Wallpaper

KEJADIAN DAN PERTANYAAN YANG SAYA ALAMI SEJAK TERBONGKARNYA KAMI SEBAGAI PELAKU BOM BALI

  • Bulan Ramadhan 1422 H bertepatan dengan bulan November 2002 M Amrozi ditangkap karena disangka sebagai pelaku pengeboman di Bali pada 12 Oktober 2012 M, dan sekitar tiga jam kemudian saya juga dijadikan tersangka dan diburu oleh Polisi.

 

  • Hari itu, dari Amrozi ditangkap hingga saya bertemu dengan Muklas dan Imam Samudra di gresik, saat itu saya masih berharap akan ada lanjutan program jihad setelah Bom Bali. Namun harapan itu musnah setelah saya ketemu dengan Muklas dan Imam Samudra sebagai pihak yang memprogramkan pengeboman di Bali memutuskan bahwa kita akan lari sendiri-sendiri untuk menghindar dari tangkapan Polisi.

 

  • Belum lama saya dipindahkan dari Mapolda Bali ke Lapas Kerobokan Denpasar saat itu ada kawan yang yang bertanya setengah protes kepada saya dengan mengatakan, “Kenapa sampean membongkar semuanya tentang Bom Bali”

Saat itu saya jawab:

Bagaimana saya yang membongkar semuanya, sedangkan saya adalah pelaku Bom Bali urutan yang keempat yang ditangkap”

 

  • Saya pernah ditanya, “Mengapa saya bersikap baik dan akrab sama Polisi?

Saya jawab:

Setahu saya tidak ada larangan bersikap baik dan akrab dengan siapa saja kecuali terhadap orang kafir yang menzalimi dan memerangi kita. Sebelum kami ditangkap, saya dan Amrozi juga bersikap baik terhadap Polisi bahkan akrab dengan Polisi yang kami kenal. Setelah ditangkap saya pun harus tetap baik dengan Polisi karena mereka juga berhak mendapatkan sikap baik dari saya dan juga berhak mendapatkan da’wah dari saya.

 

 

  • Setelah itu saya ditanya, “Dengan penangkapan yang dilakukan oleh polisi terhadap kita berarti mereka telah menzalimi dan memerangi kita”

Saya jawab:

Polisi menangkap kita disebabkan karena kita melakukan pengeboman atau terlibat membantu pelaku pengeboman. Di Negara yang memberlakukan hukum Islam pun jika kita terlibat melakukan pengeboman kita juga akan ditangakap.

 

 

  • Saya pernah ditanya, “Seharusnya saya menjalani hukuman di Lapas Kerobokan Denpasar, mengapa berada di Polda Metro Jaya, apa benar saya diperalat oleh Polisi dalam kaitannya penanganan kasus terorisme?

Saya jawab:

Keberadaan saya di Jakarta atas kemauan saya sendiri hingga saya menyuruh pengacara untuk menguruskan saya pindah ke Jakarta, akhirnya saya dibawa ke Jakarta atas nama dipinjam oleh Satgas Bom Mabes Polri dan ditempatkan di Poda Metro Jaya. Adapun jika saya memberikan masukan kepada Polisi atau Negara dalam kaitannya penanganan kasus terorisme maka hal itu atas kemauan saya sendiri demi kepentingan bersama.

 

 

  • Lalu saya ditanya, “Apa maksudnya memberikan masukan kepada Polisi atau Negara berkaitan dengan penanganan terorisme? Dan apa maksudnya demi kepentingan bersama?

Saya jawab sebagai berikut:

– Saya beritahukan kepada mereka tentang pemikiran teroris, apa dan siapa yang menjadi sasaran teroris, apa tujuan teroris, dasar teroris, latar belakang terorisme, sebab teroris beraksi, kapan teroris akan berhenti beraksi, kebiasaan teroris dan bagaimana caranya bisa membuat teroris sadar.

– Yang saya maksud dengan kepentingan bersama adalah kepentingan Bangsa dan Negara Indonesia karena bagaimanapun mayoritas Bangsa Indonesia adalah beragama Islam dan teroris pun beramal berdasar Islam dan untuk Islam. Jadi silahkan kawan-kawan teroris menggunakan cara yang lain dalam memperjuangkan Islam jangan menggunakan cara teror karena itu akan merugikan semuanya termasuk merugikan Islam, Umat Islam dan kita sendiri padahal niat dan tujuan kita adalah untuk Islam. Bom Bali sudah cukup sebagai contoh aksi jihad yang membawa dan menyebabkan kerugian maka jagan sampai terulang lagi. Jika kita ingin agar NKRI ini menjadi Negara yang berdasarkan Islam maka kita da’wahkan terus terang kepada Umat Islam, kita ajarkan kepada mereka Islam secara menyeluruh, kita sampaikan rencana kita secara global, kita tawarkan program kita secara global, kita berikan solusi terhadap permasalahan Bangsa dan Negara dan kita lakukan amal shalih lainnya yang tidak melawan arus tetapi bisa memberikan manfaat buat Islam, buat Umat Islam dan buat semuanya. Disebabkan karena saking kuatirnya terjadi pengeboman atau aksi kekerasan lainnya hingga saya pernah berpesan kepada murid-murid dan kawan-kawan saya, “Kalian sudah saya ingatkan untuk tidak melakukan aksi teror, jika kalian tetap saja melakukannya atau terlibat melakukannya maka jangan disalahkan saya kalau suatu saat saya ikut Polisi untuk menangkap kalian”. Saya juga berpesan, “Jika kalian tetap memaksakan diri untuk melakukan aksi kekerasan yang kalian anggap jihad maka kumpulkan kekuatan lalu tantang NKRI untuk berperang. Hal ini lebih bisa diterima dan lebih dekat dengan tujuan kalian daripada melakukan aksi teror di sembarang tempat”

 

 

  •  Saya ditanya, “Dasar apa yang membuat saya berpendapat bahwa Bom Bali adalah jihad yang salah?

Saya jawab sebagai berikut:

– Semua yang diperintahkan oleh Allah termasuk jihad jika dilaksanakan dan pelaksanaannya benar menurut sunnah pasti akan menghasilkan dampak yang positif.

– Bom Bali melanggar adab-adab jihad seperti tidak memberikan peringatan sebelum melakukan penyerangan, berlebihan dalam melakukan pembunuhan, melakukan pembunuhan dengan cara yang tidak baik, pembunuhan terhadap wanita dan yang diserang bukan pasukan perang tapi masyarakat umum.

– Jihad yang benar pasti menghasilkan kejayaan, sementara Bom Bali mengasilkan kehinaan karena akhirnya kami dikejar-kejar oleh polisi kayaknya maling atau pelaku criminal yang lainnya.

– Kalau jihad yang benar pasti kelompok kami pelaku Bom Bali akan semakin banyak pengikutnya dan akan semakin banyak melancarkan aksi jihad, sementara kami adalah sudah habis dan tidak mampu melancarkan aksi jihad lagi.

– Mayoritas kawan-kawan di jama’ah kami tidak setuju melakukan jihad dengan cara pengeboman-pengeboman yang seperti itu.

 

 

  • Saya sering ditanya, “Kalau saya tidak setuju pengeboman di Bali, kenapa akhirnya saya ikut melakukannya dan yang paling banyak keterlibatannya?

Saya jawab sebagai berikut:

– Kami berada dalam satu jama’ah, jadi ada senior dan zunior, dan adakalanya zunior harus senantiasa mengikut seniornya.

– Di kalangan kelompok jihadis di seluruh dunia, jihad dengan cara melakukan pengeboman di tempat-tempat umum atau bukan di medan perang pembolehannya masih diperselisihkan, dan lebih banyak yang membolehkan.

– Kami berada dalam satu jama’ah, ketika ada rencana dari senior kami untuk melakukan pengeboman di Bali maka saya kira hal itu adalah program jihad dari jama’ah sehingga saya percaya bahwa hal itu adalah benar.

– Muklas selain senior saya dalam jama’ah juga kakak kandung saya yang ilmunya lebih dari saya, jadi saya mempercayainya.

– Adanya harapan bahwa pengeboman yang  kami lakukan adalah menjadi sebab Allah membuka front jihad di Indonesia yang hal itu selalu kami dambakan.

– Adanya harapan bahwa pengeboman yang akan kami lakukan adalah awal perjuangan yang akan menyebabkan terjadinya revolusi yang akhirnya terbentuk Negara yang berdasarkan Islam.

– Mungkin dengan pengeboman yang akan kami lakukan bisa mengurangi berbagai macam kemungkaran dan kemaksiatan yang sudah merajalela di Indonesia.

– Karena hal-hal diatas inilah yang membuat saya bersemangat sehingga menjadi pelaku Bom Bali yang paling banyak keterlibatannya.

 

 

  • Saya pernah ditanya, “Apa benar hukum yang berlaku di NKRI adalah Hukum Thaghut? Kalau benar apa alasannya?

Jawaban saya:

 Iya benar bahwa hukum yang diberlakukan di NKRI adalah thaghut. Hal ini disebabkan karena semua hukum yang tidak diturunkan oleh Allah atau bertentangan dengan Hukum Allah adalah thaghut.

 

 

  • Saya selanjutnya ditanya, “Apakah Umat Islam yang duduk di Pemerintahan Indonesia yang memberlakukan hukum thaghut seperti Presiden, Mentri, DPR dan lain-lain adalah kafir?

Jawaban saya sebagai berikut:

– Mereka tidak kafir, tetap muslim, tetapi fasik karena mereka tidak memberlakukan hukum yang diturunkan oleh Allah.

– Akan tetapi, bila mereka tidak memberlakukan hukum yang diturunkan oleh Allah ini karena menentang Allah atau menganggap bahwa hukum yang diberlakukan di NKRI lebih baik dari hukum Allah atau menyamai hukum Allah atau menganggap hukum Allah tidak cocok diberlakukan di NKRI dan anggapan tersebut diyakini dalam hati maka kafirlah mereka. Dan jika anggapan-anggapan diatas dilakukan oleh mereka disebabkan karena kebodohan mereka atau ketidaktahuan mereka tentang hal-hal tersebut maka mereka tidak kafir.

 

 

 

  • Saya ditanya lagi, “Ada yang mengkafirkan Susilo Bambang Yudoyono sebagai Presiden Republik Indonesia karena secara dzahir dia tidak memberlakukan hukum yang diturunkan oleh Allah, dan menurut ajaran Islam kita disuruh menghukumi orang berdasar dzahirnya, apakah saya setuju dengan pendapat ini?

Jawaban saya:

Saya tidak setuju kalau SBY dikatakan kafir. Alasan saya, justru secara dzahir SBY adalah muslim karena identitasnya muslim, dia shalat, dia berkiblat ke Ka’bah, dia membayar zakat, dia puasa Ramadhan, dia berhaji dan melakukan aktifitas-aktifitas Islam lainnya, hanya saja dia sebagai Presiden tidak memberlakukan hukum yang diturunkan oleh Allah. Artinya, bahwa secara dzahir kewajiban dalam Islam yang dilakukan oleh SBY lebih banyak daripada yang ditinggalkan maka secara dzahir dia muslim.

 

  • Saya ditanya, “Ada yang berpendapat bahwa Umat Islam yang bekerja atau menjadi pegawai atau menjadi pembela NKRI seperti Presiden, Mentri, Polri, TNI, MPR, DPR, semua Pegawai Negeri dan semua yang bekerja untuk NKRI adalah thaghut dan pembela thaghut berarti mereka thaghut?

Saya jawab:

 Saya tidak sepakat dengan pendapat ini, karena kalau thaghut identik dengan kekafiran dan kemusyrikan berarti kafir, sedangkan mereka ini dzahirnya Umat Islam yang melakukan aktifitas-aktifitas yang diwajibkan dalam Agama Islam, hanya saja mereka ini bekerja di Negara yang tidak memberlakukan hukum yang diturunkan oleh Allah. Maka selama mereka tidak menentang Allah atau menganggap bahwa hukum yang diberlakukan di Indonesia lebih baik dari hukum Allah atau menyamai hukum Allah atau menganggap hukum Allah tidak cocok diberlakukan di Indonesia yang anggapan tersebut tidak diyakini dalam hati maka mereka tetap muslim.

 

 

  • Saya pernah ditanya, “Apakah Masjid yang dibangun oleh Pemerintah Indonesia adalah Masjid Dhiror yang kita tidak boleh shalat disitu dan boleh dirusak/dirubuhkan?

Saya jawab sebagai berikut:

Masjid yang dibangun oleh Pemerintah Indonesia bukan Masjid Dhiror, boleh shalat disitu dan tidak boleh dirusak/dirubuhkan. Masjid Dhiror adalah Masjid yang didirikan tidak atas dasar taqwa kepada Allah dan tidak untuk ikhlas beribadah kepada Allah, namun untuk memperpecah persatuan Umat Islam. Sementara Masjid yang dibangun oleh Pemerintah Indonesia adalah supaya Umat Islam bisa shalat dan beribadah disitu dan tidak ada unsur untuk memperpecah persatuan Umat Islam. Contohnya, di pinggir jalan raya dibangun Masjid supaya orang yang dalam perjalanan bisa shalat disitu dan di lingkungan kantor-kantor pemerintahan dibangun Masjid supaya para pegawai dan pendatang yang punya keperluan di kantor tersebut bisa shalat disitu. Adapun jika dalam hati kecil Pemerintah Indonesia ada niat keduniaan seperti supaya dipercaya oleh Umat Islam dan lain-lain maka itu adalah urusan hati dan niat yang secara fakta tidak mempengarui fungsi Masjid yaitu untuk ibadah.

 

 

  • Sekitar tahun 2006 ada yang mendatangi saya dan memberitahukan, bahwa karena sikap saya yang berbeda dengan yang lain maka saya dikatakan pengkhianat dan darah saya halal”

Saya jawab begini:

Kalau ada yang begitu terhadap saya maka saya wajib mempertahankan diri dan melawan. Selanjutnya saya katakana, “Jika yang mengancam saya punya satu karung bom insyaallah saya punya dua karung, jika yang mengancam saya punya satu senjata insyaallah saya punya lebih dari satu senjata, maka saya tunggu”

 

 

  • Suatu hari ada kawan yang ketemu saya disini, dia menyapaikan bahwa seseorang yang kenal dengan saya mengatakan, “Ali Imron sekarang jihadnya mlempem”

Saya jawab begini:

Sampaikan, “Jika yang mengatakan seperti itu sekarang ini sedang berada di medan perang di Afghanistan atau di Iraq atau di Somalia atau di Philipina atau minimal di Indonesia tetapi selalu membawa senjata dalam rangka jihad maka saya akan cium kakinya, tetapi jika tidak seperti itu maka akan saya injak kepalanya”

 

 

  • Suatu hari ada yang bertemu dan melihat saya, dia sinis, mungkin selama ini dia mendengar tentang saya dan tidak suka dengan saya. Saya tanya dia, “Kenapa mas, dengar sesuatu yang jelek tentang saya ya? Dia menjawab, “Iya pak, bagaimana kok bisa begitu?”

Lalu saya katakana begini:

Mas, silahkan sampean sensus dari Sabang sampai Merauke hingga sekarang ini apa ada yang mengaku mujahid yang pernah membawa satu ton bom yang siap meledak selain Ali Imron. Kalau saya takut mati saya tidak akan mau mengantarkan bom yang sebesar itu karena salah sedikit saja saya akan ikut hancur. Jika kemudian saya mengaku bersalah dan menyesal itu sudah menjadi keyakinan saya bahwa pengeboman seperti itu adalah jihad yang salah maka harus saya sesal. Pengeboman tersebut adalah dalam rangka jihad, padahal jihad termasuk ibadah, sebab itu harus benar sesuai dengan sunnah supaya diterima oleh Allah dan sukses. Dengan saya mengaku bersalah dan menyesal saya berharap kepada kawan-kawan dan generasi berikutnya agar mengambil pelajaran dari yang kami lakukan sehingga mereka tidak melakukan kesalahan yang sama.

 

  • Saya ditanya, “Apa benar buku ‘ALI IMRON SANG PENGEBOM’ ada campur tangan orang Jaringan Islam Liberal (JIL) karena disitu ada nama Azyumardi Azra?

Saya jawab sebagai berikut:

Buku Ali Imron Sang Pengebom adalah tulisan saya sendiri yang saya tulis pada tahun 2003 ketika saya ditahan di tahanan Provost Mapolda Bali. Ketika saya pindah ke Jakarta tulisan tersebut saya bawa lalu saya pindahkan ke komputer kemudian dicetak oleh Republika. Sebelum naik cetak saya dikabari bahwa akan dimasukkan Azyumardi Azra sebagai tokoh untuk memberikan pengantar dan saya mempersilahkan. Jadi, isi buku Ali Imron Sang Pengebom bersih tulisan saya sendiri sesuai dengan aslinya. Yang dirobah oleh editor dan penerbit hanya nama bahan peledak diganti dengan pupuk demi keamanan. Adapun Azyumardi Azra hanya sebagai pengantar yang dimuat pada halaman vii xvi yang dimasukkan oleh penerbit.

 

  • Saya pernah ditanya, “Mengapa saya mengakui dan menceritakan dengan gamblang tentang pengeboman di Bali”

Saya jawab sebagai berikut:

Sebelum pengeboman di Bali terbongkar, kami tidak pernah membuka rahasia tersebut kepada siapapun termasuk keluarga kami. Namun setelah kami ditangkap, rahasia itu tidak bisa kami jaga lagi, dan sudah lengkap disampaikan kepada polisi pada waktu proses interogasi dan penyidikan, maka tidak ada gunanya lagi untuk menutupinya. Karen sudah seperti itu, maka menurut saya harus sekalian disampaikan secara gamblang supaya perjalanan kami dalam memperjuangkan Islam ini dijadikan sebagai pelajaran buat yang lainnya, supaya orang-orang tahu tujuan kami, supaya jelas kami yang melakukan sehingga tidak timbul fitnah dan sebagai bentuk pertanggungjawaban kami di dunia ini.

 

  • Saya pernah ditanya, “Mengapa saya mengaku bersalah dan menyesal”

Saya jawab sebagai berikut:

Mayoritas kawan-kawan kami yang sama-sama di Jama’ah Islamiyah tidak setuju melakukan jihad dengan pengeboman yang seperti itu, dan saya juga sudah peringatkan bahwa pengeboman sebaiknya tidak usah diteruskan, namun ternyata masih dilakukan, dan saya juga ikut melakukannya. Selain karena mengikuti kakak sekaligus senior saya dalam jama’ah keterlibatan saya adalah karena berharap setelah pengeboman nanti terjadi revolusi yang membawa Indonesia menjadi Negara yang berdasar kepada Syareat Islam secara menyeluruh. Tetapi, setelah Amrozi ditangkap dan kami tidak mampu berbuat apa-apa selain melarikan diri dari kejaran polisi maka sirnalah harapan tersebut. Oleh karena itu saya mengoreksi jihad yang telah kami lakukan akhirnya saya menyimpulkan bahwa aksi pengeboman yang kami lakukan adalah jihad yang salah.

 

  •  Setelah saya divonis Seumur Hidup saya tidak mengajukan banding tetapi langsung mengajukan grasi ke Presiden. Sikap saya mengajukan grasi ini ditentang oleh mayoritas kawan-kawan dengan alsan-alasan:

– Mengajukan grasi ke presiden berarti menghambakan diri kepada presiden.

– Mengajukan grasi berarti mengakui kesalahan.

– Mengajukan grasi berarti menyetujui dan mengikuti hukum thaghut.

Saya jawab sebagai berikut:

– Grasi adalah upaya hukum yang bisa saya lakukan supaya vonis saya turun karena saya tidak mengajukan Banding, Kasasi dan Peninjauan Kembali (PK).

– Menurut saya mengajukan grasi tidak berbeda jauh dengan mengajukan Banding, Kasasi dan Peninjauan kembali (PK), semua diatur dan berdasar kepada hukum yang berlaku di Indonesia.

– Keterlibatan saya dalam pengeboman di Bali adalah kesalahan, sebab itu saya harus memohon ampun kepada Allah dengan istighfar, secara manusiawi meminta maaf kepada  pihak yang dirugikan dengan sikap dan ucapan, dan secara hukum meminta maaf  kepada Presiden dengan mengajukan Grasi.

– Menerima atau tidak menerima kita tetap dihukumi dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Ketika ada yang tidak terima dengan vonis yang diberikan terhadapnya terus melakukan upaya hukum supaya vonisnya turun dengan mengajukan banding, kasasi dan peninjauan kembali (PK), ini tidak berbeda jauh dengan usaha saya agar vonis saya turun dengan melakukan upaya hukum dalam bentuk grasi.

– Grasi dengan banding, kasasi dan peninjauan kembali (PK) adalah berdasar dengan dasar hukum yang sama yang dasarnya adalah Pancasila dan UUD 45.

– Saya akan menempuh upaya hukum apapun supaya vonis saya turun dan saya bisa secepatnya bebas dari penjara supaya bisa melakukan aktifitas-aktifitas secara normal lagi dan bisa melanjutkan bermacam-macam perjuangan untuk menjayakan Islam.

– Saya pernah mengatakan, kalaulah saya bisa bebas atau bisa membebaskan kawan-kawan dari penjara tetapi dengan syarat saya harus mencium kaki Presiden (saat itu Presiden Megawati Sukarno Putri) maka akan saya lakukan, apalagi hanya mengajukan grasi.

 

 

  • Setelah dua kakak saya Muklas dan Amrozi dan kawan saya Imam Samudra dieksekusi, saya ditanya tentang status mereka apa mati syahid atau tidak.

Jawaban saya:

Saya tidak bisa memastikan mereka bertiga mati syahid atau tidak, karena tidak ada yang bisa memastikan apakah orang itu mati syahid atau tidak kecuali Allah dan Rasul-Nya, tetapi harapan saya semoga mereka mati syahid.

Jika saya berharap mereka bertiga mati syahid maka ada beberapa alasan sebagai berikut:

– Muklas, sejak saya masih kecil saya perhatikan dia adalah orang yang selalu menjunjung syariat Islam, mendakwahkan agar kembali kepada ajaran Islam yang benar, khusu’ dalam beribadah, penentang setiap kemungkaran, melakukan kebaikan dalam Islam dan jadi teladan saya beserta keluarga dalam kebenaran dan kebaikan. Sifat dan sikap dia yang seperti itu tetap istiqamah hingga terakhir kali saya bisa berhubungan dengannya.

– Amrozi, meskipun masa remajanya tidak semulus Muklas namun setelah bergabung dengan Muklas di Pondok Pesantren Luqmanul Hakim di Johor Bahru, Malaysia, dia berobah total. Dia semangat dalam memperjuangkan Islam, selalu mendakwahkan untuk kembali kepada ajaran Islam yang benar sesuai dengan kemampuannya, khusu’ dalam beribadah, penentang setiap kemungkaran, dan melakukan kebaikan-kebaikan dalam Islam. Sikapnya yang seperti itu tetap istiqamah hingga terakhir kali saya bisa berhubungan dengannya.

– Imam Samudra, sejak saya kenal pada awal bulan Oktober 1991 di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di dalam satu tenda, sekelas, sebatalion, dia orang baik, khusu’ dalam beribadah, rajin belajar, semangat dalam memperjuangkan Islam, selalu mendakwahkan untuk kembali kepada ajaran Islam yang benar, penentang setiap kemungkaran dan melakukan kebaikan-kebaikan dalam Islam. Sifat dan sikap dia yang seperti itu tetap istiqamah hingga terakhir kali saya bisa berhubungan dengannya.

Selain itu dalam kaitannya dengan pengeboman di Bali, mereka bertiga tidak ada niat dan tujuan yang lain kecuali jihad di jalan Allah,  sedangkan dalam hadits Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang keluar di jalan Allah lalu meninggal atau dibunuh, atau karena jatuh dari kuda atau ontanya, atau karena digigit binatang berbisa, atau meninggal di atas tempat tidurnya, atau meninggal dengan cara apapun sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah maka dia syahid dan masuk surga”

Saya tidak berani memastikan bahwa mereka bertiga mati syahid dengan dua alasan pokok yaitu:

– Tidak ada manusia yang bisa memastikan seseorang mati syahid atau tidak kecuali Rasulullah.

– Tanda-tanda yang ada tidak bisa dijadikan hujjah (argumen) secara mutlak bahwa mereka bertiga pasti mati syahid.

 

  • Setelah dua kakak saya Muklas dan Amrozi dan kawan saya Imam Samudra dieksekusi, saya juga ditanya, “Apakah dengan meninggalnya mereka bertiga sebagai syahid berarti menunjukkan bahwa aksi Bom Bali adalah jihad yang benar”

 Saya jawab sebagai berikut:

– Mereka bertiga belum bisa dipastikan mati syahid.

– Jika pun mereka mati syahid maka tidak secara otomatis menunjukkan bahwa aksi pengeboman di Bali adalah jihad yang benar dan juga tidak bisa dijadikan dasar untuk melakukan pengeboman yang seperti itu lagi. Karena kesalahan bahkan dosa yang dilakukan oleh seseorang sebelum nyawa sampai di kerongkongannya tidak bisa menghalanginya dari masuk sorga. Hal ini saya dasarkan kepada hadits Rasulullah yang menceritakan, bahwa ada orang yang sudah membunuh 100 orang, ketika dia meninggal dunia maka Allah memasukkannya ke sorga. Perbuatan orang tersebut adalah salah dan dosa besar akan tetapi salah dan dosanya tersebut tidak bisa menghalanginya untuk masuk sorga karena sudah bertobat sebelum meninggal dunia.

–         Melihat kesalahan dalam berjihad itu tidak bisa hanya dilihat dari pelakunya mati syahid atau masuk surga saja, namun harus juga dilihat dari dampak positif dan negatifnya buat perjuangan itu sendiri. Hal ini saya dasarkan kepada kisah Perang Uhud, bahwa pasukan panah turun dari posisinya sebelum ada perintah dari Rasulullah yang menyebabkan pasukan Islam terdesak bahkan Rasulullah sendiri terluka parah. Apa yang dilakukan oleh pasukan panah tersebut adalah kesalahan bahkan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya namun tidak menjadikan mereka masuk neraka.

 

 

  • Setelah dua kakak saya Muklas dan Amrozi dan kawan saya Imam Samudra dieksekusi, saya juga ditanya, “Apakah saya harus balas dendam terhadap para eksekutor”

 Pertanyaan seperti ini wajar, karena tiga orang yang telah dieksekusi mati tersebut adalah dua kakak kandung saya, Muklas dan Amrozi, dan kawan akrab saya, Imam Samudra.

 Saya jawab dengan beberapa jawaban sebagai berikut:

– Ketika kami memutuskan mengambil jalan perjuangan dengan cara jihad maka kami semua sudah tahu resikonya, diantaranya mungkin kami akan di penjara atau bahkan mati karenanya.

– Ketika mereka mengambil sikap tidak mengaku bersalah, tidak mau minta maaf, keras di pengadilan dan lain dalam kaitan keterlibatannya dengan Bom Bali berarti mereka sudah siap lahir dan bathin untuk dieksekusi.

– Mereka yang akan dieksekusi ini selalu menantang untuk dieksekusi dan bersemangat menyongsong waktu eksekusi datang.

– Biarlah pihak-pihak yang terlibat mengeksekusi yang bertanggung jawab dunia akhirat sesuai dengan kedudukan mereka di NKRI ini.

Dari pertimbangan-pertimabangan yang saya sebutkan di atas maka saya tidak menaruh dendam dan tidak ingin membalas dendam terhadap pihak-pihak yang terlibat mengeksekusi mereka bertiga. Kalaupun saya menentang pihak-pihak yang terlibat mengeksekusi dan mungkin suatu saat saya harus memerangi mereka namun hal itu bukan atas dasar balas dendam tetapi demi melaksanakan jihad di jalan Allah untuk memerangi kekafiran, kemusyrikan, kezaliman dan ketidakadilan di negara Indonesia ini yang tidak memberlakukan syariat Allah secara sempurna kemudian menggantinya dengan kekuasaan yang akan memberlakukan syariat Islam secara sempurna.

 

  • Saya ditanya, “Kalau tidak boleh berjihad dalam bentuk aksi pengeboman dan semisalnya, berarti saya tidak membolehkan melaksanakan kewajiban jihad?”

Saya jawab sebagai berikut:

Jihad di jalan Allah dalam arti perang adalah wajib sampai hari kiamat maka kita wajib berusaha untuk bisa melaksanakannya. Bahkan saya katakana, sekarang ini seluruh Umat Islam berdosa disebabkan karena kewajiban jihad tidak bisa lagi dilaksanakan sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Yang tidak saya bolehkan adalah melakukan jihad ofensiv yaitu mendahului melakukan penyerangan ke pihak-pihak yang kita anggap musuh karena kita belum memiliki persyaratan jihad ofensiv yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah yaitu kekuatan dan wilayah kekuasaan, jika tetap memaksakan diri untuk melaksanakannya maka kemungkinan besar jihad kita akan salah dan jatuh dalam dosa dan juga akan menimbulkan banyak dampak negative sebagaimana yang sudah kami alami. Adapun jika musuh menyerang Umat Islam maka kita wajib berjihad untuk melawannya tidak usah menunggu punya kekuatan dan wilayah kekuasaan dan berdosa jika kita tidak melakukan perlawanan.

 

 

  • Saya ditanya, “Terus sekarang ini apa yang harus kita lakukan untuk memperjuangkan Islam?”

 Saya jawab:

Kita harus meniru cara berjuangnya Rasulullah ketika beliau belum memiliki kekuasaan yang hal ini sudah lengkap diceritakan dalam buku Tarikh dan Hadits. Kita melakukan kegiatan keagamaan yang mampu kita lakukan dan tidak melawan arus di Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim. Selain melakukan kegiatan keagamaan kita juga harus melakukan kegiatan keduniaan yang diperlukan saat saat ini sesuai dengan perkembangan jaman yang juga untuk mendukung  suksesnya perjuangan seperti mempelajari dan menguasai ilmu pengetahuan, tecnologi, kedokteran, meningkatkan ekonomi dan lain-lain.

14 Responses to KEJADIAN DAN PERTANYAAN YANG SAYA ALAMI SEJAK TERBONGKARNYA KAMI SEBAGAI PELAKU BOM BALI

  1. supandi says:

    semoga mas ali imran dapat memberikan pencerahan kepada teroris lain yang belum sadar

  2. Rico says:

    SaLut untuk idealisme nya. Sukses terus mas!

  3. Is Harjatno says:

    Kang Ali Imron,

    Jika betul jajaran al qaidah maupun organisasi-organisasi yang berafiliasi kepadanya menerapkan kriteria yang ketat dalam berjihad, lantas kira-kira atas dasar apa melakukan penyerangan ke WTC yang saat itu dipenuhi masyarakat sipil?

    Apakah penyerangan ke WTC itu pula yang lantas menjadi patokan bagi kelompok kang Ali Imron dalam memutuskan akan melakukan pengeboman di Bali dan lokasi lainnya?

    Terima kasih.

    • admin says:

      Pengumuman perang terhadap Amerika dimulai sejak sekitar tahun 90. Saat itu jihad melawan Rusia dan Komunis Afghanistan telah usai. Di akhir2 jihad melawan komunis tersebut, Amerika sudah mulai membuat makar terhadap mujahidin diantaranya membunuh tokoh mujahidin seperti Abdullah Azzam orang Arab dan Hafidzul Haq orang Afghan. Oleh sebab itu pasca kekalahan komunis mujahidin mengumumkan jihad melawan Amerika. Perlawanan itu dimulai oleh Mujahidin Arab diantaranya ditokohi oleh Usamah bin Ladin dengan melakukan pengeboman di Kedubes Amerika di Kenya dan Tanzaniah, pengeboman di WTC th 93 oleh Romzi Yusuf dan puncaknya adalah pada th 2001 penyerangan ke Amerika dengan 4 pesawat penumpang yg dibajak, 2 pesawat ditabrakkan ke dua bangunan kembar WTC, 1 pesawat ditabrakkan ke Pentagon, dan 1 pesawat rencananya ditabrakkan di reaktor nuklir namun terlebih dulu berhasil ditembak oleh pihak keamanan.. Selain sebagai serangan balasan karena Amerika membuat makar, pembolehan penyerangan ke Amerika juga berdasar karena Amerika adalah negara yang berstatus Darul Kufri/Darul Harbi, harta benda mereka jg digunakan untuk membuat makar tersebut di atas. WTC juga bagian dari Amerika yang menghasilkan uang dan untuk mengatur serta mengurusi kepentingan2 mereka. Sebab lainnya adalah yang terjadi sejak jauh sebelumnya, karena Amerika mengotori Jazirah Arab dengan menempatkan tentaranya pasca mereka membantu Kuwait karena diserang Saddam Husain, dan juga karena Amerika pro Israil atau minimal diam saat Israil mendzalimi Palestina. Semua kelakuan-kelakuan Amerika tersebut juga disetujui oleh mayoritas rakyatnya. Oleh karena itu maka dibolehkan melakukan penyerangan di Amerika meskipun juga mengenai rakyat sipil… Adapun bom Bali, kami pelakunya adalah anggota jama’ah islamiyah (JI). Meskipun kami JI, tapi bom Bali bukan program JI, tapi program Mukhlas senior kami di JI. Mukhlas memiliki hubungan dg Usamah bin Ladin. Th 2001 sebelum aksi di WTC, Mukhlas pergi ke Afghanistan dan bertemu Usamah. Mukhlas pulang membawa uang dari Usamah sebesar US $30000 dana utk melakukan aksi jihad di Asia Tenggara. Ketika merencanakan bom Bali, Mukhlas menggunakan dasar dalil Quran dan Hadits secara umum tentang perintah memerangi orang-orang kafir. Juga berdasarkan untuk membalas serangan Amerika dan sekutunya ke Afghanistan yang juga mengenai orang-orang sipil. Jg berdasar kepada fatwa Usamah/al Qaida tentang dibolehkannya menyerang Amerika dan sekutunya baik militer atau sipilnya dimanapun mereka berada… Sebetulnya saya sendiri tidak setuju berjihad membalas penyerangan Amerika tetapi dengan cara mengebom orang-orang bule yang melancong di Bali karena mereka tidak ikut melakukan penyerangan dan mereka juga belum tau menahu tentang maksud dari jihad kami. Ketidak setujuan saya ini sudah saya sampaikan kepada Mukhlas tetapi tidak dihiraukan. Karena saya adiknya dan kalah senior di JI, maka saya tetap ikut terlibat. Akhirnya terjadilah bom Bali pada 12 Oktober 2002. Dan ada saya ataupun tidak ada saya, pengeboman itu akan tetap dilakukan.

      • is harjatno says:

        Syukran wa jazakumullahu telah berkenan membalas korespondensi saya.

        Saya mendapat beberapa info mencerahkan dari penjelasan kang Ali. Dan memang masuk akal, mengingat Indonesia memang sudah lama menjadi target adu domba dan intervensi, cepat atau lambat pasti aksi teror akan terjadi di sini entah dilakukan al qaida, gerakan komunisme, desertir militer, atau siapapun.

        nah, kang Ali..perkenankanlah saya kembali bertanya:

        1. Kang Ali Imron mengatakan bahwa almarhum Usamah memerangi AS lantaran AS melakukan makar terhadap mujahidin. Tetapi di sisi lain, info yang sering kami temui menyebutkan bahwa Usamah memerangi AS lantaran persengketaan masalah ekonomi, penguasaan minyak, dan pengaruh AS yang terlampau kuat terhadap kerajaan Saudi. Ada pula info yang menyebutkan bahwa motivasi asli Usamah adalah melakukan kudeta terhadap dinasti Saud. Bagaimana menurut kang Ali?

        2. Ayman Al Zawahiri itu sebenarnya adalah pengikut Usamah yang paling dipercaya ataukah pemimpin gerakan tersendiri yang berafiliasi kepada Usamah dan Al Qaida? Bagaimana dengan Abu Mush’ab al Zarqawi?

        3. banyak yang menilai perilaku barbar ISIS ini banyak kemiripan dengan Taliban di afghanistan. ISIS sendiri berperang dengan Al Qaida. tetapi mengapa justru Al Qaida justru berkawan dengan taliban?

        Mohon pencerahannya, kang. Semoga kang Ali tidak bosan meladeni kecerewetan saya. hehehe

  4. Komar says:

    Assalammualaikum Sabar dan ikhlas mas ,, semoga dapat di contoh untuk yang lain agar difikirkan lg dampaknya terlebih lg malah memberikan kesan buruk terhadap agama islam,!,

  5. Gust Rahman says:

    Asslamu’alikum mas ali imron..
    Saya salut dengan mas ali imron karna mau mengakui kesalahan dan ingin memperbaikinya ditambah meleruskan persepsi jihad yang salah.

  6. is harjatno says:

    Syukran wa jazakumullahu telah berkenan membalas korespondensi saya, kang Ali.

    Saya mendapat beberapa info mencerahkan dari penjelasan kang Ali. Dan memang masuk akal, mengingat Indonesia memang sudah lama menjadi target adu domba dan intervensi, cepat atau lambat pasti aksi teror akan terjadi di sini entah dilakukan al qaidaatau kelompok lain, gerakan komunisme, desertir militer, atau siapapun.

    nah, kang Ali..perkenankanlah saya kembali bertanya:

    1. Kang Ali Imron mengatakan bahwa almarhum Usamah memerangi AS lantaran AS melakukan makar terhadap mujahidin. Tetapi di sisi lain, info yang sering kami temui menyebutkan bahwa Usamah memerangi AS lantaran persengketaan masalah ekonomi, penguasaan minyak, dan pengaruh AS yang terlampau kuat terhadap kerajaan Saudi. Ada pula info yang menyebutkan bahwa motivasi asli Usamah adalah melakukan kudeta terhadap dinasti Saud. Bagaimana menurut kang Ali?

    2. Ayman Al Zawahiri itu sebenarnya adalah pengikut Usamah yang paling dipercaya ataukah pemimpin gerakan tersendiri yang berafiliasi kepada Usamah dan Al Qaida? Bagaimana dengan Abu Mush’ab al Zarqawi?

    3. banyak yang menilai perilaku barbar ISIS ini banyak kemiripan dengan Taliban di afghanistan. ISIS sendiri berperang dengan Al Qaida. tetapi mengapa justru Al Qaida justru berkawan dengan taliban?

    Mohon pencerahannya, kang. Semoga kang Ali tidak bosan meladeni kecerewetan saya. hehehe

    • admin says:

      Iya akhi, sama-sama, wa iyyaakum…

      1. Jawaban saya yang lalu, maksud saya, bahwa makar Amerika terhadap mujahidin itu yang menjadi penyebab utama dan alasan yang paling baru untuk memulai serangan terhadap Amerika dan kepentingannya. Saya jawab seperti itu, karena secara fakta akhirnya aksi-aksi jihad terhadap Amerika dan kepentingannya ada hubungannya dengan jihad Afghanistan meskipun yang memotori adalah Usamah bin Ladin.
      Apa yang antum sebutkan tentang beberapa sebab Usamah memerangi Amerika itu juga ada benarnya. Hanya saja, sebab-sebab tersebut mungkin terjadi sebelum Usamah hijrah dan bergabung dengan mujahidin Afghanistan.
      Banyak hal yang menyebabkan Usamah menentang Kerajaan Saudi, diantaranya karena hubungan Arab Saudi dengan Amerika menurutnya bertentangan dengan syareat wala’ dan bara’ dalam Islam, dan karena Kerajaan Saudi dalam menjalankan kerajaan atau negaranya masih jauh dari Syareat Islam.
      Jadi, penyebab-penyebab Usamah memerangi Amerika, baik berkenaan dengan Kerajaan Saudi atau berkenaan dengan jihad Afghanistan atau berkenaan dengan Islam secara umum maka semuanya saling berkaitan.

      2. Setahu saya, Dr.Aiman Adz-Dzawahiri, asli Mesir, pernah di Jama’ah Islamiyah Mesir, ikut bergabung dengan jihad Afghanistan pasca melawan komunis, dan pasca Thaliban berkuasa di Afghanistan dia jadi orang nomer dua Al-Qaidah atau wakilnya Usamah, jadi wajar jika sepeninggal Usamah dia yang menggantikan sebagai pemimpin Al-Qaidah.
      Adapun Abu Mus’ab Al-Zarqawi, saya tidak tau kecuali sedikit membaca tentangnya setelah memimpin mujahidin Irak pasca invasi Amerika ke Irak, katanya salah seorang sayap militer Al-Qaidah yang ada di Irak. Dan mungkin saja dia adalah salah satu dari alumni mujahidin Afghanistan asal Irak, karena pasca jihad Afghanistan melawan komunis banyak juga orang Irak yang kesana.

      3. Wajar kalau ada yang menilai bahwa ISIS ada kemiripan dengan Thaliban, karena memang gaya berpakaian, gaya wajah, gaya rambut, gaya dalam menenteng senjata dan gaya berperangnya ada kesamaannya. Dan mungkin saja sebagian pengikut ISIS yang sekarang ini ketika di Afghanistan pernah ikut Thaliban.
      Adapun Al-Qaidah yang dipimpin oleh Usamah, sejak Thaliban mendirikan Negara Islam di Afghanistan dengan Mulah Mohammad Umar sebagai Amirul Mukminin, Al-Qaidah sudah berbaiat dan menjadi bagian dari Thaliban. Oleh karena itu, meskipun Thaliban sudah tidak memiliki negara lagi Al-Qaidah tetap jadi bagian dari Thaliban hingga sekarang.
      Dan Thaliban saat ini, baik yang ada di Afghanistan atau yang ada di Pakistan, nampaknya ada sebagian yang mengikuti ISIS.

  7. oky says:

    Semoga Kesalahan akang di masa lampau dimaafkan Gusti Allah SWT dan semoga istikhomah dalam meluruskan pemikiran saudara saudara kita yg “belajar nakal” dengan pemikiran yg keliru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *