap oleh Polisi adalah karena kami melakukan pengeboman diBali dan berhasil diidentifikasi Polisi. Dimulai dari ditangkapnya Amrozi karena dia sebagai pemilik terakhir mobil Mitsubitsi L-300 yang kami ledakkan. Pemilik sebelumnya yang namanya terteradi BPKB mobil L-300 tersebut sudah lebih dulu ditangkap, namun karena tidak terlibat pengeboman maka dilepaskan lagi. Ini membuktikan bahwa penangkapan Amrozi adalah dari mobil Mitsubitsi L-300 yang kami ledakkan di depan Sari Club di Jalan Legian Kuta-Bali. Dengan demikian jelaslah bahwa ditangkapnya kami adalah disebabkan karena kami melakukan pengeboman di Bali bukan karena sebab lain yang dituduhkan dan diisyukan diatas.

Continue reading

KESAKSIANKU BUAT UMAR PATEK

Suatu hari saya didatangi oleh Polisi dari Detasemen Khusus 88 Anti Teror memberitaukan bahwa Umar Patek ditangkap di Pakistan.Saat itu saya jawab, jika Umar Patek benar sudah ditangkap maka saya  mohon agar bisa dibawa kembali ke Indonesia saya siap jadi saksi atas keterlibatannya dalam Bom Bali, dan tolong permohonan saya ini disampaikan kepada pihak-pihak yang berwenang dalam urusan ini.

Permohonan saya ini seolah-olah berlebihan karena berarti memohon agar Umar Patekdiseret ke pengadilan dan dihukum.Jadi wajar ada kawan yang menyalahkan saya ketika mengetahui bahwa saya memohon seperti itu dan siap menjadi saksinya Umar Patek, karena dengan bersedia menjadi saksi berarti saya terlibat menjebloskan kawan sesama muslim ke penjarayang hal ini dilarang oleh Islam.

Terhadap pendapat kawan ini saya memberikan jawaban, bahwa kenyataannya Umar Patek sudah ditangkap dan kamisebagai pelaku Bom Bali yang sudah ditangkap sebelumnya di BAP dan di persidangan juga sudah menyebutkan namanya sebagai salah satu dari pelaku Bom Bali.Kalau kami tidak mau jadi saksi maka kemungkinan polisi dan pemerintah Indonesia tidak akan bisa mengambilnya di Pakistan. Jika demikian maka UmarPatek akan tetap dipenjara di Pakistan atau diserahkan ke Philipina atau bahkan diambil oleh Amerika dan dibawa kesana. Jika demikian maka keadaan dan keberadaannya akan lebih buruk daripada jika di Indonesia meskipun sama-sama dipenjara.

Selain karena tidak rela jika UmarPatek dipenjara diluar Indonesia saya juga berharap dengan keberadaannya di Indonesia dia bisa saya ajak bersama-sama untuk mencegah supaya tidak ada lagi aksi pengeboman atau aksi-aksi kekerasan semisalnya. Ini disebabkan karena ketika masih jadi buron Umar Patek diidolakan dan djadikan icon jihad oleh kawan-kawan jihadis, maka denganadanya dia diIndonesia saya berharap dia bisa mengarahkanmereka untuk tidak melakukan jihad dengan pengeboman atau aksi-aksi kekerasan semisalnya.

Saya berharap seperti itu kepada UmarPatek karena saya tahu bahwa dia tidak setuju dengan aksi jihad yang dilakukan di tempat-tempat yang tidak ada medan perang secara langsung seperti Bom Bali dan semisalnya. Adapun keterlibatannya di Bom Bali, itu disebabkan karena mengikuti seniornya yaitu Mukhlas dan Abdul Matin yang dianggapnya lebih berilmu dari dirinya.Dan keterlibatannya dalam kepemilikan senjata api dan amunisi ilegal, itu sudah menjadi keharusan bagi kami sebagai alat untuk menjaga diri dan persiapan manakala suatu saat kami harus menghadapi peperangan.

Itulah keinginan saya terhadap UmarPatek. Oleh karena itu ketika kami bertemu dalam rekontruksi di Bali yang paling penting saya tanyakan ke dia adalah apakah dia sudah mengajarkanilmu militer, pengetahuan perang dan cara pembunuhan kepada orang lain setelah dia jadi buronkhususnya ketika di Indonesia. Hal ini saya tanyakan karena saya kuatir, jangan-jangan dia sudah mengajarkan ilmu-ilmu tersebut kepada kawan-kawan generasi muda yanghanya didasari oleh emosional untuk melaksanakan jihad. Karena kalau kawan-kawan yang seperti ini sudah diajari tentang ilmu-ilmu yang begituan maka akan sangat berbahaya, sebab ada yang ibaratnya belum bisa membedakan antara potasium klorat dan potasium nitrat saja sudah melakukan pengeboman apalagi jika tahubanyak tentang bom dan tahu banyak tentang cara pembunuhan.

Saat itu Umar Patek menjawab bahwa dia belum pernah mengajarkan ilmu-ilmu yang saya maksud kepada siapapun.Dia ada di Indonesia adalah dalam rangka perjalanan hijrah ke Afghanistan karena berangkat dari Philipina tidak akan bisa. Oleh sebab itu ketika Abdul Matin mengajaknya untuk ikut mengurus latihan militer di Aceh dia tidak mau, hingga beberapa kali Abdul Matin membujuknya tapi dia tetap tidak mau.Saya lega mendengar jawaban UmarPatek bahwa dia belum pernah mengajarkan ilmu-ilmu yang saya maksud yang berarti tidak akan ada yang melakukan aksi pengeboman atau aksi kekerasan semisalnya lantaran dia.Dan saya percaya jawabannya, karena setahu saya dia memang tidak setuju melakukan aksi jihad di tempat yang tidak ada medan perang secara langsung maka tidak mungkin dia mengajarkan ilmu-ilmu tersebut ke sembarang orang di Indonesia.

Continue reading