Wallpaper

BERJIHAD DALAM ARTI PERANG

Ada tiga alasan utama kami memilih jalan jihad.

Jihad adalah perintah Allah yang wajib kami laksanakan.

  1. Kami ingin menegakkan kekuasaan yang berdasarkan hukum Islam, jadi tidak mungkin tanpa dengan jihad karena seluruh dunia sudah ada penguasanya dalam bentuk negara-negara, dan sejarah telah membuktikan banyaknya pihak yang tidak suka jika syareat Allah diterapkan di muka bumi. 
  2. Kami ada kewajiban mengembalikan daerah-daerah yang dulu pernah dikuasai oleh Khilafah Islamiyah, jadi tidak mungkin tanpa dengan jihad karena daerah-daerah tersebut masuk dalam kekuasaan negara-negara.

KE AFGHANISTAN

Ada dua tujuan utama kami pergi ke Afghanistan.

1.    Menjadi sukarelawan jihad Afghanistan.

2.    Melaksanakan kewajiban i’dad, yaitu mempersiapkan kekuatan perang yang akan kami gunakan untuk melakukan jihad dimana saja demi terlaksananya kewajiban jihad dan sebagai alat untuk membentuk kekuasaan.

 

Setelah lulus dari Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Karang Asem Paciran tahun 1991 yang ada di pikiran saya bahwa saya harus mengikuti jejak kakak saya Aly Ghufron.  Pada bulan Agustus tahun 1991 saya berangkat ke Malaysia dan bertemu dengan Aly Ghufron di rumah mertuanya di Johor Bahru.  Perjumpaan kami sangat menggembirakan, karena kami tidak bertemu sudah sekitar enam tahun padahal dialah kakak yang paling dekat dengan saya. Waktu itu saya langsung menyampaikan keinginan saya untuk bisa berangkat menuntut ilmu dan berangkat ke tempat seperti dia pernah berada. Beberapa hari kemudian dia memberitahukan bahwa keinginan saya insya Allah terkabul. Oleh sebab itu saya disuruh untuk mempersiapkan diri, siap fisik, siap mental, siap meninggalkan keluarga, siap mendengar dan ta’at, siap mengikuti semua peraturan dan siap segalanya.

Selanjutnya saya diajak ke Singapura untuk mengambil visa Pakistan dan tinggal disana selama lima belas hari. Setelah dapat visa, kemudian saya diajak kembali ke Malaysia untuk bertemu dengan ustadz Abdullah Sungkar yang ada di Negeri Sembilan. Pada saat menunggu hari keberangkatan ke Pakistan, saat itu saya beberapa kali sempat mengikuti pengajian yang disampaikan oleh ustadz Abdullah Sungkar.

 

Pada akhir bulan September 1991 saya berangkat ke Pakistan. Sebelum berangkat saya melakukan perjanjian (bai’at) dengan ustadz Abdullah Sungkar. Dan waktu itu bai’at tersebut saya yaqini sebagai perjanjian untuk menjalankan tugas, karena yang mengurus keberangkatan saya adalah Ustadz Abdullah Sungkar. Akan tetapi tatkala saya sampai di Akademi Militer Mujahidin Afganistan, saya baru tahu dari kawan-kawan bahwa perjanjian itu bagi yang belum pernah berbai’at adalah bai’at untuk masuk jama’ah Darul Islam.( DI )

 

Kami berangkat dari Bandara Subang Malaysia menuju Pakistan. Setelah sekitar tujuh jam akhirnya kami sampai di Bandara Karachi Pakistan. Dari Bandara, kami naik taxi ke salah satu Masjid yang ada di kota Karachi dan menginap disitu semalam, lalu keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan ke Peshawar dengan naik bis umum.

 

Dalam perjalanan dari kota Karachi ke kota Peshawar situasi dan kondisi yang saya rasakan serba asing. Cuaca asing, orang-orangnya asing, pakaian-pakaian asing, warung-warung asing, makanan asing, minuman asing dan semuanya asing. Setelah dua hari atau tiga hari dalam perjalanan akhirnya kami sampai di kota Peshawar Pakistan. Ketika sampai di Peshawar situasi dan kondisinya semakin asing, karena saya bisa melihat langsung wajah-wajah orang Afganistan yang sebelumnya hanya bisa saya saksikan lewat gambar. Dari kota Peshawar kami dibawa menuju ke daerah Pabbi dengan bis angkutan umum. Pabbi adalah daerah pemukiman yang disediakan oleh Presiden Ziaul Haq untuk tempat tinggal ( tempat hijrah ) kaum Muslimin Afganistan karena di negara mereka masih terjadi peperangan antara Mujahidin dengan Pemerintah Komunis Afghanistan dan Rusia.

 

Sekitar dua jam di dalam bis angkutan umum akhirnya kami sampai di Pabbi. Ternyata situasi dan kondisi di Pabbi lebih asing lagi daripada kota Peshawar. Salah satunya adalah banyak orang-orang sipil yang membawa senjata api dan banyak orang-orang yang cacat fisik. Kemudian kami dibawa ke salah satu rumah yang kemudian kami kenal dengan nama kantor perwakilan, lalu diserahkan kepada Ustadz Dzulqarnain sebagai penanggung jawab di rumah tersebut. Sambil istirahat, waktu itu Ustadz Dzulqarnain memberi nama samaran saya dengan nama Zaid, maka mulai saat itu saya menggunakan nama Zaid. Di kantor perwakilan tersebut saya menginap semalam lalu keesokan harinya saya diantar oleh penunjuk jalan menuju ke Akademi Militer Mujahidin Afghanistan yang bertempat di daerah Sadda Provinsi Parachinar Pakistan.

 

Setelah memakan waktu hampir satu hari perjalanan dengan kendaraan umum akhirnya kami sampai di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan kami diserahkan kepada ustadz Mustaqim sebagai Komandan Akademi Militer untuk orang-orang Asia Tenggara. Atas perintah Komandan Akademi saya ditempatkan di Batalion Logistik yang terdiri dari tenda-tenda yang dihuni oleh para siswa akademi dari Afghanistan dan dari Asia Tenggara. Selanjutnya saya ditempatkan satu tenda bersama Imam Samudra dan dua orang kawan dari Tailand. Akademi Militer ini dibawah tandzim Ittihad Islami Afghanistan pimpinan Syaikh Abdur Rabbi Rasul Sayyaf. Meskipun di akademi militer milik Mujahidin Afganistan yang mayoritas instruktur dan siswanya orang Afghanistan namun kami para siswa dari Asia Tenggara mempunyai kelas sendiri yang para instrukturnya dari Indonesia.

 

Mulai awal bulan Oktober 1991 saya menjadi salah satu siswa di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan. Saya masuk kelas I bersama 26 orang kawan yang berasal dari Indonesia, Malaysia, Thailand dan Philipina termasuk Imam samudra dan Umar patek.  Angkatan kami 27 orang tinggal di Batalion Infantri, Batalion Arteleri, Batalion Tank, Batalion Komunikasi dan Batalion Logistik.

 

Mata pelajaran:

1. Pelajaran agama

– Aqidah dan Fiqh Jihad.

2. Pelajaran Militer

Latihan Fisik dan Kedisiplinan.

-Tactic, mempelajari tentang taktik dasar infantry dan seni-seni berperang.

-Map Reading, mempelajari tentang peta dan navigasi serta hal-hal yang berhubungan dengan  keduanya.

Weapon Treaning, mempelajari tentang senjata api, amunisinya dan hal-hal yang berhubungan dengan keduanya.

Field Enggenering, mempelajari tentang bahan peledak, pengeboman dan hal-hal yang berhubungan dengan keduanya.

 

Tidak terasa, ternyata kami di kelas satu sudah berada di pertengahan tahun dan sudah tiba waktunya liburan. Menurut kebiasaan yang dialami oleh kakak-kakak kelas kami, jika liburan mereka dikirim ke medan perang berperang secara langsung. Oleh karena itu kami semua mendambakan agar kami termasuk yang dipilih untuk maju ke medan perang. Kemudian dari beberapa orang kawan yang seangkatan dengan saya sudah ada yang meninggalkan akademi untuk persiapan masuk ke medan perang. Ternyata saat itu Pemerintah Komunis Afghanistan kalah dan Mujahidin yang berkuasa maka perang sudah tidak ada. Sebab itulah kawan-kawan kami yang sudah berangkat akhirnya kembali lagi ke akademi. Dengan kegagalan ini kami semua merasa sedih dan menyesal karena tidak jadi berkesempatan berperang secara langsung.

 

Waktu liburan pertengahan tahun telah habis dan akademi masuk kembali seperti semula. Belajar di kelas dan praktik di lapangan kami lalui hingga tidak terasa kami sudah berada di akhir tahun kelas I dan melaksanakan ujian akhir. Ujian tulis dan ujian praktik kami selesaikan tanpa ada gangguan apa-apa. Lalu datang liburan akhir tahun yang diisi dengan kegiatan praktik lapangan semua pelajaran militer yang kami dapatkan selama satu tahun. Pelajaran Taktik berarti mempraktikkan taktik perang, pelajaran field enggineering berarti mempraktikkan pembuatan bomdan meledakkannya, pelajaran map reading berarti membaca peta dan mempraktikkan hal-hal yang berhubungan dengan peta langsung di lapangan, dan pelajaran weapon training berarti praktik menembak dan menggunakannya di lapangan.

 

Pada liburan akhir tahun kelas I bertepatan dengan pertengahan tahun 1992 kami sempat mengikuti parade dan upacara pelepasan siswa-siswa kelas III angkatan ketujuh Akademi Militer Mujahidin Afghanistan. Parade tersebut diadakan di lapangan I’dad Mujahidin di daerah Pabbi Peshawar Pakistan yang dihadiri langsung oleh Ustadz Abdur Rabbi Rasul Sayyaf dan beliau sendiri yang melepas siswa-siswa dari enam Batalion sekaligus meresmikan pangkat Letnan Dua kepada mereka.

 

Setelah mengikuti parade dan upacara pelepasan kakak kelas kami, saat itu saya mendapat kesempatan dikirim ke camp latihan perang milik jama’ah kami yang ada di daerah Towrkham Provinsi Nenggrahar Afghanistan. Camp latihan tersebut dihuni dan dikelola oleh senior kami yang sudah lulus dari Akademi Militer Mujahidin Afghanistan. Tugas mereka di camp tersebut adalah melatih para mujahidin yang datang dari beberapa negara yang memerlukan latihan perang cara cepat. Di camp ini saya mengikuti latihan menembak dan membuat bom sebagai pelajaran tambahan di luar Akademi yang resmi. Di sinilah saya berjumpa dengan Abdul Matin yang saat itu mengikuti latihan perang cara cepat. Di sini juga saya bertemu dengan ustadz Abdullah Sungkar yang singgah setelah pulang dari Arab Saudi, dan pertemuan itu pertemuan saya yang terakhir hingga beliau wafat tahun 1999. Karena masa liburan hampir habis maka saya kembali ke akademi.

 

Liburan akhir tahun sudah habis dan kami naik di kelas II. Sementara para siswa baru yang berasal dari Indonesia, Thailand, Philipina juga sudah datang dan masuk di kelas I. Program dan aktivitas sehari-hari sama seperti tahun yang lalu hanya beda pelajarannya karena sudah kelas II. Tiba-tiba pada pertengahan tahun kelas II ada kabar daerah yang dipakai sebagai tempat Akademi Militer Mujahidin Afghanistan tersebut akan dimintak kembali oleh Pemerintah Pakistan. Maka sejak saat itu kegiatan kami mulai terganggu karena Polisi Pakistan sering datang ke akademi untuk mencari orang-orang asing. Untuk itu jika Polisi Pakistan datang kami harus lari mencari tempat persembunyian di celah-celah gunung dan di balik semak-semak sambil belajar. Meskipun begitu tetapi kami masih sempat menyelesaikan kelas II di tempat tersebut. Ternyata tempat tersebut benar diminta oleh pemerintah Pakistan maka tahun ajaran baru tahun depan Tandzim Ittihad Islami Afghanistan akan memindahkan akademi ke Kabul ibukota Afghanistan.

 

Pada pertengahan tahun 1993 Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Sadda Parachinar Pakistan telah dipindah ke Kabul Afghanistan. Kami tidak diikutkan pindah ke Kabul tetapi pindah di camp di Towrkham Provinsi Nenggrahar Afghanistan dikomandani oleh Ustadz Mustafa alias Abu Tholut. Mulai saat itu akademi militer kami khusus dikelolah oleh orang-orang dari Jama’ah Islamiyah ( JI ) namun tetap dibawah Tandzim Ittihad Islami Afghanistan. Pada tahun ajaran baru dan di tempat yang baru kami sudah duduk di kelas III. Dibawah kami ada kelas I dan II, kelas II pindahan dari akademi Sadda seperti kami, kelas I adalah siswa-siswa baru. Meskipun akademi baru ini tidak seramai dan selengkap yang dulu, namun program dan kegiatan sehari-hari sama.

 

Berada di akademi yang dikelola oleh orang-orang jama’ah kami sendiri beban saya pribadi lebih berat daripada ketika masih berkumpul dengan orang-orang Afghanistan. Hal ini disebabkan karena ustadz-ustadz kami adalah satu jama’ah yang senasib dan seperjuangan dengan kami, akan tetapi mereka dalam membawahi kami tetap bersikap arogan sama seperti ketika masih satu akademi dengan orang Afghanistan. Namun beban berat ini tidak kami hiraukan karena kami yakin bahwa itu semua adalah ujian di medan i’dad. Akhirnya tidak terasa kami sudah berada di akhir tahun kelas III dan sebentar lagi akan melaksanakan ujian akhir, tetapi sebelum ujian akhir dimulai saya dipindahkan ke camp kami yang lain untuk belajar membikin dan memasang peluru senapan dan pistol.

 

Pada akhir tahun 1994 program akademi militer kami ditiadakan. Lalu satu demi satu kawan kami meniggalkan Afghanistan. Saya dan beberapa orang kawan masih tinggal di Afghanistan untuk meneruskan program i’dad. Saat itu kami memanfaatkan waktu, tempat, dan peralatan perang yang masih ada untuk meningkatkan kemampuan kami dalam berperang karena amunisi dan bahan-bahan bom kami masih banyak. Selain itu kami juga melatih beberapa orang kawan yang datang dari Arab, Irak, Iran dan dari beberapa negara yang lain.

 

Karena jumlah kami kurang dari sepuluh orang, sementara camp latihan Mujahidin Libia yang berjarak sekitar enam kilometer dari kamp kami akan ditinggalkan pemiliknya, maka kami tutup camp kami dan pindah ke camp Mujahidin Libia. Hal ini kami lakukan karena camp Mujahidin Libia ini berdekatan dengan Markas Tandzim Ittihad Islami Afganistan wilayah Towrkham jadi kami bisa lebih mudah berhubungan dengan markas.

 

Di camp baru ini kami memanfaatkan waktu untuk menambah pengetahuan tentang pembuatan bermacam-macam racun dan bom kimia. Selain itu kami juga masih mengadakan latihan perang cara cepat buat kawan-kawan yang berasal dari Malaysia, Thailand, dan Philipina yang sekolah di Pakistan yang sekolahnya sedang libur.  Dan latihan perang cara cepat seperti ini kami adakan beberapa kali angkatan.

 

Latihan perang cara cepat telah selesai dan sudah tidak ada yang datang lagi, jadi keberadaan kami di Afghanistan dianggap cukup. Saat itu bertepatan dengan munculnya gerakan Thaliban di Afghanistan yang memerangi siapa saja yang melawan dan tidak mau bergabung dengan mereka. Maka pada akhir tahun 1995 kami menyerahkan camp yang kami tempati ke Tandzim Ittihad Islami Afghanistan. Selanjutnya saya meninggalkan Afghanistan kembali ke kantor perwakilan kami di Pabbi Peshawar dan beberapa bulan kemudian saya pulang ke Malaysia.

 

Akademi militer kami sama dengan akademi-akademi militer di negara-negara lain, mungkin yang membedakan adalah kami pelajari semua pelajaran militer kecuali menggunakan pesawat tempur karena tidak ada pelajarannya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *