Wallpaper

KESAKSIANKU BUAT UMAR PATEK

Suatu hari saya didatangi oleh Polisi dari Detasemen Khusus 88 Anti Teror memberitaukan bahwa Umar Patek ditangkap di Pakistan.Saat itu saya jawab, jika Umar Patek benar sudah ditangkap maka saya  mohon agar bisa dibawa kembali ke Indonesia saya siap jadi saksi atas keterlibatannya dalam Bom Bali, dan tolong permohonan saya ini disampaikan kepada pihak-pihak yang berwenang dalam urusan ini.

Permohonan saya ini seolah-olah berlebihan karena berarti memohon agar Umar Patekdiseret ke pengadilan dan dihukum.Jadi wajar ada kawan yang menyalahkan saya ketika mengetahui bahwa saya memohon seperti itu dan siap menjadi saksinya Umar Patek, karena dengan bersedia menjadi saksi berarti saya terlibat menjebloskan kawan sesama muslim ke penjarayang hal ini dilarang oleh Islam.

Terhadap pendapat kawan ini saya memberikan jawaban, bahwa kenyataannya Umar Patek sudah ditangkap dan kamisebagai pelaku Bom Bali yang sudah ditangkap sebelumnya di BAP dan di persidangan juga sudah menyebutkan namanya sebagai salah satu dari pelaku Bom Bali.Kalau kami tidak mau jadi saksi maka kemungkinan polisi dan pemerintah Indonesia tidak akan bisa mengambilnya di Pakistan. Jika demikian maka UmarPatek akan tetap dipenjara di Pakistan atau diserahkan ke Philipina atau bahkan diambil oleh Amerika dan dibawa kesana. Jika demikian maka keadaan dan keberadaannya akan lebih buruk daripada jika di Indonesia meskipun sama-sama dipenjara.

Selain karena tidak rela jika UmarPatek dipenjara diluar Indonesia saya juga berharap dengan keberadaannya di Indonesia dia bisa saya ajak bersama-sama untuk mencegah supaya tidak ada lagi aksi pengeboman atau aksi-aksi kekerasan semisalnya. Ini disebabkan karena ketika masih jadi buron Umar Patek diidolakan dan djadikan icon jihad oleh kawan-kawan jihadis, maka denganadanya dia diIndonesia saya berharap dia bisa mengarahkanmereka untuk tidak melakukan jihad dengan pengeboman atau aksi-aksi kekerasan semisalnya.

Saya berharap seperti itu kepada UmarPatek karena saya tahu bahwa dia tidak setuju dengan aksi jihad yang dilakukan di tempat-tempat yang tidak ada medan perang secara langsung seperti Bom Bali dan semisalnya. Adapun keterlibatannya di Bom Bali, itu disebabkan karena mengikuti seniornya yaitu Mukhlas dan Abdul Matin yang dianggapnya lebih berilmu dari dirinya.Dan keterlibatannya dalam kepemilikan senjata api dan amunisi ilegal, itu sudah menjadi keharusan bagi kami sebagai alat untuk menjaga diri dan persiapan manakala suatu saat kami harus menghadapi peperangan.

Itulah keinginan saya terhadap UmarPatek. Oleh karena itu ketika kami bertemu dalam rekontruksi di Bali yang paling penting saya tanyakan ke dia adalah apakah dia sudah mengajarkanilmu militer, pengetahuan perang dan cara pembunuhan kepada orang lain setelah dia jadi buronkhususnya ketika di Indonesia. Hal ini saya tanyakan karena saya kuatir, jangan-jangan dia sudah mengajarkan ilmu-ilmu tersebut kepada kawan-kawan generasi muda yanghanya didasari oleh emosional untuk melaksanakan jihad. Karena kalau kawan-kawan yang seperti ini sudah diajari tentang ilmu-ilmu yang begituan maka akan sangat berbahaya, sebab ada yang ibaratnya belum bisa membedakan antara potasium klorat dan potasium nitrat saja sudah melakukan pengeboman apalagi jika tahubanyak tentang bom dan tahu banyak tentang cara pembunuhan.

Saat itu Umar Patek menjawab bahwa dia belum pernah mengajarkan ilmu-ilmu yang saya maksud kepada siapapun.Dia ada di Indonesia adalah dalam rangka perjalanan hijrah ke Afghanistan karena berangkat dari Philipina tidak akan bisa. Oleh sebab itu ketika Abdul Matin mengajaknya untuk ikut mengurus latihan militer di Aceh dia tidak mau, hingga beberapa kali Abdul Matin membujuknya tapi dia tetap tidak mau.Saya lega mendengar jawaban UmarPatek bahwa dia belum pernah mengajarkan ilmu-ilmu yang saya maksud yang berarti tidak akan ada yang melakukan aksi pengeboman atau aksi kekerasan semisalnya lantaran dia.Dan saya percaya jawabannya, karena setahu saya dia memang tidak setuju melakukan aksi jihad di tempat yang tidak ada medan perang secara langsung maka tidak mungkin dia mengajarkan ilmu-ilmu tersebut ke sembarang orang di Indonesia.

Keterlibatan UmarPatek dalam Bom Bali hanya bagian dari tim peracik bom, yaitu kawan-kawan yang bertugas mencampur antara potasium klorat, belerang dan bubuk alumunium.  Namun karena kami yang ditangkap pertama-pertama sudah memasukkannya sebagai pelaku utama Bom Bali dan dia belum berhasil ditangkap selama bertahun-tahun maka kebanyakan orang menyangkabahwa Umar Patek adalah tokoh teroris yang mendunia yang perannya banyak di Bom Bali dan sudah banyak melakukan aksi teror. Sangkaan-sangkaan seperti ini juga diperkuat oleh pernyataan beberapa pengamat yang berlebih-lebihan padahal sebetulnya mereka tidak kenal dan mengerti tentang UmarPatek, diantaranya bahwa Umar Patek adalah asisten korlap Bom Bali dan dia salah satu sayap militer al-Qaida. Perkataan ini jelas mengada-ada karena saya yang menjadi korlap Bom Bali tidak pernah diasisteni oleh UmarPatek, dan bagaimana diabisa jadi salah satu dari sayap militer al-Qaidapadahal sepengetahuan saya dia tidak pernah sampai masuk jaringan al-Qaida.

Sejak saya tertangkap saya selalu berharap dan berpesan kepada kawan-kawan yang masih DPO agar mereka tidak melakukan aksi pengeboman lagi. Jika mereka tidak mau ditangkap dan mau terus melakukan aksi jihad hendaknya mereka lari ke luar negeri yang disana ada medan perang secara langsung. Jika tidak mau lari ke luar negeri, hendaknya tetap di Indonesia namun tidak usah melakukan hal-hal yang mengancam keamanan mereka dan merugikan perjuangan itu sendiri. Dan harapan saya kepada UmarPatek secara pribadi, agar dia kembali ke Philipina karena sejak pulang dari Afghanistan dia selalu ada di Philipina dan baru pulang ke Indonesia beberapa bulan sebelum Bom Bali.

Saya ikuti terus perkembangan pelarian kawan-kawan khususnya yang jadi DPO Bom Bali. Sesuai dengan harapan saya ternyata benar Umar Patek sudah berada di Philipina, dan bertahun-tahun saya ikuti kabarnya memang dia selalu ada disana. Namun, akhir-akhir ini, bersamaan terbongkarnya latihan militer di Aceh, saya dapat kabar bahwa Umar Patek ada di Indonesia. Saat itu saya tetap berharap semoga kembalinya Umar Patek ke Indonesia ini bukan untuk melakukan aksi seperti Bom Bali atau aksi-aksi yang semisalnya.

Selanjutnya saya dapat kabar bahwa Umar Patek ditangkap di Pakistan. Dengan ditangkapnya Umar Patek di Pakistan saya bisa memperkirakan bahwa kembalinya dia ke Indonesia adalah dalam rangka usaha untuk bisa berangkat ke Pakistan dan Afghanistan agar bisa berjihad di medan jihad yang sesungguhnya yang sudah menjadi tujuannya sejak lama. Dan dengan ditangkapnya Umar Patek di Pakistan makaterkabul lah harapan saya karena dia memang tidak lagi melakukan aksi jihad di Indonesia seperti Bom Bali atau aksi-aksi yang semisalnya.

Setelah UmarPatek berhasil diambil dari Pakistan dan dibawa ke Indonesia saya disidik oleh penyidik Densus 88 sebagai saksinya atas keterlibatannya dalam kasus Bom Bali I. Dalam memberikan keterangan sebagai saksi Umar Patek ini keterangan yang saya sampaikan ada bedanya dengan keterangan saya sebelum-sebelumnya, ada yang saya kurangi dan ada yang saya tambahi. Hal ini bukan berarti saya tidak konsisten dengan keterangan saya, namun ada hal yang setelah saya ingat-ingat lagi dan juga dari keterangan kawan yang lain ternyata kebenarannya tidak begitu. Contohnya; dalam keterangan-keterangan sebelumnya baik ketika saya sebagai terdakwa atau saksi saya menyebutkan bahwa UmarPatek ikut dalam perencanaan dan pembagian tugas Bom Bali yang bertempat di rumah kontrakan Abdul Matin, ternyata tidak, dia hanya disebut dalam pembagian tugas yaitu bagian peracik bom bersama dengan Abdul Ghoni dan  Sawad. Ini yang saya sebut pengurangan.

Adapun yang saya tambah adalah keterangan bahwa Khaidirikut mengantarkan bahan dan perlengkapan pengeboman di Bali. Dalam berita acara pemeriksaan (BAP) dan keterangan saya di persidangan sebelum-sebelumnya saya belum pernah menyebutkan nama Khaidir.Hal ini disebabkan karenadalam BAP kawan-kawan yang ditangkap sebelum sayamereka tidak menyebutkan Khaidir terlibat dalam Bom Bali sedangkan dalam memberikan keterangan saya bersandar kepada BAP mereka. Meskipun demikian tetapi Polisi mengetahui keterlibatan Khaidir dalam Bom Bali, karena saat menjalani proses interogasikawan-kawan menyebutkan semua yang terlibat Bom Bali termasuk Khaidir.

Pada tanggal 22 Maret 2012 saya jadi saksi UmarPatek di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Kesaksian saya di persidangan ini lebih lengkap daripada kesaksian saya ketika diperiksa oleh Polisi dalam BAP. Saya lakukan seperti itu supaya Umar Patek tahu bahwa dalam memberikan kesaksian saya selalu berterus terang dan tidak main-main agar dia meniru sikap saya sebagai salah satu bentuk tanggung jawab karena sudah melakukan pengeboman di Bali dan terlibat terorisme.Saya lakukan seperti itu juga bertujuan supaya semua pihak tahu bahwa pengeboman yang kami lakukan dan keterlibatan kami dalam terorisme ini tidak rekayasa namun fakta dalam rangka melaksanakan jihad yang harus kami pertanggung jawabkan di dunia dan akhirat.

Di akhir kesaksian, saya minta waktu kepada Majlis Hakimuntuk menyampaikan sesuatu yang ringkasnya sebagai berikut: Jika ada yang terlibat aksi teror lalu mengaku bersalah dan menyesal seperti yang sudah saya lakukan maka hal itu wajar dan tidak untuk menipu supaya hukuman kami ringan, karena di kelompok kami sendiri masih terjadi perselisihan tentang boleh dan tidaknya aksi jihad seperti itu.Begitu juga jika UmarPatek mengaku bersalah dan menyesal maka hal itu wajar karena masih adanya perselisihan tersebut dan tentunya selama dalam pelarian dia juga sudah mengkaji ulang sehingga bisa memutuskan bahwa aksi jihad yang seperti itu adalah salah.

Saya juga menyampaikan tanda ketidaksetujuan Umar Patek terhadap pengeboman di Bali,  yaitu ketika terjadi ledakan kecelakaan di kamar tempat kami meracik bom. Setelah ledakan itu Umar Patek berbicara ke saya, “Jangan-jangan jihad yang akan kita lakukan ini salah tidak diridhai oleh Allah dan ledakan ini sebagai peringatan”. Saat itu saya jawab, ”Ya bagaimana lagi kita kan hanya mengikut saja”.

Ada beberapa alasan kenapa orang seperti UmarPatek yang tidak setuju dengan aksi jihad di tempat yang tidak ada medan perang secara langsung namun akhirnya terlibat dalam Bom Bali:

–          Mengikuti seniornya yang dianggap lebih mengetahui tentang Islam dari dia.

–          Mengikuti seniornya yang dianggap melaksanakan program jama’ah atau organisasi yang diikuti dia sebagai wadah untuk memperjuangkan Islam.

–          Adanya kerusuhan yang bernuansa SARA di Ambon dan Poso.

–          Adanya harapan terbentuknya medan perang secara langsung di Indonesia yang akan bisa memisahkan kebenaran dan kebatilan yang kemudian terbentuk kekuasaan yang berdasar Syareat Islam secara menyeluruh.

–          Adanya harapan terjadinya revolusi di Indonesia untuk menyelesaikan krisis multidemensial yang menimpa Bangsa dan Negara Indonesia.

 

Setelah tertangkapnya kami dan terbongkarnya jaringan kami, semua alasan diatas seolah-olah tidak pernah ada, maka kami harus kembali kepada ketidaksetujuan kami melakukan jihad dengan cara-cara seperti itu. Beginilah keyakinan saya dan Umar Patek dan kawan-kawan yang sepemikiran dengan saya.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa ada orang yang membolehkan melakukan pembunuhan dan melakukan pengeboman dan ada pula yang mengikutinya. Jawabannya, wajar kalau ada yang membolehkan dan ada yang mengikuti aksi-aksi yang menyebabkan tejadinya pembunuhan karena memang banyakdi dalam Al-Quran yang memerintahkan memerangi atau membunuh orang-orang kafir.

Sedangkan yang tidak ada perintah di dalam Al-Quran saja ada dari Ummat Islam yang membenarkan dan mengikutinya, contohnya; kepercayaan adanya nabi setelah Nabi Muhammad. Padahal juga sudah jelas dalam Al-Quran Allah menyebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah penutup para Nabi, tetapi ketika ada yang mengklaim adanya nabi setelah Nabi Muhammad masih ada yang percaya dan mengikutinya, apalagi perang dan membunuh yang banyak diperintahkan oleh Allah dalam Al-Quran.

Hal ini saya sebutkan biar semua pihak mengetahui, bahwa ketika adadari kami yang terlibat melakukan pengebomankemudian mengaku bersalah maka hal ini adalah pilihan setelah mengkaji ulang. Ini disebabkan karena masih adanya perselisihan pendapat di kalangan Ummat Islam tentang boleh dan tidaknya melakukan jihad dengan cara melakukan pengeboman dan semisalnya. Lain halnya dengan kriminal-kriminal lainnya seperti korupsi dan narkoba,semua ummat manusia sudah sepakat bahwakriminal-kriminal tersebutadalah tidak boleh menurut hukum agama dan negara.

Dengan demikian tidak ada yang menyamakan antara orang yang terlibat terorisme dengan orang yang terlibat kriminal lainnya jika dilihat dari Syareat Islam. Dan supaya tidak ada yang mengira bahwa kesadaran orang yang terlibat terorisme sama dengan kesadaran orang yang terlibat kriminal lainnya yaitu supaya bebas jari jeratan hukum di pengadilan.

Dari penyidik Densus 88 saya bisa tahu bahwa sejak di Pakistan Umar Patek bersikap kooperatif, artinya dia mengakui apa adanya keterlibatannya dalam Bom Bali. Kooperatifnya Umar Patek ini terbuktiketikakami bersama-sama melakukan rekontruksi di Bali dan Solo. Saat itu juga saya sempatkan menasehati dia diantaranya sebagai berikut: Bahwa semua yang sudah terjadi adalah taqdir yang tidak bisa dirobah lagi, tetapi yang harus kita lakukan adalah mengambil pelajaran dari taqdir ini dan pasti ada hikmahnya. Sebelum melakukan pengeboman kita sudah tahu resikonya dan salah satunya adalah tertangkapnya kita sekarang ini. Sebab itu kita harus introspeksi diri karena mesti ada kesalahan yang telah kita perbuat. Jangan sampai kita tidak berani dan malu mengakui kesalahan termasuk kesalahan jihad kita dalam Bom Bali.Jangan sampai kita jadi orang yang tidak mau mengakui kesalahan karena kuatir akan dikatakan sudah tidak militan lagi. Sebagai orang Islam kita tetap wajib memperjuangkannya meskipun kita dipenjara dengan cara semampunya. Dan sebagai orang Islam kita harus selalu menunjukkan akhlaq Islam kepada siapa sajauntuk merealisasikan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.

Kooperatifnya Umar Patek ditunjukkan ketika dia jadi saksi buat istrinya di persidangan, saat itu dia menyampaikan ucapan terima kasih kepada Petugas Departemen Luar Negeri, Kepala Detasemen Khusus 88 dan semua pihak yang berhasil membawa dia dan istrinya ke Indonesia. Kooperatifnya juga ditunjukkan ketika dia menjalani proses persidangan sebagai terdakwa, dia bersikap sopan dan menghormati jalannya persidangan yang hal ini bisa saya saksikan secara langsung ketika saya jadi saksinya.

Saya bersyukur melihat Umar Patek bersikap seperti itu. Saya yakin sikapnya didasari oleh akhlaq yang baik yang dimilikinya sejak lama. Sikapnya berdasar pada akhlaq sebagai pribadi muslim, sebagai anggota sebuah keluarga dan sebagai bagian dari Ummat Islam yang memikirkan kepentingan umum bukan kepentingan pribadi. Jika dia memegangi egonya maka dia tidak akan mengaku bersalah, tidak akan berterima kasih kepada Pemerintah Indonesia yang membawanya kembali ke Indonesia dan di persidangan-persidangan akan menunjukkan sikap radikal, karena sikap seperti inilah yang sekarang laku di komunitas yang mengaku sebagai kelompok militan dan jihadis.

Sikap kooperatif Umar Patek seperti yang saya sebutkan diatas, ditambah dengan dia mau berjabat tangan dengan Para Hakim dan Jaksa di persidangan,membuat kawan-kawan yang tidak suka dengan sikap-sikap semacam itu kecewa dan tidak suka terhadapnya. Maunya mereka, Umar Patek tidak boleh kooperatif, tidak boleh mengaku bersalah, tidak boleh bersikap baik dengan Polisi dan Pemerintah Indonesia, tidak boleh berjabat tangan dengan Hakim dan Jaksa, dan di persidangan dia harus menunjukkan sikap yang radikal.

Bagi yang tidak kenal dengan Umar Patek secara mendalam mungkin sikap-sikapnya yang seperti itu mengagetkan dan mengecewakan. Apalagi jika mengikuti berita-berita seputar pelarian dan sepak terjangnya di dunia jihad yang membuat dia diidolakan oleh para jihadis. Akan tetapi buat saya yang mengerti betul tentang Umar Patek tidak akan kaget karena memang begitulah sifat dan sikapnya. Menurut saya dia akan mengakui kesalahan karena terlibat Bom Bali yang tidak disetujuinya sejak awal dan dia akan bersikap sebaik-baiknya terhadap siapapun yang tidak menunjukkan sikap permusuhan kepada Islam.

Setelah jadi saksi Umar Patek saya ketemu dengan dia dan saya menanggapi komentar-komentar terhadapnya sebagai berikut: Komentar apapun yang mengoreksi sikap kamu maka tidak usah dihiraukan.Kamu sendiri yang akan mempertanggungjawabkan semuanya di hadapan Allah bukan yang berkomentar.Kamu sendiri yang akan dipenjara bukan orang yang berkomentar. Kamu dan keluarga kamu yang akan merasakan akibatnya dipenjara bukan orang yang berkomentar.Kamu sudah banyak melakukan amal jihad sedang amal jihadnya yang berkomentar belum tentu sebanyak kamu.Sekarang ini kamu sedang menjalani ujian dari buah jihad itu maka kamu harus bisa memanfaatkan kesempatan untuktetap meneruskan perjuangan sesuai dengan kemampuanmu.

Alhasil Umar Patek tegar dalam menghadapi ujian apapun dan selalu saya dukung. Semogaamal dan sikapnya membawa kebaikan dunia akhirat buat dia sendiri, buat keluarganya dan buat seluruh ummat.

Di akhir ini saya akan menerangkan secukupnya tentang asal usul panggilan Umar Patek: Ketika menjalani proses penyidikan di Mapolda Bali saya berjumpa dengan Amrozi diantara yang diceritakan kepada saya adalah asal usul sebutan Umar Patek. Pada saat Amrozi memberikan keterangan dalam penyidikan tentang siapa saja yang terlibat pengeboman di Bali diantara yang disebutkannya adalah Umar dan Paklek. Yang dimaksud oleh Amrozi Umar adalah Umar yang sekarang disebut dengan Umar Patek, dan Paklek adalah panggilan sehari-hari buat Sawad. Namun ketika penyidik mengulangi apa yang telah disebutkan oleh Amrozi dengan menyebut Umar Patek ( bukan Umar dan Paklek ) Amrozi mengiyakan dengan tujuan untuk mengaburkan siapa saja yang terlibat dalam Bom Bali. Oleh sebab itu maka mulai saat itu yang diketahui dan ditulis oleh penyidik dalam BAP adalah Umar Patek hingga disebutkan dalam jumpa pers juga seperti itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *