Wallpaper

MENJADIKAN IMAM MAHDI SEBAGAI TELADAN DALAM BERJIHAD

Aksi-aksi jihad yang terjadi di Indonesia setelah lengsernya penguasa Orde Baru sudah berjalan sekitar empat belas tahun lamanya. Semua aksi tersebut akhirnya bisa dibongkar oleh aparat yang berwenang lalu para pelakunya dikejar, ditangkap, dipenjara dan bahkan ada yang dibunuh dieksekusi dan terbunuh saat penangkapan. Namun ternyata hal ini tidak dijadikan dasar oleh para pelaku dan yang lainnya untuk melakukan instrospeksi dan koreksi terhadap kesalahan jihad yang telah dilakukan kemudian tidak melakukan jihad dengan cara-cara yang seperti itu lagi.

Sebagai bagian dari Umat Islam yang menggunakan jihad sebagai jalan perjuangan dan sebagai pelaku Bom Bali I atas dasar jihad yang melatarbelakangi dibikinnya PERPU ANTI TERORISME di Indonesia, saya prihatin, karena aksi-aksi jihad yang seperti itu masih terus dilakukan hingga sekarang ini.

Keprihatinan saya ini berdasarkan bahwa aksi-aksi yang diniatkan melaksanakan kewajiban jihad tersebut adalah keluar dari Sunah Rasulullah dan Sunah Para Shahabat sehingga hasilnya pun jauh dari hasil yang diraih oleh mereka.

Namun bagi mereka yang tetap terus melakukan aksi-aksi jihad yang seperti itu dan yang setuju terhadap aksi-aksi tersebut justru meyakini bahwa merekalah yang diatas Sunah Rasulullah, karena dalam melaksanakan aksinya mereka berdasar Al-Quran dan Al-Hadits, seperti; perintah untuk memerangi orang-orang kafir dan musyrik, perintah untuk menteror orang-orang kafir dan musyrik, perintah untuk membuat orang-orang kafir dan musyrik marah, dan perintah untuk bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan musyrik.

Mereka juga berdasar bahwa setelah Rasulullah wafat Islam telah sempurna dan hukum tentang jihad dalam arti perang juga telah sempurna, jadi tidak ada lagi tahapan-tahapan dalam melaksanakan kewajiban jihad seperti ketika Rasulullah masih ada. Dengan demikian, jihad terhadap orang kafir, baik yang memerangi ataupun yang tidak memerangi adalah wajib, dengan tujuan untuk menghilangkan kemusyrikan dan menegakkan tauhid agar hanya Allah saja yang diibadahi.

Karena keyakinan mereka inilah maka dalam kesempatan ini saya akan mengetengahkan gambaran jihad yang akan dilakukan oleh Imam Mahdi di masa yang akan datang yang kemunculannya dan lurus perjuangannya sudah dijamin oleh Rasulullah dalam hadits-hadits nubuwah beliau. Hal ini saya maksudkan untuk mengingatkan mereka yang memiliki keyakinan diatas, bahwa jihad yang akan dilakukan oleh Imam Mahdi yang lurus dan selalu menangnya jelas-jelas dijamin oleh Rasulullah juga mengikuti tahapan jihad yang pernah ditempuh oleh Rasulullah.

Dengan ini saya berharap supaya mereka mencocokkan keadaan mereka dan aksi-aksi jihad yang mereka lakukan dengan keadaan Imam Mahdi dan aksi-aksi jihad yang akan beliau lakukan di masa yang akan datang. Dan dengan ini saya juga berharap supaya mereka menyadari bahwa Islam akan kembali menguasai dunia lagi adalah ketika zaman Imam Mahdi sehingga mereka tidak akan memaksakan diri untuk mengembalikan kekuasaan Islam tersebut dengan melakukan aksi-aksi kekerasan yang keluar dari Sunah Rasulullah dan dengan menghalalkan segala cara.

Semoga setelah membaca riwayat-riwayat yang menceritakan tentang Imam Mahdi, jihad dan keberhasilan perjuangan beliau mereka instrospeksi terhadap pemikiran-pemikiran mereka lalu menyadari kesalahan-kesalahan mereka kemudian meniti di jalan jihad sesuai dengan Sunnah Rasulullah yang sudah dicontohkan oleh para Salafus Shalih di masa lalu dan yang akan dilaksanakan oleh Imam Mahdi di masa yang akan datang.

Koreksi saya ini lebih saya khususkan terhadap aksi-aksi jihad yang terjadi di Indonesia dan terhadap aksi-aksi jihad ofensiv yaitu mendahului melakukan penyerangan ke pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh, bukan jihad defensiv untuk mempertahankan diri seperti yang pernah terjadi di Ambon dan Poso pasca diserangnya Umat Islam.

 

Dasar Kemunculan Imam Mahdi

Apa saja yang disampaikan oleh Rasulullah SAW pasti benar, begitu juga tentang akan datangnya Imam Mahdi mendekati akhir zaman. Imam Mahdi lah yang akan mengembalikan Islam berkuasa lagi di muka bumi melaksanakan syareat Allah sehingga bumi dipenuhi keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi kedzaliman. Di masa Imam Mahdi inilah Nabi Isa A.S diturunkan oleh Allah dan mengikuti kepemimpinan Imam Mahdi. Setelah Imam Mahdi wafat kepemimpinanya digantikan oleh Nabi Isa A.S dan beliau tetap mengikuti dan menjalankan Syareat Islam.

Hadits-hadits yang menyebutkan tentang akan datangnya Imam Mahdi terbilang banyak, ada yang berstatus shahih, hasan dan dhaif. Beberapa ulama mengatakan bahwa hadits-hadits yang menyebutkan tentang akan datangnya Imam Mahdi mencapai tingkatan mutawatir ma’nawi. Jadi akan datangnya Imam Mahdi tidak boleh diragukan dan mengimaninya sudah menjadi bagian dari Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Sebagai dasar koreksi saya terhadap aksi-aksi yang diniatkan jihad di jalan Allah yang saya singgung diatas maka dibawah ini saya ketengahkan beberapa hadits tentang Imam Mahdi. Hadits-hadits dibawah ini ada yang statusnya shahih dan ada juga yang dhaif. Hadits yang dhaif saya ketengahkan untuk menambah keterangan dan untuk menafsirkan hadits yang shahih.

 

Dari Abu Hurairah R.A ia berkata, Rasulullah  SAW bersabda:

 كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ

“Bagaimana kalian jika Ibnu Maryam telah turun kepada kalian dan imam kalian dari golongan kalian”  (HR. Bukhari Muslim)

 

Dari Jabir bin Abdullah R.A ia berkata, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ قَالَ فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولُ أَمِيرُهُمْ تَعَالَ صَلِّ لَنَا فَيَقُولُ لَا إِنَّ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ أُمَرَاءُ تَكْرِمَةَ اللَّهِ هَذِهِ الْأُمَّةَ

 

“Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang berperang membela kebenaran yang selalu menang hingga datangnya hari kiamat.” Lalu sabda beliau selanjutnya, “Akan turun Isa ibnu Maryam, lalu pemimpin mereka berkata, “Marilah shalat mengimami kami”. Lalu Isa menjawab, “Tidak! Sesungguhnya sebagian kalian adalah pemimpin bagi sebagian yang lain, sebagai kehormatan dari Allah atas umat ini.” (HR. Muslim)

 

Dari Ummu Salamah R.A, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

سَيَعُوذُ بِهَذَا الْبَيْتِ يَعْنِي الْكَعْبَةَ قَوْمٌ لَيْسَتْ لَهُمْ مَنَعَةٌ وَلَا عَدَدٌ وَلَاعُدَّةٌ يُبْعَثُ إِلَيْهِمْ جَيْشٌ حَتَّى إِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنْ الْأَرْضِ خُسِفَ بِهِمْ

“Akan berlindung di rumah ini yaitu Ka’bah suatu kaum yang tidak memiliki kekuatan, jumlah dan perlengkapan perang yang tidak berarti, lalu diutuslah pasukan untuk mengejar mereka, apabila pasukan tersebut sampai di Baida’ mereka ditenggelamkan ke dalam bumi.” (HR. Muslim)

 

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud R.A, Rasulullah SAW bersabda:

لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا يَوْمٌ لَطَوَّلَ اللَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ فِيهِ رَجُلًا مِنِّي أَوْ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمُ أَبِي يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا

“Sekiranya tidak tinggal kecuali hanya sehari saja dari umur dunia ini niscaya Allah memanjangkan hari itu untuk mengantarkan padanya seorang lelaki dariku (dari ahli keluargaku) yang mana namanya sama dengan namaku dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku. Ia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan keseksamaan sebagaimana sebelumnya ia dipenuhi dengan kedzaliman dan kejahatan.” (HR. Abu Daud)

Dari Abu Sa’id Al-Khudri R.A ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:

الْمَهْدِيُّ مِنِّي أَجْلَى الْجَبْهَةِ أَقْنَى الْأَنْفِ يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا يَمْلِكُ سَبْعَ سِنِينَ

“Al-Mahdi itu dari keturunanku, dahinya lebar dan hidungnya mancung. Ia memenuhi bumi dengan keadilan dan keseksamaan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kejahatan dan kedzaliman. Ia berkuasa selama tujuh tahun.”  (HR. Abu Daud)

 

Dari Ummu Salamah R.A, Rasulullah SAW beliau bersabda:

يَكُونُ اخْتِلَافٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَارِبًا إِلَى مَكَّةَ فَيَأْتِيهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيُخْرِجُونَهُ وَهُوَ كَارِهٌ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ وَيُبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْثٌ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ فَيُخْسَفُ بِهِمْ بِالْبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ فَإِذَا رَأَى النَّاسُ ذَلِكَ أَتَاهُ أَبْدَالُ الشَّامِ وَعَصَائِبُ أَهْلِ الْعِرَاقِ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ ثُمَّ يَنْشَأُ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ أَخْوَالُهُ كَلْبٌ فَيَبْعَثُ إِلَيْهِمْ بَعْثًا فَيَظْهَرُونَ عَلَيْهِمْ وَذَلِكَ بَعْثُ كَلْبٍ وَالْخَيْبَةُ لِمَنْ لَمْ يَشْهَدْ غَنِيمَةَ كَلْبٍ فَيَقْسِمُ الْمَالَ وَيَعْمَلُ فِي النَّاسِ بِسُنَّةِ نَبِيِّهِمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُلْقِي الْإِسْلَامُ بِجِرَانِهِ فِي الْأَرْضِ فَيَلْبَثُ سَبْعَ سِنِينَ ثُمَّ يُتَوَفَّى وَيُصَلِّي عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ

“Akan terjadi perselisihan ketika matinya seorang khalifah, saat itu  keluarlah seorang penduduk Madinah ( yaitu Imam Mahdi) lari ke Makkah, lalu ia didatangi oleh penduduk Makkah, mereka mengeluarkannya dari persembunyiannya sedangkan ia tidak suka, lalu mereka membai’atnya diantara Rukun dan Maqam Ibrahim. Diutuslah pasukan dari Syam untuk mengejarnya dan pasukan tersebut ditelan bumi di Baida’ antara Makkah dan Madinah. Bila hal itu dilihat oleh orang-orang maka ia didatangi oleh ‘Abdal Syam dan beberapa kumpulan dari Iraq untuk berbai’at kepadanya. Kemudian muncul seorang pemuda dari Quraisy, paman dari sebelah ibunya dari kabilah Kalb yang akan membawa pasukan untuk menentang Imam Mahdi, tetapi pasukan Imam Mahdi berhasil mengalahkan mereka. Kerugian bagi orang yang tidak menyaksikan harta rampasan perang kabilah Kalb. Imam Mahdi akan membagi-bagikan harta dan beramal mengikut Sunah Nabi mereka SAW di kalangan manusia. Ketika itu Islam tersebar dengan luas. Dia akan memerintah selama tujuh tahun kemudian wafat dan jenazahnya dishalatkan oleh Umat Islam. (HR. Abu Daud.. Didhaifkan oleh Albani)

 

Dari Tsauban RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:

يَقْتَتِلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ ابْنُ خَلِيفَةٍ ثُمَّ لَا يَصِيرُ إِلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَطْلُعُ الرَّايَاتُ السُّودُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ فَيَقْتُلُونَكُمْ قَتْلًا لَمْ يُقْتَلْهُ قَوْمٌ ثُمَّ ذَكَرَ شَيْئًا لَا أَحْفَظُهُ فَقَالَ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ

“Akan berperang tiga orang disisi pembedaharaanmu, mereka semua adalah putera khalifah, tetapi tidak seorangpun yang berhasil menguasainya. Kemudian muncullah bendera-bendera hitam dari arah timur, lantas mereka membunuh kalian dengan suatu pembunuhan yang belum pernah dialami oleh kaum manapun.” Kemudian beliau menyebutkan sesuatu yang aku tidak hafal, lalu bersabda: “Apabila kalian melihatnya maka berbai’atlah walaupun dengan merangkak diatas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifah Allah Imam Mahdi”.” (HR. Ibnu Majah.. Didhaifkan oleh Albani)

 

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud R.A ia berkata:

بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَقْبَلَ فِتْيَةٌ مِنْ بَنِي هَاشِمٍ فَلَمَّا رَآهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اغْرَوْرَقَتْ عَيْنَاهُ وَتَغَيَّرَ لَوْنُهُ قَالَ فَقُلْتُ مَا نَزَالُ نَرَى فِي وَجْهِكَ شَيْئًا نَكْرَهُهُ فَقَالَ إِنَّا أَهْلُ بَيْتٍ اخْتَارَ اللَّهُ لَنَا الْآخِرَةَ عَلَى الدُّنْيَا وَإِنَّ أَهْلَ بَيْتِي سَيَلْقَوْنَ بَعْدِي بَلَاءً وَتَشْرِيدًا وَتَطْرِيدًا حَتَّى يَأْتِيَ قَوْمٌ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَعَهُمْ رَايَاتٌ سُودٌ فَيَسْأَلُونَ الْخَيْرَ فَلَا يُعْطَوْنَهُ فَيُقَاتِلُونَ فَيُنْصَرُونَ فَيُعْطَوْنَ مَا سَأَلُوا فَلَا يَقْبَلُونَهُ حَتَّى يَدْفَعُوهَا إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي فَيَمْلَؤُهَا قِسْطًا كَمَا مَلَئُوهَا جَوْرًا فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَلْيَأْتِهِمْ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ

“Ketika kami berada di samping Rasulullah SAW tiba-tiba datang beberapa orang anak muda dari Bani Hasyim. Ketika mereka dilihat oleh Rasulullah SAW berlinanglah air mata beliau dan berubah wajahnya. Lalu kami bertanya, “Kami melihat di wajahmu ada sesuatu yang mencemaskan kami”. Maka beliau menjawab, “Kami adalah ahli keluarga yang Allah SWT pilih untuk kami akhirat melebihi dunia. Sesungguhnya ahli keluargaku nanti akan menghadapi berbagai macam cobaan, pengusiran dan penghalauan sehingga datang dari pihak timur bersama mereka bendera-bendera hitam. Mereka meminta kebaikan tetapi tidak diberikan maka mereka berperang sehingga mendapat kemenangan lalu diberikan kepada mereka apa yang dahulu mereka minta tetapi mereka tidak mau menerima lagi, hingga mereka berikan bendera itu kepada seorang pemuda dari keluargaku, ia akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kedzaliman. Siapa saja yang mengetahui keberadaan mereka maka hendaklah ia datangi untuk bergabung dengan mereka walaupun harus merangkak di atas salju.”  (HR. Ibnu Majah.. Didhaifkan oleh Albani)

 

Abu Sa’id Al Khudri R.A berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

أُبَشِّرُكُمْ بِالْمَهْدِيِّ يُبْعَثُ فِي أُمَّتِي عَلَى اخْتِلَافٍ مِنْ النَّاسِ وَزَلَازِلَ فَيَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا يَرْضَى عَنْهُ سَاكِنُ السَّمَاءِ وَسَاكِنُ الْأَرْضِ يَقْسِمُ الْمَالَ صِحَاحًا فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ مَا صِحَاحًا قَالَ بِالسَّوِيَّةِ بَيْنَ النَّاسِ قَالَ وَيَمْلَأُ اللَّهُ قُلُوبَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غِنًى وَيَسَعُهُمْ عَدْلُهُ حَتَّى يَأْمُرَ مُنَادِيًا فَيُنَادِي فَيَقُولُ مَنْ لَهُ فِي مَالٍ حَاجَةٌ فَمَا يَقُومُ مِنْ النَّاسِ إِلَّا رَجُلٌ فَيَقُولُ ائْتِ السَّدَّانَ يَعْنِي الْخَازِنَ فَقُلْ لَهُ إِنَّ الْمَهْدِيَّ يَأْمُرُكَ أَنْ تُعْطِيَنِي مَالًا فَيَقُولُ لَهُ احْثِ حَتَّى إِذَا جَعَلَهُ فِي حِجْرِهِ وَأَبْرَزَهُ نَدِمَ فَيَقُولُ كُنْتُ أَجْشَعَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ نَفْسًا أَوَعَجَزَ عَنِّي مَا وَسِعَهُمْ قَالَ فَيَرُدُّهُ فَلَا يَقْبَلُ مِنْهُ فَيُقَالُ لَهُ إِنَّا لَا نَأْخُذُ شَيْئًا أَعْطَيْنَاهُ فَيَكُونُ كَذَلِكَ سَبْعَ سِنِينَ أَوْ ثَمَانِ سِنِينَ أَوْ تِسْعَ سِنِينَ ثُمَّ لَا خَيْرَ فِي الْعَيْشِ بَعْدَهُ أَوْ قَالَ ثُمَّ لَا خَيْرَ فِي الْحَيَاةِ بَعْدَهُ

“Aku kabarkan berita gembira dengan kedatangan Al Mahdi. Dia diutus kepada umatku ketika perselisihan meluas di kalangan manusia dan banyak kegoncangan-kegoncangan. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan keseksamaan sebagaimana ia sebelumnya dipenuhi dengan kejahatan dan kedzaliman. Penghuni bumi dan langit senang dengannya. Dia akan membagi-bagikan harta dengan sihaha. Seseorang bertanya,”apa itu sihaha”, beliau menjawab, “adil sama rata”. Allah memenuhi hati-hati Umat Muhammad SAW dengan kekayaan dan Dia meluaskan keadilan-Nya,  sehingga diperintahkan kepada penyeru agar menyerukan, “Setiap yang ada hajat datanglah.” Maka tidak ada yang datang melainkan seorang saja. Orang itu pun pergi meminta (sesuatu) darinya. Dia lantas berkata, “Pergilah kepada penjaga gudang harta benda dan katakan kepadanya bahwa Al Mahdi menyuruhmu memberikan harta kepadaku”. Orang itu pun pergi kepada penjaga gudang dan menyampaikan pesan Al Mahdi. Penjaga gudang itu pun berkata, “Ambillah!”, orang itu terus mengambil harta benda tetapi tidak berdaya membawanya lalu ia meletakkannya dan membawa semampunya. Dia pun keluar. Setelah keluar dia menyesal dan berkata, “Akulah orang yang paling tamak dari ummat Muhammad ini. Semua orang dipanggil untuk mengambil harta tetapi tidak ada seorangpun mengambilnya selainku. Maka dia mau mengembalikan harta benda yang diambilnya kepada penjaga gudang. Penjaga gudang itu pun berkata, “Bila kami memberikan sesuatu kami tidak akan mengambilnya lagi.” Dia (Al Mahdi) hidup dalam keadaan seperti ini selama 7 atau 8 atau 9 tahun dan tidak ada kehidupan yang lebih baik lagi sesudahnya.” (HR. Ahmad..  Didhaifkan oleh Albani) 

 

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud RA ia berkata:

“Bila perdagangan-perdagangan dan jalan-jalan telah terputus, fitnah banyak terjadi, keluarlah tujuh orang ulama dari penjuru dunia yang berlainan tempatnya tanpa berjanji sebelumnya. Setiap orang dari mereka dibai’at oleh tiga ratus dan belasan orang lelaki sehingga mereka berjumpa di Makkah. Lalu bertemulah tujuh orang ulama tersebut. Sebagian mereka bertanya kepada sebagian yang lain, “Apakah yang membuat kalian datang kesini?” Mereka menjawab, “Kami datang mencari orang yang fitnah-fitnah ini akan reda di tangannya dan Konstantiniyyah akan ditaklukkan. Kami mengenal namanya, nama ayahnya, nama ibunya dan tandanya. Maka ketujuh orang ulama tersebut bersepakat di atas perkara itu lalu mencarinya dan menemukannya di Makkah. Mereka berkata kepadanya, “Engkaulah fulan bin fulan?” Dia menjawab, “Tidak, bahkan saya orang Anshar”. Ia menghindarkan diri dari mereka. Lantas ketujuh orang ulama tersebut menggambarkan sifat-sifatnya kepada orang-orang yang mengetahui tentangnya dan mengenalinya, maka dikatakan, “Itulah orang yang kalian cari, ia sudah pergi ke Madinah”. Mereka pun pergi mencarinya ke Madinah tetapi ia melarikan diri lagi ke Makkah. Mereka mencarinya lagi ke Makkah dan menemuinya lalu berkata, “Engkau fulan bin fulan, ibumu fulanah binti fulan, padamu ada tanda begini dan begini, engkau telah melarikan diri dari kami sekali, sekarang ulurkanlah tanganmu agar kami membai’atmu.” Dia menjawab, “Aku bukan orang yang kamu cari, aku adalah fulan bin fulan orang Anshar”. Lalu ia melarikan diri lagi dari mereka. Mereka mencarinya lagi ke Madinah, tetapi berselisih di jalan karena ia balik lagi ke Makkah. Kemudian mereka mendapatinya di Makkah di dekat Rukun dan Maqam. Mereka pun berkata kepadanya, “Dosa kami dan darah-darah kami jadi tanggunganmu jika engkau tidak ulurkan tanganmu untuk kami bai`at. Lihatlah, tentara Sufyani sudah menuju kemari untuk mengejar kita, mereka dipimpin oleh seorang lelaki dari Hiram”. Maka dia pun duduk di antara Rukun dan Maqam Ibrahim serta mengulurkan tangan lalu dibai’at. Allah memberikan rasa cinta kepadanya di dalam hati manusia dan dia pun berjalan bersama golongan yang bagaikan singa di siang hari dan bagaikan rahib-rahib di malam hari.” (Diriwayatkan oleh Nua’im bin Hammad.. Dhaif)

 

bnu Katsir berkata: 

“Al-Mahdi dikukuhkan oleh orang-orang Masyriq (Khurasan) yang membantunya, menegakkan kekuasaan dan membangun pilar-pilarnya, bendera mereka berwarna hitam yaitu warna yang melambangkan sikap merendahkan diri, karena bendera Rasulullah juga berwarna hitam yang bernama Al-‘Uqab.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah)

 

 

Perbedaan Antara Jihad Imam Mahdi dan Jihad Yang Dilakukan Saat Ini

 

–       Imam Mahdi tidak berambisi menjadi pemimpin, bahkan beliau menolak ketika Umat Islam akan membai’at atau mengangkatnya sebagai pemimpin.  Dalam atsar yang diriwayatkan oleh Nua’im bin Hamad dari Abdullah Ibnu Mas’ud bahwa ada tujuh orang ulama yang memaksa membai’at Imam Mahdi hingga dua kali beliau menghindar dari mereka.

 

Sedangkan yang terjadi saat ini khususnya di Indonesia, hanya terdiri dari beberapa orang saja, sudah ada yang menobatkan dirinya sebagai pemimpin yang boleh membai’at anak buahnya, harus didengar dan dita’ati, berhak berijtihad, berhak memobilisasi jihad, berhak mengkafirkan dan menghalalkan darah sesama muslim, dan berhak memberikan fatwa apapun sesuai dengan ilmu dan pemikirannya. Selanjutnya mereka melakukan aksi-aksi kekerasan, diantaranya berupa pengeboman, pembunuhan dan perampokan yang dalam rangka jihad di jalan Allah.

–       Imam Mahdi sebelum dibai’at oleh Umat Islam, besar kemungkinannya beliau belum memiliki jaringan apa-apa. Hal ini dibuktikan, pada mulanya yang mengetahui bahwa beliau ini Imam Mahdi adalah hanya orang-orang tertentu yang mengetahui ciri-cirinya dari hadits-hadits nubuwah Rasulullah. Ini menandakan bahwa Imam Mahdi sebelum dibai’at beliau belum memiliki jaringan yang dikenal oleh umat. Karena jika sebelumnya sudah memiliki jaringan dan sudah dikenal oleh umat maka beliau tidak akan keberatan ketika akan dibai’at oleh Umat Islam untuk memimpin mereka.

 

Sedangkan yang terjadi sekarang ini khususnya di Indonesia, hanya terdiri dari beberapa orang saja mereka sudah membentuk kelompok atau jaringan untuk melancarkan jihad kepada pihak-pihak yang menurut mereka wajib diperangi.

 

–       Imam Mahdi sebelum dibaiat oleh Umat Islam besar kemungkinannya beliau belum pernah melakukan aksi-aksi jihad dalam bentuk pengeboman dan yang semisalnya. Hal ini dibuktikan, bahwa ketika ada dari Umat Islam yang menyandarkan urusan umat kepada Imam Mahdi dengan membai’atnya, beliau menolak dan menghindar. Ini menandakan bahwa beliau belum pernah melakukan aksi-aksi jihad yang semacam itu. Karena jika beliau sudah pernah melakukan aksi-aksi yang semacam itu maka besar kemungkinannya beliau langsung menerima tawaran untuk dibai’at sebagai pemimpin supaya pengikutnya bertambah banyak dan aksi-aksi yang bakal dilakukannya akan lebih besar dan lebih banyak lagi dari sebelumnya.

 

Sedangkan yang terjadi sekarang ini khususnya di Indonesia, hanya terdiri dari beberapa orang saja mereka sudah melaksanakan jihad ofensiv dengan cara melakukan pengeboman, pembunuhan, perampokan dan lain-lain di wilayah Negara Indonesia. Sedangkan kenyataannya mereka masih tinggal di Indonesia, keluarga mereka ada di Indonesia, pekerjaan mereka di Indonesia, bahkan mereka juga masih menggunakan identitas dan fasilitas milik NKRI.

 

–       Imam Mahdi melakukan aksi jihad karena diperlukan oleh Umat Islam. Gambaran dunia saat itu sudah dipenuhi oleh kejahatan, kekejaman dan kedzaliman, oleh karena itu sekelompok Umat Islam mencari beliau. Dan menurut riwayat Nua’im bin Hammad ada tujuh orang ulama dari penjuru dunia yang berbeda-beda tanpa ada perjanjian sebelumnya berusaha mencari Imam Mahdi agar menjadi pemimpin Ummat Islam untuk membentuk kekuatan lalu memerangi kejahatan, kekejaman dan kedzaliman, kemudian menegakkan keadilan di muka bumi. Ini menjadi bukti bahwa munculnya Imam Mahdi dan jihadnya beliau adalah diperlukan oleh Umat.

 

Sedangkan jihad yang terjadi sekarang ini khususnya di Indonesia dengan cara melakukan aksi pengeboman, pembunuhan, perampokan dan aksi-aksi teror semisalnya jelas-jelas tidak diperlukan oleh Ummat Islam. Hal ini dibuktikan, dengan sudah terjadinya pengeboman mulai dari pengeboman di kediaman Dubes Philipina, Bom Gereja, Bom Bali dan bom-bom setelahnya hingga penyerangan terhadap Polisi, faktanya Umat Islam tidak memerlukan aksi-aksi tersebut. Jangankan Umat Islam secara umum, Umat Islam secara khusus yang memiliki hubungan dengan para pelaku saja mereka tidak memerlukan aksi-aksi tersebut, karena kenyataannya justru mereka ikut terkena imbas negatifnya.

 

–       Imam Mahdi melakukan jihad untuk menghilangkan kedzaliman dan ketidak adilan. Gambaran kedzaliman, kekejaman, kejahatan, kemungkaran, kekejian,  ketidakadilan dan perselisihan ketika munculnya Imam Mahdi adalah lebih parah dari yang terjadi sekarang ini. Oleh karena itu Umat Islam, dan dalam riwayat Nua’im bin Hamad ada tujuh orang ulama dari tempat yang berbeda-beda tanpa ada janji sebelumnya sama-sama datang ke Makkah untuk mencari pemimpin yang akan diangkat sebagai pemimpin Umat Islam untuk mengembalikan dunia kepada Syareat Allah. Maka Umat Islam tersebut menemukan Imam Mahdi di Masjidil Haram dari ciri-ciri yang sudah diketahui oleh mereka yang telah dinubuwahkan oleh Rasulullah dalam hadits-hadits, lalu membai’atnya di antara Rukun dan Maqam Ibrahim. Setelah itu Imam Mahdi mulai memimpin Umat Islam dan pasukan untuk berjihad memerangi segala bentuk kedzaliman yang akhirnya memenuhi bumi dengan keadilan. Ini membuktikan, bahwa jihadnya Imam Mahdi bukan hanya sekedar perang dan membunuh secara sembarangan saja namun untuk menghilangkan kedzaliman dan menegakkan keadilan.

 

Sedangkan jihad yang terjadi sekarang khususnya di Indonesia ini dengan cara melakukan pengeboman, pembunuhan, perampokan dan aksi-aksi teror semisalnya kenyataannya justru menciptakan kedzaliman.

 

Kedzaliman yang saya maksud diantaranya dibuktikan dengan hal-hal sebagai berikut:

–       Orang yang tidak tahu-menahu tentang maksud dan tujuan para pelaku akhirnya terkena serangan yang diniatkan jihad tersebut, yang membuat mereka rugi material dan inmaterial, ada yang luka-luka, ada yang cacat seumur hidup, bahkan ada yang meninggal dunia.

–       Dari mereka yang menjadi korban tidak sedikit yang juga beragama Islam, maka diantara dampak yang bisa disaksikan adalah yang dirugikan pun juga sama-sama shalat seperti para pelaku, sama-sama berpuasa, sama-sama ahli qiblat, sama-sama berbusana muslim, sama-sama berkerudung atau berjilbab seperti keluarga para pelaku, dan yang dirugikan juga sama-sama melakukan dan memiliki syiar-syiar Islam lainnya seperti para pelaku.

–       Keluarganya para pelaku, kawannya dan kelompoknya ikut terkena imbas negatifnya, seperti; orang tuanya dan keluarganya ikut direpotkan bahkan ada yang ikut  jadi buron, ikut ditangkap dan ikut masuk penjara.

–       Umat Islam sendiri ikut merasa tidak aman dan terteror oleh gerakan kelompok yang menamakan jihad dan mujahid ini.

–       Umat Islam dibuat bingung dengan adanya aksi-aksi tersebut karena mereka belum mengetahui visi dan misi yang sebenarnya.

–       Islam dan Umat Islam ikut dijelek-jelekkan oleh umat yang lain.

 

Seandainya para pelaku tersebut berterus terang mengumumkan kepada umat atau dunia, misalkan seperti ini, “bahwa kami adalah kelompok jihad yang akan berjuang dan memerangi segala bentuk kemungkaran, termasuk terhadap NKRI karena dzalim dan tidak memberlakukan Syareat Islam, maka barang siapa yang tidak mau mendukung kami berarti kami berlepas diri dari mereka”, mungkin hal ini masih ada benarnya, karena berarti hampir sama dengan prosedur jihad yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah.

 

Adapun melakukan aksi-aksi jihad secara sembarangan di Indonesia, karena menghukumi Indonesia sebagai daerah perang (darul harbi), padahal belum pernah mendakwahkan hal ini kepada umat atau dunia dan juga belum pernah mengumumkan tujuan dan sasaran jihad yang dimaksud, maka aksi-aksi tersebut adalah kedzaliman.

 

Dan faktanya bisa dilihat, bahwa aksi-aksi yang diniatkan jihad ini tidak memberikan manfaat buat Umat Islam di Indonesia, tidak membawa kemenangan, tidak berhasil membuka front jihad di Indonesia dan tidak berhasil menguasai salah satu daerah di Indonesia. Akan tetapi, justru para pelaku dan yang terlibat tersebut sejak tahun 2002 hingga saat ini sudah 700 orang lebih yang berhasil dijaring oleh aparat yang berwenang di Negara ini, mayoritasnya dipenjara dan sebagiannya meninggal dunia karena dieksekusi dan ditembak saat penangkapan.   

 

–       Imam Mahdi memimpin gerakan jihad yang jelas wujudnya, jelas pemimpinnya, jelas tujuannya dan memiliki daerah basis buat memulainya. Hal ini dibuktikan bahwa nama beliau sebagai pimpinan jelas, kepemimpinan beliau diangkat oleh Umat Islam, tujuannya adalah untuk memerangi segala bentuk kedzaliman, beliau memimpin pasukan sebanyak pasukan Perang Badr yaitu sekitar 313 orang, dan basis beliau untuk memulai perjuangannya adalah Makkah. Karena jelasnya wujud, pemimpin dan tujuan gerakan ini hingga pihak yang tidak setuju dengan gerakan tersebut mengirim pasukan untuk menghancurkannya, namun ditenggelamkan oleh Allah di padang pasir antara Madinah dan Makkah. Setelah peristiwa penenggelaman pasukan tersebut maka nama Imam Mahdi, pasukannya dan gerakannya semakin terkenal.

 

Sedangkan gerakan yang membuat aksi-aksi jihad di Indonesia hingga saat ini tidak ada kejelasannya tentang wujud gerakannya, tidak jelas pemimpinnya dan tidak jelas tujuannya. Hal ini yang membuat aksi-aksi tersebut tidak ada manfaatnya buat Islam dan Umat Islam. Memang ada wujud aksinya namun tidak bisa dengan jelas diketahui oleh Umat Islam apa motif dan tujuannya, siapa pemimpinnya yang memiliki syarat-syarat sebagai pemimpin, apa dasarnya, dimana basisnya, dan apa manfaatnya buat Islam secara nyata. Hal ini yang membuat pengeboman, pembunuhan, perampokan dan aksi-aksi semisalnya yang diniatkan melaksanakan kewajiban jihad tersebut hanya seperti aksi brutal yang dilakukan oleh para penjahat bukan aksi jihad yang dilakukan oleh mujahid.

 

Hal ini yang menyebabkan gerakan tersebut semakin hari semakin habis karena tidak ada Umat Islam yang mendukung. Kalaupun ada Umat Islam yang mendukung, itu hanya karena simpati kepada pelaku atau simpati kepada tujuannya yang mulia, atau disebabkan karena sama-sama tidak suka dengan situasi dan kondisi yang terjadi. Contohnya: Jika ada Umat Islam yang mendukung Bom Bali maka itu disebabkan karena sama-sama tidak suka dengan Bali sebab di Bali banyak kemaksiatan biar jadi pelajaran, bukan mendukung gerakan dan cara berjihadnya. Jika ada orang yang mendukung penyerangan terhadap Polisi maka itu disebabkan karena sama-sama tidak suka dengan Polisi, bukan mendukung gerakan dan cara berjihadnya

 

Hal ini dibuktikan, bahwa orang-orang yang katanya mendukung dan simpati kepada para pelaku yang melakukan aksi-aksi tersebut kenyataannya tidak mau membantu dan tidak mau menggabungkan diri dengan gerakan-gerakan jihad ini.

 

–       Jihad Imam Mahdi menghasilkan harta rampasan perang yang berlimpah yang bisa mensejahterahkan Umat Islam.

 

Sedangkan aksi jihad yang terjadi sekarang khususnya di Indonesia ini, aksi-aksi itu tidak menghasilkan harta benda, tetapi justru menghabiskan harta benda.  Biasanya, uang yang dihabiskan untuk mendanai operasional aksi-aksi tersebut bisa berasal dari uang pribadi pelaku, dari sumbangan orang, dari hasil mohon bantuan kesana-kemari, dari uang infaq, dan dari uang sedekah dan zakat yang dialokasikan untuk aksi-aksi tersebut. Dan adakalanya juga dari hasil perampokan yang mereka istilahkan dengan Fa’I, karena dari sumber-sumber dana diatas tidak ada atau tidak mencukupinya.

 

Karena keadaannya seperti ini, maka jangankan mensejahterakan Umat Islam secara umum, untuk mengatasi keuangan buat diri sendiri setelah melakukan aksi saja sudah tidak mampu.

 

Oleh sebab itu maka mayoritas pelakunya membebani orang lain dan membebani keluarganya, diantara contohnya sebagai berikut:

–       Setelah melakukan aksi, lalu jadi buron, maka istri dan anaknya yang ditinggalkan harus menjadi tanggungan keluarganya atau menjadi tanggungan orang lain, begitu juga setelah sudah ditangkap dan di penjara.

–       Setelah melakukan aksi, lalu jadi buron, maka mereka cari bantuan kesana-kemari buat keperluan dirinya sendiri dan keperluan keluarganya yang ditinggalkan, begitu juga setelah sudah ditangkap dan di penjara.

–       Karena sudah ditangkap maka keluarganya harus mengeluarkan dana buat pengacaranya dan buat kepentingan-kepentingan lainnya pada saat penangkapan, saat persidangan hingga saat di penjara.

–       Karena disebabkan oleh pelaku aksi-aksi tersebut akhirnya ada dari keluarganya dan kawannya yang ikut terseret yang membuat mereka harus juga jadi buron atau ditangkap, akhirnya untuk membiayai semua kepentingan dan keperluannya mereka harus mengeluarkan harta bendanya sendiri atau harus memohon bantuan kemana-mana.

 

–       Pasukan Imam Mahdi memiliki bendera berwarna hitam, sebagaimana bendera Rasulullah juga berwarna hitam. Warna hitam ini melambangkan sikap merendahkan diri.

 

Sedangkan yang ada pada diri para pelaku aksi-aksi sekarang ini khususnya di Indonesia adalah sikap yang bertentangan dengan merendahkan diri. Sikap-sikap tersebut seperti; merasa benar sendiri, semua orang yang tidak sepemikiran dan sepemahaman dengan mereka disalahkan, bersikap keras kepada sesama muslim yang tidak sepemikiran, mudah mengkafirkan sesama muslim, mudah menthaghutkan sesama muslim, mudah menghalakan darah orang, mudah melakukan kekerasan, mudah melakukan pembunuhan, berlebihan dalam melakukan pembunuhan, mudah menghalalkan harta benda orang, dan mereka bersikap besar diri seolah sudah memiliki negara.

 

–       Imam Mahdi dan pasukannya adalah Thaifah Manshurah yang disebutkan oleh Rasulullah. Mereka berperang memperjuangkan kebenaran dan selalu mendapat kemenangan hingga bisa menguasai seluruh Jazirah Arabiah, membebaskan Palestina dan mengembalikan wilayah-wilayah yang dulu pernah dikuasai oleh Khilafah Islamiyah.

 

Sedangkan jihad yang dikobarkan sekarang ini khususnya di Indonesia dengan melakukan aksi-aksi yang dianggap sebagai jihad, para pelakunya selalu mengalami kekalahan. Hal ini bisa dibuktikan, bahwa setiap habis melakukan aksi pasti bisa dibongkar oleh aparat yang berwenang, lalu pelakunya dan yang terlibat membantu para pelaku diburu, ditangkap kemudian dipenjarakan, dan bahkan ada yang terbunuh.

 

Jika diperhatikan perjalanan jihad dengan cara melakukan aksi-aksi sejak dimulainya pada tahun 2000 maka yang tidak bisa dibongkar secara langsung hanya pada pengeboman di kediaman Dubes Philipina di Jalan Imam Bonjol Jakarta pada Agustus 2000 dan pengeboman di Gereja malam Natal pada Desember 2000 di beberapa kota di Indonesia. Itupun sebenarnya perencanaan pengeboman di Gereja yang ada di Bandung saat itu sudah bisa dibongkar dan beberapa pelakunya sudah bisa diamankan oleh Polisi.  namun tidak sampai membongkar aksi pengeboman yang ada di tempat-tempat lain.

 

Bom Atrium Senen pada Agustus 2001, Bom Bali I, Bom Hotel JW Marriot I, Bom Kedubes Australia, Bom Bali II, Bom Hotel JW Marriot II & Ritz Carlton, latihan militer di Aceh, perampokan bank di Medan, Bom Masjid di Cirebon, Bom Gereja di Solo, pengeboman kecil-kecilan di beberapa tempat, pembunuhan dan penyerangan terhadap Polisi, dan kepemilikan bahan bom dan senjata api beserta amunisinya yang diniatkan buat jihad, semuanya itu bisa dibongkar dan semua pelakunya bisa ditangkap, bahkan baru merencanakan akan melakukan aksipun juga sudah bisa dibongkar oleh aparat yang berwenang.

 

Mari Kembali Kepada Sunnah Rasulullah SAW 

Bila membaca hadits dan atsar yang menceritakan perjalanan jihad yang akan dilakukan oleh Imam Mahdi lalu mencocokkan dengan perjalanan jihad yang terjadi sekarang ini, khususnya yang ada di Indonesia, yang saya juga pernah terlibat di dalamnya maka perbedaannya sangat jauh. Perbedaan yang saya maksud adalah perbedaan tentang cara melaksanakan jihad dan hasil yang dicapai setelah melakukan jihad. Ini disebabkan karena berjihadnya Imam Mahdi berdasar Sunnah Rasulullah sedangkan jihad sekarang ini bertentangan dengan Sunnah Rasulullah.

 

Maka untuk kesekian kalinya saya mengajak kepada kawan-kawan yang  sedang meniti di jalan jihad dan menggunakan jihad sebagai jalan perjuangan agar kembali kepada Sunnah Rasulullah. Kalau hal yang kecil saja seorang muslim harus mengikuti Sunnah Rasulullah apalagi jihad yang hubungannya dengan darah muslim sebagai pelaku jihad dan darah orang lain yang menjadi sasaran jihad. Jika hal yang kecil bisa hilang berkahnya dan manfaatnya karena dilakukan tidak mengikuti Sunnah Rasulullah maka jihad juga tidak akan memberikan berkah dan manfaat bahkan akan berubah menjadi fitnah jika dilakukan tidak mengikuti Sunah Rasulullah.

 

Manfaat dan hasil jihad yang terjadi sekarang ini, khususnya di Indonesia, berbeda dengan manfaat dan hasil jihad yang akan dicapai oleh Imam Mahdi di masa yang akan datang. Hal ini menjadi bukti bahwa jihad yang dilakukan sekarang ini adalah jihad yang tidak benar. Oleh karena itu dibawah ini saya ketengahkan hal-hal sebagai koreksi dan solusi, supaya jihad yang akan dilakukan sekarang ini jihad yang benar, sehingga menghasilkan pahala bukan menghasilkan dosa dan memberikan berkah bukan menyebabkan fitnah.

 

Karena saya juga pernah terlibat dengan aksi-aksi yang diniatkan melaksanakan kewajiban jihad maka dalam mengoreksi dan memberikan solusi dibawah ini saya menggunakan sebutan, “kita dan kalian”.

 

–       Seharusnya kita mencocokkan diri kita dan jihad kita dengan diri dan jihad Imam Mahdi. Kita belum memiliki pemimpin yang memenuhi syarat sebagai pemimpin dan yang siap bertanggung jawab dunia akhirat terhadap kepemimpinannya. Kita belum memiliki kelompok atau jama’ah yang mampu memikul beban jika mengobarkan jihad di NKRI, karena kenyataannya kita yang melakukan aksi yang kita anggap sebagai jihad semakin hari semakin habis. Kita belum memiliki sumber dana untuk membiayai jihad melawan NKRI. Jangankan untuk membiayai jihad yang perlu dana besar, untuk membiayai hidup kita dan keluarga kita sehari-hari saja kita masih kekurangan. Dan kita juga harus sadar bahwa tidak ada Umat Islam yang mendukung kita, kalaupun ada dari Umat Islam yang mendukung kita itu cuma kawan-kawan kita yang memiliki pemikiran yang sama dengan kita.

 

–       Jihad Imam Mahdi adalah jihad yang diperlukan oleh Umat Islam untuk memerangi kedzaliman dengan mengikuti Sunah Rasulullah, oleh sebab itu Allah meridhai dan menolongnya dengan memberikan kemenangan-kemenangan.

 

Sedangkan kita, aksi-aksi jihad yang kita lakukan tidak diperlukan oleh Umat Islam tetapi justru mengganggu mereka, tidak memberikan manfaat apa-apa buat mereka, aksi kita juga keluar dari Sunah Rasulullah, oleh sebab itu kita tidak pernah menang. Contohnya yang terjadi akhir-akhir ini; kalian berhasil membunuh satu orang polisi yang kalian anggap sebagai musuh tetapi akhirnya lebih dari satu dari kalian yang ditangkap bahkan dibunuh oleh polisi dan jaringan kalian dibongkar habis-habisan. Dengan kejadian yang semacam ini seharusnya kita menyadari bahwa Allah tidak ridha terhadap aksi-aksi yang kita lakukan, atau setidaknya kita harus menyadari bahwa Allah tidak menolong dan tidak memberikan kemenangan kepada kita disebabkan karena aksi-aksi jihad yang kita lakukan adalah salah, jadi kita tidak boleh mengulangi lagi.

 

–       Kalian yang sudah jadi daftar pencarian orang (DPO) oleh Polisi jangan lagi melakukan tindakan yang menyebabkan kalian semakin dicari, akan tetapi lakukanlah kegiatan-kegiatan keagamaan yang mampu kalian lakukan yang bisa memberikan manfaat buat Islam dan Umat Islam. Karena jika kalian memaksakan diri untuk meneruskan jihad dengan melakukan aksi-aksi yang seperti itu lagi maka kalian akan semakin salah, sebab yang mendominasi dasar kalian pasti hawa nafsu.

 

Adapun, jika kalian tetap ingin melakukan jihad dalam arti perang maka berusahalah pergi ke tempat-tempat yang ada medan perang secara langsung, ke Afghanistan, ke Irak, ke Somalia dan ke tempat-tempat lain.

 

–       Jika kita melakukan dan mengobarkan jihad sedangkan kita belum memiliki daerah kekuasaan sebagai basis kita maka kita pasti melanggar adab-adab jihad itu sendiri sepert; kita tidak akan bisa menyampaikan dakwah sebelum melakukan penyerangan baik dakwah untuk menyeru mereka agar masuk Islam atau menyeru mereka agar tunduk kepada Islam atau menyuruh mereka agar bersiap-siap karena akan kita perangi, dengan tidak bisa memberi dakwah terlebih dahulu maka akan ada pihak yang tidak boleh diperangi yang akan terkena sasaran yaitu wanita, anak-anak dan lain-lain.

 

–       Jihad itu tidak semata-mata hanya menakut-nakuti dan membunuh saja. Hal ini bisa dilihat dari kandungan perintah jihad, perintah perang dan perintah membunuh yang ada di dalam Al-Quran dan Al-Hadits yang mayoritasnya ada lanjutannya yang menunjukkan motif dan tujuan disyareatkannya berjihad, berperang dan membunuh.

 

–       Mati dibunuh oleh musuh atau mati di medan perang bukanlah tujuan jihad. Hal ini dibuktikan kesedihan Rasulullah ketika sekitar 70 orang sahabat gugur di medan perang Uhud. Karena jika mati syahid itu menjadi tujuan jihad maka Rasulullah tidak akan bersedih ketika para sahabatnya gugur di medan jihad, apalagi beliau juga sudah mengetahui bahwa mereka sudah pasti masuk sorga.

 

Jadi, kita jangan hanya karena memiliki keyakinan bahwa mati ketika berjihad adalah mati syahid, lantas kita memaksakan diri untuk membuat aksi-aksi yang kita anggap sebagai jihad, biar kita dikejar oleh aparat yang berwenang lalu kita melawan kemudian kita ditembak mati oleh mereka.

 

Jika hanya mati yang kita inginkan maka lebih baik kita membuat perahu atau rakit lalu kita arungi lautan dengan tujuan mau berjihad ke Afghanistan atau ke Irak atau ke Somalia atau ke Palestina atau ke tempat-tempat lainnya yang ada medan perang secara langsung. Karena jika kita mati tenggelam atau mati dengan cara apapun dalam situasi dan kondisi di laut yang semacam ini maka kita akan mendapatkan dua pahala mati syahid. Selain dua pahala tersebut kita juga akan dipuji oleh Umat Islam yang akan kita tuju dan bantu, dan mungkin seluruh Umat Islam juga akan memuji kita.

 

Ini yang benar, daripada kita membuat aksi-aksi di Indonesia yang hanya merugikan diri kita sendiri, merugikan keluarga kita, merugikan organisasi kita, merugikan orang lain, merugikan Umat Islam dan merugikan Islam.

 

–       Kita belum memiliki negara, belum memiliki daerah kekuasaan dan belum memiliki front jihad yang memisahkan antara kita dengan pihak yang kalian anggap sebagai musuh, maka kalian jangan memaksakan diri untuk mengajak Umat Islam buat bergabung bersama kita dan menghukumi Umat Islam yang tidak mau bergabung bersama kita sebagai thaghut dan kafir atau sebagai pembela thaghut dan kafir atau sebagai Umat Islam yang mendzalimi diri sendiri dengan menggunakan dalil ayat ini:

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab, “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS.An-Nisa’:97)

 

Ayat ini turun berkenaan dengan Umat Islam yang masih tinggal di Makkah, tidak mau berhijrah ke Madinah, terutama Umat Islam yang berada di blok kafir Quraiys untuk memerangi Rasulullah dalam Perang Badr. Jadi, ketika sudah ada Madinah sebagai daerah kekuasaan Umat Islam yang dipimpin oleh Rasulullah maka Umat Islam yang ada di Makkah wajib berhijrah ke Madinah, jika tidak maka mereka inilah Umat Islam yang disebut mendzalimi diri sendiri dalam ayat diatas.

 

Sedangkan kita, kita belum memiliki daerah kekuasaan yang bisa difungsikan seperti Madinah kala itu, kita masih tinggal di Indonesia, atau sedang menjadi gerilyawan jihad dari satu tempat ke tempat lain di dalam Indonesia, atau menjadi buron di Indonesia, atau dipenjara di Indonesia, tetapi kita mengajak Umat Islam yang lain untuk bergabung bersama kita bahkan kita menghukumi Umat Islam dengan hukum atau label yang tidak Islami jika mereka tidak mau bergabung dan berseberangan dengan kita.

 

Kita menghukumi atau melabeli Umat Islam yang duduk di Pemerintahan NKRI baik yang sipil atau militer sebagai thoghut dan pembela thoghut, padahal kita belum pernah mendakwahkan kepada mereka tentang kewajiban mendirikan negara yang berdasar Syareat Islam, atau kita sudah pernah mendakwahkan namun masih berskala kecil, atau kita sudah pernah mendakwahkan namun kita tidak dipercaya oleh mereka karena kita tidak dikenal oleh mereka dan pada diri kita tidak ada kualitas, ilmu dan kemampuan untuk melancarkan jihad terhadap NKRI dan mempersiapkan mendirikan Negara Islam.

 

Bagaimana kita bisa dikenal oleh Umat Islam jika kita belum memiliki jasa apa-apa dalam menjayakan Islam dan Umat Islam. Bagaimana kita bisa mampu mengobarkan jihad untuk melawan NKRI yang begini luas sedangkan untuk mengobarkan Umat Islam agar membiasakan shalat berjama’ah, zakat dan infaq saja kita belum mampu. Bagaimana kita bisa mampu mencari dana buat jihad melawan NKRI dan mempersiapkan mendirikan Negara Islam jika mencari dana buat diri kita sendiri dan keluarga kita saja kita belum mampu. Bagaimana kita bisa mampu membawahi Umat Islam untuk berjihad terhadap NKRI dan mempersiapkan mendirikan Negara Islam jika membawahi keluarga, organisasi kecil, pondok pesantren dan yang semisalnya saja kita belum bisa beres dan belum mampu.

 

Kita harus ingat bahwa Islam itu berfungsi untuk memberikan solusi dari hal-hal yang negatif kepada hal-hal yang positif, dan hukum Islam ditegakkan juga setelah ada solusi. Hal ini dibuktikan bahwa ketika Madinah sudah menjadi daerah kekuasaan Umat Islam dan menjadi solusi bagi Umat Islam untuk menghindar dari penguasaan kafir Quraisy maka turunlah hukum tentang haramnya bertempat tinggal bersama orang-orang musyrik dan berada satu barisan dengan mereka.

 

Adapun kita, kita ingin supaya Umat Islam mendukung perjuangan kita, dan kita menghukumi atau memberi label yang tidak Islami kepada siapa yang tidak bersedia mendukung kita, padahal kita belum punya rencana dan solusi yang jelas buat Umat Islam seandainya mereka bersedia mendukung perjuangan dan jihad kita. Jika misalkan ada dari Umat Islam yang bersedia kita ajak meninggalkan keluarga dan rumah mereka untuk berjihad dengan cara bergerilya bersama kita, lalu kita ajak berjihad sesuai versi kita, maka berapa banyak keluarga dari Umat Islam yang ditinggalkan oleh keluarganya karena berjihad bersama kita kemudian mereka terganggu oleh keadaan karena anggota keluarganya terlibat melakukan aksi-aksi bersama kita. Kalau begitu berarti perjuangan dan jihad kita adalah menciptakan masalah dan gangguan buat Umat Islam bukan menjayakan Islam dan Umat Islam.

 

Lain halnya jika kita memiliki daerah kekuasaan atau front jihad antara kita dengan pihak yang kita anggap sebagai musuh, maka keluarga kita dan Umat Islam yang bergabung dengan kita ditempatkan di daerah kekuasaan kita atau di front yang kita kuasai tersebut, dengan demikian berarti mereka terlindungi.

 

Karena kita belum mampu memberikan solusi seperti Rasulullah maka tidak benar jika kita menghukumi Umat Islam yang tidak mau mendukung kita dengan hukum atau label seperti; condong ke orang kafir, pembela orang kafir, condong ke thoghut, pembela thoghut, tidak cinta Islam, memerangi mujahidin, tidak suka Negara Islam dan label-label yang tidak Islami lainnya.

 

–       Kita akan atau sudah melakukan aksi-aksi yang kita anggap sebagai jihad di jalan Allah dengan cara bergerilya, padahal kita dan keluarga kita sudah diketahui oleh aparat yang berwenang di negara ini, dan keluarga kita juga masih tinggal di negara ini, dengan demikian berarti kita mendzalimi keluarga kita karena pasti mereka terganggu dengan ulah kita.

 

Seandainya kita sudah punya daerah kekuasaan seperti Madinah pada zaman Rasulullah, maka kita bisa melakukan jihad dengan cara-cara seperti itu, karena daerah kekuasaan tersebut menjadi tempat perlindungan yang aman buat keluarga kita, sebagai tempat perlindungan buat kita dan sebagai tempat kembali kita setelah melakukan aksi jihad.

 

–       Kalian melakukan dan mengobarkan jihad terhadap Polisi, sedang kalian masih berada dan bersembunyi diantara masyarakat muslim lainnya, lalu kalian diburu oleh Polisi dan aparat lainnya yang berwenang di negara ini, kemudian masyarakat muslim tersebut terkena dampak negatifnya maka berarti kalian mendzalimi sesama muslim.

 

–       Jika setiap melakukan aksi yang kita anggap sebagai jihad selalu bisa dibongkar oleh aparat yang berwenang di negara ini lalu diburu, ditangkap dan dipenjarakan kita anggap suatu kemenangan, maka kalau begitu tidak ada istilah kalah dalam peperangan. Sedangkan Perang Uhud antara pasukan Islam dan kafir Quraiys yang sama-sama mundur saja dicatat sebagai kekalahan, tetapi kita yang setiap melakukan aksi bisa dibongkar, lalu diburu, kemudian ditangkap dan dipenjarakan saja tidak kita akui sebagai kekalahan.

 

–       Kita sudah tahu bahwa ada kelompok yang disebut dengan Thaifah Manshurah atau Firqah Najiah yang lurus perjuangannya dan selalu menanganya sudah dijamin oleh Rasulullah. Jadi mari kita baca penafsiran atau keterangan yang disampaikan oleh para ulama tentang siapa Thaifah Manshurah itu, lalu kita cocokkan dengan diri dan amal kita. Dan jangan kita terburu-buru menganggap diri kita termasuk Thaifah Manshurah hanya karena kita bisa menentang dan melawan pemerintahan thaghut atau kafir, bisa mengebom, bisa menembak, bisa membunuh, bisa menakut-nakuti orang, bisa lari kesana-kemari dalam rangka jihad, dan bisa selalu membawa bom dan senjata untuk berjihad.

 

–       Untuk membuka front jihad tidak sesederhana yang kita bayangkan dan tidak semudah seperti yang sudah kita lakukan sekarang ini. Mari kita ingat Afghanistan, para pelopor jihad Afghanistan, sebelum mereka mulai mengobarkan jihad melawan Pemerintah Afghanistan yang didukung oleh komunis Rusia, mereka terlebih dahulu mengajak dan memahamkan para mullah (kiyai), para akademisi, para mahasiswa dan seluruh masyarakat Afghanistan tentang berbagai macam hal yang menjadikan mereka harus memulai berjihad melawan pemerintah. Setelah sudah ada dukungan dari masyarakat, barulah mereka memulai melakukan jihad melawan pemerintah.

 

Sedangkan kita, kita belum dikenal oleh siapa-siapa, dakwah kita belum sampai kemana-mana kecuali hanya berkutat di sekeliling kita sendiri saja, dakwah kita ke keluarga sendiri saja belum sampai apalagi ke masyarakat umum, dakwah kita baru sampai di komunitas kita sendiri yang sama-sama sepemikiran dan seperjuangan dengan kita. Padahal NKRI ini lebih luas dan masyarakatnya lebih komplek daripada Negara Afghanistan. Akan tetapi kita sudah memulai mengobarkan jihad bahkan sudah memulainya dengan melakukan aksi-aksi yang kita anggap sebagai jihad. Sebab itulah maka jihad kita tidak bisa berkembang dan tidak bisa memberikan sesuatu yang sesuai dengan tujuan Allah mensyareatkan jihad.

 

–       Tentunya kita sudah mengetahui bahwa yang akan menjadi tentaranya Imam Mahdi adalah pasukan dari Khurasan (Afghanistan dan sekitarnya). Oleh karena itu, jika kalian ingin berjihad dalam bentuk perang secara langsung maka berusaha berangkat ke Afghanistan bergabung dengan mujahidin disana dan berperang bersama mereka. Disana kalian bisa berperang sepuasnya dan juga bisa mempersiapkan diri menjadi tentaranya Imam Mahdi atau ikut andil dalam mempersiapkan generasi mujahidin yang kelak akan menjadi tentaranya beliau. Jika kalian sudah berada disana, maka semoga kelak kalian benar-benar menjadi tentara Imam Mahdi atau setidaknya ikut andil menyiapkan calon tentara beliau, karena lurusnya jihad beliau dan selalu menangnya beliau sudah dijamin oleh Rasulullah.

 

Ini yang benar, bukan memaksakan diri melakukan aksi-aksi jihad di Indonesia yang membawa dampak negatif bagi Islam, bagi Umat Islam dan bagi semuanya.

 

–       Jika tidak mampu dan tidak bisa berangkat ke Afghanistan atau ke tempat lain yang ada medan perang secara langsung kita tetap di Indonesia dengan melakukan hal-hal sebagai berikut:

–       Mari kita memperjuangkan Islam sesuai dengan kemampuan kita dan mengikuti tahapan memperjuangkan Islam sesuai dengan yang pernah ditempuh oleh Rasulullah.

–       Mari kita laksanakan Syareat Islam dan Hukum Islam yang bisa kita laksanakan dan yang sesuai dengan kemampuan kita.

–       Mari kita dakwahkan Islam secara menyeluruh kepada semua pihak sesuai dengan Fiqh Dakwah yang benar.

–       Mari kita berusaha untuk memberikan manfaat buat Islam, buat Umat Islam dan buat semuanya.

–       Mari kita aplikasikan Islam dan kita orang Islam sebagai rahmat bagi semesta alam dalam kehidupan sehari-hari, kepada sesama muslim, kepada non muslim dan kepada apapun yang ada di alam semesta.

–       Mari kita belajar menerapkan Syareat Islam dalam kehidupan sehari-hari dalam diri kita, keluarga kita dan komunitas kita sebelum kita menerapkan dalam negara.

–       Mari kita tunjukkan kepada semua pihak bahwa kita bisa dan pantas berjuang untuk menegakkan kekuasaan atau negara yang berdasarkan Syareat Islam.

–       Mari kita menyadari bahwa kita tidak akan mampu berjihad dan mendirikan negara sendirian supaya kita tidak meremehkan siapapun.

–       Mari kita menyadari bahwa dengan kita melakukan pengeboman dan aksi-aksi kekerasan lainnya maka kita juga menyebabkan masyarakat akhirnya tidak suka kepada Jihad dan Negara Islam.

–       Mari kita menjauhi hal-hal yang bisa menyebabkan masyarakat tidak suka dengan Jihad dan Negara Islam.

–       Mari kita menyadari dan jujur, bahwa faktanya sekarang ini kita tidak memiliki Negara Islam dan belum mampu mendirikan Negara Islam. Oleh karena itu jangan sampai kita memposisikan diri dan bersikap seperti sudah memiliki Negara Islam sehingga kita memaksakan diri untuk melaksanakan syareat perang. Akan tetapi kita harus memposisikan diri seperti pada Periode Makkah yaitu terus berdakwah dan bersabar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *