Wallpaper

BUKUKU “ALI IMRON SANG PENGEBOM”

 

Setelah buku saya, “ALI IMRON SANG PENGEBOM” terbit dan beredar, ternyata ada yang protes, ada yang kontra dan ada yang tidak suka. Yang protes, yang kontra dan yang tidak suka masing-masing karena alasan sebagai berikut:

– Mengapa saya membuka rahasia keberangkatan ke Pakistan dan Afghanistan dan menyebutkan nama-nama instruktur dan kawankawan yang pernah i’dad dan jihad disana.

– Mengapa saya membuka rahasia tentang Jama’ah Islamiyah.

– Mengapa saya membuka rahasia tentang Ambon.

– Mengapa saya membuka rahasia tentang i’dad dan jihad.

– Menulis buku yang seperti ini berarti ada unsur pengkhianatan.

– Isinya buku saya ada campur tangan JIL (Jaringan Islam Liberal)

– Isinya buku saya ada campur tangan Polisi.

Terhadap hal-hal diatas saya jawab sebagai berikut:

 

–         Mengapa Aku Menulis Buku

Ada dua tujuan penting saya menulis buku, “ALI IMRON SANG PENGEBOM”. Pertama adalah untuk menyerukan kepada kawan-kawan  agar  tidak lagi melakukan suatu aksi seperti pengeboman di Bali dan semisalnya. Kedua adalah untuk menda’wahkan jalan perjuangan kami terutama dalam urusan i’dad dan jihad agar diikuti oleh Umat Islam dan ditakuti oleh musuh-musuh Islam.

Setelah kami berhasil meledakkan bom di Bali, saya masih bersepekulasi tentang dampak yang akan timbul, apakah berdampak positif pada perjalanan perjuangan kami atau malah sebaliknya. Namun setelah Amrozi tertangkap, harapan adanya dampak positif tersebut seolah sudah tidak ada lagi karena dengan ditangkapnya salah satu dari kami berarti aksi kami terbongkar dan pasti akan berdampak negatif pada kami.

Tidak adanya harapan itu dikuatkan lagi oleh keputusan Mukhlas dan Imam Samudra paska Amrozi ditangkap bahwa kita akan melarikan diri sendiri-sendiri untuk menghindari kejaran Polisi. Padahal saat itu saya masih berharap mereka punya program lanjutan dan sudah ada rencana yang matang jika menghadapi situasi seperti ini.

Akhirnya saya juga tertangkap, maka harapan untuk mendapatkan dampak positif dari melakukan pengeboman di Bali semakin sedikit. Begitu juga harapan adanya nilai positif dari pelarian saya pun sudah tidak ada lagi justru menyebabkan kawan-kawan yang tidak bersalah ikut tertangkap karena membantu dan menyembunyikan informasi tentang pelarian saya.

Pada awal-awal tertangkap saya belum punya rencana apa-apa kecuali akan mengikuti proses hukum yang berlaku dan akan mempertanggung jawabkan keterlibatan saya dalam pengeboman di Bali sesuai dengan keterangan yang disampaikan oleh kawan-kawan yang telah ditangkap sebelum saya. Selain itu saya juga akan menyampaikan rasa bersalah dan penyesalan saya karena terlibat pengeboman di Bali hasil dari mengkaji ulang terhadap aksi jihad kami selama dalam pelarian.

Saya sudah di dalam penjara, maka untuk melakukan kegiatan yang saya yakini bagian dari jihad dalam arti perang sudah tidak mungkin. Saya tidak mungkin bisa mencari senjata, amunisi, bahan-bahan bom dan peralatan perang lainnya apalagi untuk menggunakannya. Dan saya juga tidak lagi bisa mengajarkan ilmu-ilmu perang kepada orang lain, bahkan untuk mengajarkan ilmu jihad dalam arti luas kepada murid-murid dan binaan saya pun sudah tidak bisa. Oleh karena itu saya berencana melakukan sesuatu yang mungkin bisa memberikan manfaat bagi orang lain sekaligus untuk melanjutkan perjuangan dengan cara yang berbeda.

Penjara adalah salah satu resiko dari jalan perjuangan yang saya ikuti dan pengeboman di Bali menjadi inti penyebabnya. Oleh karena itu saya harus menulis buku untuk menerangkan kesalahan-kesalahan pada pengeboman di Bali supaya hal itu tidak dilakukan lagi oleh kawan-kawan kami. Selain itu, lewat buku saya juga bisa mendakwahkan pemikiran dan jalan perjuangan kami terutama urusan i’dad dan jihad yang banyak dilupakan Umat Islam.

 

–         Mengapa Aku Menceritakan Perjalanan ke Afghanistan

Ketika saya memutuskan untuk menyusul kakak saya Aly Ghufron alias Mukhlas ke Malaysia, saat itu tidak ada tujuan lain di pikiran saya kecuali hanya ingin menggabungkan diri dengan kelompoknya dan ingin berangkat ke Afghanistan. Namun tujuan tersebut tidak ada yang mengetahuinya karena sejak adanya niat untuk berangkat ke Malaysia, saya sudah merahasiakan tujuan yang sebenarnya.

Orang tua saya, saudara dan keluarga yang lain hanya mengetahui bahwa tujuan saya ke Malaysia adalah untuk menyusul kakak Ali Ghufron. Adapun masyarakat umum, mereka menyangka bahwa keberangkatan saya ke Malaysia adalah untuk menjadi tenaga kerja, karena saya berangkat bersama para tenaga kerja Indonesia yang lainnya.

Pada bulan Agustus 1991 saya berangkat ke Malaysia dan berjumpa dengan Mukhlas yang saat itu berada di rumah mertuanya di Johor Bahru. Setelah bertemu, saya langsung menyampaikan keinginan saya untuk bisa berangkat bersekolah ke Pakistan dan Afghanistan sebagaimana dia. Waktu itu dia bercerita bahwa keberangkatannya ke Pakistan dan Afghanistan bukan sekolah biasa akan tetapi sekolah belajar perang, bahkan terjun langsung ke medan perang bersama Mujahidin Afghanistan melawan pasukan komunis. Oleh karena itu keberangkatan dan keberadaannya disana harus dirahasiakan.

Setelah saya positif bisa berangkat, Mukhlas banyak menekankan tentang kewajiban taat kepada pemimpin dan keharusan menjaga rahasia. Keberangkatan ini harus dirahasiakan dari siapapun termasuk orang tua dan keluarga, bahkan mulai saat itu saya tidak boleh lagi berhubungan dengan siapapun baik lewat surat ataupun telepon. Karena tekad saya sudah bulat untuk bergabung dengan kelompok ini maka konsekuensinya saya harus menaati dan mengikuti aturan yang ada. Oleh karena itu mulai saat itu saya hanya mengikuti arahan dan perintah Mukhlas dan tidak lagi berhubungan dengan siapapun kecuali atas arahan dan perintahnya.

Alhasil, bahwa keinginan saya bisa berangkat ke Pakistan dan Afghanistan telah terjawab dan sedang diurus segala sesuatunya. Mengawali pengurusan itu, atas arahan Mukhlas saya dibawa oleh abang iparnya ke Singapura untuk mengambil visa Pakistan. Sekitar dua minggu di Singapura, saya ditempatkan di tempat tinggalnya kawan-kawan Mukhlas dan hanya mengikuti arahan mereka.

Setelah pengurusan visa selesai, saya dijemput oleh Mukhlas dan dibawa kembali ke Malaysia diserahkan ke ustad Abdullah Sungkar untuk diberangkatkan ke Pakistan. Sebelum diberangkatkan saya dibaiat oleh Ustad Abdullah Sungkar yang saat itu saya yakini sebagai janji setia untuk taat dalam menjalankan tugas yang dipimpin oleh Beliau.

Pada akhir bulan September 1991 saya diberangkatkan dari Malaysia menuju Pakistan dengan mengikuti arahan seorang penunjuk jalan yang sudah ditetapkan oleh Ustad Abdullah Sungkar. Maka selama dalam perjalanan saya hanya mengikuti arahan dari penunjuk jalan tersebut dan tidak berkomunikasi dengan siapapun kecuali dengan kawan-kawan serombongan, itupun dibatasi.

Setelah sampai di tempat tujuan yang kemudian saya ketahui sebagai kantor perwakilan Jamaah Islamiyah yang ada di Pabbi, Peshawar, Pakistan, saya diserahkan kepada pimpinan setempat. Oleh pimpinan setempat, yang kemudian saya kenal dengan nama Ustad Dzulqarnain, saya diberi nama Zaid sebagai nama samaran yang harus saya gunakan sejak saat itu.

Lalu keesokan harinya saya diberangkatkan lagi ke suatu tempat yang kemudian saya ketahui sebagai Akademi Militer Mujahidin Afgahanistan. Saat itu saya dibawa oleh seorang penunjuk jalan yang telah ditunjuk oleh Ustad Dzulqarnain. Sesampainya di tempat tersebut, oleh penunjuk jalan saya dibawa masuk ke sebuah kantor dan diserahkan ke pimpinan setempat. Kantor itu kemudian saya ketahui sebagai pusat komando untuk orang-orang Asia Tenggara. Oleh pimpinan setempat saya ditempatkan di Batalion Logistik, maka mulai saat itu saya resmi menjadi siswa di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan.

Dari saya bertemu Mukhlas di Johor Bahru hingga saya sampai di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan  di suatu lembah di daerah Sadda, Parachinar, Pakistan, betapa perjalanan tersebut harus dirahasiakan. Saya harus memutuskan hubungan dengan siapapun yang tidak ada hubungannya dengan program ini baik lewat surat, telepon atau yang lainnya.

Ketika di Singapura saya tidak harus mengetahui siapa saja yang mengurus keperluan saya di sana. Tatkala berangkat ke Pakistan saya tidak harus mengetahui siapa penunjuk jalannya. Saya juga tidak harus mengetahui siapa pimpinan yang ada di kantor perwakilan Pabbi dan siapa yang mengantarkan ke Akademi Militer. Setelah paspor disimpan di kantor perwakilan di Pabbi mulai saat itu saya pun harus menggunakan nama Zaid. Dan di akademi militer tersebut kami yang berasal dari Asia Tenggara harus mengaku dari Filipina.

Setelah proses di atas saya lalui dan saya sudah menjadi siswa di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan, saya semakin memahami betapa pentingnya menjaga rahasia perjalanan kami. Memang harus dirahasiakan, karena perjalanan kami ke Pakistan dan Afghanistan ini bukan tour biasa akan tetapi tour i’dad dan jihad yang mayoritas penguasa dunia menentangnya.

Kami harus merahasiakannya karena perjalanan i’dad dan jihad kami ini bukan hanya berhenti di Afghanistan saja akan tetapi untuk kembali kemana saja dalam rangka mengobarkan semangat jihad demi tegaknya agama Allah. Dan perjalanan i’dad dan jihad seperti ini harus selalu dijaga dan dirahasiakan karena musuh-musuh Islam dan orang-orang yang tidak memahami syariat i’dad dan jihad akan selalu menghalangi dari jalan ini.

Demi menjaga perjalanan kami dalam menjalankan kewajiban i’dad dan jihad kami harus menyamarkan identitas diri dan negara serta rela tidak berhubungan dengan orang tua dan keluarga selama bertahun-tahun. Dan ketika pulang, kami juga tidak membawa apapun yang menunjukkan bahwa kami pernah belajar ilmu perang bahkan kami pernah ke Afghanistan pun harus dirahasiakan.

Setelah pulang ke Indonesia rahasia itu tetap saya jaga. Maka bagi  masyarakat umum dan sebagian besar keluarga saya masih belum mengetahui kalau saya pernah ke Pakistan dan Afghanistan. Namun bagi kawan-kawan yang tergabung dalam Jamaah Islamiyah, kebanyakan mereka sudah mengetahuinya karena banyak alumni Afghanistan yang sudah kembali ke Indonesia sebelum saya. Begitu juga bagi sebagian keluarga saya, mereka sudah mengetahuinya karena ada Mukhlas yang sebelumnya  diketahui pernah ke Pakistan dan Afghanistan.

Karena akhirnya saya harus menetap di Pondok Pesantren Al-Islam Tenggulun Solokuro Lamongan yang mayoritas ustadnya sudah mengetahui saya pernah ke Pakistan dan Afghanistan, maka rahasia itu tidak bisa ditutupi lagi. Oleh karena itu maka keadaan ini saya manfaatkan untuk mengobarkan semangat jihad kepada mereka dengan cara mengajarkan sedikit pengetahuan tentang perang di jalan Allah dan menceritakan pengalaman saya selama melakukan i’dad di  Pakistan dan Afghanistan.

Ketika terjadi reformasi tahun 1998, lalu terjadi kerusuhan yang bernuansa SARA di Ambon, hal itu semakin memicu keinginan saya untuk selalu mengobarkan semangat jihad dengan bermodalkan pernah ke Afghanistan. Maka dalam setiap ceramah dan khutbah terutama ketika di Pondok Al-Islam dan setiap mengajar di kelas saya selalu membicarakan tentang i’dad dan jihad dan bercerita tentang jihad Afghanistan.

Dan ketika kerusuhan di Ambon meluas, pembuatan bom dan sebagian dasar-dasar ilmu militer pun saya ajarkan kepada sebagian santri sebagai persiapan jika harus berangkat jihad ke Ambon.

Meskipun demikian, rahasia saya pernah ke Afghanistan terbatas hanya diketahui oleh sesama anggota Jamaah Islamiah, sebagian keluarga saya, ustad-ustad dan sebagian santri di Pondok Pesantren Al-Islam. Hal ini saya buktikan dengan tidak adanya kecurigaan dari pihak manapun terhadap saya walaupun saya sering menyampaikan masalah-masalah jihad dan saya juga membantu jihad di Ambon.

Akan tetapi, seiring dengan terbongkarnya Jama’ah Islamiyah di Singapura dan Malaysia, lalu ditangkapnya kami sebagai pelaku bom Bali maka terbongkar pula keanggotaan kami dalam Jama’ah Islamiyah, keberangkatan kami ke Afghanistan dan keberangkatan kami ke Ambon.

Keanggotaan kami dalam Jama’ah Islamiyah sudah terbongkar, keterlibatan kami dalam bom Bali sudah terbukti dan keberangkatan kami ke Afghanistan bahkan keikutsertaan kami di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan pun sudah diketahui, jadi tidak ada gunanya lagi dirahasiakan, justru dengan sekalian dibuka akan lebih berguna untuk mengingatkan kepada Umat Islam tentang kewajiban i’dad dan jihad dan pentingnya i’dad dan jihad, dan juga untuk menakut-nakuti musuh-musuh Islam.

Oleh sebab itu maka ketika di persidangan dan dalam kesempatan apapun saya selalu berterus terang pernah pergi ke Pakistan dan Afghanistan dalam rangka i’dad dan jihad di jalan Allah. Dan hal ini juga saya kuatkan dalam buku saya, “ALI IMRON SANG PENGEBOM”

–         Mengapa Aku Menyebutkan Kawan-Kawan Yang ke Afghanistan

Tidak ada yang bisa merasakan nikmatnya berada di bumi i’dad dan jihad kecuali yang pernah merasakannya. Inilah ungkapan yang pantas saya ucapkan karena saya pernah berada di Pakistan dan Afghanistan dalam rangka jihad dan jihad di jalan Allah. Dan saya yakin bahwa ungkapan ini juga diucapkan oleh kawan-kawan yang pernah ke sana jika niatnya ikhlas karena Allah untuk menjalankan kewajiban i’dad dan jihad di jalan-Nya.

Mendapat kesempatan berangkat ke Pakistan dan Afghanistan lalu bergabung bersama para Mujahidin Afghanistan di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan dalam rangka i’dad dan jihad adalah kesempatan yang sangat berharga. Banyak kawan-kawan yang menginginkan mendapat kesempatan tersebut namun tidak kesampaian, maka saya sangat bersyukur mendapatkannya dan selalu mendambakan akan bisa berada di tempat yang seperti itu lagi.

Perjalanan kami ke Pakistan dan Afghanistan adalah perjalanan syar’i dalam rangka menjalankan kewajiban i’dad dan jihad demi mencari ridha Allah. Keberadaan kami di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan adalah dalam rangka mempersiapkan kekuatan perang demi tegaknya agama Islam dan untuk melindunginya dari musuh-musuhnya. Maka saya yakin bahwa aktifitas jihad ini telah memberikan ketakutan kepada musuh-musuh Islam. Jika demikian berarti fungsi i’dad untuk menakut-nakuti musuh telah tercapai.

Ketika saya masih di Afghanistan, saya selalu berpikir dan bertanya dalam hati, bagaimana fugsi i’dad untuk menakut-nakuti musuh bisa dicapai sedangkan aktifitas i’dad tersebut tidak pernah dinampakkan, dan setelah saya pulang ke Indonesia pun pikiran dan pertanyaan itu selalu ada.

Tetapi saya sadar, bahwa Islam sudah tidak memiliki kekuasaan dalam bentuk Negara atau Khilafah sehingga kegiatan i’dad dan semisalnya harus tetap dirahasiakan untuk menjaga eksistensinya dari pihak-pihak yang tidak menyukainya. Maka kami yang datang ke Pakistan dan Afghanistan untuk kepentingan itu harus tetap dirahasiakan demi kepentingan pelaksanaan i’dad itu sendiri dan kesinambungan pelaksanaan jihad di kemudian hari.

Dengan terbongkarnya kami sebagai pelaku bom Bali maka terbongkar pula rahasia aktifitas i’dad dan jihad yang pernah kami lakukan di Pakistan dan  Afghanistan. Oleh karena itu saya sengaja menceritakan dalam buku saya “ALI IMRON SANG PENGEBOM” tentang aktifitas i’dad yang pernah kami lakukan dengan tujuan supaya menjadi contoh dan pengingat bagi Umat Islam dalam menjalankan kewajiban i’dad dan jihad dan juga sebagai peringatan bagi musuh-musuh Islam.

Adapun saya cantumkan nama-nama ustad/instruktur dan kawan-kawan saya yang pernah mengikuti i’dad di Pakistan dan Afghanistan, setidaknya atas pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

– Sedikit atau banyak rahasia tersebut sudah terbongkar di kepolisian maka sekalian saya bukukan supaya kawan-kawan juga mengetahuinya.

– Nama ustad/instruktur dan kawan yang saya cantumkan tidak ada yang nama asli jadi tidak akan mengganggu dan membahayakan mereka.

– Sebagai pengingat bagi para ustad/instruktur dan kawan-kawan supaya mereka hati-hati dan tidak melibatkan diri dalam aksi pengeboman dan kekerasan yang lainnya seperti yang menyebabkan kami dipenjara.

– Sebagai pengingat bagi para ustad/instruktur dan kawan-kawan bahwa di pundak mereka ada tanggung jawab syar’i sesuai dengan ilmu yang didapatkan di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan dan di jihad Afghanistan yang hal itu sudah diketahui oleh Pemerintah Indonesia dan dunia.

– Sebagai pengingat bagi para ustad/instruktur dan kawan-kawan agar mereka bisa memanfaatkan status dan ilmu mereka yang telah didapatkan dari jihad Afghanistan sesuai dengan strategi yang tepat dan sesuai dengan kemampuan yang ada.

– Sebagai peringatan bagi musuh Islam, bahwa masih ada dari Umat Islam yang memiliki kemampuan dan kekuatan sehingga kapanpun siap berperang jika Islam dizalimi, dan nama-nama yang saya sebutkan itu hanya sebagian saja.

– Sebagai bentuk irhabiyah (teror) terhadap musuh Islam yang bisa saya lakukan.

– Sebagai peringatan terhadap pihak manapun supaya penyerangan terhadap Umat Islam seperti yang pernah terjadi di Ambon, Poso dan di tempat-tempat lainnya tidak terulang lagi karena ada Alumni Jihad Afghanistan yang siap membalas dan selalu menunggu kesempatan yang seperti itu agar mereka bisa berperang secara langsung.

 

–         Mengapa Aku Menceritakan Kegiatanku di Jama’ah Islamiyah

Sejak saya menggabungkan diri dengan satu kelompok yang  akhirnya dikenal  bernama Jama’ah Islamiyah (JI), saya sudah tahu bahwa kelompok tersebut ilegal dan cara beroperasinya di bawah tanah. Oleh karena itu maka segala program, kegiatan dan struktur kepengurusannya harus dirahasiakan, bahkan masih banyak anggota yang belum tahu apa nama jama’ahnya dan siapa pemimpinnya.

Karena ekstra rahasia seperti ini maka dalam masalah da’wah saya sering mengalami hambatan. Salah satu contoh adalah ketika saya harus menerangkan tentang kewajiban berjama’ah dan kewajiban mengikuti jama’ah yang benar. Namun, ketika saya ditanya apa nama jama’ah yang benar itu, saya tidak bisa menjawabnya. Hal ini disebabkan karena saya harus menutupi identitas jama’ah kami, sedangkan di sisi lain saya harus menda’wahkan kepada orang lain agar mengikuti jama’ah kami yang kami yakini sebagai jama’ah yang benar. Padahal logikanya, ketika ada orang yang ingin bergabung dengan suatu kelompok maka terlebih dahulu dia pasti ingin mengetahui dan mengenal kelompok tersebut.

Saya yakin bahwa program dan kegiatan dalam Jama’ah Islamiyah yang saya ikuti adalah benar sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Hanya saja karena Jama’ah Islamiyah adalah jama’ah yang bertujuan untuk mendirikan Negara Islam dengan sarana da’wah dan jihad maka tidak mungkin program dan kegiatannya ditunjukkan terang-terangan, dan tidak mungkin nama jama’ah, pimpinan dan struktur organisasinya diumumkan. Hal ini untuk menjaga eksistensi jama’ah dan demi kelancaran perjuangannya di tengah-tengah pemerintahan yang berkuasa.

Akan tetapi,  ketika ada beberapa kawan kami di Malaysia dan di Singapura yang ditangkap oleh pemerintah setempat atas tuduhan terorisme maka mulai saat itu rahasia jama’ah kami mulai terbongkar. Bahkan asal usul jama’ah, pimpinan dan mayoritas anggotanya dari Indonesia pun ikut terbongkar. Dengan demikian, maka sudah cukup bagi pemerintah Indonesia untuk mengetahui adanya kelompok Jama’ah Islamiyah di Indonesia yang terkait dengan jaringan teroris.

Meskipun demikian, kami yang di Indonesia waktu itu masih aman dan belum ada yang ditangkap seperti yang terjadi di Malaysia dan Singapura. Namun setelah pengeboman di Bali, dan kami sebagai pelakunya berhasil ditangkap maka jaringan dan jama’ah kami di Indonesia pun juga terbongkar. Hal ini terbukti bahwa ketika kami ditangkap Polisi sudah memiliki data yang banyak tentang Jama’ah Islamiyah dan mereka sudah mengetahui kalau kami adalah anggota Jama’ah Islamiyah.

Nama jama’ah kami, tujuannya, jalan perjuangannya, struktur organisasinya,  program dan kegiatannya yang selama ini kami rahasiakan telah terbongkar. Oleh sebab itu sekalian saya manfaatkan kejadian ini untuk menda’wahkan, bahwa jama’ah kami adalah Jama’ah Islamiyah yang bertujuan untuk menegakkan kekuasaan Islam dari bentuk yang terkecil yaitu Jama’ah lalu Negara.

Bahwa untuk mewujudkan tujuan tersebut, jama’ah kami menggunakan sarana da’wah dan jihad, sebab itulah maka ada program pengiriman anggota ke Afghanistan, Filipina, Ambon dan Poso dengan tujuan ikut berjihad disana sekaligus i’dad.

Dengan da’wah ini setidaknya bisa menunjukkan kepada Umat Islam tentang  jama’ah kami sehingga mereka bisa bergabung dalam rangka mewujudkan kekuasaan yang berdasarkan Syreat Islam secara menyeluruh. Dan mengingatkan kepada Umat Islam bahwa ada kewajiban yang kebanyakan Umat Islam meninggalkannya yaitu i’dad (mempersiapkan kekuatan perang) dan jihad (perang).

–         Mengapa Aku Menceritakan Kegiatanku di Jihad Ambon

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal perang itu sesuatu yang kamu benci”. Ini adalah sepenggal firman Allah yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 216, jadi wajar jika semua orang tidak suka perang. Namun, jika perang itu sudah wajib maka berperang adalah sesuatu yang amat baik sebagaimana terusannya ayat, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu”.

Setiap orang yang mengetahui dan memahami keutamaan perang di jalan Allah pasti dia menginginkan agar diberi kesempatan bisa ikut berperang. Di sisi lain, ada yang dekat dengan medan perang tetapi enggan ikut berperang. Adanya medan jihad adalah karunia dari Allah semata maka tidak bisa dipaksa diadakan. Dan adanya seseorang bisa ikut berjihad adalah karena dipilih oleh Allah semata maka juga tidak bisa dipaksakan.

Sejak saya masih di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan saya ingin sekali terjun langsung di medan perang. Namun saat itu perang di Afghanistan berhenti karena mujahidin berhasil mengalahkan komunis sehingga angkatan kami di akademi tidak mendapatkan kesempatan terjun langsung  ke medan perang seperti angkatan-angkatan terdahulu. Dan saya selalu mendambakan bisa berada di medan perang dan dipilih oleh Allah menjadi mujahid yang selalu berperang di jalan-Nya.

Setelah kembali ke Indonesia saya semakin mengharapkan adanya medan jihad dan saya ikut berperang di dalamnya. Namun saya menyadari bahwa adanya medan jihad itu hanya karena karunia dari Allah semata yang tidak bisa direncanakan dan dibikin oleh manusia. Untuk itu, sebagai upaya persiapan menghadapi jihad maka sejak tahun 1996 saya sudah mulai mencari  dan mengumpulkan senjata, amunisi dan bahan-bahan bom. Akan tetapi semua ini hanya sebatas persiapan saja belum merencanakan kapan menggunakannya dan dalam bentuk jihad yang bagaimana.

Adanya reformasi di Indonesia tahun 1998 semakin menguatkan harapan saya akan adanya suatu peristiwa yang menyebabkan terbentuknya medan perang. Ternyata benar, tanpa diduga sebelumnya, pada tahun 1999 di Ambon terjadi kerusuhan yang bernuansa SARA yaitu orang-orang Kristen menyerang orang-orang Islam pada saat Hari Raya Idul Fitri. Meskipun menurut media masa awal kejadiannya adalah seperti kerusuhan biasa, namun saat saya mendengar, saat itu saya memiliki harapan besar akan adanya jalan yang membawa kepada terbentuknya medan perang yang selama ini saya dambakan.

Akhirnya saya pun sampai di Ambon. Apapun penyebab awalnya kerusuhan tersebut, akan tetapi pembelaan diri yang dilakukan oleh Umat Islam terhadap serangan tersebut adalah tetap jihad di jalan Allah. Kejadian ini adalah modal besar kami untuk mengobarkan semangat jihad kepada Umat Islam yang sudah lama terlupakan. Kejadian ini jadi alasan kuat kami untuk menda’wahkan pentingnya melaksanakan kewajiban i’dad. Dan kejadian ini bisa saya jadikan sebagai alat untuk mengingatkan Umat Islam yang melupakan kewajiban jihad dan mengajarkan mereka supaya memahami bahwa jihad adalah perang.

Jihad Ambon adalah jihad yang belum sesuai dengan harapan saya, karena masih ada penengahnya yaitu Pemerintah Indonesia. Meskipun demikian, jihad Ambon tetaplah jihad di jalan Allah karena untuk membela kehormatan Islam dan Umat Islam maka keberangkatan saya ke Ambon adalah karunia Allah yang selalu saya syukuri.

Sebelum saya ditangkap oleh Polisi karena terlibat dengan Bom Bali, keberangkatan saya ke Ambon dan jihad di sana sudah sering saya ceritakan dalam banyak kesempatan, baik ketika di Pondok Pesantren Al-Islam ataupun di luar di masyarakat umum. Ini saya maksudkan untuk mengajarkan jihad dan mengobarkan semangat jihad kepada Umat islam. Dan setelah saya ditangkap, ternyata keterlibatan kelompok kami dalam jihad Ambon dan Poso pun sudah diketahui oleh Polisi.

Oleh karena itu tidak ada gunanya lagi menutup-nutupi keterlibatan saya dalam jihad Ambon. Justru dengan terbukanya masalah ini saya bisa menyampaikan urusan jihad kepada pihak manapun. Kepada Umat Islam, saya bisa mengingatkan mereka tentang wajibnya melaksanakan i’dad supaya memiliki kekuatan perang agar tidak didzalimi oleh pihak manapun. Kepada pihak yang memusuhi Islam, saya bisa memperingatkan, bahwa dalam Islam ada syariat perang, sebagian Umat Islam sudah memiliki kemampuan berperang dan mereka selalu mendambakan terjadinya perang, jika kalian memulai menyerang maka itulah yang mereka tunggu.

 

–         Mengapa Diberi Pengantar Oleh Azyumardi Azra

Tulisan saya yang kemudian saya jadikan buku dengan judul, ”ALI IMRON SANG PENGEBOM” itu saya tulis pada tahun 2003 ketika saya di Tahanan Provost Mapolda Bali. Namun baru sekitar tiga tahun kemudian ketika saya sudah berada di Tahanan Narkoba Polda Metro Jaya saya ingin menerbitkan menjadi buku dan mempublikasikannya.

Selanjutnya saya meminta izin kepada Satgas Bom Polri dan meminta bantuan kepada Nasir Abas agar tulisan saya bisa dibukukan dan diterbitkan. Singkat cerita, akhirnya Nasir Abas memberi tahu saya bahwa yang akan menerbitkan adalah Penerbit Republika dan dia menjadi salah satu editornya.

Ketika proses pengeditan, saat itu dari Penerbit Republika ada yang datang ke saya memberitahukan bahwa dalam buku saya akan dimasukkan pengantar atau komentar dari seorang tokoh. Saat itu saya jawab tidak apa-apa kalau hanya sebagai pengantar atau komentar asal tidak mengubah isi buku yang saya tulis.

Ternyata tokoh yang akan memberi pengantar atau komentar pada buku saya adalah Azyumardi Azra yang menurut saya adalah diantara tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL). Meskipun dari JIL, saat itu saya anggap tidak ada masalah, karena hanya sebagai tokoh yang memberi pengantar atau komentar saja bukan mencampuri isinya. Karena saya sudah setuju, maka salah satu asisten Azyumardi Azra menjumpai saya dengan tujuan menanyakan kepada saya tentang otentiknya tulisan saya yang akan dibukukan dan diterbitkan. Dan asisten tersebut akhirnya menjadi editor buat buku saya selain Nasir Abas.

Setelah pengeditan selesai tulisan saya yang siap dicetak itu dibawa ke saya lagi untuk saya periksa. Setelah saya periksa, tulisan saya tidak ada yang berubah isinya kecuali beberapa nama bahan peledak diganti dengan pupuk, jumlah detail bahan peledak, bahan kimia dihilangkan dan gambar bom mobil juga dihilangkan.

Perubahan dan penghilangan tersebut menurut saya tidak masalah karena dikhawatirkan pembuatan bom tersebut akan ditiru oleh orang lain. Adapun yang lain-lainnya tulisan saya masih utuh, hanya saja ada tambahan pengantar dari Azyumardi Azra sebagai wakil dari tokoh masyarakat dan namanya dicantumkan di sampulnya dibawah judul. Saya setuju, karena tambahan dari Azyumardi Azra itu hanya sebagai pengantar yang sama sekali tidak mempengaruhi isi tulisan saya.

Ketika tulisan saya sudah dicetak menjadi buku, saya lihat semua isinya sama dengan yang saya koreksi sebelum dicetak, jadi menurut saya tidak ada masalah. Akan tetapi, setelah buku beredar, ada kawan-kawan yang mengomentari bahwa buku saya itu ada campur tangan orang JIL maka tidak usah dibaca, bahkan di Pondok Al-Islam saja ada yang mencegah supaya tidak membacanya karena buku JIL.

Mungkin kawan-kawan ini sebelumnya sudah tidak suka terhadap sikap saya, jadi begitu beredar buku saya yang di sampulnya ada namanya Azyumardi Azra maka mereka langsung menyimpulkan seperti itu. Sikap mereka seperti itu adalah wajar dan buat saya tidak ada masalah, tetapi ketika menyangka atau menuduh bahwa buku saya, “ALI IMRON SANG PENGEBOM” ada campur tangan dari JIL maka hal itu harus saya luruskan.

Jadi, suka ataupun tidak suka dengan buku saya itu tidak ada masalah, tetapi yang perlu saya sampaikan disini adalah bahwa buku, “ALI IMRON SANG PENGEBOM” adalah tulisan saya sendiri tidak ada campur tangan dari pihak manapun sebagaimana yang saya ceritakan diatas.

One Response to BUKUKU “ALI IMRON SANG PENGEBOM”

  1. Bu Lai En says:

    sepertinya kita butuh lebih banyak orang dengan pemikiran seperti anda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *