Wallpaper

KOREKSI TERHADAP PEMIKIRAN JIHAD DAN APLIKASINYA

Memaksakan Diri Untuk Membuka Medan Jihad

Setiap orang Islam yang mengerti tentang keutamaan dan manfaat jihad pasti menginginkan bisa melaksanakannya dan berada di medan jihad. Selain karena keutamaan dan manfaat jihad, orang Islam ingin bisa melaksanakannya juga disebabkan karena jihad memang perintah Allah dan Rasul-Nya.

Yang membuat orang Islam semangat melaksanakan jihad adalah karena Allah memang memerintahkan kepada nabi-Nya untuk mengobarkan semangat jihad kepada kaum muslimin lewat firman-Nya, “Wahai Nabi (Muhammad)! Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang…” (Q.S Al-Anfal : 65).

Oleh karena itu maka sejak pertama kali jihad disyariatkan, umat Islam selalu berlomba-lomba agar bisa turut serta berjihad di medan perang, hingga ketika kekuasaan Islam sudah membentang luas di bawah Khilafah Islamiyah dan hukum jihad menjadi fardhu kifayah pun umat Islam  tetap antusias seperti itu.

Ketika Khilafah Islamiyah sudah runtuh maka banyak Syariat Islam yang tidak bisa dilaksanakan oleh umat Islam termasuk jihad dalam arti perang.

Jika ketika masih ada Khilafah Islamiyah umat Islam wajib melaksanakan jihad setidaknya sekali dalam waktu setahun untuk ekspansi ke negara kafir, maka ketika Khilafah Islamiyah sudah runtuh umat Islam  tidak lagi bisa melakukan jihad walau hanya untuk mengembalikan sejengkal wilayah yang telah terampas atau sedang terjajah .

Keadaan inilah yang membuat sebagian umat Islam di berbagai tempat membikin gerakan dalam rangka usaha agar Khilafah Islamiyah itu kembali lagi, bahkan ada yang menggunakan jihad sebagai jalan perjuangan untuk merebut kembali khilafah itu.

Mereka ini juga selalu berharap agar Allah membuka medan jihad di suatu tempat dan mereka ikut berjihad di sana. Bahkan gerakan ini selalu berupaya untuk menciptakan medan jihad dengan melakukan aksi penyerangan berupa pengeboman dan pembunuhan terhadap orang-orang kafir dan pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh Islam.

Di Indonesia, gerakan ini selain didasari oleh kewajiban melaksanakan jihad dan mengembalikan Khilafah Islamiyah juga didasari oleh kewajiban untuk mengembalikan lagi kekuasaan Islam yang dulu pernah ada yaitu Negara Islam Indonesia (NII). Kami adalah bagian dari gerakan ini. Oleh karena itu setelah kami merasa memiliki kekuatan kami juga merasa berkewajiban menggunakan kekuatan tersebut dalam rangka melaksanakan tujuan-tujuan diatas.

Maka terjadilah pengeboman terhadap Duta Besar Filipina di Jakarta, Bom Gereja Malam Natal di beberapa kota, dan Bom Bali I. Pengeboman-pengeboman yang kami lakukan ini tidak keluar dari tujuan utama kami yaitu  untuk melaksanakan kewajiban jihad dan untuk memulai jihad dengan harapan Allah segera membuka front jihad antara mujahidin dengan pihak kafir dan sekutunya.

Setelah kami pelaku Bom Bali I ditangkap ternyata aksi jihad tetap belanjut, maka terjadilah Bom Marriot I, Bom kedubes Australia, Bom Bali II, Bom Ritz Carlton dan Marriot II, latihan militer (i’dad) di Aceh, perampokan bank di Medan dan lain-lain. Kesemuanya aksi tersebut dilakukan dengan tujuan untuk melaksanakan kewajiban jihad, jihad tidak boleh berhenti, dan karena keyakinan bahwa jika tidak ada yang memulai melakukan jihad maka kapan jihad akan dibuka dan kapan front jihad akan terbentuk.

Semua aksi-aksi dalam rangka jihad tersebut berhasil dibongkar oleh aparat yang berwenang dan mayoritas pelakunya sudah masuk penjara termasuk saya. Jika jujur maka hal ini harus diakui sebagai kegagalan dalam memperjuangkan Islam terutama gagal untuk membuka jihad dan membentuk front jihad.

Dengan kegagalan ini maka untuk bergerak selanjutnya umat Islam yang ingin memperjuangkan Islam harus kembali mengikuti sunnah yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah ketika Beliau dan umat Islam berhasil membentuk front jihad untuk pertama kalinya.

Atau setidaknya mereka harus belajar dari sebab-sebab dibukanya jihad di Afghanistan, di Kasmir, di Filipina, di Bosnia, di Chechnya, di Irak, dan di Ambon atau Poso. Dan mereka juga harus mengkaji dan menganalisa kabar nubuwah Rasulullah tentang akan kembalinya lagi kekuasaan Islam mendekati akhir jaman dibawah kepemimpinan Imam Mahdi dan Nabi Isa a.s.

Jika kembali kepada perjuangan Rasulullah yang membawa terbentuknya front jihad antara Islam dan kafir saat itu, maka bisa disimpulkan bahwa terbukanya front jihad bukan sesuatu yang dipaksakan namun melalui beberapa tahapan perjuangan.

Beberapa tahapan perjuangan itu dimulai dari umat Islam melaksanakan syariat Islam secara sembunyi-sembunyi, dakwah secara sembunyi-sembunyi, sabar dari gangguan orang-orang kafir, mencari tempat hijrah, hingga akhirnya mendapatkan tempat hijrah di Madinah yang menjadi daerah basis yang melatarbelakangi dimulainya perjuangan bersenjata.

Terbukanya front jihad saat itu juga bukan sesuatu yang sudah direncanakan oleh Rasulullah namun melalui beberapa sebab. Diantara sebab itu adalah terusirnya Rasulullah beserta umat Islam dari Makkah dan tetapnya  permusuhan yang dilakukan orang kafir Makkah terhadap umat Islam meskipun mereka sudah pindah ke Madinah.

Sebab inilah yang membuat Rasulullah harus mulai mengangkat senjata dengan mengirimkan pasukan-pasukan untuk menyerang orang-orang kafir Makkah khususnya kafilah dagang mereka agar mereka tidak semakin semena-mena memusuhi umat Islam.

Terjadinya Perang Badr yaitu perang pertama dalam Islam juga awalnya direncanakan oleh Rasulullah untuk mencegat kafilah dagang kafir Makkah yang kembali dari Syam, namun Allah menakdirkan terjadi peperangan besar yang kelak sangat menentukan kelangsungan perjuangan Islam.

Begitu juga jika kembali mengingat terjadinya jihad di Ambon dan Poso, tidak ada dari kalangan umat Islam yang pernah merencanakan dan mempersiapkan  jihad di dua tempat ini. Jihad di dua tempat ini juga bukan dari kalangan mujahidin yang memulai melakukan aksi, mendahului melakukan penyerangan, dan merencanakan membuka jihad di tempat ini.

Saya sempat kaget ketika di Ambon dan di Poso telah dibuka jihad, karena belum pernah ada gambaran sebelumnya kalau di dua tempat tersebut akan dibuka jihad. Dengan demikian bisa diketahui bahwa Allah lah yang membuka jihad di Ambon dan Poso meskipun lewat perantara keganasan orang-orang kafir terhadap umat Islam.

Keganasan yang dilakukan oleh orang-orang kafir itu akhirnya menyebabkan terbentuknya front jihad di Ambon dan Poso, seruan jihad menggema, semangat jihad berkobar, dan menjadikan sebagian umat Islam dari berbagai tempat berlomba-lomba untuk berjihad disana.

Begitu juga jika kita membaca kabar nubuwah dari Rasulullah tentang akan datangnya Imam Mahdi yang menjadi pemimpin umat Islam  dan diantara tugasnya adalah untuk melaksanakan kewajiban jihad. Kabar nubuwah tersebut tidak menerangkan bahwa sebelum diangkat sebagai pemimpin umat Islam  Imam Mahdi sudah melakukan aksi-aksi jihad.

Imam Mahdi memulai melaksanakan kewajiban jihad adalah ketika sudah diangkat sebagai pemimpin umat Islam  dan memiliki kekuasaan. Jihad Beliau pertama adalah untuk membebaskan Jazirah Arab dan menguasainya, selanjutnya melakukan pembebasan ke wilayah-wilayah yang lainnya. Dan wilayah-wilayah yang telah dikuasainya merasakan keadilan sebagaimana sebelumnya merasakan kedzaliman.

Dari contoh dan gambaran dibukanya front jihad pada masa Rasulullah, di Ambon dan Poso yang sudah terjadi, dan masa Imam Mahdi mendekati akhir jaman nanti maka kita bisa menyimpulkan bahwa dibukanya jihad di suatu tempat tidak tergantung pada perencanaan dan tidak bisa dipaksakan. Allah lah yang membuka jihad, Dia yang memilih siapa dari hamba-Nya yang pantas memegang amanat untuk membuka jihad, dan hanya Dia yang mengetahui sebab-sebab dan perantara dibukanya jihad.

Umat Islam yang memahami tentang pentingnya jihad pasti mendambakan kapan jihad akan dibuka, sebab itulah ada dari mereka yang melakukan aksi-aksi dengan harapan Allah membuka front jihad.

Di Indonesia, setelah runtuhnya NII Kartosuwiryo, pada masa Orde Baru ada usaha untuk membuka jihad yang dikenal dengan Komando Jihad, kasus Talang Sari Lampung, kasus Tanjung Priok, dan Bom Borobudur. Kemudian setelah rezim Orde Baru lengser, ada Bom Kedubes Filipina, Bom Gereja, Bom Atrium Senen, Bom Bali I, Bom Marriot I, Bom Kedubes Australia, Bom Bali II, Bom Ritz Carlton  dan Marriot II, latihan di Aceh, perampokan bank di Medan dan aksi-aksi yang lainnya.

Semua usaha ini gagal dan merugikan umat Islam. Saya katakan gagal adalah saya lihat dari sisi kelanjutan perjuangan Islam dan dari sisi tidak berhasil membuka front jihad di Indonesia. Adapun nilai amalnya, Insyaallah ada nilainya di hadapan Allah.

Dari kegagalan-kegagalan tersebut bisa disimpulkan bahwa dibukanya front jihad di suatu tempat bukan semata-mata hanya karena perjuangan umat Islam disitu adalah di jalan yang benar, yang dihadapi adalah orang kafir dan thoghut, niatnya ikhlas karena Allah, untuk melaksanakan syariat Allah, dan mampu melakukan aksi-aksi. Akan tetapi, dibukanya jihad di suatu tempat adalah karena izin dan ridha Allah.

Oleh karena itu jika kita berharap agar Allah membuka jihad di mana kita berada dengan cara melakukan usaha maka kita harus kembali mengikuti usaha yang pernah dilakukan oleh Rasulullah dalam memperjuangkan Islam hingga kala itu Allah membuka front jihad. Mari kita jauhi cara berjuang yang tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah, jauhi melakukan jihad namun yang mendominasi niat kita adalah hawa nafsu, jauhi memaksakan diri untuk membuka jihad hanya dengan cara melakukan aksi kekerasan, mari kita sadari bahwa karena kelemahan dan kekurangan kita maka kita belum mampu membuka front jihad, dan mari kita sadari bahwa kegagalan-kegagalan itu adalah dari kesalahan kita.

 

–  Memaksakan Diri Untuk Melakukan Aksi Jihad

Setelah kami ditangkap saat itu saya punya pendapat dan pendapat tersebut juga saya sampaikan kepada kawan-kawan yang lain agar jangan lagi melakukan pengeboman seperti Bom Bali. Hal ini saya sampaikan, karena jika pengeboman dilakukan lagi maka jaringan kami akan semakin terbongkar dan akan semakin memberi mudhorot kepada perjuangan Islam itu sendiri.

Cukuplah Bom Bali sebagai pengumuman bahwa kami sebagai pejuang Islam mampu melakukan aksi seperti itu. Bom Bali sebagai peringatan dan teror terhadap musuh Islam bahwa kami bisa melawan mereka. Bom Bali sebagai pemberitahuan dan penyemangat buat umat Islam bahwa mempersiapkan kekuatan perang adalah suatu yang disyariatkan dalam Islam dan apa yang kami lakukan di Bali adalah salah satu contoh kekuatan perang yang sudah kami persiapkan.

Saya katakan juga, jika tidak setuju dengan saran saya dan tetap akan melakukan pengeboman maka bomnya harus lebih besar dan lebih dasyat dari Bom Bali, jika tidak bisa lebih dari Bom Bali maka tidak usah melakukan pengeboman. Hal ini saya maksudkan supaya pihak-pihak yang kami anggap sebagai musuh Allah mengetahui bahwasannya kami benar-benar memiliki kemampuan dan kekuatan, sehingga meskipun pelaku Bom Bali sudah ditangkap namun kenyataannya masih bisa melakukan pengeboman lagi bahkan lebih besar dan dasyat dari Bom Bali, dengan demikian akan membuat mereka semakin takut.

Lain halnya jika pengeboman yang dilakukan itu lebih kecil dari Bom Bali maka pihak-pihak yang kami anggap sebagai musuh Allah tidak akan takut kepada kami bahkan mungkin mereka akan tertawa karena ternyata kemampuan dan kekuatan kami semakin berkurang, ini yang saya khawatirkan.

Kekhawatiran saya benar, begitu dilakukan pengeboman di Hotel JW Marriot pada 5 Agustus 2003, di Kedubes Australia pada 9 September 2004, Bom bali II pada 1 Oktober 2005, dan Bom Marriot II dan Ritz Carlton pada 17 Juli 2009, ternyata bomnya lebih kecil dari Bom Bali, berarti menandakan kemampuan semakin berkurang.

Setelah terbongkarnya pelaku pengeboman di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, polisi mengembangkan penyelidikan akhirnya ditemukan tempat kejadian perkara di Jati Asih Bekasi, di tempat tersebut hanya ditemukan bahan bom sama dengan bahan petasan, tidak ada bahan bom standar pabrik dan juga tidak ada bahan bom yang berdaya ledak tinggi. Dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah beberapa percobaan pengeboman yang terjadi pada bulan Desember 2010 di Solo dan sekitarnya yang diletakkan di gereja, di pos polisi dan pom bensin, bom-bom yang ditemukan di tempat kejadian perkara tersebut ternyata kualitasnya lebih rendah dari bom ikan yang biasa digunakan oleh nelayan yang dibuat dari pupuk cap matahari.

Semakin kecilnya bom yang diledakkan berarti semakin berkurangnya kemampuan dan kekuatan para pelaku. Dan semakin seringnya melakukan pengeboman maka semakin banyak pula para pelaku dan yang terlibat membantunya masuk penjara.

Seharusnya hal ini dijadikan sebagai pelajaran, lalu kembali mengingat perjalanan jihad yang telah dicontohkan oleh Rasulullah. Dengan demikian akan didapatkan dimana letak kesalahannya jika dibandingkan dengan jihad masa Rasulullah.

Jihad masa Rasulullah adalah bertahap dari sedikit menjadi banyak dan dari kecil menjadi besar, dan semakin sering dilaksanakannya jihad maka semakin banyak pula dampak positif yang didapatkan oleh umat Islam. Terbalik dengan jihad yang dilakukan sekarang ini, dari besar menjadi kecil, dari banyak menjadi sedikit, dan semakin sering dilakukannya aksi jihad maka semakin banyak pula dampak negatif yang didapatkan oleh umat Islam.

Seharusnya dilihat juga fakta yang terjadi setelah dilakukan aksi-aksi jihad tersebut. Seperti Bom Bali I, memang benar bahwa korban yang meninggal minimal 202 orang dan mayoritas non muslim, akan tetapi siapa mereka apa sebanding dengan para pelaku yang ditangkap dan apa sebanding dengan terganggunya umat Islam yang lain karena pengeboman tersebut. Memang benar bahwa Bom Bali I memberikan kerusakan yang parah di negara yang dihukumi oleh para pelaku sebagai negara thoghut, akan tetapi apakah sebanding dengan terbongkarnya suatu jaringan yang dibangun untuk mendirikan negara yang berdasarkan Syareat Islam.

Contoh lagi adalah Bom Marriot dan Ritz Carlton, memang benar bahwa korban yang meninggal adalah sembilan orang, akan tetapi siapa mereka, apakah mereka pejabat pemerintah Amerika dan sekutunya,  atau apakah mereka tentara Amerika dan sekutunya, dan apakah sebanding dengan para pelaku dari umat Islam yang akhirnya meninggal atau ditangkap. Yang jelas bahwa para korban pengeboman tersebut bukan orang-orang penting yang dimiliki oleh Pemerintah Amerika dan sekutunya.

Dari pemaparan diatas bisa disimpulkan bahwa para pembuat program pengeboman dan pelakunya sebenarnya belum mampu melakukan jihad dengan cara seperti itu namun dimampu-mampukan karena didorong oleh semangat agar tetap bisa melakukan jihad. Mereka hanya bermodalkan keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan adalah dalam rangka jihad, sebab itulah mereka pasti di jalan yang diridhai Allah dan akan selalu ditolong oleh Allah.

Dan mungkin saja mereka juga didorong oleh rasa gengsi jika aksi pengeboman dalam rangka jihad ini dihentikan, tidak mau dianggap sudah tidak memiliki kekuatan lagi dan tidak mau dianggap tidak bisa memberi ketakutan terhadap pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh. Atas dorongan hal-hal tersebut mereka akhirnya tetap memaksakan diri untuk melakukan aksi pengeboman dan semisalnya, meskipun setiap habis melakukan aksi selalu bisa diungkap oleh aparat yang berwenang dan yang terlibat dengan aksi tersebut berhasil ditangkap dan dipenjarakan.

 

–  Mendahulukan Ego Daripada Mengikuti Tahapan Jihad Yang Disyareatkan

Jika kita perhatikan perjalanan Rasulullah dan para sahabat dalam memperjuangkan Islam maka akan kita dapatkan dua periode yaitu periode Makkah dan periode Madinah. Dua periode tersebut jika kita hubungkan dengan tahapan disyariatkannya perang maka akan kita dapatkan bahwa pada periode Makkah perang masih dilarang dan pada periode Madinah perang telah diperintahkan.

Pada periode Makkah, perang belum dilaksanakan karena memang Allah belum memerintahkannya. Saat itu kaum muslimin baru diperintah oleh Allah untuk mengerjakan shalat, menunaikan zakat, membantu orang-orang miskin di kalangan mereka sendiri, bersikap pemaaf, memaafkan perbuatan orang-orang musyrik, dan diperintah untuk bersabar.

Hal ini sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu Abbas r.a., bahwa Abdur Rahman bin Auf dan beberapa orang temannya datang menemui Nabi dan mengatakan, “Wahai Nabi Allah, dahulu kami berada dalam kejayaan ketika kami masih musyrik, tetapi setelah beriman kami malah kalah”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

إنِّي أُمِرْتُ بِالْعَفْوِ فَلَا تُقَاتِلُوا

“Sesungguhnya aku diperintahkan untuk memberi ma’af ( terhadap tindakan orang-orang kafir ), karena itu janganlah kalian memerangi kaum itu.”( HR. An-Nasai )

Beginilah yang diperintahkan oleh Allah dan dilakukan oleh Rasulullah dalam memperjuangkan Islam pada periode Makkah. Yaitu periode ketika Islam belum memiliki kekuatan dan kekuasaan sehingga beberapa sahabat yang ketika masih musyrik mereka berjaya namun setelah menjadi Islam mereka harus bersabar menghadapi kedzaliman yang dilakukan oleh orang kafir, meskipun sebenarnya mereka juga memiliki kemampuan berperang.

Sementara yang terjadi sekarang ini, disaat Islam kembali tidak memiliki kekuasaan, ada sebagian umat Islam yang meniti di jalan jihad ini mereka mefungsikan diri seolah memiliki kekuasaan, mereka maunya melaksanakan kewajiban beperang seolah mereka menjadi bagian dari umat Islam ketika masih memiliki Negara Islam atau Khilafah.

Mereka maunya melaksanakan kewajiban mepersiapkan kekuatan perang secara terang-terangan seolah mereka menjadi bagian dari umat Islam ketika masih memiliki Negara Islam atau Khilafah. Mereka maunya menakut-nakuti orang-orang kafir seolah mereka menjadi bagian dari umat Islam ketika masih memiliki Negara Islam atau Khilafah.

Mereka maunya menghinakan orang-orang kafir seolah menjadi bagian dari umat Islam ketika masih memiliki Negara Islam atau Khilafah. Mereka membenarkan kelompoknya dan menyalahkan kelompok Islam yang lainnya seolah mereka sudah punya Negara Islam atau Khilafah. Mereka maunya bersikap keras terhadap siapapun bahkan terhadap sesama Islam yang tidak sepaham dengan mereka seolah mereka sudah punya Negara Islam atau Khilafah.

Mereka menginginkan bahkan sudah melakukan hal-hal diatas yang sebetulnya hal-hal tersebut hanya mampu dilakukan ketika sudah memiliki Negara Islam atau Khilafah. Mereka menginginkan bahkan sudah melakukan hal-hal tersebut yang dulunya dilakukan oleh Rasulullah ketika pada periode Madinah. Mereka menginginkan bahkan sudah melakukan sesuatu seperti pada periode Madinah sedangkan kemampuan mereka masih pada periode Makkah.

Oleh karena itulah perjuangan mereka gagal. Mereka melanggar adab-adab dalam Islam itu sendiri. Mereka merugikan diri sendiri, keluarga, dan umat Islam. Dan yang dilakukan mereka membawa dampak negatif pada perjuangan Islam.

Mereka melakukan hal-hal tersebut karena didorong oleh keinginan bisa sukses memperjuangkan Islam sebagaimana masa Rasulullah, Khulafaurasyidin,  Khilafah Bani Umayah, Khilafah Bani Abasiyah, dan Khilafah Bani Utsmaniyah. Pada jaman tersebut syariat Islam bisa dilaksanakan secara sempurna, Islam kuat, Islam memiliki kekuasaan, Islam berjaya, Islam mampu memerangi orang kafir dan musyrik manapun, tidak ada yang menghinakan orang Islam, tidak ada umat Islam yang terjajah, dan tidak ada yang mampu menghalangi tersebarnya agama Islam.

Masa keemasan Islam inilah yang membuat mereka terobsesi untuk melakukan tindakan-tindakan seperti yang pernah dilakukan oleh umat Islam pada masa keemasan tersebut atau setidaknya mereka ikut melakukan usaha untuk mengembalikan masa keemasan tersebut yang telah hilang.

 

Padahal jika mereka meneliti kembali perjalanan untuk mencapai masa keemasan itu mereka akan menemukan proses terjadinya masa keemasan tersebut yang diantaranya adalah adanya periode Makkah dan periode Madinah.

Periode Makkah adalah periode umat Islam belum memiliki kekuatan dan kekuasaan sehingga umat Islam harus sabar menahan tangan dalam memperjuangkan Islam.

Dan periode Madinah adalah periode umat Islam sudah memiliki kekuatan dan kekuasaan sehingga umat Islam harus menggunakan kekuatan perang dalam memperjuangkan Islam jika diperlukan.

Adapun yang dilakukan oleh mereka, mereka sudah menggunakan kekuatan padahal kemampuan mereka dalam memperjuangkan Islam ini sebenarnya baru sampai pada periode Makkah. Seharusnya mereka sadar bahwa tahapan mereka dalam memperjuangkan Islam baru sampai kepada harus bersabar dan menyusun kekuatan dengan melakukan aktifitas yang tidak terlalu melawan arus.

Akan tetapi, karena mereka mendahulukan egonya yaitu merasa memiliki kekuatan dan kemampuan maka periode dan tahapan dalam memperjuangkan Islam ini tidak dilalui sehingga mudhorotnya kembali kepada perjuangan itu sendiri.

 

–  Melakukan Jihad Ofensif Sebelum Memiliki Kekuasaan

Jika memperhatikan beberapa aksi pengeboman yang terjadi di Indonesia maka tidak bisa terlepas dari membicarakan jihad, karena aksi-aksi tersebut diniatkan untuk melaksanakan kewajiban jihad di jalan Allah. Oleh sebab itu, sebelum saya mengoreksi terhadap melakukan jihad ofensif sebelum memiliki kekuasaan, terlebih dahulu saya akan mengartikan jihad ofensif secara singkat dan menyebutkan pengeboman-pengeboman yang terjadi di Indonesia.

Jihad ofensif adalah mendahului melakukan penyerangan terhadap pihak musuh.

Adapun pengeboman-pengeboman yang saya maksud adalah sebagai berikut:

 

1.Bom Kedubes Filipina 1 Agustus 2000.

-Sasaran: Duta Besar Filipina untuk Indonesia.

-Tempat: Di kediaman Duta Besar Filipina di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat.

-Latar Belakang: Adanya peperangan antara mujahidin Bangsa Moro dengan Pemerintah Filipina.

 

2. Bom Gereja Malam Natal 25 Desember 2000.

-Sasaran: Orang-orang Kristen dan kepentingan mereka.

-Tempat: Di Mojokerto, Bandung, Jakarta, dan Sumatera.

-Latar Belakang: Adanya penyerangan yang dilakukan oleh orang-orang Kristen terhadap umat Islam di Ambon dan Poso.

 

3. Bom Atrium Senen 1 Agustus 2001.

-Sasaran: Para Pendeta yang mengadakan pertemuan di tempat tersebut.

-Tempat: Di Atrium Senen Jakarta Pusat.

-Latar Belakang: Adanya penyerangan yang dilakukan oleh orang-orang Kristen terhadap kaum muslimin di Ambon dan Poso.

 

4.Bom Bali I 12 Oktober 2002.

-Sasaran: Para turis asing yang dimungkinkan adalah orang-orang kafir yang berasal dari Amerika dan sekutunya.

-Tempat: Di Jalan Legian Kuta Bali di dalam Paddy’s Pub dan di depan Sari Club.

-Latar Belakang: Merealisasikan program jihad dunia yang dimotori oleh Usamah bin Laden dan karena serangan Amerika dan sekutunya ke Afghanistan.

 

5. Bom Hotel JW Marriot 5 Agustus 2003.

-Sasaran: Para turis asing yang dimungkinkan adalah orang-orang kafir yang berasal dari Amerika dan sekutunya serta kepentingan-kepentingan mereka.

-Tempat: Di Hotel JW Marriot Jakarta.

-Latar Belakang: Sama dengan pengeboman di Bali, hanya saja pengeboman ini juga untuk meneruskan jihad setelah mayoritas pelaku Bom Bali sudah ditangkap dan dipenjara.

 

6.Bom Kedubes Australia 9 September 2004.

-Sasaran: Kedubes Australia dan kepentingannya.

-Tempat: Di Kuningan, Jakarta Selatan.

-Latar Belakang: Negara Australia sebagai sekutu Amerika, dan juga karena Pemerintah Australia bekerja sama dengan Indonesia dalam menangkap orang-orang yang terlibat aksi teror yang diyakini sebagai aksi jihad di jalan Allah.

 

7. Bom Bali II 1 Oktober 2005.

-Sasaran: Sama seperti Bom Bali I yaitu para turis asing yang dimungkinkan adalah orang-orang kafir yang berasal dari Amerika dan sekutunya.

-Tempat: Kafe di Jimbaran dan Kuta.

-Latar Belakang: Sama dengan Bom Bali I yaitu merealisasikan program jihad dunia yang dimotori oleh Usamah bin Laden, karena serangan Amerika dan sekutunya ke Afghanistan. Selain itu adalah untuk meneruskan jihad setelah mayoritas pelaku Bom Bali I sudah ditangkap dan dipenjara.

 

8. Bom Hotel JW Marriot dan  Ritz Carlton 17 Juli 2009.

-Sasaran: Sama dengan Bom Marriot yang pertama yaitu para turis asing yang dimungkinkan adalah orang-orang kafir yang berasal dari Amerika dan sekutunya serta kepentingan-kepentingan mereka. Hanya saja pada pengeboman kali ini konon juga ditujukan secara khusus kepada orang-orang penting yang dianggap sebagai musuh Islam dari beberapa negara yang mengadakan pertemuan di hotel tersebut

-Tempat: Di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton Jakarta.

-Latar Belakang:Untuk meneruskan program pengeboman-pengeboman sebelumnya yang diyakini sebagai aksi jihad di jalan Allah.

 

Jika dilihat dari situasi dan kondisi sebelum dilancarkan aksi pengeboman-pengeboman di atas maka aksi-aksi itu termasuk jihad ofensif. Hal ini disebabkan karena para pelakunya mendahului melakukan penyerangan di wilayah hukum Indonesia, sedangkan belum ada front jihad langsung antara pelaku penyerangan dengan Pemerintah Indonesia.

Berbeda dengan jihad di Ambon dan Poso, meskipun sama-sama di Indonesia, jihad di sana adalah jihad defensif karena saat itu orang Kristen yang mendahului melakukan penyerangan tehadap umat Islam maka jihad tersebut adalah untuk mempertahankan diri dan pembalasan.

Sudah diketahui bersama bahwa para pelaku aksi pengeboman-pengeboman tersebut adalah orang Indonesia,  kecuali DR. Azhari dan Noordin Moh Top. Mereka belum memiliki wilayah kekuasaan, mereka masih tinggal di Indonesia, keluarga mereka juga tinggal di Indonesia, bekerja mencari nafkah di Indonesia, berdakwah di Indonesia, melakukan aktifitas keagamaan di Indonesia, mempersiapkan penyerangan di Indonesia, kembali dari melakukan penyerangan juga di dalam Indonesia, bahkan ketika jadi buron pun larinya juga masih di dalam Indonesia.

Ketika keadaan para pelaku belum memiliki kekuasaan seperti ini kemudian memaksakan diri untuk melakukan jihad ofensif maka pasti ada dampak negatif yang ditimbulkannya diantaranya adalah berurusan dengan aparat berwenang di negara ini yang akan menyebabkan mereka tidak bisa mendakwahkan Islam secara leluasa, tidak ada tempat tinggal yang aman, tidak bisa melindungi keluarganya, dan keluarga serta orang-orang yang ada hubungan dengannya akan terkena imbas negatifnya.

Berbeda dengan jika para pelaku sudah memiliki kekuasaan, mereka bertempat tinggal di wilayah kekuasaannya, keluarganya tinggal dan berlindung di sana, merencanakan dan mempersiapkan jihad dari sana, kembali dari melakukan jihad ke sana, dan jika dikejar oleh musuh mereka berlindung dan mempertahankan diri di sana.

Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah ketika memulai melaksanakan kewajiban jihad. Terlebih dahulu Beliau memiliki kekuasaan di Madinah sehingga aktifitas-aktifitas jihad dilakukan disana.

Ini yang tidak diperhitungkan oleh para pelaku, mereka hanya memperhitungkan bahwa jalan mereka ini adalah jalan yang benar karena untuk melaksanakan kewajiban jihad di jalan Allah. Mereka tidak memperhitungkan, bahwa jika mereka melaksanakan jihad ofensif sementara mereka belum memiliki wilayah kekuasaan sendiri, maka mereka harus pergi dan berlindung keman jika dikejar oleh aparat yang berwenang atau pihak musuh, keluarga mereka harus berlindung dimana, apakah mereka mampu bergerilya, jika mereka mampu bergerilya apakah masyarakat setempat juga mendukung gerilya mereka sedangkan dukungan masyarakat adalah faktor utama keberhasilan bergerilya.

Mereka tidak memperhitungkan hal-hal tersebut, kalaupun memperhitungkannya mereka tidak mengindakan perhitungan-perhitungan itu karena masih dikalahkan oleh keyakinan bahwa semua itu liku-liku dan resiko perjuangan di jalan Allah.

Belum adanya wilayah kekuasaan inilah yang menjadi sebab utama jihad mereka akhirnya membuahkan mereka harus dikejar oleh aparat yang berwenang, lalu ditangkap, kemudian dimasukkan penjara. Selain mereka, keluarga dan teman-teman mereka yang terlibat membantu juga harus dikejar, ditangkap dan masuk penjara.

Yang tidak terlibat membantu pun harus merasakan dampak negatifnya yaitu istri ditinggal suami karena suaminya membantu pelaku, anak ditinggal  ayah karna ayahnya membantu pelaku, orang tua ditinggal anak karena anaknya membantu pelaku, murid ditinggal guru karena gurunya membantu pelaku, dan Pondok Pesantren terganggu karena dijadikan persembunyian oleh pelaku dan orang yang membantu pelaku.

Lain halnya jika para pelaku jihad tersebut sudah memiliki wilayah kekuasaan maka dampaknya tidak akan seperti itu. Oleh karena itu, jika tidak ingin mendapatkan dampak negatif sebagaimana yang sudah terjadi maka harus kembali mengikuti sunah Rasulullah yaitu tidak akan melakukan jihad ofensif sebelum memiliki wilayah kekuasaan.

 

–  Mendahulukan Fa’i Sebelum Jihad

Jika diamati perjalanan jihad di Indonesia akhir-akhir ini maka ada kejanggalan yang dilakukan oleh sebagian mereka yang meniti di jalan jihad ini yaitu membolehkan melakukan perampokan untuk mendanai jihad. Pembolehan ini setidaknya berdasarkan kepada halalnya harta benda milik orang kafir dan juga karena Indonesia bukan Negara Islam maka hukumnya sama dengan negara kafir dan statusnya sebagai negara perang (darul harby).

Oleh karena itu maka boleh melakukan perampokan terhadap hak milik orang kafir, hak milik negara, hak milik pemerintah, dan hak milik pihak-pihak yang berhubungan dengan negara dan pemerintah.

Pembolehan melakukan pengambilan dan perampokan ini juga berdasarkan bahwa menurut Islam, darah dan harta orang kafir yang tidak terikat dengan perjanjian adalah halal.

Untuk mengoreksi pemahaman diatas maka kita harus kembali memperhatikan proses dihalalkannya harta benda milik orang kafir yang telah dilakukan oleh Rasulullah.

Ketika Allah mewajibkan jihad kepada Rasulullah dan umat Islam saat itu Allah juga menghalalkan rampasan perang buat mereka. Penghalalan rampasan perang tersebut adalah salah satu pengkhususan yang diberikan oleh Allah kepada Rasulullah yang tidak diberikan kepada Nabi selainnya melalui sabda Beliau, “Dan dihalalkan kepadaku ghanimah (rampasan perang)”.

Oleh karena itu maka sejak Rasulullah memulai melaksanakan kewajiban jihad terhadap orang kafir Quraisy dengan cara mengirim beberapa sahabat untuk menyerang kafilah dagang mereka, saat itu harta benda mereka juga dijadikan sebagai rampasan. Seiring dengan semakin seringnya pengiriman pasukan dan peperangan  maka semakin banyak pula harta rampasan yang diperoleh oleh umat Islam.

Harta benda rampasan dari orang kafir yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah dan ditetapkan dalam Al-Qur’an ada dua macam yaitu ghanimah dan fa’i.  Ghanimah adalah rampasan yang diperoleh dari orang kafir melalui perang. Sedangkan fa’i adalah rampasan yang diperoleh dari orang kafir dengan cara selain perang seperti harta benda yang ditinggalkan oleh mereka karena ketakutan.

Harta benda rampasan dari orang kafir itu bisa didapatkan oleh umat Islam seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah adalah ketika umat Islam sudah memiliki kekuasaan. Selain sudah memiliki kekuasaan juga setelah ada front jihad dengan orang kafir, dalam situasi dan kondisi perang, tidak dalam masa perjanjian, dan cara mendapatkannya dibawah kendali Rasulullah.

 

Yang dimaksud dengan dibawah kendali Rasulullah adalah dibawah perintah dan aturan Beliau sebagaimana pada pengiriman pasukan dan peperangan. Salah satu contoh pengendalian yang dilakukan oleh Rasulullah terhadap harta rampasan adalah sabda Beliau, “Barang siapa yang membunuh musuh maka rampasannya buat dia”.

Adapun yang dilakukan oleh sebagian mereka yang mengklaim melakukan perjuangan demi jihad sekarang ini adalah berbeda dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah. Mereka melakukan perampokan atas dasar fa’i padahal fa’i yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah bukan seperti itu. Mereka melakukan perampokan atas dasar fa’i padahal adanya fa’i seperti yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah adalah setelah Beliau memiliki kekuasaan.

 

Adanya fa’i masa Rasulullah adalah setelah jihad, sementara saat ini  melakukan fa’i sebelum jihad.

 

Mereka melakukan perampokan atas dasar fa’i padahal belum ada front jihad antara mereka dengan pihak yang dirampok. Mereka melakukan perampokan atas dasar fa’i dalam rangka mencari dana untuk memulai jihad padahal fa’i yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah adalah setelah terbentuk front jihad. Mereka melakukan perampokan atas dasar fa’i padahal tidak dalam situasi dan kondisi perang dengan pihak yang dirampok, berbeda dengan yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah, adanya fa’i saat itu adalah karena adanya peperangan antara umat Islam dengan pihak musuh.

 

Mereka melakukan perampokan atas dasar fa’i padahal belum memiliki pemimpin yang memenuhi syarat untuk menjadi pemimpin, berbeda dengan yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah.

 

Jika mereka melakukan perampokan itu hanya berdasar kepada halalnya harta orang kafir maka dasar tersebut adalah sangat lemah. Hal ini disebabkan karena sejak diwajibkannya jihad terhadap orang kafir maka sejak itu pula dihalalkan juga harta benda mereka, akan tetapi Rasulullah tidak memerintahkan melakukan perampokan seperti yang dilakukan sekarang ini.

 

Jika perampokan untuk mendanai jihad seperti sekarang ini sesuatu yang dibolehkan dalam Islam maka tentunya hal ini pasti sudah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat. Namun kenyataannya tidak demikian, dan hal ini bisa dibuktikan, bahwa setiap Rasulullah mau melakukan peperangan Beliau selalu mengobarkan semangat berinfak kepada umat Islam untuk kepentingan jihad di jalan Allah.

 

Salah satu contoh adalah ketika Rasulullah mempersiapkan Perang Tabuk, saat itu Beliau memerintahkan kepada umat Islam agar menginfakkan harta bendanya untuk mendanai peperangan dan tidak memerintahkan merampok.

Jika mereka melakukan perampokan itu berdasar kepada apa yang dilakukan oleh Abu Bashir dan Abu Jandal beserta pengikutnya yang melakukan pembegalan atau perampokan maka dasar tersebut juga lemah. Hal ini disebabkan karena apa yang dilakukan oleh Abu Bashir dan Abu Jandal beserta pengikutnya itu adalah inisiatif mereka bukan perintah Rasulullah.

 

Selain itu, apa yang dilakukan oleh Abu Bashir dan Abu Jandal beserta pengikutnya adalah disebabkan kedzaliman yang dilakukan oleh orang kafir Quraisy yang menjadikan mereka terusir dari kampung halamannya sendiri. Karena kedzaliman tersebut maka terbentuk front antara Abu Bashir dan Abu Jandal beserta pengikutnya yang berbasis di Pantai Ish dengan kafilah dagang kafir Quraisy yang melintas di daerah itu.

 

Dan yang menjadi sasaran pembegalan atau perampokan yang dilakukan oleh Abu Bashir dan Abu Jandal beserta pengikutnya adalah hanya terhadap orang kafir Quraisy dan sekutunya yang melarang mereka melaksanakan syariat Islam dan menyebabkan mereka terusir dari Makkah kampung halamannya sendiri.

 

–  Tidak Tepat Dalam Menjalankan I’dad

Mempersiapkan kekuatan perang adalah amalan yang diperintahkan oleh Allah dan sudah dicontohkan oleh Rasulullah semenjak syariat jihad diturunkan. Ini juga diikuti oleh umat Islam yang setia mengikuti sunnah Rasulullah yang menggunakan jihad sebagai jalan perjuangan sehingga mereka memiliki kekuatan dan kekuasaan membentang luas selama berabad-abad.

 

Oleh karena itu maka wajar jika masih terus saja ada sebagian dari umat Islam yang selalu berusaha untuk mempersiapkan kekuatan perang demi merealisasikan perintah Allah dan supaya Islam berjaya seperti ketika masih memiliki kekuasaan.

 

Meninggalkan kewajiban mempersiapkan kekuatan perang adalah kemaksiatan. Oleh karena itu kami dan kelompok jihadis lainnya selalu berusaha untuk bisa melaksanakannya. Selain untuk melaksanakan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah, mempersiapkan kekuatan perang adalah suatu keharusan karena dengan memiliki kekuatan perang maka memungkinkan kekuasaan Islam akan terbentuk lagi.

 

Karena tujuan inilah saya bisa sampai di Afghanistan dan hal ini selalu saya syukuri.  Dan saya yakin bahwa kawan-kawan yang mendapat kesempatan ke Afghanistan dengan tujuan yang sama juga selalu mensyukurinya. Kami mensyukurinya karena di sana kami bisa melaksanakan kewajiban mempersiapkan kekuatan perang dengan bebas tanpa ada larangan dari penguasa tidak seperti di negara kami.

 

Kami bisa bebas belajar taktik berperang, penggunaan senjata, pembuatan bom dan ilmu militer lainnya. Kemudahan itu semua disebabkan karena kami berada di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan milik Tandzim Ittihad Islami Afghanistan yang memiliki kekuatan dan kekuasaan meskipun saat itu tidak berbentuk negara.

Setidaknya seperti di Afghanistan itulah tempat mempersiapkan kekuatan perang yang bisa dilakukan secara maksimal dan terang-terangan. Hal ini juga sudah dicontohkan oleh Rasulullah, beliau mulai mempersiapkan kekuatan perang ketika sudah memiliki kekuasaan sendiri yaitu di Madinah.

Adapun melakukan persiapan kekuatan perang di tempat-tempat yang masuk wilayah kekuasaan tertentu yang tidak mendukung program i’dad dan jihad maka mempersiapkan kekuatan perang di situ tidak akan bisa dilaksanakan secara maksimal dan terang-terangan. Hal ini disebabkan, karena jika melakukan persiapan kekuatan perang di tempat-tempat yang masuk wilayah kekuasaan tertentu maka penguasa setempat pasti melarangnya bahkan akan menghukum para pelakunya sesuai dengan hukum yang berlaku.

 

Jika tetap ada yang memaksakan diri melakukan persiapan perang di tempat-tempat yang seperti itu, padahal mereka belum mampu melawan kekuatan yang ada dan belum mampu menciptakan front jihad antara mereka dengan penguasa yang ada, maka hanya akan merugikan diri mereka sendiri dan kelompoknya.

Hal ini terjadi di Aceh, ketika ada sekelompok umat Islam yang meniti di jalan jihad mengadakan latihan militer untuk merealisasikan kewajiban i’dad atau  mempersiapkan kekuatan perang, maka Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh kepolisian memburu dan menangkapi mereka, karena kegiatan yang seperti ini memang melanggar hukum yang berlaku di Negara Indonesia.

 

Menafikan Kuantitas Dalam Berjihad

 

Jihad adalah amal ibadah yang berbeda dengan ibadah-ibadah yang lainnya. Selain termasuk ibadah yang harus dilakukan secara berjama’ah, kuantitas atau jumlah umat Islam yang melakukannya juga harus diperhatikan demi suksesnya pelaksanaan ibadah jihad. Ini disebabkan karena jihad adalah ibadah yang ada hubungannya dengan pihak lain sebagai lawan dan musuh. Oleh karena itu jumlah pasukan Islam harus disesuaikan dengan jumlah pasukan lawan demi mendapatkan hasil yang positif dari jihad yang dilakukan.

Hal ini sepei yag ditunjukkan oleh Allah dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَفْقَهُونَ .

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) diantaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.” (Al-Anfal 65)

 

 الآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا فَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal 66)

 

Memang benar bahwa dalam jihad jumlah bukanlah faktor utama penyebab kemenangan atau kekalahan. Hal ini sudah dibuktikan sejak pertama kali jihad disyariatkan bahwa belum pernah terjadi jumlah pasukan mujahidin lebih banyak dari jumlah lawan. Ini juga terjadi pada umat Nabi Musa. Hal ini dibuktikan dan dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya:

 

 كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ  

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah.” (Al-Baqarah 249)

 

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (At-Taubah 25)

 

Meskipun jumlah bukanlah faktor penyebab kemenangan namun menyesuaikan jumlah pasukan Islam dengan jumlah musuh adalah suatu keharusan yang hal ini diisyaratkan oleh Allah dalam Surat Al-Anfal ayat 65 dan 66. Pada dua ayat tersebut juga menunjukkan bahwa jumlah pasukan Islam dalam menghadapi jumlah pasukan musuh itu tergantung pada kualitas mereka. Pada ayat 65  menunjukkan bahwa kualitas satu orang Islam yang kuat mampu menghadapi sepuluh orang musuh dan pada ayat 65 menunjukkan bahwa kualitas satu orang Islam yang lemah hanya mampu menghadapi dua orang musuh.

Menyesuaikan jumlah pasukan Islam dengan jumlah pasukan musuh juga ditunjukkan oleh Rasulullah ketika menghadapi orang-orang kafir Quraisy dalam Perang Badr. Waktu itu Rasulullah dan para Sahabat berjumlah sekitar 319 orang menghadapi pasukan kafir Quraisy berjumlah 1000 orang. Karena melihat jumlah pasukan yang tidak seimbang inilah diantaranya yang melatarbelakangi Beliau berdoa:

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِى مَا وَعَدْتَنِى اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِى اللَّهُمَّ إِنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةُ مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِى الأَرْضِ

“Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, datangkanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau hancurkan kelompok kecil dari umat Islam ini Engkau tidak akan diibadahi di muka bumi.” (HR.Muslim dan Tirmidzi).

 

Adapun kami, yang jika dikumpulkan hanya berjumlah sekitar 30 orang saja,  memulai jihad dengan melakukan pengeboman di Kedutaan Besar Filipina di Jakarta, di Gereja Malam Natal di beberapa kota, di Atrium Senen Jakarta, dan di Bali, yang berarti kami menantang NKRI yang jumlah kekuatannya POLRI dan TNI sekitar 600.000 orang.

Kami memulai jihad dengan jumlah yang tidak sesuai dengan disiplin ilmu apapun ini membuat kami belum berperang dengan NKRI saja kami sudah dikalahkan melalui tangan polisi dengan ditangkapnya mayoritas pelaku pengeboman setelah terbongkarnya Bom Bali.

Kenyataan seperti ini tidak dijadikan pelajaran oleh yang lainnya. Bahkan mereka semakin semangat dan selalu mengobarkan semangat bahwa jihad yang seperti itu harus terus dilakukan dan tidak boleh berhenti. Semangat yang tidak dibarengi dengan ilmu dan strategi yang benar inilah membuat mereka tetap mengebom lagi dan mengebom lagi dan melakukan aksi-aksi teror lainnya. Padahal setiap selesai melakukan aksi pasti bisa dibongkar oleh polisi lalu mereka dikejar, ditangkap dan dipenjarakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *